Jumat, 25 September 2020

Dengarkan Angin Bernyanyi

 

Dengarkan Angin Bernyanyi

Oleh : Syahdan

 

·       Genre : Fiksi

·       Premis : Namanya Raga. Mahasiswa tingkat akhir. Ia cenderung datar dan tenang. Walapun begitu, Raga bukanlah pria yang kaku ataupun sombong. Itu memang sifatnya sejak dulu. Dibalik pribadinya yang tenang, Raga menyimpan sebuah cerita. Cerita tentang masa mudanya yang pelik.

Di masa sekarang, hidup Raga secara signifikan berubah dengan kedatangan seorang gadis yang ia temui di minimarket. Dia adalah Alfa. Kehadirannya berujung pada jalan yang akhirnya harus Raga pilih ; terjebak di masa lalu dengan segala rasa cinta dan penyesalan atau memulai lembaran baru yang rawan?

Bagian

Outline

 

 1

Raga menjalani kehidupannya yang normal. Pergi ke kampus, menghadiri kelas, makan siang di kantin, lalu pulang. Yang berbeda hari itu adalah secara tak sengaja ia bertemu dengan seorang perempuan yang tak ia kenal di sebuah minimarket. Raga akhirnya mengenalnya dengan nama Alfa. Pertemuan itu tanpa disangka adalah awal mula dari pertemuan selanjutnya.

 

 2

Masa mudanya saat SMA yang pelik bermula saat ia pindah sekolah. Ibunya yang sibuk terpaksa harus menitipkan Raga pada neneknya sehingga Raga harus menetap dan bersekolah di sana. Esa dan Raaya adalah dua sahabatnya semasa kehidupannya di SMA itu. Raga mengingat mereka sebagai kenangan yang sangat indah. Dua orang berharga yang mau menerima Raga apa adanya.

 

 

3

Kehidupan Raga yang datar kini terasa lebih berisi dengan hadirnya Alfa. Pertemuan yang tak terduga itu sedikit demi sedikit mulai menumbuhkan sesuatu yang cerah. Raga merasakan sesuatu yang berbeda ketika bersama Alfa. Ada hal yang sudah lama kosong di jiwanya, kini mulai terisi. Alfa yang sejak awal memang sangat tertarik pada Raga mulai menggoyahkan Raga, meminta sesuatu yang lebih jelas. Hal itu cukup untuk membuat Raga berpikir keras dan gelisah, melebihi tugas akhirnya yang tak kunjung selesai.

 

4

Kepergian Esa yang sangat tragis dan mendadak membuat Raaya kalut. Ia larut dalam kesedihannya dan sulit untuk ia bisa pulih. Raga yang sama sedihnya, berusaha untuk menghibur Raaya, menemaninya dan membantunya agar ia bisa pulih kembali. Dalam rentang waktu itu, Raga yang sebenarnya memiliki rasa untuk Raaya berusaha mendampingi Raaya, mengembalikan jiwa Raaya yang setengahnya dibawa pergi oleh Esa.

 

 

5

Kehidupan masa lalunya yang mengendap di dalam hatinya seakan terkoneksi dengan hidupnya di masa kini. Raga yang dihantui dengan banyak rasa cinta dan rasa bersalah akan masa lalunya kini seakan menemui akhir. Alfa mendesak Raga dengan pilihan yang sulit ; terjebak di masa lalu dengan segala rasa cinta dan penyesalan atau memulai lembaran baru yang rawan? Pada akhirnya, Raga menemukan jawabannya.

 


1

      Jam dinding menunjukkan pukul 12 tepat tengah malam. Langit sangat gelap dan bersih. Bulan rasanya tak tampak, hanya lampu jalan yang menerangi malam itu. Raga memandang keadaan itu lewat jendela asramanya. Ia membuka jendela itu lebar – lebar hingga angin malam masuk melalui jendela, menusuk badan Raga yang saat itu hanya memakai kaos tipis berwarna kuning gelap. Ia menikmati angin malam sembari membuka kaleng soda kesukaannya. Sebuah ritual yang ampuh untuk melepas penat setelah berkutat dengan tugas akhir yang tak kunjung selesai sejak semester awal. Memasuki tengah semester, Raga sadar tugas akhir itu sudah harus tampak keberadaannya, bukan hanya sekadar draft lagi. Maka, di sela – sela jadwal kuliah yang cukup padat, ia mengorbankan waktunya untuk mengerjakan tugas besar itu. Terhitung ini adalah hari pertama ia memulai kembali pengerjaan tugas itu setelah seminggu tertunda karena kondisi kesehatannya terganggu. Alhasil ia harus mengambil cuti selama 3 hari karena demam tinggi dan sisanya ia berkuliah sembari menjalani pemulihan.

Sejak memutuskan untuk berkuliah di kota yang sangat jauh, Raga sudah tahu konsekuensi bahwa ia harus bisa melakukan segala sesuatu secara mandiri. Hidup terpisah dari keluarga lalu menetap di asrama kampus. Raga beradaptasi dengan baik di awal kehidupan mandirinya, mengingat ia sebenarnya adalah anak yang cukup rajin melakukan pekerjaan rumah sejak ia masih tinggal bersama neneknya. Beberapa pekerjaan seperti mencuci baju, menyetrika, dan bersih – bersih ruangan kamar dapat ia lakukan tanpa kesulitan. Hanya satu yang bermasalah, yaitu memasak. Raga tidak pandai memasak, bisa dibilang hampir tidak bisa memasak kecuali mi instan dan air. Di awal kehidupannya sebagai mahasiswa rantau, ia cukup kesulitan dalam hal makanan. Raga, walaupun lelaki ia cukup pemilih dalam hal makanan. Tak mudah baginya untuk beradaptasi dengan gaya dan rasa makanan di kota itu. Raga sangat sensitif dengan makanan dengan rasa yang pekat dan pedas, yang celakanya adalah ciri khas kebanyakan makanan di kota itu. Sehingga Raga hanya memakan mi instan selama hampir 2 minggu di awal kehidupannya tinggal di asrama itu. Untungnya tak lama ia kemudian menemukan tempat makan yang menyediakan makanan yang cocok dengan lidahnya. Walaupun letaknya cukup jauh dari lokasi asrama dan area kampusnya, ia selalu menyempatkan waktu untuk makan di sana setiap jam makan siang.

Di tengah lamunannya yang tenang, tiba – tiba pintu kamarnya bersuara. Terdengar suara pintu terbuka setelah orang itu memasukan sandi di gagang pintu. Orang itu tak lain adalah teman sekamarnya. Beni adalah teman sekamarnya sejak semseter satu. Beni dalam pandangan Raga adalah pria yang rajin, sabar, pintar, pokoknya segala sifat positif ada dalam dirinya. Semua kepribadian itu membungkusnya dengan sempurna untuk memikat hati para mahasiswi junior di kampus. Ia pun terbilang aktif di organisasi kampus. Alhasil, ia sangat populer di kalangan mahasiswi junior. Tak terhitung berapa banyak perempuan yang ia pacari, namun hubungannya tak pernah berumur panjang. Raga sendiri bingung mengapa ia bisa berteman dengan orang seperti Beni. Tetapi, Raga tak banyak bicara. Selama Beni bersikap baik, Raga tak mempermasalahkan hal lain yang pada dirinya. Toh kepribadian seseorang kan hanya mereka yang tahu baik atau buruknya untuk mereka sendiri. Raga juga cukup malas untuk memberi banyak saran. Namun jika sudah kelewatan, Raga kadang memberinya sedikit teguran agar Beni sadar.

“Selarut ini, belum tidur juga?” tanya Beni.

“Belum. Biasa, Tugas Akhir.” kata Raga.

“Bagi satu kaleng dong!” ujar Beni meminta sekaleng soda yang ada di dekat Raga.

“Nih, tangkap!”

Nice shot. Thanks, bro.”

Malam itu, di salah satu kamar asrama pria di lantai 11, dua orang pria, teman sekamar dengan akrabnya menikmati minuman mereka sembari menatap langit yang gelap menjelang dini hari.

“Kemarin pacarku bilang ingin mengenalkan kamu sama temannya. Mau nggak?”

“Tergantung.”

“Orangnya cantik, pintar, baik hati, dan tidak manja. Nih fotonya.” Kata Beni sembari memperlihatkan layar ponsel dengan foto wainta itu pada Raga. Raga kemudian menatap layar ponsel Beni. Memang benar, cantik. Raga mengakui itu.

“Benar kan? Kalau mau nanti kuatur pertemuan kalian. Bahkan kita bisa pergi bersama pacarku, jika kalian mau.” ajak Beni.

“Boleh, asal kamu kerjain TA ku ya, mau?”

“TA kan bisa nanti. Come on bro, have fun lah sesekali. Mau kan?”

“Tawarannya kutolak. Syarat tidak terpenuhi.” tolak Raga.

“Yah terserah kamu lah. Tawaran menarik malah ditolak mentah – mentah.” kata Beni kecewa.

“Kan sudah kubilang. Kalau kamu kerjakan TA ku baru aku mau ikut. Karena kamu menolak, aku juga tentu menolak.” ujar Raga menimpali Beni.

Penolakan Raga kemudian menutup percakapan malam itu. Beni yang tak habis pikir dengan kelakuan temannya hanya bisa terdiam dan mendengus kesal. Sedangkan Raga yang sudah menghabiskan sekaleng soda berlalu menuju kamar mandi. Setelah kembali, Raga beranjak menuju tempat tidur, sedangkan Beni masih terjaga. Ia duduk di kursi dekat jendela yang terbuka sambil menenggak minuman sodanya yang belum habis.

v   

Raga bangun dari tidurnya setelah menekan tombol snooze di alarm ponselnya sebanyak 3 kali. Alarm itu berbunyi sejak jam 5 pagi, namun sang pemilik baru banugn satu setengah jam kemudian. Segera setelah membuka mata, Raga kemudian beranjak dari kasur lalu pergi ke kamar mandi dan bersiap untuk menghadiri kelas pagi ini. Di sisi lain Raga melihat Beni yang masih tertidur pulas di ranjangnya karena terjaga hingga dini hari.

   Pagi itu di musim gugur, hari sangat cerah. Sudah pertengahan musim gugur dan cuaca mulai cukup dingin terlebih saat pagi. Dedaunan yang rontok dari pohonnya berserakan di jalanan, membuat suasana menjadi semakin ‘gugur’. Raga berjalan menuju sebuah minimarket di lantai bawah asramanya. Ia hendak membeli roti untuk sarapannya. Setelah itu, ia kemudian keluar dari bangunan asrama dan mulai berjalan menuju kelas pertamanya. Pagi itu ia mendapat kelas pagi untuk mata kuliah Hukum Perencanaan Kota. Kelas dimulai pukul 8 pagi. Raga menghabiskan rotinya sembari bergegas menuju kelas yang letaknya cukup jauh dari asrama. Kelas yang akan ia datangi terletak di Gedung Fakultas Teknik dan memakan waktu sekitar 10 menit jalan kaki dari asramanya. Universitas itu memang sangat luas. Areanya mencakup hampir 15 gedung ditambah dengan area fasilitas lainnya. Tak ayal karena program yang mereka tawarkan sangat lengkap dari mulai Kedokteran, Seni dan Olahraga, Bisnis, Teknik, dan lainnya. Raga adalah salah satu mahasiswa di Fakultas Teknik. Ia memilih jurusan Urban Planning yang masih satu rumpun dengan Arsitektur. Jurusan itu ia pilih karena minatnya pada keindahan bangunan dan tata letak kota. Sejak kecil, ia sangat tertarik dengan mainan balok yang ia susun menjadi sebuah gedung. Ia pun selalu terlihat antusias ketika diajak oleh neneknya ke kota. Raga kecil sangat terpana melihat gedung – gedung tinggi dan indahnya suasana kota yang rapi. Sebenarnya ia menaruh minat pada Arsitektur, namun kemampuan menggambar yang ia miliki menghambat itu semua. Raga sangat payah dalam menggambar, bahkan sejak ia TK. Sayangnya hal itu terus berlanjut bahkan hingga SMA. Untungnya pelajaran seni yang ia ambil adalah seni musik saat itu, sehingga ia lolos dari pelajaran menggambar. Saat memasuki dunia perkuliahan, ia pun mulai belajar menggambar dari dasar di akademi menggambar yang ada dekat kampusnya. Alhasil kemampuan menggambarnya meningkat cukup pesat lewat akademi itu, jauh lebih baik daripada saat ia SMA.  

Kelas pertama sudah selesai. Raga punya cukup banyak waktu menuju makan siang. Ia pun memutuskan untuk pergi ke minimarket, membeli minuman dan makanan ringan. Raga beranjak keluar dari kelasnya. Minimarket terdekat dari gedung itu berada di area luar kampus, ada di seberang jalan. Raga berjalan dari gerbang belakang kampus menuju zebra cross untuk menyebrang. Ia datang tepat pada saat lampu merah menyala. Ia lantas berjalan dengan cepat menuju minimarket. Minimarket itu ada tepat diujung zebra cross yang ia lalui. Raga lalu meraih pintu minimarket dan mendorognya untuk masuk. Ia kemudian berlalu menuju tempat minuman dingin. Ada 4 lemari pendingin dihadapannya dengan berbagai macam pilihan minuman di dalamnya. Ketika menemukan pilihannya, Raga kemudian membuka pintu lemari pendingin itu untuk kemudian mengambil Jus Jeruk kemasan kotak. Setelah itu raga menutup kembali pintu lemari es itu. Ketika berbalik, seketika Raga dikagetkan oleh penampakan seorang perempuan yang sedang berdiri dihadapannya. Entah sejak kapan perempuan itu berdiri di sana.

“Halo. Raga, kan?” tanya perempuan itu.

“Iya. Siapa ya?” jawab Raga kebingungan.

Perempuan itu kemudian menjulurkan tangan kanannya, mengajak Raga untuk berjabat tangan. Wajahnya tersenyum menatap Raga.

“Alfa.” Jawab perempuan itu.

Raga yang kebingungan dengan polosnya menerima jabatan tangan itu.

“Kamu tidak pernah lihat aku? Kita bahkan ada di kelas yang sama tadi pagi.” Ujar perempuan itu segera setelah mereka selesai berjabat tangan.

“Aku tidak pernah melihatmu. Terlebih tadi pagi aku datang terlambat.”

“Benar juga. Aku pun tahu namamu karena kamu telat tadi pagi. Kamu terlihat sangat buruk saat sedang terburu – buru.”

“Begitulah.”

“Ngomong – ngomong apa kamu besok ada waktu? Mari makan siang bersama.”

“Kenapa tidak sekarang?” tanya Raga

“Kalau sekarang aku sedang cukup sibuk. Besok kutunggu kamu di kantin Building A untuk makan siang. Oke?”

“Apakah aku harus datang?”

“Tentu saja. Pokoknya kutunggu kamu dan kamu harus datang ya!” ujar perempuan itu sembari berlalu meninggalkan Raga.

Pertemuannya dengan Alfa di minimarket meninggalkan kesan bagi Raga. Bagaimana tidak, seorang perempuan yang tak pernah ia kenal sebelumnya, secara tiba – tiba mengajaknya makan siang besok. Raga yang datar tidak banyak bertanya mengapa Alfa ingin mengajaknya makan siang. Setelah percakapan itu, Raga kemudian pergi ke kasir, membayar minuman itu lalu pergi ke Study Lounge dekat gedung fakultasnya. Raga hendak melanjutkan kembali tugas akhirnya. Setelah itu, Raga kemudian makan siang di kantin luar kampus, tempat makan favoritnya. Lalu ia pergi ke kelas Desain Wilayah Kota di jam 2, kemudian kembali ke asrama dan tidur.

v   

Siang hari yang terik di musim gugur. Raga baru saja beranjak dari kelasnya. Ia sedang berjalan menuju kantin di Building A untuk makan siang, sekaligus memenuhi janji -atau mungkin bukan- dengan perempuan yang ia temui kemarin. Alfa, gadis itu sangat aneh, tetapi Raga tak bisa berhenti memikirkannya sejak pertemuan mereka kemarin. Raga bahkan mencoba mencari nama Alfa di dalam ingatannya, siapa tahu dia sebenarnya adalah teman semasa SMA nya dulu. Namun tak satu pun temannya bernama Alfa, lebih tepatnya Raga bahkan tidak punya teman selain dua sahabatnya Esa dan Raaya. Raga pun memutuskan untuk pergi ke tempat itu tanpa harapan apapun. Toh orang ke kantin kan niatnya memang ingin makan.

Lantas sesampainya Raga di kantin itu, ia segera pergi ke tempat di mana ia bisa menemukan tumpukan piring di sana. Kantin itu menyajikan makanannya dengan sistem prasmanan, sehingga para pembeli tinggal menyodorkan piring mereka saja untuk diisi dengan nasi atau lauk pauk. Di hari itu, Raga membayar makanannya dengan kupon yang ia dapat dari Beni setelah merayunya semalam.

“Tumben sekali kamu. Biasanya kan nggak mau makan di kantin kampus.” kata Beni

“Memang iya. Tapi dipikir lagi kuliah empat tahun di sini kalau tidak pernah makan di kantin kampus rasanya tidak etis. Benar kan?”

Setelah melontarkan alasan itu, Beni kemudian menyodorkan dua buah kupon makan kepada Raga. Raga tak banyak bicara. Ia kemudian mengambil kupon itu dengan wajah senang seraya berterimakasih pada Beni.

Raga akhirnya mendapatkan makan siangnya. Di piringnya sudah tersaji hidangan yang sangat lengkap dari mulai nasi, lauk pauk, hingga sayuran. Saat itu Raga sebenarnya sudah familiar dengan rasa makanan di daerah itu, tidak seperti pertama kali ia pindah. Namun entah mengapa, rasanya ia enggan pergi ke kantin untuk makan siang dan lebih memilih tempat favoritnya. Raga menyantap makan siangnya dengan cukup lahap. Di tengah kegiatan makan siangnya yang khidmat, seorang gadis secara tiba – tiba duduk di kursi yang ada di hadapannya. Gadis itu kemudian menyimpan piringnya di meja berhadapan dengan piring Raga.

“Menu hari ini sepertinya enak. Kamu terlihat sangat lahap.”

Raga baru menggubris perkataan gadis itu setelah selesai menelan makanannya.

“Memang enak. Tapi supnya hambar. Kamu kenapa datang terlambat?” tanya Raga

“Kelasku tadi selesai lebih lama. Dosen tua itu selalu lupa waktu ketika mengajar.”

Gumaman Alfa yang terlihat sedikit kesal itu menutup percakapan. Mereka kini hening dan fokus pada makanan mereka masing – masing. Selang beberapa menit kemudian, Raga selesai dengan makanannya. Ia kemudian meminum segelas air yang ia bawa tadi. Di meja itu terlihat piring bekas makan Raga sangat bersih, hanya menyisakan sup hambar yang tidak ia makan. Sedangkan di sisi lain, piring Alfa masih menyisakan setengah dari makanan yang ada.

“Mengapa tidak dihabiskan?” tanya Raga. “Kamu bilang tadi menunya terlihat enak.”

“Entahlah. Rasanya aku memang hanya ingin makan sedikit saja. Jadi makan setengah pun sudah kenyang.” jawab Alfa sembari meminum susu kotak yang ia bawa tadi.

“Apakah kamu pernah mengenalku sebelumnya? Jika iya, maaf, aku memang sangat buruk mengingat wajah orang.” kata Raga. Demi memastikan pikirannya semalam, Raga menatap Alfa lekat – lekat. Rambutnya pendek seperti potongan rambut lelaki. Wajahnya lonjong dengan sorot mata yang sangat tenang dan cenderung dingin, namun lengkungan di bibirnya membuat ia cerah. Ia memakai blus berlengan panjang dengan warna biru cerah dan motif kotak – kotak putih. Kerahnya berbentuk huruf v dengan tiga buah kancing yang saling berkait di dadanya. Itulah hasil pengamatan Raga. Dan lagi, jikapun Alfa adalah temannya saat SMA, Raga tak mengingat wajah itu dalam memorinya.

“Aku mengenalmu sebelumnya.”

“Maaf, tapi aku tak mengingatnya.”

“Benarkah? Aku adalah orang yang sama yang kau temui di minimarket kemarin.” ujar Alfa sembari tertawa kecil. “Tenang saja, aku bukan teman SMA mu. Aku baru saja melihatmu kemarin di kelas Hukum Perencanaan Kota, lantas tak sengaja tahu namamu lewat absen. Kedua kalinya aku bertemu dengamu di minimarket. Sejak saat itu, kita berkenalan, bukan? Mengapa kamu bilang tidak mengenalku?”

“Syukurlah, ternyata kau bukan teman SMA ku.” kata Raga yang merasa lega.

“Kamu ini unik sekali.”

“Mengapa begitu?” tanya Raga

“Kau bahkan tak penasaran mengapa aku mau menemuimu. Kau lebih takut jika aku adalah teman SMA mu.”

“Ya tentu saja aku penasaran. Tetapi membayangkan aku diomeli karena tak mengenal teman sendiri itu lebih penting. Aku malas jika harus terlibat dalam perdebatan seperti itu.” ujar Raga.

“Benar juga. Hei Raga, apa kau ada waktu setelah makan siang? Ayo kita beli es krim.” kata Alfa mengajak.

“Tentu. Aku luang hingga sore nanti.” kata Raga mengiyakan. Setelah sepakat untuk membeli es krim bersama, mereka lalu membawa piring bekas makan masing – masing dan menyimpannya ke sebuah box besar khusus untuk piring kotor. Lalu mereka pergi meninggalkan kantin itu.

Di siang hari menuju sore, di musim gugur, Raga dan Alfa berjalan menuju kedai es krim yang berada di pujasera Admission Building. Kedai itu memang satu – satunya yang ada di kampus dan sangat terkenal. Mahasiswa baru biasanya melakukan ritual makan es krim di Admission Hall ketika mereka baru saja diterima di kampus. Ritual itu sebenarnya hanya kebetulan, karena mahasiswa yang baru biasanya pergi ke Admission Building untuk mengurus beberapa dokumen dan mendaftar untuk ID Card mahasiswa di sana. Setelah itu, kebanyakan dari mereka membeli es krim di kedai yang ada di gedung itu. Di musim gugur yang sudah mulai dingin ini entah mengapa, Alfa mengajak Raga untuk makan es krim. Namun lebih aneh lagi Raga yang tanpa ragu menerima ajakan itu.

“Kamu tahu, aku menyapamu di minimarket kemarin karena apa?” tanya Alfa pada Raga.

“Tidak. Justru itulah yang membuatku penasaran.”

“Mungkin kita pernah bertemu sebelumnya, namun aku belum sadar. Saat aku melihatmu di kelas hari itu, aku baru menyadari adanya kamu, dan secara tak sengaja aku tahu namamu. Lalu di minimarket aku melihatmu. Saat itu aku merasa harus menyapamu dan mengajakmu makan siang.”

“Mengapa begitu?”

“Entahlah. Aku merasa mungkin kita bisa berteman baik. Kurasa kepribadianmu cocok denganku.”

“Lalu setelah bertemu denganku, apakah begitu?”

“Ya, begitu.” pungkas Alfa.

Percakapan itu berlangsung hingga akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, kedai es krim.

“Tolong satu cone es krim coklat.” kata Alfa pada penjual es krim. “Hei Raga, kamu mau rasa apa?” tanya Alfa.

“Vanilla saja.” kata Raga.

Es krim akhirnya ada di tangan masing – masing. Alfa membayar es krim hari itu. “Aku yang mengajak, maka aku akan traktir. Lain kali kamu traktir aku makan siang. Ok?” kata Alfa. Raga yang sudah menyiapkan uang untuk membayar hanya bisa pasrah dan mengiyakan keinginan gadis itu. Mereka pergi ke tribun lapangan kampus dan makan es krim bersama di sana.

“Kamu tinggal di mana?” tanya Alfa pada Raga setelah menjilat es krimnya.

“Di asrama kampus. Sejak awal masuk.”

“He? Memangnya ada orang yang bisa bertahan di asrama selama itu? Aku bahkan tidak pernah terfikir untuk tinggal di sana lebih dari satu semester. Sangat sempit dan privasiku terganggu karena ada teman sekamar.” kata Alfa seolah tak percaya.

“Tentu saja ada. Aku dan teman sekamarku sudah tinggal bersama sejak kami memulai kehidupan baru di sini.”

“Mengapa kamu sangat betah?”

“Entahlah. Mungkin karena sudah terbiasa. Teman sekamarku juga tidak menyebalkan, sangat toleran bahkan suportif. Aku juga tidak pernah berfikir untuk pindah dan tinggal sendiri. Menurutku di asrama cukup menyenangkan.” jawab Raga.

Alfa hanya mengangguk sambil makan es krim. Mereka makan es krim hingga sore. setelah itu mereka berpisah karena Raga harus pergi ke kelas.

“Ini nomor ponselku. Hubungi aku nanti malam ya!” seru Alfa sembari memberikan secarik kertas bertuliskan nomor ponselnya pada Raga. Raga menerima kertas itu lalu ia simpan dalam saku jeansnya. Setelah itu mereka berpisah. Raga bergegas ke kelasnya, sementara Alfa pergi ke arah lain entah menuju ke mana.

v   

Makan siang seperti tadi adalah sesuatu yang jarang atau bahkan hampir tak mungkin sepanjang sejarah kehidupan Raga. Pertama, Raga sangat jarang mau makan di kantin kampus, bahkan ketika Beni yang mengajaknya. Dari kebiasaannya itu, Beni tentu cukup kaget ketika dimintai kupon makan oleh Raga. Namun Beni saat itu tak banyak tanya alasan apa yang menghendaki Raga karena ia tahu Raga pun tak akan menjawab jika ia banyak bertanya. Mungkin jika saat itu Beni amat penasaran dan terus bertanya, Raga akan berlalu begitu saja dan menganggap Beni tak mau membagi kupon itu padanya. Kepribadiannya itu memang sangat menyebalkan, hingga membuat Beni maklum akan hal itu. Kedua, ajakan makan itu datang dari seorang yang bahkan belum Raga kenal lebih dari satu hari. Terlebih lagi, ia diajak oleh seorang gadis. Alfa, gadis itu cukup beruntung bisa membuat Raga makan siang bersamanya. Raga, biasanya ia tidak pernah tertarik jika Beni membicarakan tentang gadis cantik di kampus. Bahkan, tawaran kencan dengan wanita kenalan Beni pun selalu ditolak dengan berbagai alasan. Alfa, dalam hal ini tentulah memiliki sesuatu yang membuat Raga tertarik hingga hal yang tak mungkin itu bisa terjadi.

“Halo?” kata Raga sembari mengangkat ponsel ke telinganya.

“Halo. Siapa ini?” jawab seseorang di seberang sana.

“Ini nomorku. Kamu mungkin membutuhkannya.” kata Raga.

“Raga?”

“Hmm.”

“Tentu. Akan kusimpan setelah selesai nanti.”

Mereka hening sejenak. Lewat kertas berisi nomor ponsel yang ia dapat tadi, Raga menghubungi Alfa malam itu.

“Raga, apakah kamu masih di sana?” tanya Alfa

“Ya. Masih.”

“Besok ada waktu?”

“Besok kelasku cukup padat. Ditambah dengan seminar Tugas Akhir yang wajib kuhadiri esok.” kata Raga.

 “Bagaimana dengan akhir pekan?”

“Akhir pekan biasanya kupakai untuk mencuci baju di pagi hari lalu menyetrikanya saat siang. Sisanya waktuku luang.”

“Hari Sabtu jam 5 sore datanglah ke rumahku. Akan kubuatkan masakan yang enak untukmu. Nanti kukabari alamatnya lewat pesan.” kata Alfa.

“Tentu.” jawab Raga singkat.

Setelah beberapa menit berbincang, Alfa menutup telepon itu. Tak lama kemudian, ponsel Raga berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Alfa. Isinya adalah sebuah alamat yang harus Raga datangi di hari Sabtu nanti.

“Aku cukup pandai memasak jadi tidak usah khawatir. Lalu jika kau kesulitan menemukan rumahku, tanya saja pada orang di sekitar situ letak toko buku terdekat yang ada di daerah itu. Rumahku ada di lantai dua jadi kau masuk saja lalu naik ke lantai dua. Raga, kau harus datang ya!” tulis Alfa di akhir pesan itu.

Raga kemudian memindahkan alamat itu ke aplikasi catatan di ponselnya. Setelah itu ia kemudian menyimpan ponselnya di meja yang ada di dekatnya lalu pergi tidur.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kumpulan puisi aku dan bumi

Tema: Kesedihan   1.Rindu   Dikala fajar menyingsing Dikala burung bernyanyi Desiran daun tertiup angin Desiran rindu menjadi tangis   Burun...