Sabtu, 19 September 2020

Rayyan Syahrani


INSTAGRAM, YAY OR NAY?

 

          

  Berapa menit sekali kita mengecek timeline Instagram kita? 30 menit? 25 menit? 20 menit? atau saking seringnya, kita bahkan tidak tau berapa menit sekali kita mengecek timeline Instagram kita.

            Pernahkah kamu merasa insecure, karena melihat instastory orang lain di Instagram ? Lalu, merasa cemas berlebihan, merasa ada sesuatu yang mengganjal tapi sulit mengidentifi-kasinya, merasa sulit fokus, pernah?

            Bisakah kita hidup tanpa Instagram? Pasti kita menjawab “Ya bisa lah.” Tapi, pernahkah kita membuktikan bahwa diri kita benar-benar bisa hidup tanpa Instagram? Seperti, menghapus aplikasi Instagram untuk 30 hari contohnya. Faktanya, sangat sulit bagi kita untuk menghapus aplikasi Instagram dari ponsel kita selama 30 hari. Layaknya seorang pecandu yang  mencoba melepas kecanduannya.

            Mengapa kita bisa menghabiskan banyak waktu hanya untuk scrolling di Instagram? Mengapa dengan melihat unggahan orang lain di Instagram membuat kita insecure, cemas, dan sulit fokus ? Mengapa sangat sulit bagi kita untuk menghapus Instagram dari ponsel kita?

 

ENDLESS INSTAGRAM SCROLLING

 

            Mengapa kita bisa menghabiskan banyak waktu hanya untuk scrolling di Instagram?

            Untuk mencari tahunya, cobalah bayangkan sebuah kotak. Sebuah kotak dengan seekor tikus di dalamnya. Di dalam kotak tersebut terdapat 1 tombol dan 1 lubang. Saat si tikus menekan tombol itu, terkadang lubang yang terdapat dalam kotak mengeluarkan makanan, namun terkadang lubangnya tidak mengeluarkan apa-apa.

            Bisakah kamu menebak apa yang si tikus akan lakukan? Tentunya, si tikus akan menekan tombol itu lagi dan terus menekan tombol itu lagi, sampai lubang yang terdapat dalam kotak mengeluarkan makanan lagi untuknya.

            Apa hubungannya dengan Instagram endless scrolling ?

            Instagram endless scrolling dengan kotak berisi tikus memang dua hal yang berbeda, namun prinsipnya hampir sama. Jika si tikus akan terus menekan tombol untuk mendapat makanan, maka kita akan terus scrolling, scrolling dan scrolling sampai kita menemukan unggahan yang kita sukai. Saat kita menemukan 1 unggahan yang menarik, maka kita akan scrolling, scrolling dan scrolling lagi sampai kita menemukan unggahan yang serupa dengan apa yang kita sukai.

            Instagram scrolling terkadang bisa menjadi otomatis dan secara tak sadar. Misalnya, suatu ketika kita membuka Instagram untuk menonton 1 video memasak, begitu video tersebut selesai, muncul rekomendasi video selanjutnya, dan kita menonton 1 video memasak lagi tanpa benar-benar menghendakinya. Tak usai dengan video memasak, kita melihat unggahan berisi gosip artis terkini, merasa penasaran, lalu kita membuka unggahan tersebut. Beres dengan 1 gosip, muncul unggahan mengenai gosip yang lainnya, dan kita membuka unggahan itu.

            Hal itu, memicu kita untuk menghabiskan waktu di Instagram lebih dari yang kita bayangkan. Awalnya, kita hanya ingin menonton 1 video memasak. Namun, akhirnya kita menonton 2 video memasak dan 2 unggahan yang membahas gosip artis terkini. Disadari atau tidak,  kita telah melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin kita lakukan. Kita telah menghabiskan waktu, lebih dari yang kita perkirakan sebelumnya.

            Suatu ketika katakanlah saat kita baru bangun tidur. Saat kita bangun tidur, kita langsung membuka Instagram untuk melihat info terkini. Lalu kita mulai scrolling, scrolling dan scrolling. Karena tidak tahu informasi apa persisnya, yang ingin kita cari kita terus scrolling, scrolling dan scrolling. Sampai-sampai tak terasa, 1 jam sudah terhabiskan untuk mencari-cari sesuatu yang tak jelas.Tak terasa, 1 jam berlalu dan kita belum mandi, merviapkan seragam dan sarapan. Alhasil, kita terlambat ke sekolah.

Waktu 1 jam tanpa terasa sudah terhabiskan untuk scrolling instagram di pagi hari menyebabkan kita tidak merasa punya cukup waktu. Merasa tidak punya cukup waktu dalam sehari pernah? Mungkin endless Instagram scrolling bisa jadi salah satu penyebabnya.

Karena kita terbiasa untuk membuka Instagram saat pagi hari, saat bosan, saat ada waktu luang. Pada saat kita tidak bisa mengakses Instagram lagi, seperti hari-hari pertama dalam tantangan 30 hari tanpa Instagram contohnya. Kita akan merasa cemas dan gelisah. Seperti pecandu yang baru lepas dari gangguannya.

Apakah membuang banyak waktu untuk scrolling di Instagram itu murni kesalahan kita? Jawabannya adalah, tidak. Instagram, dan platform sosial media lainnya, memang dirancang supaya kita menghabiskan sebanyak mungkin waktu di platform media sosial tersebut. Bagaimana bisa?

Ketika kita membuka explore Instagram kita lalu memberikan like pada satu unggahan yang kita sukai, kita memberikan data kepada aplikasi media sosial ini. Mereka tidak mengambil data ini, tapi menggunakannya untuk lebih mempersonalisasi timeline dan explore kita. Sehingga, unggahan atau konten yang akan ditampilkan selanjutnya akan serupa dengan unggahan yang kita berikan like sebelumnya.

Kolom explore yang dipersonalisasi, tidak langsung menjadihal buruk. Karena hal itu juga bisa memperkenalkan kita dengan konten yang kita akan sukai, namun belum pernah kita lihat sebelumnya. Tapi, hal itu juga memicu kita untuk terus menerus scrolling sehingga waktu yang kita habiskan di Instagram akan lebih banyak.

Bagaimanapun, ini kurang lebih merupakan tujuan mereka.Karena, mereka hanyalah bisnis yang ingin penggunanya menghabiskan lebih banyak waktu menggunakan aplikasi mereka.

Ingatlah kembali si tikus dalam kotak. Perilaku endless scrolling kita mungkin sama secara teori dengan si tikus dalam kotak. Tapi, kita bukanlah tikus, kita adalah manusia zaman hiperkoneksi yang memiliki kecerdasan yang tidak si tikus miliki.

“we aren’t mice we may push on that theoretical bar much like they do but we possess the intelligence that they lack”

 

COMPARISON TRAP

 

                “Wah, dia sekarang lagi liburan ke eropa, aku kapan ya?”

 “Teman-teman dia keliatannya seru-seru ya”

“Dia banyak banget ya yang ngucapin selamat ulang tahun”

“Muka dia cantik banget, aku banyak jerawatnya”

Membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain dan merasa bahwa, kehidupan orang lain selalu lebih baik daripada kita, pernah? Hampir semua dari kita, khususnya remaja yang aktif di Instagram, pernah merasakan hal itu.Scrolling yang tanpa tujuan, menjerumuskan kita ke dalam “Comparison Trap”. Membandingkan kehidupan kita yang membosankan dengan sederet pencapaian orang lain yang mereka bagikan di Instagram. Yang menyebabkan, orang lain selalu terlihat lebih senang, cantik, tampan, dan sukses daripada kita. Serta, liburan dan akhir pekan mereka terlihat sangan menyenangkan sampai membuat kita iri.

Padahal, mereka cenderung hanya memajang pencapaian besar, sanjungan orang lain, dan sudut pandang yang sempit mengenai kehidupan mereka. Mereka tidak memajang kegagalan, cacian, makian, dan rentetan masalah hidup mereka di sana.

Tetapi membandingkan diri dengan orang lain, terkadang dapat membantu. Inspirasi yang kita dapat dari melihat pencapaian orang lain, dapat menambah motivasi dan semangat untuk meningkatkan kehidupan kita. Pengakuan bahwa kemampuan kita berada di atas kemampuan orang lain, pun dapat meningkatkan kepercayaan diri. Namun hal itu terjadi jauh sebelum adanya media sosial, sebuah platform untuk membandingkan diri ,yang hampir dengan sempurna, membuat penggunanya merasa selalu kurang dan putus asa.

Apakah orang yang kita anngap sukses, juga merasa tidak puas? Bisa jadi

Sacha adalah seorang chef di New York. Dia memiliki suami yang sukses serta dua anak perempuan yang cantik. Suaminya bekerja di salah satu firma hukum ternama. Sacha dan keluarga kecilnya tinggal di sebuah apartemen di East Village, lingkungan yang terbilang prestisius di New York. Orang-orang di sekitar Sacha, pasti menanggap dia sangat beruntung.

Namun, penilaian Sacha terhadap dirinya sendiri justru berbeda dengan penilaian orang lain terhadapnya. Dia memiliki perasaan yang sulit akan hal yang dia tidak miliki. Di media sosial, dia melihat teman kuliahnya yang sukses mencapai cita-citanya dan aktif berkeliling dunia, sedangkan Sacha hanya berdiam di New York. Lalu, teman SMAnya yang sukses meniti karir sebagai model dan memiliki sebuah mansion di Hollywood.

Dia sempat merasa bersyukur, mengetahui fakta bahwa ia memiliki gaji tetap dan stabil, memiliki dua putri yang cantik serta suami yang baik, dan juga fakta bahwa ia bisa tinggal di sebuah apartemen  di East Village. Namun, begitu dihadapkan langsung denngan pencapaian teman kuliah dan SMAnya, ia merasa rendah. Rasa bersyukur yang ia rasakan hilang seketika ketika Sacha membandingkan pencapaian hidupnya dengan pencapaian orang lain.

Tetapi, jika kita mengetahui  asal-muasal Comparison Trap, bagaimana itu bekerja dan apa saja yang perlu kita perhatikan, mungkin kita dapat mengurangi efek negatifnya dan menambah efek positifnya

 

SOCIAL COMPARISON

 

             Manusia secara terus menerus, mengevaluasi diri mereka dan orang lain. Mereka mengevaluasi daya tarik mereka, kekayaan, kecerdasan dan kesuksesan mereka. Menurut beberapa studi, sebanyak 10% dari pikiran kita berisi beberapa perbandingan (membandingkan pencapaian diri dengan pencapaian orang lain). Teori perbandingan sosial atau social comparison adalah gagasan bahwa individu-individu menentukan nilai sosial dan pribadi mereka sendiri berdasarkan bagaimana mereka dibandingkan dengan orang lain. Teori ini dikembangkan pada tahun 1954 oleh seorang psikolog, Leon Festinger. Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa orang yang secara teratur membandingkan diri mereka dengan orang lain memiliki peningkatan dalam hal motivasi. Atau mungkin juga mengalami perasaan tidak puas yang mendalam, rasa bersalah, atau penyesalan.

            Individu-individu tidak secara seragam menghadapi Social Comparison ini secara negatif.Hanya mereka yang memiliki kepercayaan diri rendah, dan mereka yang mengkritik dirinya tiada henti lah yang biasanya menghadapi Social Comparison ini secara negatif. Bahkan, tidak sedikit yang berujung pada munculnya gangguan kecemasan yang berlebihan.

            Kondisi mental pada mereka yang cenderung menghadapi Social Comparison secara negatif inilah, yang biasanya memicu mereka untuk memiliki konflik dengan dirinya sendiri atau bahkan depresi.

            Karena, menurut Mitch Prinstein, psikolog di University of North Carolina dan the penulis Popular: The Power of Likeability in a Status-Obsessed World. "Ketika kita bergantung pada penilaian orang lain untuk menciptakan kesenangan bagi diri sendiri, lalu kita akan hanya merasa baik jika kita mendapat tanggapan positif atau semacam rating orang lain,maka kita berisiko mengalami depresi,"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kumpulan puisi aku dan bumi

Tema: Kesedihan   1.Rindu   Dikala fajar menyingsing Dikala burung bernyanyi Desiran daun tertiup angin Desiran rindu menjadi tangis   Burun...