Sabtu, 19 September 2020

HIRAETH - Fadia Putri

PROLOG

Domremy, Prancis, 1412.

Di suatu malam, ketika sang purnama penuh seutuhnya, di rumah kecil dengan bara api yang masih menyala, seorang Ibu melahirkan Putri pertamanya yang sangat cantik. Kedua bola matanya terpasang indah, dengan kilauan seperti batu Sapphire. Semerbak harum bayi menyebar ke seluruh isi ruangan. Ayahnya kebingungan, harum seperti ini tidak mungkin datang dari bayi perempuannya, dokter yang membantu persalinan pun nampak tidak percaya. Namun, dengan kehebatan sang pencipta, harum bunga Wisteria ini tepat datang dari bayi perempuan tersebut, dengan kulit yang lembut, dokter itu berhati-hati dalam tugasnya. 

"Jeanne Ainsley." Ucap sang ibu.

Ayahnya menganggukan tanda setuju dengan nama indah tersebut. Malam yang indah ini, menjadi saksi sejarah bahwa Putri tercantik di negerinya telah lahir.

Pada saat itu, di masa kecilnya, Jeanne menjadi anak yang pemberani dan tidak pernah menyerah. Dengan wajahnya yang cantik, bak ratu kerajaan, seluruh pria di zaman ini sangat mengagungkan Jeanne. Ia tidak pernah menghiraukan sapaan orang-orang, meski terlihat sedikit menakutkan, Jeanne dapat meluluhkan semua orang hanya dengan satu senyuman indahnya. 

"Joan! Kau akan pergi kemana?" Ucap salah satu temannya.

Ia menghampiri kedai kecil di pinggir tumpukan jerami tersebut,

"Ingat satu hal, Charles. Ketika aku benar-benar tidak kembali, jagalah desa ini sampai titik darah penghabisan." Ia tersenyum, Laki-laki di hadapannya terkesima begitu saja, seketika memikirkan apa maksud dari perkataan perempuan di hadapannya,

"K-kau yakin akan mengikuti pelatihan menjadi seorang ksatria?" ia gempar.

"Jika aku tidak yakin, aku tidak akan berangkat sekarang." ia berkemas merapikan pakaian dan barang bawaannya yang di siapkan oleh Charles.

Tanpa meninggalkan sepenggal kata lagi, Jeanne melangkah dengan yakin, ia akan melakukan pelatihan menjadi seorang Ksatria muda, meski ia perempuan, langkahnya menjadi seorang pemimpin pasukan terbaik di negerinya tidak akan goyah.

Di perjalanan, ia hanya memikirkan dua hal, yang pertama, kedua orangtuanya, dan yang kedua nyawanya. 

"Langkah getar dari perempuan berdarah dingin adalah kemurnian, keberanian, dan kepemimpinan. Ketika aku mati dan terlahir kembali, darah itu akan tetap ada dan takkan tertumpah lagi."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kumpulan puisi aku dan bumi

Tema: Kesedihan   1.Rindu   Dikala fajar menyingsing Dikala burung bernyanyi Desiran daun tertiup angin Desiran rindu menjadi tangis   Burun...