Bumi Ageung Cianjur Sebagai Pewarisan Nilai Kepahlawanan Bagi Generasi Muda Abad Ke-21
Bumi Ageung artinya"rumah besar"yang berada di daerah Cikidang, Cianjur. Rumah milik Bupati Cianjur ke-10,yang menjabat pada periode 1862-1910(48 tahun). Rumah bernuansa vintage itu dibangun pada tahun 1886 sebagai rumah peristirahatannya. Pada tahun 1910 Bumi Ageung diwariskan kepada putrinya, yakni Raden Ayu Tjitjih Wiarsih.Terlihat seperti rumah biasa, tetapi Bumi Ageung adalah salah satu cagar budaya dan bangunan yang bersejarah di Kota Cianjur. Bumi Ageung yang terletak dihimpit oleh pertokoan ini menjadi salah satu saksi bisu perjuangan rakyat Indonesia di Cianjur untuk meraih dan mempertahankan kemerdekaanya. Bumi Ageung Cikidang Cianjur memliki peranan besar dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia,salah satunya ketika masa pendudukan Jepang, Di rumah milik Bupati Cianjur ke-10 Raden Aria Adipati Prawiradiredja II ini, pertemuan para pejuang kemerdekaan dilakukan.
Pada masa lalu,rumah ini berperan penting dalam kemerdekaan.Bumi Ageung digunakan sebagai tempat perumusan pembentukan tentara PETA yang dipimpin oleh Gatot Mangkoepradja di tahun 1943 samapi 1945.Gatot MangkuPradja(pendiri tentara PETA),pernah melakukan pertemuan di dalam rumah ini,pertemuan tersebut sebagai ajang mengatur strategi tentara PETA(tentara sukarela Pembela Tanah Air)yang terbentuk berdasarkan persetujuan dari Gunseikan yaitu kepala pemerintahan militer Jepang saat itu sempat menjadikan Bumi Ageung yang berada di Jalan Moch Ali Kelurahan Solokpandan Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur sebagai basis pergerakan.Pertemuan yang dilakukan sekitar 1943-1945 dipimpin oleh Gatot Mangkoepraja (pahlawan nasional) itu juga dihadiri Raden Ayu Tjitjih Wiarsih anak dari Raden Aria Adipati Prawiradiredja II selaku pemilik rumah yang juga menjadi tokoh perjuangan Cianjur kala itu.Gatot Mangkoepradja pendiri PETA Pasukan Sukarela Pembela Tanah Air sempat melakukan rapat perencanaan untuk menyusun strategi dalam meraih kemerdekaan Indonesia di rumah berwarna hijau ini. Setelah masa kemerdekaan,antara 1946-1948, Bumi Ageung menjadi sasaran mortir lantaran masih dianggap sebagai objek vital oleh bangsa penjajah. Pada masa kepemilikan beliau, rumah ini berperan penting dalam kemerdekaan Indonesia, karena digunakan sebagai tempat perumusan pembentukan tentara PETA (Pembela Tanah Air) pimpinan Gatot Mangkoepradja tahun 1943-1945.Sampai PETA berpindah kantor ke Kampung Bihbul, Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur yang jalannya kini dikenal dengam Jalan Gatot Mangkupradja. Situasi yang berbahaya itu memaksa keluarga besar pemilik rumah, terutama Tjitjih Wiarsih memutuskan untuk mengungsi sementara waktu. Anggota keluarga terpencar mengungsi ke sejumlah daerah, di antaranya pergi ke Kuningan dan sebagian lagi ke daerah Kecamatan Sukanagara Kabupaten Cianjur. Rumah ini juga pernah diambil alih oleh Jepang karena dinilai sebagai ancaman bagi pergerakan mereka. Hal itu membuktikan bahwa rumah yang terletak di pusat kota Cianjur ini memiliki peranan penting bagi pemerintahan Indonesia pada zaman perjuangan.
Pada tahun 1946 sampai 1948 terjadi pengungsian besar-besaran keluarga besar kami dari Bumi Agung ini ke Kuningan, dan ke Cianjur Selatan karena target sasaran bom rumah ini, karena sering menjadi tempat perundingan. Datangnya pasukan Jepang untuk mengambil alih, menimbulkan beberapa banyak barang yang rusak. Namun, barang-barang yang ada didalam Bumi Ageung sempat diselamatkan oleh warga sekitar dan dapat dipamerkan hingga saat ini. Ketika ditinggalkan, Bumi Ageung Cikidang sempat bergantian diduduki dan dijadikan markas oleh pasukan Jepang dan Belanda. "Dari keterangan orang tua kala itu, di teras rumah juga sempat terparkir mobil panser,
Tidak sampai di situ, ketika terjadi serangan umum di Kota Solo pada 7-10 Agustus 1949, posisi tawar politik Benada semakin melemah karena secara kekuatan militer Belanda telah mengalami kekalahan. Bersamaan dengan momentum itu, pada 9 Agutus 1949, di Cianjur terjadi genjatan senjata dan penyerahan kekuasaan dari pihak militer Belanda pada Tentara Republik. Bumi Ageung menjadi saksi bisa peristiwa penyerahan kekuasaan itu.
Kesalahan masa lalu,yang merupakan catatan kelam dalam sejarah, perlu diinsyafi sebagai cambuk untuk membenahi dan menata kembali sistem sosial, politik, ekonomi,budaya,dan hankam yang lebih demokratis,manusiawi, dan modern. Pelajaran sejarah suatu bangsa senantiasa mengalami pasang surut. Kesalahan yang dilakukan para pendahulu seyogyanya tidak dijadikan bahwa cacian dan alasan untuk tidak berkarya secara kreatif dan inovatif, akan tetapi semua itu dijadikan bahan pembelajaran dan acuan untuk melangkah di masa depan. Nilai-nilai kepahlawanan harus selalu menjiwai setiap perjuangan anak bangsa.Untuk itu, nilai kepahlawanan perlu terus menerus ditanamkan dalam dada setiap anak bangsa. Perjuangan tanpa roh kepahlawanan hanya akan melahirkan para pecundang (bukan pejuang). Bukti cinta para pahlawan kepada rakyat dan bangsa adalah kerelaan mereka mengorbankan harta benda bahkan nyawa. Pengorbanan mereka semata-mata hanya untuk sebuah kemerdekaan dan kemakmuran rakyat dan bangsanya. Rela berkorban untuk kepentingan Negara dan bangsa itu adalah sikap yang dimiliki para pahlawan bangsa ini. Namun, sikap seperti itu saat ini sepertinya sudah makin langka. Bahkan kalangan elit politik justru “rela mengorbankan” rakyat dan bangsanya demi ambisi pribadi dan kelompoknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar