Sabtu, 19 September 2020

Am I Crazy? - Salisa Amazia

Genre: Fantasi

Judul: Am I Crazy?

Outline:

Bab 1 

Hidup sebagai anak SMA dengan kemampuan luar biasa yang dimiliki Bianka membuatnya kesusahan setengah mati. Bisa berkomunikasi dengan hewan dan tumbuhan menjadikannya sebuah berkah tapi juga musibah. Namun dia sedikit kesulitan dalam berinteraksi dengan sesamanya, sebagai manusia. Apakah Bianka terjebak dalam raga manusia?

Bab 2

Seiring berjalannya waktu, Bianka dapat menikmati hidupnya yang berbeda ini, walaupun banyak orang menyebutnya gila, tapi dia bisa menjalani kehidupan dengan normal. Sampai saat Bianka terbawa mimpi yang mengerikan, membuatnya tersadar untuk menggunakan kemampuannya membantu tumbuhan dan hewan melewati masa-masa sulit mereka. Misi-misi pun Bianka jalani

Bab 3

Misi yang dilewati Bianka tidaklah mudah dan sangat beragam. Banyak yang harus dia korbankan untuk dapat menyelesaikan semua misi dengan baik. Mengetahui bahwa hewan dan tumbuhan pun memiliki kepribadian yang berbeda-beda, menjadikannya terasa lebih sulit untuk dilewati. Namun karena semangatnya yang besar, dan petunjuk-petunjuk kecil yang ia dapatkan, akhirnya satu persatu misi dapat diselesaikan.

Bab 4

Bianka yang merasa kelelahan, dan mulai merasa yang namanya jenuh bertanya-tanya. Apakah ada manusia lain yang memiliki kemampuan yang sama? Sama halnya dengan manusia pada umumnya yang mempertanyakan apakah ada makhluk lain di planet antah berantah yang hidup? Berjalannya menjalankan misi, Bianka mencari orang tersebut untuk menyelesaikan misi bersama-sama.

Bab 5

Mereka melewati misi-misi bersama dengan baik. Dari berbagai misi yang ia jalankan, satu persatu fakta ia dapatkan. Dengan bekal yang tak sengaja ia kumpulkan, pada akhirnya Bianka mengetahui bagaimana kemampuan ini ia dapatkan, salah satu rahasia bumi yang tidak dipercayai kebanyakan orang. Pada akhirnya, Bianka memilih jalannya sebagai “orang gila” bersama teman hidupnya Theo, hingga waktu berhenti untuk mereka.


A Different Life

            Bel berbunyi menandakan waktunya pulang sekolah, namun hari ini waktu pulang lebih awal, sekolah yang sibuk menghadapi hari bumi membuat guru-guru harus memotong waktu mengajarnya untuk mengadakan rapat. Tertulis tanggal 2 April 2036, akhirnya sekolah Bianka bisa pulang lebih awal, sungguh sebuah sejarah baginya. 

            Dengan terburu-buru Bianka mengemas buku-buku yang ada dihadapannya, mengenakan jaket yang sempat ia simpan dahulu agar tidak dirazia, dengan berlari-lari kecil di lorong ia menuruni tangga.

            BRUK!. Bianka terjatuh ditangga. Teman-temannya yang usil menatapnya rendah. Tanpa rasa bersalah, mereka pergi meninggalkan Bianka yang masih terdiam di tempatnya sambil mengatakan "Orang gila aneh!" dengan lantang tanpa berpikir panjang. Bianka langsung bangun dan merapihkan bajunya yang sedikit kotor dengan debu yang ada pada lantai. 

            Bianka hanya terdiam, untunglah saat ini suasana hatinya sedang bagus, tidak ada rasa sakit yang berarti untuk hari ini. Mengapa? Karena sebentar lagi ia akan pulang ke rumah, beda rasanya bagi Bianka.

            Kembali ia berlari-lari kecil dengan senang saat ia dalam perjalanan pulang. Memasuki rumahnya, bersalaman dengan ibunya yang seorang diri, dan pergi ke kamarnya. 

            Kamar yang biasa orang tempati mungkin akan memajangkan idola mereka, impian-impian mereka, atau sekedar hiasan agar membuat kamar terlihat indah dan nyaman. Namun bagi Bianka, kamarnya penuh dengan tumbuhan-tumbuhan kecil,  sepasang anak kucing, seekor monyet, dan ikan-ikan kecil dalam akuarium. Tidak lupa, makanan-makanan mereka pun disiapkan di dalam kamar Bianka. Walau terasa penuh, tapi sengaja kamarnya dibuat lebih besar bahkan daripada ruang tamu, agar ia bisa lebih leluasa.

            "Bian aku kangen sekali, kamu pulang lebih awal hari ini?" Ucap salah satu tanaman kecilnya. Ya, dia berbicara, dan Bianka bisa mendengarnya.

            "Ah iya, senang sekali hari ini bisa bertemu kalian lebih awal. Oh iya kamu lapar ya Mangka, sini aku siapkan makananmu ya." Balas Bianka sambil menyiapkan makanan bagi monyetnya Mangka.

            "Bianka terbaik! Aku sangat lapar hari ini, padahal biasanya saat kamu pulang sore aku masih bisa menahannya, hahahaha!" Jawab Mangka dengan semangat.

            "Bagaimana dengan ku? Makanan ku habis tau!" Ucap ikan-ikan. 

            "Hahahaha tentu saja aku akan menyiapkan makanan kalian semua, tenang saja teman-teman, aku tidak pilih kasih kok, peace!" Kata Bianka sambil tertawa kecil.

            Sambil menyiapkan makanan bagi hewan-hewan, Bianka terpikirkan perlakuan temannya di sekolah, dia termenung "Sudah berapa kali ya aku dibully seperti ini?" Itulah yang terlintas dibenaknya. Anak kucing putih melihat Bianka dan menanyainya, "Bian, ada apa? Apa kamu diperlakukan tidak baik lagi oleh teman-temanmu?"

            "Oh tidak snowy, aku tidak apa-apa kok beneran" jawab Bianka dengan tergesa-gesa,

            "Kamu ga pandai bohong Bian, tidak usah dihiraukan, mereka hanya tidak tau diri kamu sebenarnya." Ucap Snowy.

            Samar-samar Bianka menjawab, "Yah benar, mereka hanya tidak tau aku, mereka tidak mengenalku."

            Setelah kesibukan Bianka telah selesai, dia menyendiri di balkon rumah, memikirkan perkataan Snowy-kucing kecilnya, "Benar juga, manusia hanya melihat kekuranganku, kesulitan berbicara dengan mereka memang sudah ditakdirkan padaku. Namun tetap saja, diriku yang aneh ini, mengapa ada di dunia?" Gumam Bianka. "Bisa berkomunikasi dengan makhluk hidup lain, tapi dengan manusia saja aku tidak bisa selancar ini, apakah aku terlahir di tubuh yang salah? Siapa aku sebenarnya?" 

            "Baru saja bilang mereka hanya tidak tau aku, hahaha bahkan aku saja tidak tau diriku siapa." Bian hanya menertawakannya sendiri, malang.

*       

            10 April 2036 tepat 12 hari sebelum hari bumi, Bianca pergi ke sekolah seperti biasanya, namun ada hal yang berbeda, hari ini sekolah sedang mencari perwakilan dari tiap kelas dari kelas 10 hingga  12 dari kelas ipa hingga kelas bahasa untuk menjadi panitia dalam acara hari bumi tersebut. Sekolah tidak mengambil panitia dari pihak OSIS dikarenakan sedang mempersiapkan acara lain yang sudah dipersiapkan jauh hari sebelum hari bumi ini yaitu acara penutupan atau grand closing dari acara terbesar sekolah sehingga dari hasil rapat kemarin guru-guru pun mengambil kesimpulan untuk mencari calon panitia dari perwakilan kelas yang unggul agar bisa melaksanakan acara hari bumi ini dengan sukses.

            Di pelajaran fisika yang tenang ini, tiba-tiba pelajaran tertunda karena ada pengumuman oleh seorang guru yaitu Pak Lutfi untuk mengumumkan perwakilan kelasnya yang menjadi panitia dalam kegiatan hari bumi nanti. Bianka yang tidak tahu apa-apa tiba-tiba dipanggil untuk menjadi perwakilan dari kelasnya yaitu 11 IPA 2 bersama teman-temannya yang lain yaitu Robin dan Keshya. Teman-temannya terkejut, bahkan Bianka sendiri pun terkejut akan pernyataan Pak Lutfi. Bianka yang biasanya berkegiatan di rumah, sering menghindari kegiatan-kegiatan yang dianggap Bianka tidak penting di sekolah, merasa tertekan untuk menjadi panitia di hari bumi nanti. Bukan hanya karena sering menghindar, tapi Bianka menyadari bahwa dirinya sulit untuk berkomunikasi dengan manusia lain. Dengan terbata-bata Bianka bertanya kepada Pak Lutfi

            “Pak, a-apakah be-benar saya te-terpilih? Bapak ti-tidak salah bi-bicara kan?”

            “Tidak Bianka, kamu dan 2 temanmu menjadi panitia ya, keputusan ini sudah dibicarakan dari rapat kemarin sehingga keputusan ini sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Semangat ya nak, kamu pasti bisa!” jawab Pak Lutfi dengan tenang.

            Setelah memberitahu siapa saja perwakilannya, Pak Lutfi mengumumkan hal apa saja yang harus diperhatikan untuk mempersiapkan acara ini, dan sore nanti setelah pulang sekolah, seluruh panitia yang dipilih harus berkumpul di multi media sekolah.

            Bianka yang masih terkejut dan takut, akhirnya pasrah menyetujui keputusan yang telah bulat. Pembelajaran fisika yang tenang dan menyenangkan pun kembali dimulai.

*       

            Setelah berpusing-pusing mengikuti kegiatan belajar mengajar, akhirnya waktu istirahat datang. Tepat jam 12 siang, bel sekolah berbunyi menandakan waktunya untuk istirahat. Tanpa pikir panjang, siswa-siswi Sekolah Internasional Athalasia langsung pergi menuju kantin untuk mendapatkan jatah makan siang yang sudah disiapkan oleh bibi kantin. Ya, sekolah Bian ini memang memiliki peraturan sekolah yang mirip dengan di luar negeri karena sekolahnya yang berstandar internasional, memiliki hubungan dengan negara-negara lain yang ada di Eropa.

            Setelah Bianka mengambil makan siangnya, seperti biasa ia duduk sendiri. Namun terdengarlah pembicaraan yang tidak mengenakan tentang dirinya.

            ”Hei, kalian udah tau belum? Kalo perwakilan kelas 11 Ipa 2 tuh ada Bianka nya lho!”

            “Hah masa sih? Kamu ga salah denger?”

            “Aku yakin seribu persen, karena aku langsung mendengarnya dari Robin, dia kan perwakilan juga di kelasnya, bareng sama Keshya.”

            Tiba-tiba temannya berceloteh, “Guru-guru udah gila kali ya, masa buat acara penting kaya gini milih panitia yang ga bisa bicara? Padahal kunci utamanya buat ngejalanin acara kan komunikasi. Lucu banget deh guru-guru”

            “Gue juga bingung sebenernya, padahal Robin sama Keshya udah cocok banget jadi panitia, udah cantik, ganteng, bisa diandalkan banget lah karena mereka udah berpengalaman.”

            “Tapi  gue pernah denger gatau darimana, nih ya katanya Pak Lutfi sendiri yang mengusulkan Bianka, kenapa sih? Apa bagusnya?”

            “Hahahaha, gue yakin, acara ini ga bakal sesukses tahun lalu, Bianka ganggu sih!”

            “Sutt, jangan keras-keras, nanti orangnya denger.”

            Dalam hati Bian berkata “kerasin aja sekalian, kedengeran tahu! Orang-orang begitu memperhatikan aku seperti sudah sempurna saja, kata siapa kunci utama menjalankan acara adalah komunikasi? Aku akan buktikan, walau sulit untuk berbicara dengan kalian, aku tetap bisa menjalankan acara ini dengan baik!”

            Bianka pun pura-pura tidak mendengarkan perkataan anak-anak dari kelas lain itu, dan melanjutkan makan siang agar dirinya bisa cepat-cepat kembali ke kelas. Namun setelah sampai dikelas, dia berpikir kembali tentang perkataan anak-anak di kantin.

            Ia tahu bahwa acara ini sangat penting untuk sekolahnya, mengingat sekolah yang ia tempati mengedepankan keasrian lingkungan dan penghijauan, hal itulah yang menyebabkan Sekolah Internasional Athalasia menjadi sekolah favorit, dan Hari Bumi ini akan menjadi acara besar dan menjadi salah satu validasi kualitas sekolah ini. Dia merasa apa yang telah dikatakan mereka ada benarnya juga. Kenapa Pak Lutfi memilih dirinya menjadi panitia dan disetujui oleh guru lain, sedangkan dirinya pun sulit berbicara, dan temannya yang lain adalah orang yang aktif dalam berorganisasi dan sangat berpengalaman. Pertanyaan ini terus muncul dipikirannya, membuat ia merasa jadi benar-benar gila.

*       

            Hari demi hari berlanjut, Bianka terus saja mendengar perkataan-perkataan pedas yang dilontarkan oleh banyak orang, terutama teman-teman seangkatannya. Walaupun begitu, Bianka terus saja melanjutkan tugasnya sebagai panitia. Ia sangat sibuk pekan ini, karena sudah 7 hari sebelum acara dimulai, semua panitia semakin sibuk dan sibuk.

            Tidak seperti biasanya, setiap pulang sekolah Bianka harus mengikuti kumpulan membahas ini itu, menyiapkan segala macam. Hingga sudah tak aneh lagi jika Bian harus pulang pada jam 9 malam. Pergi ke kumpulan rutin, membawa bahan untuk dekorasi, mencari dana untuk keperluan hal-hal lain, dan yang pastinya yang membuat Bian lebih kesulitan adalah saat berdiskusi. Hanya dirinya yang diam tak berkata-kata. Teman-temannya semua melontarkan idenya masing-masing untuk kebaikan acaranya ini. Pikiran Bianka banyak sekali memikirkan ide, namun disaat dirinya mencoba untuk berbicara, terlalu kecil untuk didengarkan, ia sulit sekali menggerakkan lidahnya ini, ditambah dirinya yang sangat malu saat berbicara nanti, orang-orang akan mendengarkan si gagap berbicara.

             Mungkin terasa mudah bagi teman-temannya, namun bagi Bianka, bukan hanya pikiran dan tenaganya yang dikuras, tapi juga mentalnya. Bagi teman-temannya, cukup tugas sekolah dan persiapan acara yang perlu dipikirkan, tetapi bagi Bianka, perkataan teman-temannya menjadikan mentalnya turun lumayan drastis. Ia terus saja menjalankan hari demi hari dengan cemoohan dan pernyataan merendahkan diri. Lelah fisik dan mental, itulah yang Bianka rasakan untuk saat ini.

            Hari ini, Bianka berbeda seperti biasanya. Seusai kumpulan dari sekolah sebagai panitia, ia langsung pulang ke rumah dan mengurung diri di kamarnya. Teman-teman rumahnya pun terbingung-bingung dengan sikap Bianka. Tanpa sepatah kata apapun, tanpa persiapan-menggantikan baju dan mencuci muka, Bianka mengurung dirinya di dalam selimut.

            “Bian? Ada apa? Mau bercerita tentang apapun?” tanya Snowy

            “Tidak terima kasih” jawab Bian datar

            “Bi-bian?” tanya Mangka

            “Boleh diam sebentar?” jawab Bian dengan ketus

            “Maaf Bian.” Jawab Mangka dengan murung. Teman-teman Bian pun bertatapan satu sama lain, mereka mulai mengerti bahwa Bianka butuh waktu untuk sendiri.

            Perasaan Bianka saat ini sudah dititik terendah, yang biasanya Bianka bisa menahan amarah dan kesal, bisa mengendalikan emosinya dan merasa kebal, untuk saat ini, mungkin semua amarah yang ia pendam sudah tidak bisa ia tahan. Ia tidak bisa membalasnya dengan marah, tanpa sengaja air mata sudah mulai membasahi pipi Bianka.

            Tanpa perasaan apapun, air mata terus mengalir, tatapan datar tanpa ekspresi. Rasa sakit hatinya sudah pada batasnya, saking sakitnya, ia tidak bisa mengungkapkan perasaanya itu dengan ekspresi apapun. Ia tidak bisa berpikir, terlalu malas untuk mencampuri perasaannya saat ini. Terdiam dalam selimut beberapa lama, hingga tak terasa tengah malam sudah ia lewati.

            Dengan menangisnya itu, Bianka merasa lelah, tak sadar ia terlelap dengan air mata yang sudah kering dipipinya.

*       

            Terlelap hingga pagi hari, dengan perasaan yang masih campur aduk, Bianka bangun terlambat. Ibunya menghampiri Bianka ke kamarnya.

            “Bian sayang bangun yuk!” sapa ibunya dengan lembut

            “Ah i-iya bu. Em se-sepertinya hari ini aku tidak a-akan sekolah bu, aku me-merasa tidak enak badan.”

            Ibunya pun mengecek suhu badan Bian dengan menyentuh dahi Bianka dengan punggung tangannya. Ia tidak merasa panas sekalipun di dahi Bian, namun ibunya mengerti, keadaan Bianka tidak bisa selalu baik, melihat keadaan Bianka yang sulit berbicara, walaupun Bianka tidak pernah bercerita tentang pengalamannya di sekolah, tapi ibunya sangat memaklumi bahwa Bian belum siap untuk bercerita dengan ibunya, walaupun ia sudah 16 tahun.

            Ibunya pun membuat surat pernyataan sakit untuk Bianka, sehingga Bianka tidak usah pergi ke sekolah untuk hari ini. Bianka terdiam di tempat tidur, bersiap-siap untuk menyambut hari yang baru, tanpa perkataan yang menyakitkan untuk satu hari ini.

            Ia melakukan aktivitas pagi seperti biasanya, dengan perasaan sedikit  lega. Setelah dirinya siap, ia mulai memikirkan kata-kata yang telah teman-temannya lontarkan. Pertanyaan demi pertanyaan muncul diotaknya, ia sudah masuk dalam dimensinya sendiri.

            “Apakah aku pantas hidup? Bahkan untuk hidup seperti ini pun, aku tidak pernah mendapat teman yang dapat menerimaku. Kekuatan ini, apakah kelebihan? Aku baru tahu bahwa ada kekuatan yang menjadi kelemahan seseorang. Hahahaha, mimpi sekali aku untuk menjadi seperti pahlawan super, bahkan untuk membantu diriku sendiri saja tidak bisa.” Bianka bergumam sendiri, sambil meminum the hangat di atap rumahnya.

            “Aku rasa, aku harus meminta maaf kepada Snowy dan teman-teman, mereka pasti kecewa padaku.” Bianka pun turun kembali ke kamarnya dan bertemu mereka.

            “Ah hai teman-teman. Maafkan aku semalam, aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri”

            “Hai Bianka! Tidak apa-apa, bahkan kami khawatir denganmu Bian, kami takut terjadi sesuatu denganmu. Apakah sekarang kamu sudah baik-baik saja?” tanya Snowy dengan ramah

            “Untuk saat ini aku tidak apa-apa, hari ini saja aku tidak akan bertemu teman-temanku di sekolah, padahal hari bumi tinggal beberapa hari saja, hahaha tidak bertanggung jawab sekali aku ini.”

            “Begitukah? Apakah kamu sudah ingin bercerita sekarang?” tanya Mangka dengan hati-hati.

            “Apakah aku boleh? Apakah kalianpun akan menjauhiku juga?”

            “Tentu tidak Bian! Kami sangat terbuka padamu, kamu juga sudah mempercayai kami bukan? Ayo ceritakan agar kamu bisa tenang Bian.” Jawab salah satu pohon kecilnya.

            “Aku tidak percaya pada diriku sendiri, aku tidak mengerti tentang hal-hal yang terjadi padaku. Ini semua karena kemampuan yang aku miliki. Apakah aku benar seorang manusia? Mengapa lidah ini sulit untuk berkata-kata pada mereka. Aku rasa, aku tidak pantas untuk hidup. Aku malu sekali mengatakan ini, kalian selalu menyemangatiku tetapi pada akhirnya aku menyakiti kalian kemarin.”

            “Tidak Bian! Kamu sangat baik, kamu berharga Bian. Jika tidak ada kamu, mungkin kami sudah mati dimanfaatkan manusia-manusia kotor. Kamu diciptakan bukan tanpa alasan Bian percayalah!” jawab ikan.

            “Tapi mengapa aku diciptakan berbeda? Bukankah semua orang didunia ini tidak memiliki kemampuan untuk berbicara dengan kalian, hanya para Nabi lah yang bisa, yang telah diberikan tugas. Aku hanya manusia biasa, cemoohanlah yang bahkan datang kepadaku. Aku tidak berguna.” Ucap Bianka dengan sedih,

            “Semua orang memang telah diciptakan berbeda satu sama lain, bahkan kamu telah memiliki hal yang berbeda yang tidak setiap orang punya, bukankah itu kelebihanmu Bian? Kamu lihatkan bumi sedang krisis, teman-temanku di luar sana semakin sedikit, bahkan tempat tinggal Mangka sudah susah untuk ditemukan sebagai tempat yang aman bagi mereka. Kamu yang dapat berkomunikasi dengan kami, adalah suatu anugrah yang sudah direncanakan untuk membantu kami. Ejekan teman-temanmu tidak mempan Bian! Lawan mereka dengan kekuatanmu itu!”

            “Benarkah? Apakah aku bisa membantu kalian?”

            “Tentu saja! Bian tidak menyadari ya bahwa kamu menolong kami juga, saat kamu menemukan kita dalam kondisi krisis, Bian membawa kami ke rumahmu, dan sampai sekarang kita berteman! Lihatlah diri kami, sehat dan bahagia sekali! Aku tidak bisa membayangkan jika kamu tidak menolongku saat itu, dan teman-teman yang lain juga. Bukankah sampai saat inipun kamu telah sangat berguna? Apalagi kalo Bian ingin menolong yang lain juga, tentunya dengan semangat yang baru!” ucap Mangka penuh semangat

            “Wah benar sekali kalian, aku sangat bersyukur mempunyai teman yang mendukungku walaupun kalian bukan manusia sepertiku. Tapi, sepertinya aku butuh waktu, aku masih tidak yakin akan menggunakan kekuatanku ini untuk membantu para hewan dan tumbuhan di bumi ini. Maaf teman-teman jika aku mengecewakan kalian.” Jawab Bian

            “Tidak apa-apa, kamu pasti butuh waktu Bian. Biarkan hatimu pulih terlebih dahulu. Mundur sedikit kemudian melesat lebih jauh!” kata Snowy

            “Hei kamu dapet kata-kata itu darimana? Lebay tau hahahha” ucap Mangka

            “Aku pernah denger dulu dijalanan ada yang bilang gitu, kan menginspirasi hahahaha”

            “Ada-ada saja, terima kasih kalian. Moodbooster banget deh suka!” ucap Bian dengan riang

*       

 

Is it me?

            Hari berlalu dan sekarang waktu yang tersisa tinggal 3 hari lagi menuju Hari Bumi. Bianka yang sudah kembali semangat, bahkan sudah tidak menghiraukan perkataan-perkataan tidak baik yang dilontarkan kepadanya. Dia sudah lebih kebal, karena sudah memiliki prinsip yang ia pegang semenjak bercerita dengan teman-temannya di rumahnya. Bianka menyadari, bahwa bercerita tentang keluh kesahnya kepada orang yang ia percayai bisa meringankan bebannya sedikit demi sedikit. Dukungan memang tidak main-main, membuat Bianka lebih berenerjik dan dapat mengerjakan tugas sebagai panitia dan tugas sekolah dengan baik.

            Walaupun begitu, perkataan buruk itu terus saja menghampiri Bianka seperti jodoh.

            “Harusnya sih dia sekolah di sekolah luar biasa, bukan sekolah internasional, orang bisu mana bisa?” celoteh seorang anak disebuah kumpulan.

            “Gatau sih kenapa sekolah menerima dia. Sudahlah ayo kerjakan ini, sebentar lagi harus sudah selesai nih!” jawab salah satu temannya

            Bianka yang mendengarnya merasa tidak peduli dengan hal tersebut. Ia bahkan senang melakukan semua ini, karena saat ia kelas 10, dari Hari Bumi ini ia mendapatkan teman baru, sekolah banyak menanamkan pohon-pohon baru yang masih mungil dan sampai saat ini, semua pohon-pohon itu menjadi teman Bianka secara sembunyi-sembunyi. Oleh karena itu Bianka sekarang lebih semangat agar bisa bertemu teman-teman yang baru. Karena ternyata, rencananya untuk tahun ini, sekolah akan menanamkan pohon yang lebih banyak daripada tahun kemarin, bukan hanya di sekolah, tapi juga mereka berencana akan menanamkan pohon di sekitar sekolah dan di tempat tandus yang sudah mereka temukan.

            Setiap pulang sekolah, ia mengerjakan hal yang perlu disiapkan untuk acara nanti. Banyak jam pelajaran yang ia lewati untuk dispensasi. Sehingga seharusnya, acara yang sudah ia siapkan, waktu yang telah ia sisihkan, mental dan tenaga yang sudah ia kuras, akan menjadi acara yang luar biasa. 

*       

            Sudah 2 hari berlalu, besok adalah saatnya Hari Bumi berlangsung. Bianka harus pulang lebih malam dari biasanya. Ia pulang sekitar jam 11 malam, ya hampir tengah malam. Ia pulang dengan sedikit terburu-buru, agar ia bisa cepat-cepat tidur dan siap untuk keesokan harinya.

            Bianka begitu lelah, hari ini sudah sangat dikuras tenaganya. Ia tidak bisa memikirkan hal lain kecuali ingin cepat-cepat tidur. Diperjalanan ia sedikit mengantuk tetapi ingin cepat-cepat pulang. Ia melepaskan sepatu, menggantikan baju, dan cepat-cepat tidur agar memiliki waktu istirahat yang lebih banyak. Ia menarik selimut, dan siap untuk mengelana dimensi bawah sadar Bian.

            ”Tolongg!!” Seseorang diujung jalan meminta pertolongan

            “Hah dimana aku? Siapa disana?” tanya Bian dengan wajah ketakutan

            “Tolongg saya! Ada kebakaran! Keluargaku terjebak disana, aku tidak bisa berbuat apa-apa!”

            Bianka sangat bingung, ia tidak tahu haru berbuat apa. Ia bingung kenapa dirinya bisa berada disini. Tapi, ia memberanikan diri untuk masuk ke sela-sela api disana. Ia merunduk dan menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Setelah ia memasuki api tersebut, ia melihat seorang lelaki tua dan seorang anak kecil terjebak dalam api. Secepat mungkin ia menghampiri mereka, namun api terus membesar dan Bianka kesulitan untuk memasuki api tersebut. Tidak lama, tiba-tiba sebongkah kayu besar menghadang Bianka. Ia tidak menemukan jalan lain, terpaksa Bianka keluar dari api dengan tangan kosong.

            Bianka menghampiri seorang anak remaja tersebut. Dengan terpaksa ia mencoba untuk jujur

            “Maaf ya, sepertinya mereka tidak bisa tertolong.”

            “TIdakkkk! Apakah sekarang aku hidup sebatang kara?” seseorang yang tidak dikenal itu berbicara sambil menangis.

            “Apakah kamu tidak punya ibu?”

            ”Ibuku menghilang, aku tidak tau dia dimana, huhuhu”

            “Kalo begitu tenanglah. Tenangkan dirimu, kita pergi dari sini ya. Kamu tau tempat yang aman dari sini?”

            “Ya aku tahu, ayo ikut aku”

            Mereka pun berjalan menyusuri jalan setapak. Bianka tidak melihat bangunan tinggi seperti di kota-kota. Tempat ini seperti hutan, namun terdapat rumah-rumah kecil disekitarnya. Tentu saja Bianka terbingung-bingung. Ia masih tidak mengerti mengapa ia bisa disana. Bianka pun berencana untuk bertanya kepada seseorang yang berada di sampingnya tadi nanti, setelah seseorang itu sudah tenang.

            Ia terus berjalan, tapi tidak menemukan tempat apapun. Tidak ada tanda-tanda ada makhluk hidup lagi disana. Bianka semakin terbingung dengan keadaan saat ini. Tanpa berpikir-pikir lagi, ia bertanya

            “Hei, sebenarnya kamu siapa? Ini dimana?”

            “Kamu belum menyadari apapun? Ini dirimu, dirimu di masa depan!”

            “Tidak mungkin!”

            “Dan ini keadaan masa depanmu nanti. Teman-temanmu sudah tidak ada, semuanya telah mati.”

            “Kenapa? Ada apa sebenarnya?”

            “Dunia sudah hancur, semuanya sudah mati karena diriku di masa lalu! Dahulu aku tidak menggunakan kekuatanku untuk menolong makhluk bumi. Dan liahtlah keadaan dunia sekarang. Hancur! Semuanya telah tiada!”

            “Diriku sekarang? Apakah ini yang akan terjadi dimasa depan? Aku tidak percaya! Buktinya keluargamu yang terjebak tadi tidak mungkin seorang ayahku, dan siapa anak kecil itu? Kau mengada-ngada!”

            “Saat ini kau belum mengerti apapun ya? Mereka ayahmu dan juga kakakmu yang datang dari masa lalu sebelum kau lahir. Bersyukurlah saat ini kau masih hidup dengan aman. “

            “Aku tidak punya kakak! Bagaimana bisa seperti ini?”

            “Sudah kubilang, ini masa depanmu, mereka adalah ayah dan kakakmu yang datang dari masa lalu, sebelum kau lahir. Jika kau tidak percaya, lihatlah tanganku. Ada tanda di dekat siku karena dahulu aku menolong Mangka. Sekarang kau percaya?’

            “Baiklah, itu memang diriku. Tapi bagaimana bisa aku disini? Jelaskan ini dimana? Kenapa semuanya begitu tidak jelas disini. Dan kau, bagaimana bisa aku dimasa depan bertemu aku dimasa lalu?”

            Kemudian semuanya terlihat gelap sedikit demi sedikit. Bianka panik, ia terus bertanya kepadanya dimasa depan. Semua semakin terlihat buram. Kemudian, hanya warna hitam yang bisa Bianka lihat.  Bianka semakin bingung, ia tidak bisa melihat apapun, ia takut untuk bergerak.  Dengan pertanyaan yang sedari tadi belum terjawab, semakin banyak pertanyaan yang muncul saat ini, yang tidak bisa ia jawab sendiri.

            Tiba-tiba, seorang lelaki muncul dihadapannya. Orang yang tidak pernah Bianka temui sebelumnya. Bianka sedikit ketakutan, tapi juga berharap mendapat jawaban dari pertanyaan yang sudah terkumpul diotaknya tadi. Terdiam beberapa saat, akhirnya lelaki tersebut berbicara.

            “Bagaimana perasaanmu?”

            “A-apa? Siapa anda?”

            “Kamu tidak perlu tahu siapa saya. Bagaimana perasaan anda? Saya tahu anda pasti sangat bingung atas apa yang telah terjadi tadi. Tapi, semua pertanyaanmu akan terjawab suatu saat nanti. Untuk sekarang, kamu harus menyadari banyak hal, terutama kekuatanmu. Apakah kamu tidak pernah bertanya-tanya darimana kekuatanmu berasal?”

            “Ini terlalu cepat, apa maumu sebenarnya?”

            “Kau akan tahu suatu saat nanti. Gunakan hati nurani mu. Biarkan hatimu memilih dirimu sendiri. Terimalah dirimu sebagai manusia yang memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Percayalah kau berharga, Bianka”

            “Tunggu!!” Teriak Bianka dengan putus asa.

            Secara perlahan, sosok lelaki itu menghilang langsung dihadapan Bianka. Bianka yang tidak bisa bertanya apapun, terdiam tanpa tahu harus bagaimana lagi. Sekejap, Bianka membuka matanya. Terlihat kamarnya yang tidak asing. Bianka terbangun dari tidurnya, dari mimpi yang terasa sangat nyata. Ia termenung sekejap.

            ”Mengapa mimpi itu terasa sangat nyata? Apakah aku pergi ke masa depan? Ah tidak mungkin. Tapi mengapa orang-orang itu mengetahuiku?”

            Bianka melihat jam dan ternyata masih pukul 4 pagi, “Sepertinya aku kelelahan, tapi mimpi itu terlalu nyata!”

             Ia langsung mengambil minum agar tubuhnya terasa segar. Ia tidak berencana untuk tidur kembali. Hal-hal yang terjadi dalam mimpinya membuat ia harus berpikir tentang hal demi hal.  Bianka bisa mengingat wajah-wajah yang ada didalam mimpinya, juga tempat yang ia kunjungi saat ada kebakaran besar. Tempat yang hijau, seperti pedalaman tapi ia tak pernah lihat tempat seperti itu.  Karena waktu yang masih pagi, ia bergegas membersihkan diri untuk dapat berpikir dalam beberapa jam sebelum waktunya untuk sekolah. Keinginan untuk memikirkan mimpinya sangat besar, karena pertanyaan-pertanyaan yang muncul saat bermimpi masih ia ingat juga.

            Ia menyadari banyak hal, terutama mengenai kekuatannya. Ia sangat yakin bahwa seluruh isi mimpinya mengarah kepada kekuatannya dalam berkomunikasi dengan hewan dan juga tumbuhan. Orang-orang yang berhubungan dengannya, bahkan sosok yang bilang bahwa ia dirinya dari masa depan sangatlah misterius. Satu hal, ayahnya terjebak dalam kebakaran, beserta anak kecil yang diduga adalah kakaknya. Namun Bianka tidak mengerti, ia mengetahui bahwa ayah meninggal dalam kecelakaan. Ibunya yang berkata seperti itu, Bianka sangat percaya pada ibunya. Namun, ia teringat bahwa ibu tidak pernah menceritakan kematian ayah. Hanya bilang bahwa ayah meninggal dalam kecelakaan, tanpa detail apapun yang ibunya lontarkan.

            “Ah semua ini terlalu memusingkan!” celoteh Bianka.

            Ada banyak detail dalam mimpinya yang ia ingin pikirkan jawabannya, namun satu hal terpenting saat ini adalah ucapan dari dirinya di masa depan dan juga seorang lelaki yang berada di depannya. Keduanya membicarakan hal yang sama, ia harus menggunakan kekuatannya. Bianka teringat, dirinya di masa depan berkata bahwa kebakaran besar yang terjadi disebabkan oleh dirinya sendiri.

            “Apakah ada kaitannya dengan kekuatanku?”

            “Apakah itu karena aku tidak menggunakan kekuatanku, sama seperti saat ini?”

            Ia terus bertanya dalam benaknya, apakah ia harus merubah niatnya sekarang juga. Jika tidak, kemungkinan yang terjadi dalam mimpi akan menjadi kenyataan, karena dalam mimpi tersebut banyak makhluk yang harus tiada, terutama yang disebut ayah dan juga kakak Bianka itu.

            “Bisakah diriku menyelamatkan ayah jika aku mengusahakan kekuatanku?”

            Untuk saat ini, dari semua hal tersebut yang ia kait-kaitkan, Bianka bertekad untuk memulai menggunakan kekuatannya sebaik mungkin, untuk bisa membantu makhluk hidup sebisa mungkin. Karena hanya ia yang memilikinya, itu yang ia ketahui sekarang. Makhluk hidup banyak yang sekarat, saatnya Bian mengubah masa depan yang suram, mengubah takdir yang bisa diubah!

*       

            Untungnya Bianka tidak terlambat. Mimpinya tadi cukup menguras waktu Bianka untuk berpikir, tapi tanpa mimpi tersebut, mungkin hingga saat ini Bianka belum berani menggunakan kekuatannya dan mengubah pola pikirnya.

            Ia bergegas menggunakan sepatu, dan cepat-cepat pergi mengejar bus untuk sampai di sekolahnya. Butuh sekitar 15 menit untuk sampai ke gerbang, dan kelas Bianka berada diujung menaiki tangga, sungguh nasib.

            Sesampainya disana, semangatnya meningkat pesat daripada hari-hari sebelumnya. Ia tidak merasa malu sedikitpun, ia teringat bahwa dirinya terlalu memusingkan perkataan orang lain, padahal banyak yang mendukungnya dan menganggap kehadiran Bianka sangat berharga, juga orang-orang yang ada dimimpinya. Ia sangat mempercayai mimpi itu saat ini, untuk menjadi motivasi Bianka menggunakan kekuatannya mengubah masa depan.

            Hari Selasa, hari yang pas untuk melaksanakan Hari Bumi ini, setelah hari Senin melakukan upacara, untungnya pelajaran hari ini tidak begitu melelahkan sehingga dirinya tidak perlu memusingkan pelajaran yang terlewatkan. Semua siswa bergegas menyimpan tas nya ke kelas, kemudian kembali ke lapangan untuk membuka acara yang telah ditunggu-tunggu oleh semua warga sekolah, siswa-siswi, guru-guru, dan yang pastinya para panitia termasuk Bianka yang telah susah payah menyiapkan acara ini jauh-jauh hari demi menjala kan acara yang bisa dikenang oleh semua orang, termasuk dirinya di masa depan.

            Pas sekali, langit yang cerah dan berawan, hangat tapi tidak terlalu panas, cocok sekali untuk berjemur dilapangan hari ini. Semua siswa berbaris sesuai kelasnya masing-masing, guru-guru telah berjajar sempurna. Bahkan beberapa pejabat seperti Bapak Bupati dan juga pihak Dinas Pendidikan daerah sudah menempati tempatnya masing-masing. Sempurna, saatnya acara pembukaan segera dimulai.

            Kepala sekolah memasuki lapangan, menandakan pengucapan “Hari Bumi resmi dibuka” akan segera terlaksana. Semua siswa menantikan dengan sabar. Terdapat tumpeng yang utuh berada di depan seluruh siswa. Pita yang masih kokoh belum tergunting, menandakan acara yang telah dinanti-nanti oleh seluruh siswa.

            “Untuk itu, bapak buka acara yang dinanti-nantikan ini, dengan mengucap do’a, secara resmi saya buka acara Hari Bumi tahun 2036!” Ucap Pak Kepala Sekolah dengan penuh semangat

            Semua siswa bersorak riang. Acara yang dirayakan setahun sekali ini akhirnya dimulai. Banyak siswa yang sudah mempersiapkan dirinya dan juga kelasnya untuk mengikuti kegiatan perkelas.

            Kegiatan demi kegiatan berlanjut dengan lancar sesuai rencana. Perlombaan yang dilakukan perkelas satu-persatu mulai selesai. Ada beberapa kegiatan lagi yang belum selesai, lomba poster bumi, lomba debat bahasa Indonesia, dan untuk beberapa hari kedepan, penanaman pohon di sekolah, sekitar sekolah, dan juga tempat yang sudah dipersiapkan.

            Sekitar 3 hari acara hari bumi ini diselesaikan, namun untuk seluruh warga sekolah, hanya pada hari pertama lah mereka memeriahkan acara ini, untuk 2 hari kedepan, penanaman pohon dilakukan oleh beberapa perwakilan saja, termasuk Bianka sebagai panitia.

            Di sekolah, siswa-siswi sangat antusias saat penanaman pohon baru dilaksanakan, Bianka sedikit aneh akan sifat teman-teman sekolahnya. Bisa-bisanya mereka membully Bianka tanpa pikit panjang, sedangkan untuk penanaman pohon saja terlihat sangat antusias.           “Beda tempat beda muka ya ternyata” gumam Bianka

            Datanglah hari ketiga, waktunya penanaman pohon di suatu tempat yang agak jauh dari sekolah. Semua sudah siap berangkat, menaiki bus sekolah dan membawa peralatan dan bahan yang diperlukan nanti.

            “Untuk hari ini, target kita menanam 100 pohon ya, untuk seluruh perwakilan diharapkan sudah memegang satu pohon ditangannya.” Ucap kepala panitia

            Seluruh perwakilan menuruti perkataan kepala panitia, hingga ada laporan dari beberapa siswa, ternyata pohon yang telah dipersiapkan kurang. Bianka terkejut, dia sudah memastikan bahwa pohon yang dibawa sudah memiliki jumlah yang sesuai, ia telah memindahkan beberapa pohon tersebut dan tidak ada tanda-tanda pencurian atau kesalahan teknis.

            “Siapa tadi yang bertanggungjawab atas pohon-pohon ini?” tanya wakil panitia

            “Sa-saya kak” ucap Bianka, ada sedikit rasa takut dalam dirinya

            “Kenapa jumlah pohonnya bisa kurang? Sebelum berangkat kamu sudah mengecek jumlah pohonnya?”

            “Su-sudah kak, ba-bahkan aku memindahkan be-beberapanya kak!”

            “Lalu mengapa pohon-pohon ini bisa hilang?”

            Bianka terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari wakil panitia tersebut. Dirinya sendiripun merasa bingung dan aneh, karena ia sudah sangat yakin dengan jumlah pohon yang dibawa

            Tiba-tiba salah satu pohon yang ada disampingnya berbicara padanya,

            “Bianka kamu bisa dengar aku? Tolong kami!”

            “Ada apa?” tanya Bianka sedikit berbisik-bisik

            “Kamu bisa mendengarku? Teman-temanku menghilang Bianka!”

            “Kemana? Bagaimana mereka bisa menghilang?”

            “Apakah kamu tidak melihat sekumpulan orang didekat bangunan besar disana? Orang-orang itu diam-diam memindahkan teman-temanku dari bagasi mobil kalian, aku pikir mereka bagian dari kalian, ternyata mereka menculik kami!”

            “Benarkah? Aku harus bagaimana?!” Bianka pun melirik tempat yang diberikan ciri-cirinya oleh tanaman tadi, namun sudah terlambat, tidak ada siapapun disana, bahkan semuanya terlalu mulus, mereka tidak meninggalkan jejak sama sekali.

            “Bagaimana Bianka? Mengapa kamu terdiam? Kamu teledor ya?” tanya seorang panitia

            “Tidak, po-pohon itu di a-ambil o-“

            “Hah sudahlah, waktu sudah berjalan jauh, tidak ada waktu lagi untuk menunggunya berbicara. Ayo kita tanam pohon-pohon yang ada, yang tidak mendapatkan jatah pohon, boleh membantu yang lainnya ya agar cepat selesai. Jangan lupa ikuti prosedur yang ada!” Ucap ketua panitia, memotong perkataan Bianka untuk menjelaskan alasannya.

            Bianka tidak bisa melanjutkan perkataannya. Namun, pergerakan oleh orang-orang tadi sangat mencurigakan. Sangat tidak wajar sebuah perkumpulan sengaja mencuri beberapa pohon, bukan pencurian pada umumnya. Apakah hal tersebut perlu Bianka cari informasinya? Ya, Bianka bertekad untuk mencari tahu hal tersebut dikemudian hari setelah semua kegiatan Hari Bumi dan tugas sekolahnya selesai.

            Setelah semua pohon telah ditanam, semuanya kembali ke dalam bis. Perasaan yang campur aduk masih Bianka rasakan. Bukan karena sikap dari orang-orang disekitarnya, namun kejanggalan yang terjadi untuk pencurian pohon tadi. Ia masih berpikir mengapa orang-orang mencuri pohon, bahkan pohon yang dibawa oleh sekolahnya, seperti telah mengetahui akan ada keberadaan pihak sekolah ke tempat tersebut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kumpulan puisi aku dan bumi

Tema: Kesedihan   1.Rindu   Dikala fajar menyingsing Dikala burung bernyanyi Desiran daun tertiup angin Desiran rindu menjadi tangis   Burun...