Dengarkan Angin
Bernyanyi
Oleh : Syahdan
·
Genre : Fiksi
· Premis : Namanya Raga. Mahasiswa tingkat akhir. Ia cenderung datar dan tenang. Walapun begitu, Raga bukanlah pria yang kaku ataupun sombong. Itu memang sifatnya sejak dulu. Dibalik pribadinya yang tenang, Raga menyimpan sebuah cerita. Cerita tentang masa mudanya yang pelik.
Di masa sekarang, hidup Raga secara signifikan berubah dengan kedatangan seorang gadis yang ia temui di minimarket. Dia adalah Alfa. Kehadirannya berujung pada jalan yang akhirnya harus Raga pilih ; terjebak di masa lalu dengan segala rasa cinta dan penyesalan atau memulai lembaran baru yang rawan?|
Bagian |
Outline |
|
|
Raga menjalani kehidupannya yang
normal. Pergi ke kampus, menghadiri kelas, makan siang di kantin, lalu
pulang. Yang berbeda hari itu adalah secara tak sengaja ia bertemu dengan
seorang perempuan yang tak ia kenal di sebuah minimarket. Raga akhirnya
mengenalnya dengan nama Alfa. Pertemuan itu tanpa disangka adalah awal mula
dari pertemuan selanjutnya. |
|
|
Masa mudanya saat SMA yang pelik
bermula saat ia pindah sekolah. Ibunya yang sibuk terpaksa harus menitipkan
Raga pada neneknya sehingga Raga harus menetap dan bersekolah di sana. Esa
dan Raaya adalah dua sahabatnya semasa kehidupannya di SMA itu. Raga
mengingat mereka sebagai kenangan yang sangat indah. Dua orang berharga yang
mau menerima Raga apa adanya. |
|
3 |
Kehidupan Raga yang datar kini terasa
lebih berisi dengan hadirnya Alfa. Pertemuan yang tak terduga itu sedikit
demi sedikit mulai menumbuhkan sesuatu yang cerah. Raga merasakan sesuatu
yang berbeda ketika bersama Alfa. Ada hal yang sudah lama kosong di jiwanya,
kini mulai terisi. Alfa yang sejak awal memang sangat tertarik pada Raga
mulai menggoyahkan Raga, meminta sesuatu yang lebih jelas. Hal itu cukup
untuk membuat Raga berpikir keras dan gelisah, melebihi tugas akhirnya yang
tak kunjung selesai. |
|
4 |
Kepergian Esa yang sangat tragis
dan mendadak membuat Raaya kalut. Ia larut dalam kesedihannya dan sulit untuk
ia bisa pulih. Raga yang sama sedihnya, berusaha untuk menghibur Raaya,
menemaninya dan membantunya agar ia bisa pulih kembali. Dalam rentang waktu
itu, Raga yang sebenarnya memiliki rasa untuk Raaya berusaha mendampingi
Raaya, mengembalikan jiwa Raaya yang setengahnya dibawa pergi oleh Esa. |
|
5 |
Kehidupan masa lalunya yang
mengendap di dalam hatinya seakan terkoneksi dengan hidupnya di masa kini.
Raga yang dihantui dengan banyak rasa cinta dan rasa bersalah akan masa
lalunya kini seakan menemui akhir. Alfa mendesak Raga dengan pilihan yang
sulit ; terjebak di masa lalu dengan segala rasa cinta dan penyesalan atau
memulai lembaran baru yang rawan? Pada akhirnya, Raga menemukan jawabannya. |
1
Jam
dinding menunjukkan pukul 12 tepat tengah malam. Langit sangat gelap dan
bersih. Bulan rasanya tak tampak, hanya lampu jalan yang menerangi malam itu.
Raga memandang keadaan itu lewat jendela asramanya. Ia membuka jendela itu
lebar – lebar hingga angin malam masuk melalui jendela, menusuk badan Raga yang
saat itu hanya memakai kaos tipis berwarna kuning gelap. Ia menikmati angin
malam sembari membuka kaleng soda kesukaannya. Sebuah ritual yang ampuh untuk
melepas penat setelah berkutat dengan tugas akhir yang tak kunjung selesai sejak
semester awal. Memasuki tengah semester, Raga sadar tugas akhir itu sudah harus
tampak keberadaannya, bukan hanya sekadar draft lagi. Maka, di sela – sela
jadwal kuliah yang cukup padat, ia mengorbankan waktunya untuk mengerjakan
tugas besar itu. Terhitung ini adalah hari pertama ia memulai kembali
pengerjaan tugas itu setelah seminggu tertunda karena kondisi kesehatannya
terganggu. Alhasil ia harus mengambil cuti selama 3 hari karena demam tinggi
dan sisanya ia berkuliah sembari menjalani pemulihan.
Sejak
memutuskan untuk berkuliah di kota yang sangat jauh, Raga sudah tahu
konsekuensi bahwa ia harus bisa melakukan segala sesuatu secara mandiri. Hidup terpisah
dari keluarga lalu menetap di asrama kampus. Raga beradaptasi dengan baik di
awal kehidupan mandirinya, mengingat ia sebenarnya adalah anak yang cukup rajin
melakukan pekerjaan rumah sejak ia masih tinggal bersama neneknya. Beberapa
pekerjaan seperti mencuci baju, menyetrika, dan bersih – bersih ruangan kamar
dapat ia lakukan tanpa kesulitan. Hanya satu yang bermasalah, yaitu memasak.
Raga tidak pandai memasak, bisa dibilang hampir tidak bisa memasak kecuali mi
instan dan air. Di awal kehidupannya sebagai mahasiswa rantau, ia cukup
kesulitan dalam hal makanan. Raga, walaupun lelaki ia cukup pemilih dalam hal
makanan. Tak mudah baginya untuk beradaptasi dengan gaya dan rasa makanan di
kota itu. Raga sangat sensitif dengan makanan dengan rasa yang pekat dan pedas,
yang celakanya adalah ciri khas kebanyakan makanan di kota itu. Sehingga Raga
hanya memakan mi instan selama hampir 2 minggu di awal kehidupannya tinggal di
asrama itu. Untungnya tak lama ia kemudian menemukan tempat makan yang
menyediakan makanan yang cocok dengan lidahnya. Walaupun letaknya cukup jauh
dari lokasi asrama dan area kampusnya, ia selalu menyempatkan waktu untuk makan
di sana setiap jam makan siang.
Di tengah
lamunannya yang tenang, tiba – tiba pintu kamarnya bersuara. Terdengar suara
pintu terbuka setelah orang itu memasukan sandi di gagang pintu. Orang itu tak
lain adalah teman sekamarnya. Beni adalah teman sekamarnya sejak semseter satu.
Beni dalam pandangan Raga adalah pria yang rajin, sabar, pintar, pokoknya
segala sifat positif ada dalam dirinya. Semua kepribadian itu membungkusnya
dengan sempurna untuk memikat hati para mahasiswi junior di kampus. Ia pun
terbilang aktif di organisasi kampus. Alhasil, ia sangat populer di kalangan
mahasiswi junior. Tak terhitung berapa banyak perempuan yang ia pacari, namun
hubungannya tak pernah berumur panjang. Raga sendiri bingung mengapa ia bisa
berteman dengan orang seperti Beni. Tetapi, Raga tak banyak bicara. Selama Beni
bersikap baik, Raga tak mempermasalahkan hal lain yang pada dirinya. Toh
kepribadian seseorang kan hanya mereka yang tahu baik atau buruknya untuk
mereka sendiri. Raga juga cukup malas untuk memberi banyak saran. Namun jika
sudah kelewatan, Raga kadang memberinya sedikit teguran agar Beni sadar.
“Selarut ini,
belum tidur juga?” tanya Beni.
“Belum. Biasa,
Tugas Akhir.” kata Raga.
“Bagi satu
kaleng dong!” ujar Beni meminta sekaleng soda yang ada di dekat Raga.
“Nih,
tangkap!”
“Nice shot.
Thanks, bro.”
Malam itu, di
salah satu kamar asrama pria di lantai 11, dua orang pria, teman sekamar dengan
akrabnya menikmati minuman mereka sembari menatap langit yang gelap menjelang
dini hari.
“Kemarin
pacarku bilang ingin mengenalkan kamu sama temannya. Mau nggak?”
“Tergantung.”
“Orangnya
cantik, pintar, baik hati, dan tidak manja. Nih fotonya.” Kata Beni sembari
memperlihatkan layar ponsel dengan foto wainta itu pada Raga. Raga kemudian
menatap layar ponsel Beni. Memang benar, cantik. Raga mengakui itu.
“Benar kan?
Kalau mau nanti kuatur pertemuan kalian. Bahkan kita bisa pergi bersama
pacarku, jika kalian mau.” ajak Beni.
“Boleh, asal
kamu kerjain TA ku ya, mau?”
“TA kan bisa
nanti. Come on bro, have fun lah sesekali. Mau kan?”
“Tawarannya
kutolak. Syarat tidak terpenuhi.” tolak Raga.
“Yah terserah
kamu lah. Tawaran menarik malah ditolak mentah – mentah.” kata Beni kecewa.
“Kan sudah
kubilang. Kalau kamu kerjakan TA ku baru aku mau ikut. Karena kamu menolak, aku
juga tentu menolak.” ujar Raga menimpali Beni.
Penolakan Raga
kemudian menutup percakapan malam itu. Beni yang tak habis pikir dengan
kelakuan temannya hanya bisa terdiam dan mendengus kesal. Sedangkan Raga yang
sudah menghabiskan sekaleng soda berlalu menuju kamar mandi. Setelah kembali,
Raga beranjak menuju tempat tidur, sedangkan Beni masih terjaga. Ia duduk di
kursi dekat jendela yang terbuka sambil menenggak minuman sodanya yang belum
habis.
v
Raga bangun
dari tidurnya setelah menekan tombol snooze di alarm ponselnya sebanyak
3 kali. Alarm itu berbunyi sejak jam 5 pagi, namun sang pemilik baru banugn
satu setengah jam kemudian. Segera setelah membuka mata, Raga kemudian beranjak
dari kasur lalu pergi ke kamar mandi dan bersiap untuk menghadiri kelas pagi
ini. Di sisi lain Raga melihat Beni yang masih tertidur pulas di ranjangnya
karena terjaga hingga dini hari.
Pagi itu di musim gugur, hari sangat cerah.
Sudah pertengahan musim gugur dan cuaca mulai cukup dingin terlebih saat pagi.
Dedaunan yang rontok dari pohonnya berserakan di jalanan, membuat suasana
menjadi semakin ‘gugur’. Raga berjalan menuju sebuah minimarket di lantai bawah
asramanya. Ia hendak membeli roti untuk sarapannya. Setelah itu, ia kemudian
keluar dari bangunan asrama dan mulai berjalan menuju kelas pertamanya. Pagi itu
ia mendapat kelas pagi untuk mata kuliah Hukum Perencanaan Kota. Kelas dimulai
pukul 8 pagi. Raga menghabiskan rotinya sembari bergegas menuju kelas yang
letaknya cukup jauh dari asrama. Kelas yang akan ia datangi terletak di Gedung
Fakultas Teknik dan memakan waktu sekitar 10 menit jalan kaki dari asramanya.
Universitas itu memang sangat luas. Areanya mencakup hampir 15 gedung ditambah
dengan area fasilitas lainnya. Tak ayal karena program yang mereka tawarkan
sangat lengkap dari mulai Kedokteran, Seni dan Olahraga, Bisnis, Teknik, dan
lainnya. Raga adalah salah satu mahasiswa di Fakultas Teknik. Ia memilih
jurusan Urban Planning yang masih satu rumpun dengan Arsitektur. Jurusan
itu ia pilih karena minatnya pada keindahan bangunan dan tata letak kota. Sejak
kecil, ia sangat tertarik dengan mainan balok yang ia susun menjadi sebuah
gedung. Ia pun selalu terlihat antusias ketika diajak oleh neneknya ke kota. Raga
kecil sangat terpana melihat gedung – gedung tinggi dan indahnya suasana kota
yang rapi. Sebenarnya ia menaruh minat pada Arsitektur, namun kemampuan menggambar
yang ia miliki menghambat itu semua. Raga sangat payah dalam menggambar, bahkan
sejak ia TK. Sayangnya hal itu terus berlanjut bahkan hingga SMA. Untungnya
pelajaran seni yang ia ambil adalah seni musik saat itu, sehingga ia lolos dari
pelajaran menggambar. Saat memasuki dunia perkuliahan, ia pun mulai belajar
menggambar dari dasar di akademi menggambar yang ada dekat kampusnya. Alhasil
kemampuan menggambarnya meningkat cukup pesat lewat akademi itu, jauh lebih
baik daripada saat ia SMA.
Kelas pertama
sudah selesai. Raga punya cukup banyak waktu menuju makan siang. Ia pun
memutuskan untuk pergi ke minimarket, membeli minuman dan makanan ringan. Raga beranjak
keluar dari kelasnya. Minimarket terdekat dari gedung itu berada di area luar
kampus, ada di seberang jalan. Raga berjalan dari gerbang belakang kampus
menuju zebra cross untuk menyebrang. Ia datang tepat pada saat lampu
merah menyala. Ia lantas berjalan dengan cepat menuju minimarket. Minimarket
itu ada tepat diujung zebra cross yang ia lalui. Raga lalu meraih pintu
minimarket dan mendorognya untuk masuk. Ia kemudian berlalu menuju tempat
minuman dingin. Ada 4 lemari pendingin dihadapannya dengan berbagai macam
pilihan minuman di dalamnya. Ketika menemukan pilihannya, Raga kemudian membuka
pintu lemari pendingin itu untuk kemudian mengambil Jus Jeruk kemasan kotak.
Setelah itu raga menutup kembali pintu lemari es itu. Ketika berbalik, seketika
Raga dikagetkan oleh penampakan seorang perempuan yang sedang berdiri
dihadapannya. Entah sejak kapan perempuan itu berdiri di sana.
“Halo. Raga,
kan?” tanya perempuan itu.
“Iya. Siapa
ya?” jawab Raga kebingungan.
Perempuan itu
kemudian menjulurkan tangan kanannya, mengajak Raga untuk berjabat tangan.
Wajahnya tersenyum menatap Raga.
“Alfa.” Jawab
perempuan itu.
Raga yang
kebingungan dengan polosnya menerima jabatan tangan itu.
“Kamu tidak
pernah lihat aku? Kita bahkan ada di kelas yang sama tadi pagi.” Ujar perempuan
itu segera setelah mereka selesai berjabat tangan.
“Aku tidak
pernah melihatmu. Terlebih tadi pagi aku datang terlambat.”
“Benar juga.
Aku pun tahu namamu karena kamu telat tadi pagi. Kamu terlihat sangat buruk
saat sedang terburu – buru.”
“Begitulah.”
“Ngomong –
ngomong apa kamu besok ada waktu? Mari makan siang bersama.”
“Kenapa tidak
sekarang?” tanya Raga
“Kalau
sekarang aku sedang cukup sibuk. Besok kutunggu kamu di kantin Building A
untuk makan siang. Oke?”
“Apakah aku
harus datang?”
“Tentu saja.
Pokoknya kutunggu kamu dan kamu harus datang ya!” ujar perempuan itu sembari
berlalu meninggalkan Raga.
Pertemuannya
dengan Alfa di minimarket meninggalkan kesan bagi Raga. Bagaimana tidak,
seorang perempuan yang tak pernah ia kenal sebelumnya, secara tiba – tiba
mengajaknya makan siang besok. Raga yang datar tidak banyak bertanya mengapa Alfa
ingin mengajaknya makan siang. Setelah percakapan itu, Raga kemudian pergi ke
kasir, membayar minuman itu lalu pergi ke Study Lounge dekat gedung
fakultasnya. Raga hendak melanjutkan kembali tugas akhirnya. Setelah itu, Raga
kemudian makan siang di kantin luar kampus, tempat makan favoritnya. Lalu ia
pergi ke kelas Desain Wilayah Kota di jam 2, kemudian kembali ke asrama dan
tidur.
v
Siang hari
yang terik di musim gugur. Raga baru saja beranjak dari kelasnya. Ia sedang
berjalan menuju kantin di Building A untuk makan siang, sekaligus
memenuhi janji -atau mungkin bukan- dengan perempuan yang ia temui kemarin.
Alfa, gadis itu sangat aneh, tetapi Raga tak bisa berhenti memikirkannya sejak
pertemuan mereka kemarin. Raga bahkan mencoba mencari nama Alfa di dalam
ingatannya, siapa tahu dia sebenarnya adalah teman semasa SMA nya dulu. Namun
tak satu pun temannya bernama Alfa, lebih tepatnya Raga bahkan tidak punya
teman selain dua sahabatnya Esa dan Raaya. Raga pun memutuskan untuk pergi ke
tempat itu tanpa harapan apapun. Toh orang ke kantin kan niatnya memang ingin
makan.
Lantas
sesampainya Raga di kantin itu, ia segera pergi ke tempat di mana ia bisa
menemukan tumpukan piring di sana. Kantin itu menyajikan makanannya dengan
sistem prasmanan, sehingga para pembeli tinggal menyodorkan piring mereka saja
untuk diisi dengan nasi atau lauk pauk. Di hari itu, Raga membayar makanannya
dengan kupon yang ia dapat dari Beni setelah merayunya semalam.
“Tumben sekali
kamu. Biasanya kan nggak mau makan di kantin kampus.” kata Beni
“Memang iya.
Tapi dipikir lagi kuliah empat tahun di sini kalau tidak pernah makan di kantin
kampus rasanya tidak etis. Benar kan?”
Setelah
melontarkan alasan itu, Beni kemudian menyodorkan dua buah kupon makan kepada
Raga. Raga tak banyak bicara. Ia kemudian mengambil kupon itu dengan wajah
senang seraya berterimakasih pada Beni.
Raga akhirnya
mendapatkan makan siangnya. Di piringnya sudah tersaji hidangan yang sangat
lengkap dari mulai nasi, lauk pauk, hingga sayuran. Saat itu Raga sebenarnya
sudah familiar dengan rasa makanan di daerah itu, tidak seperti pertama kali ia
pindah. Namun entah mengapa, rasanya ia enggan pergi ke kantin untuk makan
siang dan lebih memilih tempat favoritnya. Raga menyantap makan siangnya dengan
cukup lahap. Di tengah kegiatan makan siangnya yang khidmat, seorang gadis
secara tiba – tiba duduk di kursi yang ada di hadapannya. Gadis itu kemudian
menyimpan piringnya di meja berhadapan dengan piring Raga.
“Menu hari ini
sepertinya enak. Kamu terlihat sangat lahap.”
Raga baru
menggubris perkataan gadis itu setelah selesai menelan makanannya.
“Memang enak.
Tapi supnya hambar. Kamu kenapa datang terlambat?” tanya Raga
“Kelasku tadi
selesai lebih lama. Dosen tua itu selalu lupa waktu ketika mengajar.”
Gumaman Alfa
yang terlihat sedikit kesal itu menutup percakapan. Mereka kini hening dan
fokus pada makanan mereka masing – masing. Selang beberapa menit kemudian, Raga
selesai dengan makanannya. Ia kemudian meminum segelas air yang ia bawa tadi.
Di meja itu terlihat piring bekas makan Raga sangat bersih, hanya menyisakan
sup hambar yang tidak ia makan. Sedangkan di sisi lain, piring Alfa masih
menyisakan setengah dari makanan yang ada.
“Mengapa tidak
dihabiskan?” tanya Raga. “Kamu bilang tadi menunya terlihat enak.”
“Entahlah. Rasanya
aku memang hanya ingin makan sedikit saja. Jadi makan setengah pun sudah
kenyang.” jawab Alfa sembari meminum susu kotak yang ia bawa tadi.
“Apakah kamu
pernah mengenalku sebelumnya? Jika iya, maaf, aku memang sangat buruk mengingat
wajah orang.” kata Raga. Demi memastikan pikirannya semalam, Raga menatap Alfa
lekat – lekat. Rambutnya pendek seperti potongan rambut lelaki. Wajahnya
lonjong dengan sorot mata yang sangat tenang dan cenderung dingin, namun lengkungan
di bibirnya membuat ia cerah. Ia memakai blus berlengan panjang dengan warna biru
cerah dan motif kotak – kotak putih. Kerahnya berbentuk huruf v dengan tiga
buah kancing yang saling berkait di dadanya. Itulah hasil pengamatan Raga. Dan
lagi, jikapun Alfa adalah temannya saat SMA, Raga tak mengingat wajah itu dalam
memorinya.
“Aku
mengenalmu sebelumnya.”
“Maaf, tapi
aku tak mengingatnya.”
“Benarkah? Aku
adalah orang yang sama yang kau temui di minimarket kemarin.” ujar Alfa sembari
tertawa kecil. “Tenang saja, aku bukan teman SMA mu. Aku baru saja melihatmu
kemarin di kelas Hukum Perencanaan Kota, lantas tak sengaja tahu namamu lewat
absen. Kedua kalinya aku bertemu dengamu di minimarket. Sejak saat itu, kita
berkenalan, bukan? Mengapa kamu bilang tidak mengenalku?”
“Syukurlah, ternyata
kau bukan teman SMA ku.” kata Raga yang merasa lega.
“Kamu ini unik
sekali.”
“Mengapa
begitu?” tanya Raga
“Kau bahkan
tak penasaran mengapa aku mau menemuimu. Kau lebih takut jika aku adalah teman
SMA mu.”
“Ya tentu saja
aku penasaran. Tetapi membayangkan aku diomeli karena tak mengenal teman
sendiri itu lebih penting. Aku malas jika harus terlibat dalam perdebatan
seperti itu.” ujar Raga.
“Benar juga. Hei
Raga, apa kau ada waktu setelah makan siang? Ayo kita beli es krim.” kata Alfa
mengajak.
“Tentu. Aku
luang hingga sore nanti.” kata Raga mengiyakan. Setelah sepakat untuk membeli
es krim bersama, mereka lalu membawa piring bekas makan masing – masing dan
menyimpannya ke sebuah box besar khusus untuk piring kotor. Lalu mereka pergi
meninggalkan kantin itu.
Di siang hari
menuju sore, di musim gugur, Raga dan Alfa berjalan menuju kedai es krim yang
berada di pujasera Admission Building. Kedai itu memang satu – satunya
yang ada di kampus dan sangat terkenal. Mahasiswa baru biasanya melakukan
ritual makan es krim di Admission Hall ketika mereka baru saja diterima
di kampus. Ritual itu sebenarnya hanya kebetulan, karena mahasiswa yang baru
biasanya pergi ke Admission Building untuk mengurus beberapa dokumen dan
mendaftar untuk ID Card mahasiswa di sana. Setelah itu, kebanyakan dari
mereka membeli es krim di kedai yang ada di gedung itu. Di musim gugur yang
sudah mulai dingin ini entah mengapa, Alfa mengajak Raga untuk makan es krim.
Namun lebih aneh lagi Raga yang tanpa ragu menerima ajakan itu.
“Kamu tahu,
aku menyapamu di minimarket kemarin karena apa?” tanya Alfa pada Raga.
“Tidak. Justru
itulah yang membuatku penasaran.”
“Mungkin kita
pernah bertemu sebelumnya, namun aku belum sadar. Saat aku melihatmu di kelas
hari itu, aku baru menyadari adanya kamu, dan secara tak sengaja aku tahu
namamu. Lalu di minimarket aku melihatmu. Saat itu aku merasa harus menyapamu
dan mengajakmu makan siang.”
“Mengapa
begitu?”
“Entahlah. Aku
merasa mungkin kita bisa berteman baik. Kurasa kepribadianmu cocok denganku.”
“Lalu setelah
bertemu denganku, apakah begitu?”
“Ya, begitu.”
pungkas Alfa.
Percakapan itu
berlangsung hingga akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, kedai es krim.
“Tolong satu cone
es krim coklat.” kata Alfa pada penjual es krim. “Hei Raga, kamu mau rasa
apa?” tanya Alfa.
“Vanilla
saja.” kata Raga.
Es krim
akhirnya ada di tangan masing – masing. Alfa membayar es krim hari itu. “Aku
yang mengajak, maka aku akan traktir. Lain kali kamu traktir aku makan siang.
Ok?” kata Alfa. Raga yang sudah menyiapkan uang untuk membayar hanya bisa
pasrah dan mengiyakan keinginan gadis itu. Mereka pergi ke tribun lapangan
kampus dan makan es krim bersama di sana.
“Kamu tinggal
di mana?” tanya Alfa pada Raga setelah menjilat es krimnya.
“Di asrama
kampus. Sejak awal masuk.”
“He? Memangnya
ada orang yang bisa bertahan di asrama selama itu? Aku bahkan tidak pernah
terfikir untuk tinggal di sana lebih dari satu semester. Sangat sempit dan
privasiku terganggu karena ada teman sekamar.” kata Alfa seolah tak percaya.
“Tentu saja
ada. Aku dan teman sekamarku sudah tinggal bersama sejak kami memulai kehidupan
baru di sini.”
“Mengapa kamu
sangat betah?”
“Entahlah.
Mungkin karena sudah terbiasa. Teman sekamarku juga tidak menyebalkan, sangat
toleran bahkan suportif. Aku juga tidak pernah berfikir untuk pindah dan
tinggal sendiri. Menurutku di asrama cukup menyenangkan.” jawab Raga.
Alfa hanya
mengangguk sambil makan es krim. Mereka makan es krim hingga sore. setelah itu
mereka berpisah karena Raga harus pergi ke kelas.
“Ini nomor ponselku.
Hubungi aku nanti malam ya!” seru Alfa sembari memberikan secarik kertas
bertuliskan nomor ponselnya pada Raga. Raga menerima kertas itu lalu ia simpan
dalam saku jeansnya. Setelah itu mereka berpisah. Raga bergegas ke kelasnya,
sementara Alfa pergi ke arah lain entah menuju ke mana.
v
Makan siang
seperti tadi adalah sesuatu yang jarang atau bahkan hampir tak mungkin
sepanjang sejarah kehidupan Raga. Pertama, Raga sangat jarang mau makan di
kantin kampus, bahkan ketika Beni yang mengajaknya. Dari kebiasaannya itu, Beni
tentu cukup kaget ketika dimintai kupon makan oleh Raga. Namun Beni saat itu
tak banyak tanya alasan apa yang menghendaki Raga karena ia tahu Raga pun tak
akan menjawab jika ia banyak bertanya. Mungkin jika saat itu Beni amat penasaran
dan terus bertanya, Raga akan berlalu begitu saja dan menganggap Beni tak mau
membagi kupon itu padanya. Kepribadiannya itu memang sangat menyebalkan, hingga
membuat Beni maklum akan hal itu. Kedua, ajakan makan itu datang dari seorang
yang bahkan belum Raga kenal lebih dari satu hari. Terlebih lagi, ia diajak
oleh seorang gadis. Alfa, gadis itu cukup beruntung bisa membuat Raga makan siang
bersamanya. Raga, biasanya ia tidak pernah tertarik jika Beni membicarakan tentang
gadis cantik di kampus. Bahkan, tawaran kencan dengan wanita kenalan Beni pun selalu
ditolak dengan berbagai alasan. Alfa, dalam hal ini tentulah memiliki sesuatu
yang membuat Raga tertarik hingga hal yang tak mungkin itu bisa terjadi.
“Halo?” kata
Raga sembari mengangkat ponsel ke telinganya.
“Halo. Siapa
ini?” jawab seseorang di seberang sana.
“Ini nomorku. Kamu
mungkin membutuhkannya.” kata Raga.
“Raga?”
“Hmm.”
“Tentu. Akan
kusimpan setelah selesai nanti.”
Mereka hening
sejenak. Lewat kertas berisi nomor ponsel yang ia dapat tadi, Raga menghubungi Alfa
malam itu.
“Raga, apakah
kamu masih di sana?” tanya Alfa
“Ya. Masih.”
“Besok ada
waktu?”
“Besok kelasku
cukup padat. Ditambah dengan seminar Tugas Akhir yang wajib kuhadiri esok.” kata
Raga.
“Bagaimana dengan akhir pekan?”
“Akhir pekan
biasanya kupakai untuk mencuci baju di pagi hari lalu menyetrikanya saat siang.
Sisanya waktuku luang.”
“Hari Sabtu jam
5 sore datanglah ke rumahku. Akan kubuatkan masakan yang enak untukmu. Nanti kukabari
alamatnya lewat pesan.” kata Alfa.
“Tentu.” jawab
Raga singkat.
Setelah beberapa
menit berbincang, Alfa menutup telepon itu. Tak lama kemudian, ponsel Raga
berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Alfa. Isinya adalah sebuah alamat yang
harus Raga datangi di hari Sabtu nanti.
“Aku cukup pandai
memasak jadi tidak usah khawatir. Lalu jika kau kesulitan menemukan rumahku,
tanya saja pada orang di sekitar situ letak toko buku terdekat yang ada di
daerah itu. Rumahku ada di lantai dua jadi kau masuk saja lalu naik ke lantai
dua. Raga, kau harus datang ya!” tulis Alfa di akhir pesan itu.
Raga kemudian
memindahkan alamat itu ke aplikasi catatan di ponselnya. Setelah itu ia
kemudian menyimpan ponselnya di meja yang ada di dekatnya lalu pergi tidur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar