Chapter I : September
28
September 2018.
Aku, 16 tahun, waktu itu sedang duduk di kursi halte bis
sambil menatap langit. Sore ini matahari
seolah lelah menunjukkan diri. Awan-awan tebal menutupi langit bagaikan semut
yang mengerubungi gula. Mendung. Seperti suasana hatiku saat ini. Burung-burung
terlihat terbang membentuk formasi menuju ke arah utara.
“Badai akan datang dari arah selatan,” gumamku. Ya tentu saja aku tahu, siang tadi baru saja aku membaca sebuah buku tentang badai di perpustakaan. Aku suka membaca, setidaknya sejak aku keluar dari panti asuhan. Buku-buku yang kubaca pun beragam, tapi kebanyakan buku yang kubaca tentang langit,sejarah, dan konspirasi.
Tak lama, bis yang kutunggu pun datang. Aku langsung
berdiri dan memasang earphoneku.
Dentuman nada Somewhere only we know dari
Keane langsung memenuhi gendang telingaku. Aku berdiri di depan pintu bis.
Pintu bis pun terbuka dan memperlihatkan barisan orang-orang yang hendak turun.
Jika aku hitung, ada sekitar 8 orang. Terpaksa aku harus menunggu satu persatu
orang-orang itu turun.
“Kenapa tidak
disediakan pintu tambahan sih? Kan kalau ada 2 pintu, satu pintu bisa dipakai untuk yang turun, yang satu lagi untuk yang naik.” gerutuku dalam hati.
Maksudku, di kota sebesar Adelaide ini, apa tidak terpikir oleh satu orang pun
tentang gagasan ini? Aku berjanji, saat besar nanti aku akan jadi orang pertama
yang mengajukan ide ini ke pemerintah.
“Hei nak, jadi naik atau tidak?” suara sang supir
membangunkanku dari lamunan. Ternyata saat menggerutu barusan, aku melamun dan
tidak tahu bahwa semua orang yang berbaris tadi sudah turun. Ditambah suara
musik di earphone, semakin membawaku
ke dunia lamunan. Membuatku semakin kesal saja.
“T-tentu saja pak!”
“Ya sudah cepat naik! Aku tidak punya waktu semalaman,”
Aku langsung melompat naik ke bis dan mencari kursi
kosong. Aku duduk satu kursi di belakang supir. Aku selalu benci saat naik bis ini. Pertama , ukuran bis ini cukup kecil, dengan kapasitas maksimal 18
orang ditambah dua supir membuat hawa menyesakkan. Kedua, karena jika aku
menaiki bis ini, itu artinya aku akan pulang. Jujur saja aku lebih nyaman di
perpustakaan atau di sekolah jika dibanding di rumah. Aku benci pulang karena
aku adalah anak angkat. Orang tua angkatku adalah sepasang suami istri yang
sudah menikah selama 17 tahun namun masih belum memiliki anak. Kemudian 4 tahun
yang lalu, mereka datang ke panti asuhan dan mengadopsiku. Sejak saat itu, aku
tinggal bersama mereka. Mereka sebenarnya orang baik. Mereka merawatku seperti
anak kandungnya sendiri, menyekolahkanku dan memfasilitasi segala keinginanku
termasuk akses VIP untuk bisa membaca semua buku di perpustakaan kota.
Bukankah seharusnya aku bersyukur jika ada orang yang
menginginkanku? Ya memang, pada awalnya aku senang sekali saat tahu bahwa aku
akan di adopsi, Tapi setelah 4 tahun tinggal bersama mereka, membuatku sadar
bahwa semua yang aku dapatkan ini hanyalah kepalsuan. Palsu. Semua yang aku
dapatkan ini palsu, termasuk kasih sayang mereka. Suatu hari aku tidak sengaja mencuri
dengar obrolan kedua orang tua angkatku di tengah malam. Alasan mereka
mengadopsiku adalah karena malu, karena sudah satu dekade lebih menikah masih
belum memiliki anak. Bukan rasa benar-benar ingin memiliki anak, tapi karena
malu. Ironis.
Untuk sampai rumah memerlukan waktu sekitar 15 menit. Saat ini lagu di earphone memutar Norwegian Wood dari The Beatles. Kualihkan pandangan ke sekeliling bis. Ada 5 orang penumpang yang belum turun. mereka tampak biasa. Tapi siapa tahukan, mungkin saja dari 5 penumpang itu ada yang baru saja putus hubungan dengan kekasihnya, mungkin ada yang mendapat nilai kurang bagus di sebuah mata pelajaran hari ini disekolahnya, atau mungkin ada yang baru saja kehilangan salah satu anggota keluarganya. Kita hanya tidak tahu. Suasana di luar juga masih mendung. Terdengar samar-samar suara gemuruh petir dari arah selatan. Sudah kubilang kan? Akan ada badai dari arah selatan.
15 menit berlalu dan aku pun bersiap untuk turun. Bis
berhenti dan pak supir membukakan pintu bis. Kuberikan ongkos ke pak supir dan
bergegas keluar.
“Akhirnya udara segar,” ucapku sambil menghirup nafas
dengan rakus seperti orang yang sudah lama tidak menghirup oksigen. Kutengok
arloji di tangan kiri menunjukkan pukul 17.23. Setelah kenyang menghirup udara,
aku langsung menyeret badanku ke rumah dengan malas.
·
“Aku pulang,”
“Selamat datang Elio. Sini sayang, kita makan malam!” ibu
angkatku, Mrs.Schicksal menjawab salamku dari dapur setengah teriak. Ya itu
namaku, Elio. Mungkin saat ini Elio Schicksal. “Hei lihat siapa yang pulang.
Selamat datang jagoan.” Ayah angkatku tiba-tiba datang menyambutku ke depan
pintu.
“Mr. Schicksal anda tidak perlu repot menjemputku di
depan pintu seperti ini setiap hari,” ucapku sedikit ketus.
“Hei kita sudah tinggal bersama 4 tahun dan lagi-lagi kau
memanggilku seperti itu. Sudah kubilangkan, meskipun aku bukan ayah kandungmu,
kau harus memanggilku dengan sebutan ayah,” Mr.Schicksal selalu saja begitu,
dia tidak suka di panggil ‘Mr.Schicksal’.
Ya hanya saja, aku juga tidak mau menyebutnya dengan sebutan ‘ayah’, kau akan mengerti kalau ada di
posisiku saat ini.
“Bagaimana harimu di perpustakaan hari ini? Apa ada hal
yang menarik?” lanjutnya.
“Biasa saja. Lagi-lagi belum ada buku baru.” Jawabku
dingin.
“Haha luar biasa sekali minat baca anakku ini. Cepat naik
ke kamarmu dan segera mandi, Ibu sudah menyiapkan makan malam,”
“Baik ayah.” Ucapku sedikit terpaksa sambil berjalan
melewatinya. Sedikit tentang rumah ini, rumah ini berukuran cukup besar
berarsitektur Jerman dengan total 6 kamar tidur dan 2 lantai. Aku tidak tahu
mengapa rumah ini sangat besar padahal hanya diisi oleh sepasang suami istri.
Di lantai dasar terdapat ruang tamu, ruang keluarga dengan TV 48 inch lengkap
dengan PlaySation 4, ruang makan
dengan meja makan untuk 6 orang, dapur, garasi yang luas, sebuah taman mini di
samping rumah dan kolam renang pribadi. 4 kamar utama juga ada di lantai ini,
salah satunya adalah kamar tidur orang tua angkatku. 3 kamar sisanya juga
memiliki properti yang lengkap namun kosong tidak ada yang menempati, hanya
dipakai saat ada tamu saja. Juga kata orangtua angkatku, aku bebas jika ingin
tidur di lantai dasar. Tapi aku tidak pernah melakukannya
Di lantai dua ada kamarku dan tempat favoritku di rumah
ini yang menjadi alasanku masih bertahan di rumah ini, yaitu perpustakaan
pribadi. Jika saja tidak ada ruangan ini, mungkin aku sudah kabur sejak lama
dan kembali ke panti asuhan. Ada 5 rak buku yang terisi penuh disini. Satu rak
buku mungkin berisi 60 buku lebih. Ada satu rak buku tentang hukum, satu rak
buku tentang astronomi, satu rak buku tentang kedokteran, satu rak buku tentang
filsafat, dan rak terakhir tentang sejarah. Semua buku ini tentu saja milik
orang tua angkatku. Mereka memiliki banyak buku yang sangat menarik dimataku.
Wajar saja, selama di panti asuhan aku terbiasa membaca buku. Karena buku-buku
ini juga aku jadi menyukai langit, sejarah dan konspirasi.
Orang tua angkatku merupakan orang Jerman dan sangat
berpendidikan. Mr.James Schicksal adalah seorang pria tinggi dengan rambut
coklat agak keriting berusia 41 tahun. Beliau adalah hakim di Federal Court
of Australia dan istrinya Mrs. Amiella
Schicksal adalah seorang wanita berusia 39 tahun dengan rambut pirang panjang
terurai di punggungnya dan berprofesi sebagai dokter umum di Royal Adelaide
Hospital. Yang kutahu mereka pindah ke Australia 15 tahun yang lalu karena
tuntutan pekerjaan.
Aku masuk ke kamar dan melucuti semua pakaianku dan masuk
ke wc kamar untuk segera mandi. Hari yang melelahkan. Ingin rasanya setelah
mandi, aku langsung saja berbaring di kasur dan secepatnya tidur. Namun seacuh
apapun aku pada orang tua angkatku, aku masih menghormati dan menghargai mereka.
Mereka sudah melakukan banyak hal untukku,dan satu-satunya cara membalas
kebaikan mereka adalah dengan menjadi anak yang patuh walaupun terpaksa.
Setelah selesai mandi aku mengenakan baju dan turun ke ruang makan untuk makan
malam.
Di ruang makan, tercium wangi yang sangat harum yang
membuat perut keroncongan. Harus aku akui bahwa kemampuan memasak Mrs.
Schicksal setara dengan juru masak terkenal. Kulihat Mr. Schicksal tengah
menata meja makan dan Mrs. Schicksal terlihat masih memasak sesuatu di dapur. “Ada
yang bisa kubantu?” tawarku pada mereka.
“Tak perlu nak, kau langsung duduk saja ya. Biar kami
yang mengurusnya.” tolak Mrs. Schicksal dengan halus. Ya setiap hari memang
seperti ini. Mereka selalu saja memanjakanku dengan tidak pernah membuatku melakukan
sesuatu atau membantu mereka. Mungkin sebagian orang akan berpikir bahwa
situasi ini menguntungkan. Kau hanya tinggal duduk manis dan semua orang akan
melakukannya untukmu. Tapi tidak bagiku. Menurutku hal seperti inilah yang
menjadikan banyak orang di luar sana menjadi malas dan kesulitan dalam
mengerjakan suatu hal sendirian, mereka terlalu bergantung pada orang lain.
“Elio lihatlah sayang, menu malam makan ini kesukaanmu! Parmigiana!” ujar Mrs. Schicksal sambil
menyodorkan sepiring penuh Parmigiana
panas padaku dengan harum yang sangat
menggoda. Parmigiana adalah daging
ayam fillet yang dibalut tepung roti dan digoreng sampai warnanya keemasan.
Sebernarnya makanan ini berasal dari Italia dan bahan dasarnya adalah terong,
namun disini di Australia kami sedikit memodifikasinya dengan mengganti bahan utamanya dengan ayam.
“Wow sayang wangi masakanmu tak pernah berhenti
memanjakan hidungku!” Puji Mr. Schicksal kepada istrinya. “Aku rasa cukup
pujiannya James, cepat duduk supaya Elio bisa cepat makan,” omel Mrs.Schicksal.
Kami bertiga kemudian makan malam bersama. Kedua orang
tuaku duduk berhadapan dan aku duduk di tengah. Mr.Schicksal memimpin do’a dan
meminta kami untuk saling berpegangan tangan. Setelah berdo’a, kami semua langsung
menyantap masakan Mrs.Schicksal dengan lahap. Meskipun lahap, kami makan dengan
sangat tenang dan tidak mengeluarkan satu patah kata pun. Sudah menjadi aturan
di keluarga ini bahwa jika sedang makan, dilarang berbicara atau mengobrol.
Entah apa alasannya, tapi aku juga tidak peduli dan lebih menyukai keadaaan
seperti ini, saat orang tua angkatku diam dan tidak menanyakan apapun padaku.
Diam-diam aku mengamati orang tua angkatku ketika sedang
makan. Pandangan mereka tertuju pada piring dan hebatnya lagi tidak terusik
sama sekali. Mereka benar-benar fokus pada piringnya masing-masing. Awalnya aku
juga merasa aneh. Bisa-bisanya mereka melakukan
hal seperti ini. Mungkin tidak ada yang bisa melakukan hal semacam ini kecuali
mereka berdua. Sempat terlintas dipikiranku bahwa aku diadopsi oleh sepasang
psikopat, namun lama kelamaan aku terbiasa dengan kebiasaan mereka ini.
Dalam suasana makan kami yang hening, saat sedang
memotong parmigianaku, tiba-tiba
kepalaku sakit sekali. Rasanya seperti ada sesuatu yang menarik-narik syaraf di
otakku dengan cepat dan juga keras. Aku menjatuhkan sendokku dan terjatuh ke
lantai seketika. Mrs. Schicksal yang kaget pun juga menjatuhkan piringnya dan
langsung menepuk-nepuk pipiku.
“Elio sayang! Apa yang terjadi!?” ucapnya histeris.
“Hei Elio ada apa ini? Jangan bercanda kau kenapa?!” Mr.
Schicksal tak kalah paniknya juga segera menghampiriku dan mendudukkan ku di
pahanya.
Entahlah, aku juga tidak mengerti. Kulihat samar-samar
raut wajah kedua orang tua angkatku yang sangat panik berusaha menyadarkanku.
Terdengar juga Mrs.Schicksal langsung bergerak cepat mengambil air hangat
untukku dan menyuruh suaminya untuk menghubungi ambulan. Di minumkannya air
hangat itu padaku sambil tangannya tetap menepuk-nepuk pipiku agar kesadaranku
tidak hilang. Tapi percuma. Saat ini aku sama sekali tidak bisa mengendalikan
kesadaranku sendiri. Pandanganku semakin tidak jelas dan rasa sakit di kepalaku
semakin menjadi-jadi.
“Apa yang
sebenarnya terjadi padaku? Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi? Kenapa sakit
sekali? Apakah aku akan mati sekarang?” itulah hal terakhir yang terbesit
di pikiranku sebelum semuanya menjadi gelap dan aku hilang kesadaran secara
total.
Chapter II : October
“…”
Gelap.Dingin.Hampa.Sunyi. Itulah yang semua indraku
rasakan saat ini. “Tempat macam apa ini?”
teriakku dalam hati. Saat ini aku berada di ruangan yang sangat gelap. Hanya
hitam yang bisa kulihat. Tidak ada lagi. Bahkan saking gelapnya, aku tidak bisa
melihat tubuhku sendiri dan bingung saat ini aku berada di posisi apa. Aku
tidak bisa merasakan kaki dan tanganku.Sekarang ini, aku entah sedang berdiri,
berbaring, duduk, atau entahlah aku sendiri tidak bisa merasakannya dengan
jelas.
Apa aku sudah mati?
Sekitar 5 menit aku hanya diam tidak melakukan apapun.
Benar-benar tidak melakukan apapun. Aku hanya diam disini, mematung tanpa
bergerak sedikit pun. Mungkin jika orang lain ada di posisi seperti ini,
mungkin mereka sudah berteriak dan lari terbirit-birit. Tapi aku tidak. Aku
ingat, dalam sebuah buku yang pernah aku baca, bahwa diam adalah hal paling
tepat saat kau berada di suatu kondisi yang membingungkan. Tapi bukan sekedar
diam, diam sambil mengamati sekitar dan menganalisis apa yang sebenarnya
terjadi. Ayo Elio berpikir! Ah! Aku ingat. Sebelumnya aku sedang makan bersama
orang tua angkatkku dan tiba-tiba aku jatuh dan tak sadarkan diri.
Sepertinya aku tahu ada dimana. Sepertinya saat ini aku
berada dalam bagian terdalam dari pikiranku sendiri. Pernahkah kalian pingsan
atau koma? Kalau pernah, selamat, kalian juga sudah mengunjungi bagian terdalam
dari pikiran kalian. Aku pernah membaca buku salah satu buku tentang psikologis
milik Mrs.Schicksal. Dikatakan, saat kita mengalami pingsan atau koma, tubuh
secara refleks mengirim kesadaran kita ke bagian terdalam dari pikiran kita.
Aku tidak tahu secara pasti apa alasan dan apa hal yang mempengaruhinya. Yang
jelas, saat ini tubuh asliku sedang tak sadarkan diri diatas sana dan aku
terperangkap diruangan super gelap ini. Hebat.
Setelah cukup lama diam, terbesit sebuah ide di benakku,
“Jika aku bisa keluar dari tempat ini,
apakah aku akan kembali ke tubuhku dan bangun?” Kemudian aku mulai mencoba
menggerakkan tangan dan kakiku. Berhasil! Aku bisa menggerakkan tangan dan
kakiku! Selanjutnya aku mulai melangkahkan kaki kananku. Bisa! Terakhir kuangkat
tangan kananku dan langsung ku tamparkan ke wajah. Sakit! Aku benar-benar yakin
bahwa aku belum mati.
Yakin dengan ide ku, aku pun mulai mengambil posisi
jongkok start sprint. Ya, aku akan berlari sekencang-kencangnya. Harus ku akui,
ini hal tergila yang pernah aku lakukan. Aku akan berlari seperti orang idiot
ditempat yang sangat gelap. Siapa tahu kan tempat ini benar-benar kosong tanpa
ada satu objek pun. Tapi siapa tahu juga bahwa tempat ini tidak benar-benar
kosong dan ada objek di sekitar sini. Bagaimana jika aku menabrak sesuatu?
Bagaimana jika aku berlari lurus tepat ke jurang? Aku sudah mempertimbangkannya
dan tidak peduli. Apapun kemungkinannya, aku sudah membulatkan tekadku untuk
keluar dari sini.
“Huft…”
Aku menghela nafas panjang. Kuposisikan kaki kiri didepan
dan kaki kanan dibelakang agar tolakannya maksimal. Kedua tanganku berada
kuletakkan pada lantai sedikit di depan lutut kiri dan tubuh untuk membantu
mendorong tubuhku kedepan. Aku sudah siap. Dalam hitungan tiga, aku akan
berlari sekencang-kencangnya agar bisa keluar dari sini.
“1…2…3…!”
teriakku dengan lantang.
Bagaikan
predator yang akan menerkam mangsanya, aku berlari sangat cepat sampai-sampai
bisa kurasakan telingaku berdengung karena bergesekkan terlalu cepat dengan
udara. Dugaanku benar, tempat ini benar-benar kosong.Tidak ada objek atau benda
apapun di sekitar sini. Tidak lupa aku juga menghitung langkah dan waktu saat
berlari, agar aku tahu sudah seberapa jauh jarak yang aku tempuh.
Aneh.
Sudah sekitar 2 menit aku berlari dan aku tidak lelah sama sekali. Biasanya,
tubuhku hanya mampu bertahan paling lama 30 detik jika berlari dengan kecepatan
seperti ini. Apa karena aku berlari
dalam ‘pikiran’ku sendiri? Lalu kuhitung sudah sekitar 500 meter aku berlari.
Aneh. Seluas apa sebenarnya tempat ini?
5
menit berlalu, dan kecepatan berlariku semakin menurun. Sudah sekitar 2
kilometer jarak yang kutempuh. Lama kelamaan, aku mulai kehilangan semangat dan
tidak yakin bahwa berlari seperti ini akan mengeluarkanku dari sini. Apa aku
tidak bisa melakukan apapun dan hanya menunggu orang diatas sana untuk
membangunkanku? Terlepas dari semua pertanyaanku, ada sesuatu yang membuatku
tercengang. Tepat di depan mataku,
tiba-tiba terlihat cahaya. Entah ideku berhasil atau orang diatas sana sudah
membangunkanku, yang jelas aku yakin cahaya itu akan mengeluarkanku dari tempat
mengerikan ini.
·
2 Oktober 2018.
Secara perlahan, mataku mulai terbuka sedikit demi
sedikit.Hal pertama yang kulihat adalah cahaya lampu di atas ranjang yang
menusuk mataku. Silau. Kemudian aku alihkan pandanganku ke sekitar. Aku berada
di sebuah ruangan bercat putih. Kuperhatikan ada sebuah kabel aneh yang
menempel di dada dan dahiku. Tangan kananku diinfus dan aku mengenakan pakaian
berwarna hijau pucat. Tepat sekali, saat ini aku sedang terbaring di rumah
sakit tidak berdaya. Jika dilihat dari gaya arstitekturnya, aku rasa orang tua
angkatku membawaku ke tempat kerja Mrs.Schicksal, Royal Adelaide Hospital.
Kepalaku masih berdenyut-denyut nyeri. Sakit apa
sebenarnya aku ini? Kurasakan juga badanku pegal-pegal tidak jelas. Kucoba
untuk mengangkat tangan kiriku, gagal. Tubuhku benar-benar tidak memiliki
tenaga sama sekali. Akupun berusaha untuk mendudukkan tubuhku dan menyandarkan
punggungku pada bantal dengan sekuat tenaga. Berhasil, tapi benar-benar
memuakkan. Jika tahu bakal seperti ini, lebih baik aku tidak keluar dari tempat
gelap tadi.
“Tuan Elio, anda sudah bangun?” seorang perawat berambut
pendek berwarna coklat tiba-tiba datang ke ruanganku dan menyadarkanku dari sesi menggerutuku.
“Syukurlah, saya akan memanggil orang tua anda kalo
begitu,” lanjutnya dengan lembut.
Perawat itu pun pergi lagi tanpa membiarkan aku mengeluarkan
sepatah kata pun. Menyebalkan. Padahal sekarang ini aku belum mau bertemu orang
tua angkatku. Saat mereka datang nanti, mereka pasti akan sangat histeris
melihatku dalam kondisi seperti ini. Seakan-akan langit akan runtuh. Pernah
sekali dulu aku jatuh dari sepedaku dan membuat kakiku sedikit lecet. Kau tahu
bagaimana reaksi mereka? Tanpa basa basi mereka membawaku ke rumah sakit ini
dan segera melakukan segala pengobatan yang luar biasa merepotkan. Padahal
waktu itu aku tidak masalah karena hanya lecet sedikit, tapi mereka mengobatiku
bagaikan aku akan mati jika tidak segera diobati. Ya mungkin bagi orang lain
hal ini merupakan hal yang bagus, artinya orang tuaku cepat beraksi dan tidak
ingin anaknya kenapa-napa. Tapi menurutku mereka terlalu melebih-lebihkan hal
seperti itu, apalagi setelah mengetahui fakta bahwa kasih sayang mereka tidak
benar-benar murni, membuatku semakin membenci mereka.
“Creak…” Suara
pintu ruanganku terbuka.Seorang pria paruh baya dengan jas dokter memasuki
ruanganku diikuti oleh perawat yang tadi, lalu kemudian barulah kulihat kedua
orang tua angkatku masuk terakhir.
Ada sesuatu yang berbeda. Hening. Entah kenapa aku sama
sekali tidak merasakan aura histeris dari mereka kali ini. Mereka semua
menatapku dengan tatapan kosong. Pandangan mereka seolah-olah ingin mengatakan
sesuatu yang sangat berat. Kuberanikan diri untuk menatap wajah Mr.Schicksal,
namun dia langsung menunduk tak berani beradu mata denganku. Begitu juga saat
aku menatap pria paruh baya berjubah dokter dan si perawat. Aku tahu, ada
sesuatu yang tidak beres terjadi disini.
“Elio…”
Mrs.Schicksal memecah keheningan dengan memanggilku dengan lirih.
Mrs.Schicksal segera menghampiriku, mencium dahiku dan
memelukku erat. Bisa kurasakan ada yang berbeda pelukannya kali ini. Hangat dan
nyaman. Tidak pernah kurasakan pelukannya seperti ini. Mr.Schicksal kemudian
menyusul dan segera memelukku juga. Sama, pelukannya lagi-lagi berbeda. Aku
hanya diam mematung. Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata. Bisa kurasakan
tetesan air mata Mrs.Schicksal di pundakku. Entah kenapa sekarang aku malah
merasa bersalah. Sudah cukup semua keanehan ini, aku akan menanyakan apa
sebenarnya yang terjadi.
“Apa sebenarnya yang terjadi padaku? Ada apa ini? Kenapa
kalian seperti ini?” kukeluarkan semua pertanyaan di benakku.
Tidak ada yang menjawab pertanyaanku. Kedua orang tua
angkatku hanya diam dan terus memelukku. Pria paruh baya dan perawat tadi juga
masih diam sambil menundukkan kepalanya. Biasanya jika dikondisi ini aku akan
sangat kesal. Tapi sekarang tidak. Bisa kurasakan ada alasan tertentu yang
membuat mereka diam seperti ini. Dan entah kenapa aku mengerti.
“E-ehem, B-boleh aku yang m-menjelaskannya pada tuan
Elio?” Pria paruh baya tadi akhirnya menaikkan kepalanya dan memberanikan diri
untuk menjawab pertanyaanku dengan terbata-bata. Jujur saja, mendengar nada
bicara pria paruh baya itu, membuatku berubah pikiran. Aku tidak mau mendengar
jawabannya.
Kedua orang tua angkatku kemudian melepaskan pelukannya
dan menatapku penuh prihatin. Mrs.Schicksal tak kuasa menahan air matanya dan
menangis sejadi-jadinya. Suaminya segera memeluknya dan mencoba menenangkannya.
“Dokter Stu, boleh kami menunggu di luar? Aku rasa
istriku tidak akan kuat mendengar ‘penjelasanmu’
lagi.” Pinta Mr.Schicksal kepada pria paruh baya tadi yang ternyata seorang
dokter. “Tentu saja Mr.Schicksal, anda boleh menunggu diluar.” Jawab sang
dokter.
“Terima kasih dokter. Elio anakku, jadilah anak yang kuat
nak, kami sangat mencintaimu.” Ucap Mr.Schicksal padaku dengan matanya yang mulai
bergelinang air mata. Setelah itu orang tua angkatku pergi meninggalkan
ruanganku meninggalkanku yang masih tidak bisa berkata-kata.
“Tuan Elio, sebelumnya perkenalkan namaku Dokter Stuart.
Orang-orang disini biasa memanggilku dokter Stu. Aku adalah dokter spesialis
kanker disini,” Dokter spesialis kanker? Apa hubungannya dengan kondisiku? Apa
ada kanker dalam tubuhku?
“Aku adalah orang yang memeriksa kondisimu selama disini.
Aku diterbangkan secara khusus dari New York kesini untuk memeriksamu. Kau
mengalami koma selama 4 hari. Dan dengan berat hati, harus kukatakan bahwa dari
hasil pemeriksaannya, saat ini di dalam tubuhmu terdapat sel kanker yang sangat
langka bernama Oracle. Sel kanker ini benar-benar langka. Di dunia ini, hanya
satu orang yang pernah mengalaminya dan kau adalah orang kedua. Karena
keterbatasan dalam menelitinya, sampai saat ini belum ditemukan cara sel ini
menyerang tubuh inangnya dan bagaimana ia terbentuk atau bagaimana cara
menyembuhkannya. Hal yang kami sudah dapatkan hanyalah fakta bahwa Oracle ini
bagaikan ikan yang hidup dalam tubuhmu, sel ini bisa berpergian keseluruh
tubuhmu melalui pembuluh darah. Dan yang terakhir, kemungkinan sisa umurmu
hanya…”
DEG.
Jantungku seperti berhenti berdetak seketika. Kata-kata
dokter Stu bagaikan pedang tajam yang menghujani seluruh tubuhku. Tubuhku yang
lemas semakin melemas. Kepalaku yang sakit semakin sakit. Tuhan, sebenci inikah
kau kepadaku? Kenapa tidak kau ambil saja nyawaku sekarang?
Chapter III : November
1 November 2018.
“…kemungkinan sisa
umurmu hanya 13 bulan lagi.”
Sudah satu bulan
berlalu sejak aku terbangun di rumah sakit, dan kata-kata itu terus terngiang
di kepalaku setiap hari. Sialan. Setelah menjelaskan kondisiku, dia menyarankanku untuk pulang
saja dan menikmati sisa hidupku. Menurutnya tidak banyak hal yang bisa
dilakukan pihak medis untuk menyembuhkanku. Dia juga menyuruhku untuk datang
secara berkala ke rumah sakit untuk memeriksa perkembangan kondisiku juga demi
kepentingan penelitian. Lucu sekali. Sekarang aku menjadi objek penelitian
kanker oleh dunia. Aku mengumpat dan menyalahkan semesta atas apa yang terjadi
padaku saat ini. Sekali lagi, sialan.
Banyak yang berubah sejak aku pulang ke rumah. Terutama
sikap orang tua angkatku. Mereka menjadi lebih dingin. Tidak ada lagi sapaan
ramah atau pertanyaan-pertanyaan tidak penting yang mereka lontarkan kepadaku.
Mereka hanya berbicara padaku saat akan pergi bekerja dan menanyakan keadaanku
lagi saat mereka pulang. Hanya itu saja. Aku yang awalnya tidak memperdulikan perasaaan
mereka padaku, sekarang mulai khawatir dan bertanya-tanya. Apa mereka sudah
tidak menyayangiku lagi? Rupanya benar, kau akan merasakan sesuatu ketika
sesuatu itu sudah berbeda. Oh ya, orang tua angkatku adalah orang yang gila
kerja. Mereka menomor satukan pekerjaan mereka diatas segalanya. Walaupun
badai, banjir, topan menghadang, mereka tetap akan pergi bekerja. Entah apa
alasannya, yang jelas aku tidak peduli.
Oh ya, selama mereka pergi tentu saja tidak ada yang
menjagaku di rumah. Hanya aku sendiri di rumah. Karena itu mereka
memperkerjakan seorang perawat pribadi untuk merawatku. Namanya adalah Lilie.
Dia adalah seorang perawat muda namun kemampuannya sudah di percaya oleh
Mrs.Schicksal. Kalau aku perhatikan, Tubuhnya tinggi dengan bentuk badan yang
proporsional. Wajahnya cantik dengan sedikit bintik-bintik dan rambut panjang
hitamnya yang selalu di ikat ponytail. Umurnya
masih sekitar 20 tahun-an, tidak berbeda terlalu jauh denganku. Dia bekerja
dengan sangat telaten dalam merawatku selama satu bulan ini. Namun ada hal
janggal yang mengusikku, aku sama sekali tidak pernah melihatnya tersenyum saat
merawatku. Aku serius. Sikapnya pun kurang lebih sama seperti orang tua
angkatku sekarang. Bukankah ini hal yang aneh? Maksudku perawat macam apa yang
tidak tersenyum saat merawat pasiennya? Bukankah seharusnya seorang perawat
harus bisa akrab dengan pasiennya? Mungkin perawat ini bekerja dengan sangat
baik, namun apa yang kurasakan malah seperti dirawat oleh robot.
Kalau dulu ada bibi Eleanor asisten rumah tangga yang
disewa oleh Mrs.Schicksal. Dia adalah wanita berusia 48 tahun dan tinggal di
ujung jalan blok perumahan kami. Bibi Eleanor datang setiap 3 hari sekali untuk
membersihkan rumah. Tentu saja, dengan jadwal pekerjaan orang tua angkatku yang
super sibuk, mereka sama sekali tidak memiliki waktu untuk membersihkan
rumahnya sendiri. Bibi Eleanor ini sangat baik padaku. Jika dibandingkan, aku
lebih dekat dengannya dibanding dengan orang tua angkatku sendiri. Ada
sesuatu yang berbeda dengannya yang bisa membuatku akrab dengannya. Namun, saat
kedatangan perawat Lilie, Bibi Eleanor tidak pernah datang lagi ke rumah.
Ternyata perawat Lilie juga ditugaskan oleh Mrs.Schicksal untuk menjadi asisten
rumah tangga di samping tugas utamanya yaitu merawat dan menjagaku. Fakta ini
sedikit melukai hatiku. Bibi Eleanor sudah kuanggap sebagai nenekku sendiri,
lalu perannya digantikan oleh si manusia tak berekspresi ini.
·
Selama tinggal di rumah, yang aku lakukan hanyalah
berbaring di kasur dan melamun sambil mendengarkan musik. Ya, hanya itu yang
kulakukan. Kondisiku pada saat pertama pulang benar-benar kacau. Tubuhku lemas
dan tidak bertenaga, kepalaku nyeri, hatiku tidak karuan, dan pikiranku
benar-benar tidak rasional. Jangankan membaca buku, menggerakkan sedikit
badanku saja rasanya seperti semua tulangku saling bergesekan. Sakit sekali.
Untungnya, perawat Lilie ada disampingku selama 72 jam . Ya, di berada di
sampingku selama 3 hari. Dia benar-benar seperti robot. Dengan sabar dia
meminumkan obat pereda nyeri padaku setiap 2 jam sekali. Dia juga orang yang
menyuapi ku makan dan membersihkan tubuhku selama 3 hari itu. Orang tua
angkatku? Mereka sibuk dengan pekerjaan mereka. Saat aku menanyakan mereka
kemana, perawat Lilie hanya menjawab singkat bahwa kedua orang tuaku tidak bisa
meninggalkan pekerjaannya. Mungkin jika saja anak kandung mereka yang ada di
kondisi seperti ini, ceritanya akan berbeda.
Setelah 3 hari pertamaku yang mengerikan, kondisiku
akhirnya sedikit membaik. Secara perlahan semua yang kurasakan mulai berkurang.
Kecuali satu hal, hatiku yang tidak karuan. Jujur saja, aku belum menerima
kondisiku yang sakit ini. Oracle? Kanker?
Umurku tinggal 13 bulan lagi? Yang benar saja. Terus berputar di kepalaku
tentang apa yang menyebabkan aku menerima takdir mengerikan ini. Ini terlalu
tiba-tiba. Aku yang awalnya jelas-jelas sehat, lalu hanya dalam waktu singkat
langsung di diagnosa memiliki kanker.
Jika semesta sedang bercanda, jelas ini tidak lucu.
“Bagaimana mereka tahu sisa umurku
13 bulan lagi? Bukankah mereka bilang penyakit ini adalah penyakit langka dan
baru satu orang yang mengalaminya? Apa orang itu meninggal dalam waktu 13 bulan” Semakin
lama aku pikirkan, semakin tidak terima diriku akan kenyataan ini. Apa ini
bentuk hukuman dari semesta atas semua yang telah aku lakukan? Seingatku aku
tidak pernah melakukan banyak hal baik atau buruk. Aku hanyalah anak yatim
piatu yang dibuang oleh orang tua kandungku ke sebuah panti asuhan. Lalu aku
dibesarkan oleh seorang biarawati bernama Ibu Lusamine yang juga mendidikku
dengan baik untuk selalu percaya pada Tuhan dan hanya meminta perlindungan
kepada-Nya. Selama di panti asuhan aku rajin ke gereja setiap hari minggu dan
hari raya. Lalu atas perbuatan apa aku diberikan hukuman seberat ini? Bukankah
seharusnya dengan latar belakangku yang menyedihkan ini, seharusnya aku
mendapat kebahagiaan? Apa ini yang disebut keadilan?
·
6 November 2018.
Hari ini adalah hari pertamaku keluar dari rumah. Perawat
Lilie bilang, kondisiku sudah jauh membaik dan aku harus memanfaatkan situasi
ini untuk pergi dan melihat dunia luar. Ya walaupun tetap saja aku belum
diperbolehkan berjalan dan harus menggunakan kursi roda. Perawat Lilie sendiri yang akan mendorong kursi rodaku. Tapi sebenarnya
aku malas. Mungkin kondisi tubuhku sudah jauh membaik setelah satu bulan ini,
namun perasaanku lagi-lagi tidak. Kenapa aku tidak mati sekarang saja? Kenapa harus
menunggu 13 bulan lagi? Jika di analogikan, aku adalah seekor domba yang ajalnya sudah ditentukan, dan kini tersiksa menunggu kematian.
“Anda sudah siap pergi tuan Elio?” Tanya perawat Lilie
padaku.
“Entahlah, aku rasa saat ini aku sedang tidak ingin
kemana-mana.” Jawabku sedikit sinis.
“Jangan bicara seperti itu. Hidupmu masih cukup panjang,
maka manfaatkan sisa waktumu dengan baik,” Ucapnya mencoba menyemangatiku namun
dengan nada yang datar. Lucu sekali, kau bisa bilang seperti itu karena kau
tidak berada di posisiku. Perawat Lilie kemudian membuka pintu depan dan
mendorong kursi rodaku keluar.
Hal pertama yang kurasakan adalah dinginnya udara disini.
Jam baru menunjukkan pukul 08.30, namun suhunya sudah sedingin ini. Tidak heran
sih, salju memang sudah turun. Butiran-butiran salju kecil berterbangan
layaknya biji dandelion yang tertiup angin. Aku tersenyum kaku dan merasa kasihan pada diriku sendiri. Sulit untuk percaya
bahwa ini adalah tahun terakhirku melihat salju. Rasa kesal dan terharu
melebur menjadi satu.
“Bagaimana? Kau merindukan pemandangan ini?” Perawat
Lilie membuyarkanku dari lamunan.
“Entahlah, sulit dijelaskan,” Jawabku jujur.
“Jadi, kemana kita hari ini?”
“Ny.Schicksal bilang kau bebas pergi kemana saja asal
masih di daerah perumahan ini. Jadi keputusan ada di tanganmu tuan Elio.”
“Kalau seperti itu bukan bebas namanya,” ucapku kesal.
“Antar saja aku mengelilingi blok ini.” Lanjutku
“Hmm? Blok ini saja? Kau yakin tidak ingin ke tempat
lain?” Tanyanya memastikan.
“Ya cukup di sekitar sini saja.” Jawabku tegas.
Perawat Lilie pun segera mendorong kursi rodaku. Aku
duduk diam dan memperhatikan kondisi lingkungan blok sekitar rumah. Rupanya tidak
banyak yang berubah selama satu bulan kebelakang. Rumah para tetangga masih sama,
namun sudah ada yang dihiasi oleh ornament natal. Kualihkan pandanganku pada sekumpulan anak
kecil yang sedang bermain lempar salju di taman. Mengasyikkan sekali. Melihat
itu membuatku teringat masa kecilku di panti asuhan. Setiap menjelang natal,
aku dan anak-anak panti asuhan yang lain selalu bermain lempar salju di depan
gereja. Kami bermain sampai membuat Ibu Lusamine marah karena membuat halaman
gereja berantakan. Walaupun begitu, kami tetap ngeyel dan bermain seperti itu
keesokan harinya. Sungguh hari-hari yang menyenangkan. Dan semua itu berakhir
saat aku di adopsi. Aku penasaran, apa
kabar teman-temanku disana? Apa mereka baik-baik saja? Kenapa aku baru
merindukan mereka saat kondisiku sudah seperti ini?
“Tuan Elio kau tidak apa-apa? Kenapa kau menagis?”
Pertanyaan Perawat Lilie mengagetkanku.
Secara tidak sadar aku tenggelam dalam lamunan dan
menangis. Air mata ku mengucur tanpa ku kehendaki. “T-tidak apa-apa, mataku
barusan kemasukan salju,” Bodoh, secara refleks aku menjawab seperti itu.
“Hihi, mana mungkin salju bisa membuat mata seperih itu
sampai mengeluarkan air,” ejeknya sambil tertawa. Sebentar, apa aku tidak salah
dengar? Dia baru saja tertawa dan tersenyum? Syukurlah, aku lega orang yang
merawatku bukan robot yang tidak memiliki rasa humor.
Perawat Lilie selanjutnya membawaku ke ujung jalan dari
blok rumah. Sudah sangat lama aku tidak bermain ke daerah sini. Bahkan mungkin
terhitung oleh jari berapa kali aku mengunjungi ujung blok ini. Jika
kuperhatikan, banyak hal berubah dari tempat ini. Dulu seingatku ada sebuah toko
kecil yang menjual roti manis yang sangat harum dan lezat. Harum roti ini
sangat khas dan kuat bahkan kau bisa menciumnya dari jarak 30 meter. Kedua
orang tua angkatku sangat menyukai roti ini. Mereka biasanya meminta Bibi
Eleanor untuk membawakan roti manis tersebut setiap datang ke rumah. Kadang
juga mereka menyuruhku keluar dengan sengaja hanya untuk membeli roti ini. Tapi
sekarang bisa kulihat tempat yang dulunya toko roti itu sudah tidak ada dan
kondisi rumahnya sudah berbeda. Mungkin pemilik lamanya sudah pindah.
Baru teringat olehku bahwa sekarang aku sedang berada di
jalan ujung blok rumah. Itu artinya rumah Bibi Eleanor berada di sekitar sini
kan? Aku merindukannya. Sikapnya yang sangat lembut dan
perhatiannya membuatku menganggapnya sudah seperti nenekku sendiri. Aku ingin
menanyakan secara langsung, kemana saja dia satu bulan ke belakang? Apa
Mrs.Schicksal memberhentikannya karena dia menyewa perawat Lilie? Padahal jika
boleh memilih, jelas aku lebih memilih dirawat oleh bibi Eleanor.
“Hei perawat Lilie, boleh aku bertanya sesuatu?” Aku
memberanikan diri untuk bertanya kepada perawat Lilie apakah dia tahu sesuatu
tentang bibi Eleanor.
“Silahkan saja tuan.” Jawabnya singkat.
“Apa kau mengenal bibi Eleanor? Dia orang yang biasa
merawat rumah sebelum kau datang.” Jelasku.
“Eleanor? Hihi tentu saja aku tahu,” ucapnya singkat
namun kali ini dengan nada yang lebih ramah. “Dia ibuku.”
“Sebentar, APA!?” Kataku keras, tidak percaya dan kaget.
Aku kesulitan mencerna ucapannya. Mereka ibu dan anak? Sulit dipercaya. Jelas
bahwa sifat mereka benar-benar berbanding terbalik. Apa dia serius?
“Apa ada yang salah tuan? Dari ekspresimu kau seperti
kaget mendengar jawabanku barusan.”
“ T-tidak apa-apa, hanya saja aku benar-benar tidak
menyangka bahwa kalian adalah ibu dan anak.” Ujarku jujur.
“Lalu kenapa bibi Eleanor tidak pernah datang lagi ke
rumah sejak kau bekerja?” lanjutku.
“Tidak apa-apa tuan. Sebagai seorang anak aku tidak tega
melihat ibuku masih bekerja di usia rentanya. Kemudian aku menawarkan diri
untuk menggantikannya merawat rumah keluargamu. Dan kebetulan juga waktu itu bersamaan
saat kau mulai sakit dan akhirnya Ny.Schicksal setuju dengan permintaanku.” Ucapnya
lembut dan jelas
Semakin lama aku berbincang dengan perawat Lilie, semakin
kurasakan juga sifat aslinya. Rupanya dia tidak seburuk yang aku kira. Sekarang
sifatnya sudah hampir mirip dengan ibunya, bibi Eleanor. Dia ramah, perhatian,
murah senyum dan selera humornya bagus haha. Lalu kenapa satu bulan kebelakang
dia bersikap seperti robot? Melihatnya tersenyum pun hampir tidak pernah. Dari
analisisku sepertinya perawat Lilie ini orang yang tidak bisa memulai sebuah
ikatan. Jadi untuk bisa akrab dengannya, aku harus yang memulai ikatan itu.
Misalnya dengan mengajaknya bicara duluan. Ya mungkin dia memiliki masalah
dalam ketidakpercayaan diri atau apalah, yang jelas sekarang aku dan perawat
Lilie sudah akrab. Dari kejadian ini aku sedikit belajar bahwa pasti terdapat
alasan dibalik hal-hal yang tidak kita mengerti. Cara kita untuk mengerti hal
tersebut adalah tentu saja dengan mencari alasan tersebut. Dan kali ini, akan
kucari alasan dari penyakitku ini.
Chapter IV : December
12 Desember 2018.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar