Sabtu, 19 September 2020

SAGANTARA -Deninda Supmiati Salsabila

Genre : Fiksi

Prolog

"Lepas! Gue gamau ikut sama lo!"

Saga yang sedang berjalan kearah parkiran dibuat salah fokus dengan pemandangan yang tak jauh dari sana. Di depan gerbang sekolah, terlihat ada seorang gadis yang sedang berdebat dengan cowok yang sepertinya sedang memaksa gadis itu untuk ikut dengannya. Gadis itu terlihat mengenakan seragam SMA Garuda, sudah dapat dipastikan bahwa gadis itu satu sekolah dengannya. Posisi gadis itu membelakangi Saga sehingga Saga tidak bisa melihat wajahnya. Saga melihat sekitar, suasana di sekolah saat ini sudah sepi, semua murid sudah pulang sekitar 15 menit yang lalu.

Saga mengabaikannya, ia tidak akan ikut campur dan tidak terlalu perduli dengan urusan orang lain. Tapi saat matanya tidak sengaja melihat pergelangan tangannya, Saga seperti tidak asing saat melihat gelang berwarna hitam dengan gantungan berbentuk bulan itu. Matanya membulat saat dia baru menyadari sesuatu.

Gelang itu.. 

"Shit..."

Saga dengan cepat berlari menuju gerbang sekolah dimana gadis itu berada.

Saga sempat melihat wajah gadis itu dan benar dugaannya, gadis itu adalah Divara Vealza Ravella dan cowok brengsek dihadapan gadis itu adalah Revandra Aldo Pamungkas.

Rahangnya mengeras dan tatapannya berubah tajam saat Revan berusaha menyeret Divara dengan paksa.

Bugh!

Revan tersungkur saat Saga memukulnya. Pria itu bangkit sembari meringis karena sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Revan beralih menatap tajam orang yang memukulnya itu. Divara terkejut, refleks ia menutup mulutnya dengan kedua tangan saat melihat ujung bibir Revan berdarah dan sobek.

"Lo-" belum sempat Revan melanjutkan perkataannya, Saga kembali memukul Revan seperti orang kesetanan. Bisa-bisanya cowok brengsek ini membuat Divara menangis. Ia tidak akan tinggal diam jika sampai ada yang membuat Divara menangis.

"Gue udah pernah peringatin lo, jangan pernah munculin diri lagi anjing!" Ucap Saga membabi buta, dia terus menghabisi Revan tanpa ampun meskipun lawannya ini sudah tersukur tak berdaya.

Bugh!

Bugh!

"UDAH! GUE MOHON UDAH! Gue ta-takut.." Saga berhenti saat mendengar suara rintihan gadis dibelakangnya ini. Sial, pasti gadis ini sangat ketakutan sekarang. Buru-buru Saga berdiri, membalikan badannya dan berjalan menghampiri gadis yang sedang menangis sembari menutup matanya ini.

Saga menarik Divara kedalam pelukannya. Gadis itu terkejut saat tiba-tiba ada yang memeluknya, Divara kemudian mencoba melepas pelukan Saga namun Saga malah semakin mengeratkan pelukannya, mengelus puncak kepala Divara seakan menenangkannya.

Saga melepas pelukannya dan beralih mengusap wajah Divara, menghapus air mata yang masih terus berjatuhan "Jangan nangis."

"Lo siapa? Lo bukan orang jahat kan?!" Tanya Divara penuh selidik. Gadis itu mendorong Saga dan berjalan mundur lalu mengusap kasar air matanya.

Saga terkekeh geli mendengarnya. Kalo dia orang jahat, terus untuk apa tadi dia menolong Divara dan repot-repot menghabisi Revan?

"Seragam gue dan lo sama. Kalo gue macem-macem, lo bisa cari gue dengan mudah disekolah. Lo tanya sama semua anak Garuda, mereka tau gue." Sombongnya.

Saga tersenyum manis lalu menyodorkan tangannya "Gue Sagantara Langit Alzeran, Ketua geng Xavier. Lo bisa panggil gue Saga"

Divara membulatkan matanya sempurna. Ketua geng Xavier? Dengan rasa takut, gadis itu melangkah maju mendekati Saga dan menerima uluran tangannya. "Divara Vealza Ravella, panggil aja Vara. Btw thanks udah nolongin gue tadi" Divara buru-buru melepaskan tangannya dan langsung pergi menjauh meninggalkan Saga. Namun dengan cepat Saga menahannya.

"Lo mau balik kan? Gue anter" ajak Saga ramah. Vara dengan cepat menggeleng

"Gausah gue na-"

"Gue ga nerima penolakan. Lo tunggu disini, gue bawa motor diparkiran dulu. Inget tetep disini jangan kemana-mana." 

Saga berlari menuju parkiran dimana motornya disimpan lalu dengan cepat menjalankan motornya menuju Divara menunggu.

"Naik" Saga memberhentikan motornya tepat didepan Divara lalu membuka kaca helmnya. Wajah gadis itu tampak begitu ragu dan takut.

"Gue gaakan macem-macem sama lo, Va. Gue cuma mau nganter lo balik"

Divara menatap Saga lekat-lekat, tidak ada raut kebohongan didalam matanya. Akhirnya Divara mengangguk dan mulai menaiki motor. 

Saga tertegun saat Divara melingkarkan tangannya diperut Saga, namun setelahnya Saga tersenyum dibalik helm full facenya. 

Saga akhirnya menancapkan gasnya pergi menjauh meninggalkan sekolahnya.



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kumpulan puisi aku dan bumi

Tema: Kesedihan   1.Rindu   Dikala fajar menyingsing Dikala burung bernyanyi Desiran daun tertiup angin Desiran rindu menjadi tangis   Burun...