INSTAGRAM, YAY OR NAY?
Berapa menit sekali kita mengecek timeline Instagram kita? 30 menit? 25 menit? 20 menit? atau saking seringnya, kita bahkan tidak tau berapa menit sekali kita mengecek timeline Instagram kita.
Pernahkah kamu merasa insecure,
karena melihat instastory orang lain di Instagram
? Lalu, merasa cemas berlebihan, merasa ada sesuatu yang mengganjal tapi sulit
mengidentifi-kasinya, merasa sulit fokus, pernah?
Bisakah kita hidup tanpa Instagram?
Pasti kita menjawab “Ya bisa lah.” Tapi, pernahkah kita membuktikan bahwa diri
kita benar-benar bisa hidup tanpa Instagram? Seperti, menghapus aplikasi
Instagram untuk 30 hari contohnya. Faktanya, sangat sulit bagi kita untuk
menghapus aplikasi Instagram dari ponsel kita selama 30 hari. Layaknya seorang
pecandu yang mencoba melepas
kecanduannya.
Mengapa kita bisa menghabiskan banyak waktu hanya
untuk scrolling di Instagram? Mengapa dengan melihat unggahan orang lain di Instagram membuat kita
insecure, cemas, dan sulit fokus ? Mengapa sangat sulit bagi kita untuk
menghapus Instagram dari ponsel kita?
ENDLESS INSTAGRAM SCROLLING
Mengapa kita bisa menghabiskan
banyak waktu hanya untuk scrolling di Instagram?
Untuk mencari tahunya, cobalah
bayangkan sebuah kotak. Sebuah kotak dengan seekor tikus di dalamnya. Di dalam
kotak tersebut terdapat 1 tombol dan 1 lubang. Saat si tikus menekan tombol
itu, terkadang lubang yang terdapat dalam kotak mengeluarkan makanan, namun
terkadang lubangnya tidak mengeluarkan apa-apa.
Bisakah kamu menebak apa yang si
tikus akan lakukan? Tentunya, si tikus akan menekan tombol itu lagi dan terus
menekan tombol itu lagi, sampai lubang yang terdapat dalam kotak mengeluarkan
makanan lagi untuknya.
Apa hubungannya dengan Instagram
endless scrolling ?
Instagram endless scrolling dengan
kotak berisi tikus memang dua hal yang berbeda, namun prinsipnya hampir sama.
Jika si tikus akan terus menekan tombol untuk mendapat makanan, maka kita akan
terus scrolling, scrolling dan scrolling sampai kita menemukan unggahan yang
kita sukai. Saat kita menemukan 1 unggahan yang menarik, maka kita akan
scrolling, scrolling dan scrolling lagi sampai kita menemukan unggahan yang
serupa dengan apa yang kita sukai.
Instagram scrolling terkadang bisa
menjadi otomatis dan secara tak sadar. Misalnya, suatu ketika kita membuka
Instagram untuk menonton 1 video memasak, begitu video tersebut selesai, muncul
rekomendasi video selanjutnya, dan kita menonton 1 video memasak lagi tanpa
benar-benar menghendakinya. Tak usai dengan video memasak, kita melihat
unggahan berisi gosip artis terkini, merasa penasaran, lalu kita membuka
unggahan tersebut. Beres dengan 1 gosip, muncul unggahan mengenai gosip yang
lainnya, dan kita membuka unggahan itu.
Hal itu, memicu kita untuk
menghabiskan waktu di Instagram lebih dari yang kita bayangkan. Awalnya, kita
hanya ingin menonton 1 video memasak. Namun, akhirnya kita menonton 2 video
memasak dan 2 unggahan yang membahas gosip artis terkini. Disadari atau
tidak, kita telah melakukan hal yang
sebenarnya tidak ingin kita lakukan. Kita telah menghabiskan waktu, lebih dari
yang kita perkirakan sebelumnya.
Suatu ketika katakanlah saat kita
baru bangun tidur. Saat kita bangun tidur, kita langsung membuka Instagram
untuk melihat info terkini. Lalu kita mulai scrolling, scrolling dan scrolling. Karena tidak tahu informasi apa persisnya, yang ingin
kita cari kita terus scrolling, scrolling dan scrolling. Sampai-sampai tak terasa, 1 jam sudah terhabiskan
untuk mencari-cari sesuatu yang tak jelas.Tak terasa,
1 jam berlalu dan kita belum mandi, merviapkan seragam dan sarapan. Alhasil, kita terlambat ke sekolah.
Waktu
1 jam tanpa terasa sudah terhabiskan untuk scrolling instagram di pagi hari
menyebabkan kita tidak merasa punya cukup waktu. Merasa
tidak punya cukup waktu dalam sehari pernah? Mungkin endless Instagram scrolling bisa jadi salah satu
penyebabnya.
Karena kita terbiasa untuk membuka Instagram saat pagi hari, saat bosan,
saat ada waktu luang. Pada saat kita tidak bisa mengakses Instagram lagi,
seperti hari-hari pertama dalam tantangan 30 hari tanpa Instagram contohnya.
Kita akan merasa cemas dan gelisah. Seperti pecandu yang baru lepas dari
gangguannya.
Apakah membuang banyak waktu untuk scrolling di Instagram itu murni
kesalahan kita? Jawabannya adalah, tidak. Instagram, dan platform sosial media
lainnya, memang dirancang supaya kita menghabiskan sebanyak mungkin waktu di
platform media sosial tersebut. Bagaimana bisa?
Ketika kita membuka explore Instagram kita lalu memberikan like pada satu
unggahan yang kita sukai, kita memberikan data kepada aplikasi media sosial
ini. Mereka tidak mengambil data ini, tapi menggunakannya untuk lebih
mempersonalisasi timeline dan explore kita. Sehingga, unggahan atau konten yang
akan ditampilkan selanjutnya akan serupa dengan unggahan yang kita berikan like
sebelumnya.
Kolom explore yang dipersonalisasi, tidak langsung menjadihal buruk. Karena
hal itu juga bisa memperkenalkan kita dengan konten yang kita akan sukai, namun
belum pernah kita lihat sebelumnya. Tapi, hal itu juga memicu kita untuk terus
menerus scrolling sehingga waktu yang kita habiskan di Instagram akan lebih
banyak.
Bagaimanapun, ini kurang lebih merupakan tujuan mereka.Karena, mereka
hanyalah bisnis yang ingin penggunanya menghabiskan lebih banyak waktu
menggunakan aplikasi mereka.
Ingatlah kembali si tikus dalam kotak. Perilaku endless scrolling kita mungkin
sama secara teori dengan si tikus dalam kotak. Tapi, kita bukanlah tikus, kita
adalah manusia zaman hiperkoneksi yang memiliki kecerdasan yang tidak si tikus
miliki.
“we aren’t mice we may push on that theoretical bar much like they do but
we possess the intelligence that they lack”
COMPARISON TRAP
“Wah, dia sekarang lagi liburan ke eropa,
aku kapan ya?”
“Teman-teman dia keliatannya seru-seru ya”
“Dia
banyak banget ya yang ngucapin selamat ulang tahun”
“Muka
dia cantik banget, aku banyak jerawatnya”
Membandingkan
kehidupan kita dengan kehidupan orang lain dan merasa bahwa, kehidupan orang
lain selalu lebih baik daripada kita, pernah? Hampir semua dari kita, khususnya
remaja yang aktif di Instagram, pernah merasakan hal itu.Scrolling yang tanpa
tujuan, menjerumuskan kita ke dalam “Comparison Trap”. Membandingkan kehidupan
kita yang membosankan dengan sederet pencapaian orang lain yang mereka bagikan
di Instagram. Yang menyebabkan, orang lain selalu terlihat lebih senang,
cantik, tampan, dan sukses daripada kita. Serta, liburan dan akhir pekan mereka
terlihat sangan menyenangkan sampai membuat kita iri.
Padahal,
mereka cenderung hanya memajang pencapaian besar, sanjungan orang lain, dan
sudut pandang yang sempit mengenai kehidupan mereka. Mereka tidak memajang
kegagalan, cacian, makian, dan rentetan masalah hidup mereka di sana.
Tetapi
membandingkan diri dengan orang lain, terkadang dapat membantu. Inspirasi yang
kita dapat dari melihat pencapaian orang lain, dapat menambah motivasi dan
semangat untuk meningkatkan kehidupan kita. Pengakuan bahwa kemampuan kita
berada di atas kemampuan orang lain, pun dapat meningkatkan kepercayaan diri.
Namun hal itu terjadi jauh sebelum adanya media sosial, sebuah platform untuk
membandingkan diri ,yang hampir dengan sempurna, membuat penggunanya merasa
selalu kurang dan putus asa.
Apakah
orang yang kita anngap sukses, juga merasa tidak puas? Bisa jadi
Sacha
adalah seorang chef di New York. Dia memiliki suami yang sukses serta dua anak
perempuan yang cantik. Suaminya bekerja di salah satu firma hukum ternama.
Sacha dan keluarga kecilnya tinggal di sebuah apartemen di East Village,
lingkungan yang terbilang prestisius di New York. Orang-orang di sekitar Sacha,
pasti menanggap dia sangat beruntung.
Namun,
penilaian Sacha terhadap dirinya sendiri justru berbeda dengan penilaian orang
lain terhadapnya. Dia memiliki perasaan yang sulit akan hal yang dia tidak
miliki. Di media sosial, dia melihat teman kuliahnya yang sukses mencapai
cita-citanya dan aktif berkeliling dunia, sedangkan Sacha hanya berdiam di New
York. Lalu, teman SMAnya yang sukses meniti karir sebagai model dan memiliki
sebuah mansion di Hollywood.
Dia
sempat merasa bersyukur, mengetahui fakta bahwa ia memiliki gaji tetap dan
stabil, memiliki dua putri yang cantik serta suami yang baik, dan juga fakta
bahwa ia bisa tinggal di sebuah apartemen
di East Village. Namun, begitu dihadapkan langsung denngan pencapaian
teman kuliah dan SMAnya, ia merasa rendah. Rasa bersyukur yang ia rasakan
hilang seketika ketika Sacha membandingkan pencapaian hidupnya dengan
pencapaian orang lain.
Tetapi,
jika kita mengetahui asal-muasal
Comparison Trap, bagaimana itu bekerja dan apa saja yang perlu kita perhatikan,
mungkin kita dapat mengurangi efek negatifnya dan menambah efek positifnya
SOCIAL COMPARISON
Manusia secara terus menerus, mengevaluasi
diri mereka dan orang lain. Mereka mengevaluasi daya tarik mereka, kekayaan,
kecerdasan dan kesuksesan mereka. Menurut beberapa studi, sebanyak 10% dari
pikiran kita berisi beberapa perbandingan (membandingkan pencapaian diri dengan
pencapaian orang lain). Teori perbandingan sosial atau social comparison adalah
gagasan bahwa individu-individu menentukan nilai sosial dan pribadi mereka
sendiri berdasarkan bagaimana mereka dibandingkan dengan orang lain. Teori ini
dikembangkan pada tahun 1954 oleh seorang psikolog, Leon Festinger. Penelitian
selanjutnya menunjukkan bahwa orang yang secara teratur membandingkan diri
mereka dengan orang lain memiliki peningkatan dalam hal motivasi. Atau mungkin
juga mengalami perasaan tidak puas yang mendalam, rasa bersalah, atau
penyesalan.
Individu-individu
tidak secara seragam menghadapi Social Comparison ini secara negatif.Hanya
mereka yang memiliki kepercayaan diri rendah, dan mereka yang mengkritik
dirinya tiada henti lah yang biasanya menghadapi Social Comparison ini secara
negatif. Bahkan, tidak sedikit yang berujung pada munculnya gangguan kecemasan
yang berlebihan.
Kondisi
mental pada mereka yang cenderung menghadapi Social Comparison secara negatif
inilah, yang biasanya memicu mereka untuk memiliki konflik dengan dirinya
sendiri atau bahkan depresi.
Karena, menurut Mitch Prinstein, psikolog di University of North Carolina dan the penulis Popular: The Power of Likeability in a Status-Obsessed World. "Ketika kita bergantung pada penilaian orang lain untuk menciptakan kesenangan bagi diri sendiri, lalu kita akan hanya merasa baik jika kita mendapat tanggapan positif atau semacam rating orang lain,maka kita berisiko mengalami depresi,"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar