Senin, 28 September 2020

Apologie

 "Kak.. Kakak mau ke mana? Kakak tidak mau makan terlebih dahulu denganku?" tanya seorang gadis manis yang memiliki manik biru langit indah pelan ada seorang  pemuda lain manik merah . Sang pemuda manik biru sudah duduk manis di meja makan menunggu kakaknya bergabung. "Tidak, kau saja Fann. Aku ada urusan diluar," jawab sang kakak acuh tanpa memikirkan bagaimana perasaan pemuda manis tadi dan berjalan menuju pintu lalu memakai sepatu. Mendengar hal itu hatinya terasa remuk, padahal ia sudah bersusah payah membuatkan makanan kesukaan sang kakak tapi kakaknya malah membuat seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Manik biru langitnya berlinang menahan air liquid yang akan jatuh pada pipinya yang gembul. "Begitu ya, kalau begitu hati-hati di jalan dan jangan pulang larut malam, Kak," lirih pemuda manis itu dengan suara bergetar. Sang kakak yang memang tidak peduli hanya bergumam 'Hn' dan berlalu. Setelah bayangan kakaknya sudah tidak terlihat, tangisnya pun pecah terdengar memilukan. Teriakan nyaring dan bunyi pukulan jelas terdengar.


Dulu kehidupannya dan kakaknya tidaklah seperti ini, semenjak kematian orang tuanya 2 tahun yang lalu ditambah hubungannya seorang wanita bernama Lisa kakaknya berubah 180 derajat. Ia menjadi pribadi yang mudah, egois dan dingin juga tidak sayang dan peduli lagi padanya. Kakaknya selalu pulang larut malam dalam keadaan mabuk berat, uang yang ia berikan kepada kakaknya adalah hasil kerja kerasnya bekerja di sebuah Cafe kecil. Setiap hari kakaknya selalu meminta uang tersebut untuk digunakan untuk berfoya-foya dengan Lisa tentunya di bar di pinggir kota. Belum lagi uang tersebut digunakan untuk keberlangsungan hidup mereka berdua sehari-hari.


Pemuda manis itu bernama nama Fan dan kakaknya bernama Hali. Dulu mereka adalah kakak adik yang harmonis dan juga saling menyayangi. Fan yang ceria dan dan selalu tersenyum jarang menangis dan Hali yang peduli walau ia terkadang bersikap dingin.Kakaknya yang selalu ada untuknya baik itu saat ia bermain ataupun saat ia sakit dan Fan yang selalu jahil hanya untuk mendapat perhatian Hali dan berujung tertawa adalah memori paling berharga yang pernah dimiliki Fan. Tapi itu dulu bukan sekarang, hubunganya dan kakaknya sangatlah berbeda dengan dahulu. Mereka seolah tidak saling mengenal bahkan mungkin terbesit rasa dendam dan kebencian kakaknya kepada Fan yang bahkan tidak mengerti apapun. Mengingat masa lalu hatinya menjadi sakit, rasanya ia ingin saja mati dengan cepat agar bisa menemui kedua orang tuanya di atas sana. Ia sudah tidak kuat lagi menghadapi kenyataan hidup menyedihkan. Selesai dengan tangisnya ia memutuskan untuk tidur karena merasa pilihan yang paling tepat saat seperti ini lalu ia berjalan menuju kamar tanpa memperdulikan lagi makanan di meja, toh nafsu makannya sudah hilang.



Di sisi lain, Hali yang berada di sebuah club sedang meneguk wine beralkohol tinggi sambil merengkuh pinggang Lisa. "Hah.. uangku habis. Mana banyak hutang lagi. Arrg.. jika begini bisa stress aku!" "Hey sayang, aku punya ide bagaimana kalau kau jual saja adik sialanmu pada sepupuku. Ya, bisa dibilang pemuas nafsu sepupuku dengan begitu kau memiliki banyak uang bahkan milyaran. Bagaimana kau mau?"  Hali terlihat tergiur dengan penawaran yang Lisa berikan, menampilkan seringai dan pergi menuju rumahnya tentu dengan Lisa. Hahaha.. adik tidak berguna selamat tinggal, batinnya.



Di tempat Fan


"Sakit! Akh.. hentikan! Kumohon," teriak Fan saat sesosok laki-laki bertubuh kekar memukulnya tanpa henti. "Tch.. lemah! Sekarang tidak ada lagi yang melindungimu. Hahaha.. bahkan kakakmu sendiri yang menyerahkanmu padaku, Fan sayang." Alex, nama laki-laki sepupu Lisa. Dulu, saat masih sekolah menengah Fan pernah menolak Alex yang memintanya menjadi kekasih di depan semua murid kelasnya. Karena penolakan itu Alex marah dan hendak memperkosa Fan namun sayang Hali melindunginya dan semenjak hari itu ia terus mencari Fan untuk membalas dendam dendam dan mungkin ini adalah hari keberuntungannya. Fan hanya bisa pasrah pada takdir kejamnya, menangis mungkin adalah yang bisa diperbuat sekarang. Jangan tanya mengapa  ia ada disini.


Flashback


"Fan! Fan! Dimana kau?" teriak Hali sesaat setelah ia menginjakkan kakinya di rumah. "Iya kak, sebentar," -sambil menuruni tangga dengan terburu buru- "ada apa, Kak?" "Ayo bersiap kita akan pergi berjalan jalan, pakai pakaian yang bagus." "K-kita akan pergi berjalan jalan?" tanya Fan masih belum yakin dengan apa yang didengar.

"Ya, jadi cepatlah atau aku berubah pikiran." "Tentu kak, tunggu sebentar ya!" ucapnya berlari ke kamar dengan senyuman tertampang jelas di wajah manisnya. Selama berapa menit, Fan keluar dengan pakaian kasual terbaik yang ia miliki. "Ayo kak, aku sudah siap," ucap Fan dengan semangat. "Ayo." Mereka Pun keluar dari rumah. 


Di sepanjang jalan Fan hanya memikirkan betapa senangnya ia ketika kakaknya yang dipikir sudah tidak peduli lagi tapi mungkin dugaannya terbantahkan dengan perbuatan kakaknya saat ini. Jujur Fan senang, eh tidak ralat tapi sangat sangat sangat senang. Ia akhirnya berjalan-jalan dengan kakaknya Setelah sekian lama walau Lisa diajak kakaknya tapi tak apa asal ada kakaknya. Senyum mengembang di sepanjang perjalanan mereka sampai akhirnya mereka sampai di sebuah rumah mewah milik sepupu Lisa. Fan yang tidak tahu hanya mengikuti kemauan kakaknya saja tapi mungkin pilihan untuk ikut dengan kakaknya adalah salah. Setelah memasuki rumah mewah tersebut mereka langsung duduk di sebuah sofa hingga akhirnya sang pemilik rumah pun turun dan menyapa mereka. Awalnya Fan mengira ia tidak tahu siapa sepupu Lisa itu namun setelah mereka memulai pembahasan mengenai dirinya akhirnya ia tahu bahwa itu adalah Alex. Hal yang sedang bicara kan kakaknya dan Alex adalah penyerahan dirinya kepada Alex yang artinya kakaknya telah menjual dirinya kepada Alex dan Alex memberikan sejumlah nominal uang yang tidak sedikit kepada kakaknya. "Apa maksud kakak? Kenapa kakak menjualku?" "Biaya hidup yang mendorong Fan jadi terima saja dan semoga kalian bersenang-senang," ucap kakaknya sebelum menghilang dari pandangannya. "Ayo sayang kita bersenang." Alex menarik tangan Fan ke sebuah ruangan yang bahkan Fan pun tidak mengetahuinya.


Pada pagi harinya, ia akan terbangun dengan tubuh telanjang dan segera memunguti pakaiannya dan bergegas pergi sambil menangis pilu titik. Setelah sampai di rumah, dapat ia lihat kakaknya yang sedang menghitung uang bersama Lisa. Fan berlari menuju kamarnya kali yang melihat itu tidak memperdulikan adiknya ia pikir ia akan melupakannya dan kembali lagi seperti biasa jadi Iya kembali melanjutkan menghitung uang yang ia dapat. Di dalam kamar Taufan menangis sejadi-jadinya ia sudah kotor dan tidak pantas lagi untuk menangisi nasib yang menimpanya. "Aku kotor, aku kotor, aku kotor, aku tidak pantas lagi! Kenapa kak? Kenapa? Aku kotor Tuhan! Aku kotor." Ya, seperti itulah gumaman Fan yang menangisi nasib yang menimpanya. Siapa yang bisa kuat jika harga dirinya direnggut dalam beberapa detik saja, Kan?. Hari-hari pun berlalu bukannya melupakan kejadian itu dan kembali seperti biasa namun kondisi dirinya nya semakin buruk. Fan  tertekan dan terus menyalahkan dirinya dan terus mengatakan 'kenapa?' 'aku kotor' dan 'kakak'. Fan tidak pernah keluar kamar lagi, tidak pernah membersihkan rumah dan tidak pernah melakukan aktivitas apapun selain menangis di atas kasurnya dan tidak beranjak sedikitpun. Hal tersebut tentu tidak diberitahukan kepada kakaknya. Karena apa? Pastilah dia tidak akan peduli. Jujur Fan kecewa pada kakaknya.


Walau sudah beberapa bulan semenjak kejadian itu, Fan tidak melupakan. Fan berubah total. Fan jarang tersenyum, ralat tidak pernah tersenyum. Ia menjadi pemurung dan dingin. Hali yang menyadari perubahan itu itu merasa menyesal kalau saja dia tidak menerima tawaran kekasihnya ini tidak akan terjadi. "Aku melakukan kesalahan besar," gumamnya sambil meremas dada yang tiba tiba sakit dan sesak. Hali bangkit dan berjalan menuju tempat Fan berada. "Hey Fan, emm.. maafkan aku Fan." Saat Hali memegang bahu Fan, Fan mendorong Hali menjauh dan berteriak, "Jangan! Jangan sentuh aku! Aku kotor hiks.. aku sangat kotor." Melihat itu hati Hali bagai teriris ribuan pisau, mungkin ini karmamu Hali, batinnya lirih. "Hei Fan, aku kakakmu, Hali. Aku menyayangimu, dengar? Aku sangat menyayangimu, Sayang." "K-kak Hali? Ak-aku takut kak -sambil memeluk Hali- dia menyentuhku. Aku kotor," ucap Fan bergetar. "Dengar aku berjanji akan selalu ada di dekatmu dan selalu menyayangimu. Jadi, maafkan aku, bagaimana?" "Janji?" Hali mengangguk sebagai balasan. Maafkan aku Fan, sesalnya.


Keesokan harinya, pada pagi hari. "Fan! Hei bangun adik malasku, ayo buka pintumu," seru Hali di depan pintu. "Fan?" Karena merasa tidak ada jawaban Hali akhir nya menggedor gedor pintu kamar Fan dan akhirnya mendobraknya. Hali terkejut melihat Fan terbaring dengan tubuh bersimbah darah dan pisau? Apa Fannya melakukan bunuh diri? Oh tidak! Ini tidak boleh terjadi. "Fan! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau seperti ini? Bertahanlah adik ku aku akan membawamu ke rumah sakit," panik Hali. "Tidak kakak, ti-dak hah usah membu-ang hah buang tena-gamu untuk hah a-dik payah seperti-ku. Biar-kan hah saja, lagi pula a-ku uhuk ingin me-nemui hah orang tua ki-ta aku rindu mereka uhuk." "Bagaimana denganku? Hiks.. Kau ingin meninggalkan hiks kakakmu ini? Kau hiks tega?" Hancur sudah pertahanan Hali untuk menahan tangis yang akan keluar dari pelupuk matanya. "Kakak-kan ada kak Lisa di-a akan men-dampingi kakak meng-gantikanku." "Tidak ada yang bisa menggantikanmu sayang. Jangan pergi kumohon!" "Kakak yang terbaik. Aku harap kakak akan menjadi lebih baik lagi. Aku hah uhuk menya-yangi kakak hah akan kusam-paikan salam Ka-kak pada ayah hah dan uhuk ibu, aku menyayangi Ka-kak per-cayalah  dan sela-mat ting-gal," ucap nya untuk terakhir kali. "Jangan! Hiks..Fan! Kumohon! Tidak hiks Tuhan tolong! Fan hiks. Fan!" Berakhir sudah hubungan mereka berdua. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan jadi jangan pernah sia siakan apa yang ada hanya demi kepuasan diri karena sesungguhnya itu hanya akan membuatmu menyesal nanti.


























       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kumpulan puisi aku dan bumi

Tema: Kesedihan   1.Rindu   Dikala fajar menyingsing Dikala burung bernyanyi Desiran daun tertiup angin Desiran rindu menjadi tangis   Burun...