Genre:
Fantasi
Judul: Am I Crazy?
Outline:
Bab 1
Hidup sebagai anak SMA dengan kemampuan
luar biasa yang dimiliki Bianka membuatnya kesusahan setengah mati. Bisa
berkomunikasi dengan hewan dan tumbuhan menjadikannya sebuah berkah tapi juga
musibah. Namun dia sedikit kesulitan dalam berinteraksi dengan sesamanya,
sebagai manusia. Apakah Bianka terjebak dalam raga manusia?
Bab 2
Seiring berjalannya waktu, Bianka dapat
menikmati hidupnya yang berbeda ini, walaupun banyak orang menyebutnya gila,
tapi dia bisa menjalani kehidupan dengan normal. Sampai saat Bianka terbawa
mimpi yang mengerikan, membuatnya tersadar untuk menggunakan kemampuannya
membantu tumbuhan dan hewan melewati masa-masa sulit mereka. Misi-misi pun
Bianka jalani
Bab 3
Misi yang dilewati Bianka tidaklah mudah
dan sangat beragam. Banyak yang harus dia korbankan untuk dapat menyelesaikan
semua misi dengan baik. Mengetahui bahwa hewan dan tumbuhan pun memiliki
kepribadian yang berbeda-beda, menjadikannya terasa lebih sulit untuk dilewati.
Namun karena semangatnya yang besar, dan petunjuk-petunjuk kecil yang ia
dapatkan, akhirnya satu persatu misi dapat diselesaikan.
Bab 4
Bianka yang merasa kelelahan, dan mulai
merasa yang namanya jenuh bertanya-tanya. Apakah ada manusia lain yang memiliki
kemampuan yang sama? Sama halnya dengan manusia pada umumnya yang
mempertanyakan apakah ada makhluk lain di planet antah berantah yang hidup?
Berjalannya menjalankan misi, Bianka mencari orang tersebut untuk menyelesaikan
misi bersama-sama.
Bab 5
Mereka melewati misi-misi bersama dengan baik. Dari berbagai misi yang ia jalankan, satu persatu fakta ia dapatkan. Dengan bekal yang tak sengaja ia kumpulkan, pada akhirnya Bianka mengetahui bagaimana kemampuan ini ia dapatkan, salah satu rahasia bumi yang tidak dipercayai kebanyakan orang. Pada akhirnya, Bianka memilih jalannya sebagai “orang gila” bersama teman hidupnya Theo, hingga waktu berhenti untuk mereka.
A Different
Life
Bel berbunyi menandakan waktunya
pulang sekolah, namun hari ini waktu pulang lebih awal, sekolah yang sibuk
menghadapi hari bumi membuat guru-guru harus memotong waktu mengajarnya untuk
mengadakan rapat. Tertulis tanggal 2 April 2036, akhirnya sekolah Bianka bisa
pulang lebih awal, sungguh sebuah sejarah baginya.
Dengan terburu-buru Bianka mengemas
buku-buku yang ada dihadapannya, mengenakan jaket yang sempat ia simpan dahulu
agar tidak dirazia, dengan berlari-lari kecil di lorong ia menuruni tangga.
BRUK!. Bianka terjatuh ditangga.
Teman-temannya yang usil menatapnya rendah. Tanpa rasa bersalah, mereka pergi
meninggalkan Bianka yang masih terdiam di tempatnya sambil mengatakan
"Orang gila aneh!" dengan lantang tanpa berpikir panjang. Bianka
langsung bangun dan merapihkan bajunya yang sedikit kotor dengan debu yang ada
pada lantai.
Bianka hanya terdiam, untunglah saat
ini suasana hatinya sedang bagus, tidak ada rasa sakit yang berarti untuk hari
ini. Mengapa? Karena sebentar lagi ia akan pulang ke rumah, beda rasanya bagi
Bianka.
Kembali ia berlari-lari kecil dengan
senang saat ia dalam perjalanan pulang. Memasuki rumahnya, bersalaman dengan
ibunya yang seorang diri, dan pergi ke kamarnya.
Kamar yang biasa orang tempati
mungkin akan memajangkan idola mereka, impian-impian mereka, atau sekedar
hiasan agar membuat kamar terlihat indah dan nyaman. Namun bagi Bianka,
kamarnya penuh dengan tumbuhan-tumbuhan kecil, sepasang anak kucing,
seekor monyet, dan ikan-ikan kecil dalam akuarium. Tidak lupa, makanan-makanan
mereka pun disiapkan di dalam kamar Bianka. Walau terasa penuh, tapi sengaja
kamarnya dibuat lebih besar bahkan daripada ruang tamu, agar ia bisa lebih
leluasa.
"Bian aku kangen sekali, kamu
pulang lebih awal hari ini?" Ucap salah satu tanaman kecilnya. Ya, dia
berbicara, dan Bianka bisa mendengarnya.
"Ah iya, senang sekali hari ini
bisa bertemu kalian lebih awal. Oh iya kamu lapar ya Mangka, sini aku siapkan
makananmu ya." Balas Bianka sambil menyiapkan makanan bagi monyetnya
Mangka.
"Bianka terbaik! Aku sangat
lapar hari ini, padahal biasanya saat kamu pulang sore aku masih bisa
menahannya, hahahaha!" Jawab Mangka dengan semangat.
"Bagaimana dengan ku? Makanan
ku habis tau!" Ucap ikan-ikan.
"Hahahaha tentu saja aku akan
menyiapkan makanan kalian semua, tenang saja teman-teman, aku tidak pilih kasih
kok, peace!" Kata Bianka sambil tertawa kecil.
Sambil menyiapkan makanan bagi
hewan-hewan, Bianka terpikirkan perlakuan temannya di sekolah, dia termenung
"Sudah berapa kali ya aku dibully seperti ini?" Itulah yang terlintas
dibenaknya. Anak kucing putih melihat Bianka dan menanyainya, "Bian, ada
apa? Apa kamu diperlakukan tidak baik lagi oleh teman-temanmu?"
"Oh tidak snowy, aku tidak
apa-apa kok beneran" jawab Bianka dengan tergesa-gesa,
"Kamu ga pandai bohong Bian,
tidak usah dihiraukan, mereka hanya tidak tau diri kamu sebenarnya." Ucap
Snowy.
Samar-samar Bianka menjawab,
"Yah benar, mereka hanya tidak tau aku, mereka tidak mengenalku."
Setelah kesibukan Bianka telah
selesai, dia menyendiri di balkon rumah, memikirkan perkataan Snowy-kucing
kecilnya, "Benar juga, manusia hanya melihat kekuranganku, kesulitan
berbicara dengan mereka memang sudah ditakdirkan padaku. Namun tetap saja,
diriku yang aneh ini, mengapa ada di dunia?" Gumam Bianka. "Bisa
berkomunikasi dengan makhluk hidup lain, tapi dengan manusia saja aku tidak
bisa selancar ini, apakah aku terlahir di tubuh yang salah? Siapa aku
sebenarnya?"
"Baru saja bilang mereka hanya
tidak tau aku, hahaha bahkan aku saja tidak tau diriku siapa." Bian hanya
menertawakannya sendiri, malang.
10 April 2036 tepat 12 hari sebelum
hari bumi, Bianca pergi ke sekolah seperti biasanya, namun ada hal yang
berbeda, hari ini sekolah sedang mencari perwakilan dari tiap kelas dari kelas
10 hingga 12 dari kelas ipa hingga kelas
bahasa untuk menjadi panitia dalam acara hari bumi tersebut. Sekolah tidak
mengambil panitia dari pihak OSIS dikarenakan sedang mempersiapkan acara lain
yang sudah dipersiapkan jauh hari sebelum hari bumi ini yaitu acara penutupan
atau grand closing dari acara terbesar sekolah sehingga dari hasil rapat
kemarin guru-guru pun mengambil kesimpulan untuk mencari calon panitia dari perwakilan
kelas yang unggul agar bisa melaksanakan acara hari bumi ini dengan sukses.
Di pelajaran fisika yang tenang ini,
tiba-tiba pelajaran tertunda karena ada pengumuman oleh seorang guru yaitu Pak
Lutfi untuk mengumumkan perwakilan kelasnya yang menjadi panitia dalam kegiatan
hari bumi nanti. Bianka yang tidak tahu apa-apa tiba-tiba dipanggil untuk
menjadi perwakilan dari kelasnya yaitu 11 IPA 2 bersama teman-temannya yang
lain yaitu Robin dan Keshya. Teman-temannya terkejut, bahkan Bianka sendiri pun
terkejut akan pernyataan Pak Lutfi. Bianka yang biasanya berkegiatan di rumah,
sering menghindari kegiatan-kegiatan yang dianggap Bianka tidak penting di
sekolah, merasa tertekan untuk menjadi panitia di hari bumi nanti. Bukan hanya
karena sering menghindar, tapi Bianka menyadari bahwa dirinya sulit untuk
berkomunikasi dengan manusia lain. Dengan terbata-bata Bianka bertanya kepada
Pak Lutfi
“Pak, a-apakah be-benar saya
te-terpilih? Bapak ti-tidak salah bi-bicara kan?”
“Tidak Bianka, kamu dan 2 temanmu
menjadi panitia ya, keputusan ini sudah dibicarakan dari rapat kemarin sehingga
keputusan ini sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Semangat ya nak, kamu
pasti bisa!” jawab Pak Lutfi dengan tenang.
Setelah memberitahu siapa saja
perwakilannya, Pak Lutfi mengumumkan hal apa saja yang harus diperhatikan untuk
mempersiapkan acara ini, dan sore nanti setelah pulang sekolah, seluruh panitia
yang dipilih harus berkumpul di multi media sekolah.
Bianka yang masih terkejut dan
takut, akhirnya pasrah menyetujui keputusan yang telah bulat. Pembelajaran
fisika yang tenang dan menyenangkan pun kembali dimulai.
Setelah berpusing-pusing mengikuti
kegiatan belajar mengajar, akhirnya waktu istirahat datang. Tepat jam 12 siang,
bel sekolah berbunyi menandakan waktunya untuk istirahat. Tanpa pikir panjang,
siswa-siswi Sekolah Internasional Athalasia langsung pergi menuju kantin untuk
mendapatkan jatah makan siang yang sudah disiapkan oleh bibi kantin. Ya,
sekolah Bian ini memang memiliki peraturan sekolah yang mirip dengan di luar
negeri karena sekolahnya yang berstandar internasional, memiliki hubungan
dengan negara-negara lain yang ada di Eropa.
Setelah Bianka mengambil makan
siangnya, seperti biasa ia duduk sendiri. Namun terdengarlah pembicaraan yang
tidak mengenakan tentang dirinya.
”Hei, kalian udah tau belum? Kalo
perwakilan kelas 11 Ipa 2 tuh ada Bianka nya lho!”
“Hah masa sih? Kamu ga salah
denger?”
“Aku yakin seribu persen, karena aku
langsung mendengarnya dari Robin, dia kan perwakilan juga di kelasnya, bareng
sama Keshya.”
Tiba-tiba temannya berceloteh,
“Guru-guru udah gila kali ya, masa buat acara penting kaya gini milih panitia
yang ga bisa bicara? Padahal kunci utamanya buat ngejalanin acara kan
komunikasi. Lucu banget deh guru-guru”
“Gue juga bingung sebenernya,
padahal Robin sama Keshya udah cocok banget jadi panitia, udah cantik, ganteng,
bisa diandalkan banget lah karena mereka udah berpengalaman.”
“Tapi gue pernah denger gatau darimana, nih ya katanya
Pak Lutfi sendiri yang mengusulkan Bianka, kenapa sih? Apa bagusnya?”
“Hahahaha, gue yakin, acara ini ga
bakal sesukses tahun lalu, Bianka ganggu sih!”
“Sutt, jangan keras-keras, nanti
orangnya denger.”
Dalam hati Bian berkata “kerasin aja
sekalian, kedengeran tahu! Orang-orang begitu memperhatikan aku seperti sudah
sempurna saja, kata siapa kunci utama menjalankan acara adalah komunikasi? Aku
akan buktikan, walau sulit untuk berbicara dengan kalian, aku tetap bisa
menjalankan acara ini dengan baik!”
Bianka pun pura-pura tidak mendengarkan
perkataan anak-anak dari kelas lain itu, dan melanjutkan makan siang agar
dirinya bisa cepat-cepat kembali ke kelas. Namun setelah sampai dikelas, dia
berpikir kembali tentang perkataan anak-anak di kantin.
Ia tahu bahwa acara ini sangat penting
untuk sekolahnya, mengingat sekolah yang ia tempati mengedepankan keasrian
lingkungan dan penghijauan, hal itulah yang menyebabkan Sekolah Internasional
Athalasia menjadi sekolah favorit, dan Hari Bumi ini akan menjadi acara besar
dan menjadi salah satu validasi kualitas sekolah ini. Dia merasa apa yang telah
dikatakan mereka ada benarnya juga. Kenapa Pak Lutfi memilih dirinya menjadi
panitia dan disetujui oleh guru lain, sedangkan dirinya pun sulit berbicara,
dan temannya yang lain adalah orang yang aktif dalam berorganisasi dan sangat
berpengalaman. Pertanyaan ini terus muncul dipikirannya, membuat ia merasa jadi
benar-benar gila.
Hari
demi hari berlanjut, Bianka terus saja mendengar perkataan-perkataan pedas yang
dilontarkan oleh banyak orang, terutama teman-teman seangkatannya. Walaupun
begitu, Bianka terus saja melanjutkan tugasnya sebagai panitia. Ia sangat sibuk
pekan ini, karena sudah 7 hari sebelum acara dimulai, semua panitia semakin
sibuk dan sibuk.
Tidak seperti biasanya, setiap
pulang sekolah Bianka harus mengikuti kumpulan membahas ini itu, menyiapkan
segala macam. Hingga sudah tak aneh lagi jika Bian harus pulang pada jam 9
malam. Pergi ke kumpulan rutin, membawa bahan untuk dekorasi, mencari dana
untuk keperluan hal-hal lain, dan yang pastinya yang membuat Bian lebih
kesulitan adalah saat berdiskusi. Hanya dirinya yang diam tak berkata-kata.
Teman-temannya semua melontarkan idenya masing-masing untuk kebaikan acaranya
ini. Pikiran Bianka banyak sekali memikirkan ide, namun disaat dirinya mencoba
untuk berbicara, terlalu kecil untuk didengarkan, ia sulit sekali menggerakkan
lidahnya ini, ditambah dirinya yang sangat malu saat berbicara nanti,
orang-orang akan mendengarkan si gagap berbicara.
Mungkin terasa mudah bagi teman-temannya, namun
bagi Bianka, bukan hanya pikiran dan tenaganya yang dikuras, tapi juga
mentalnya. Bagi teman-temannya, cukup tugas sekolah dan persiapan acara yang
perlu dipikirkan, tetapi bagi Bianka, perkataan teman-temannya menjadikan
mentalnya turun lumayan drastis. Ia terus saja menjalankan hari demi hari
dengan cemoohan dan pernyataan merendahkan diri. Lelah fisik dan mental, itulah
yang Bianka rasakan untuk saat ini.
Hari ini, Bianka berbeda seperti
biasanya. Seusai kumpulan dari sekolah sebagai panitia, ia langsung pulang ke
rumah dan mengurung diri di kamarnya. Teman-teman rumahnya pun
terbingung-bingung dengan sikap Bianka. Tanpa sepatah kata apapun, tanpa
persiapan-menggantikan baju dan mencuci muka, Bianka mengurung dirinya di dalam
selimut.
“Bian? Ada apa? Mau bercerita
tentang apapun?” tanya Snowy
“Tidak terima kasih” jawab Bian
datar
“Bi-bian?” tanya Mangka
“Boleh diam sebentar?” jawab Bian
dengan ketus
“Maaf Bian.” Jawab Mangka dengan
murung. Teman-teman Bian pun bertatapan satu sama lain, mereka mulai mengerti
bahwa Bianka butuh waktu untuk sendiri.
Perasaan Bianka saat ini sudah
dititik terendah, yang biasanya Bianka bisa menahan amarah dan kesal, bisa
mengendalikan emosinya dan merasa kebal, untuk saat ini, mungkin semua amarah
yang ia pendam sudah tidak bisa ia tahan. Ia tidak bisa membalasnya dengan
marah, tanpa sengaja air mata sudah mulai membasahi pipi Bianka.
Tanpa perasaan apapun, air mata
terus mengalir, tatapan datar tanpa ekspresi. Rasa sakit hatinya sudah pada
batasnya, saking sakitnya, ia tidak bisa mengungkapkan perasaanya itu dengan
ekspresi apapun. Ia tidak bisa berpikir, terlalu malas untuk mencampuri
perasaannya saat ini. Terdiam dalam selimut beberapa lama, hingga tak terasa
tengah malam sudah ia lewati.
Dengan menangisnya itu, Bianka
merasa lelah, tak sadar ia terlelap dengan air mata yang sudah kering
dipipinya.
Terlelap hingga pagi hari, dengan
perasaan yang masih campur aduk, Bianka bangun terlambat. Ibunya menghampiri
Bianka ke kamarnya.
“Bian sayang bangun yuk!” sapa
ibunya dengan lembut
“Ah i-iya bu. Em se-sepertinya hari
ini aku tidak a-akan sekolah bu, aku me-merasa tidak enak badan.”
Ibunya pun mengecek suhu badan Bian
dengan menyentuh dahi Bianka dengan punggung tangannya. Ia tidak merasa panas
sekalipun di dahi Bian, namun ibunya mengerti, keadaan Bianka tidak bisa selalu
baik, melihat keadaan Bianka yang sulit berbicara, walaupun Bianka tidak pernah
bercerita tentang pengalamannya di sekolah, tapi ibunya sangat memaklumi bahwa
Bian belum siap untuk bercerita dengan ibunya, walaupun ia sudah 16 tahun.
Ibunya pun membuat surat pernyataan
sakit untuk Bianka, sehingga Bianka tidak usah pergi ke sekolah untuk hari ini.
Bianka terdiam di tempat tidur, bersiap-siap untuk menyambut hari yang baru,
tanpa perkataan yang menyakitkan untuk satu hari ini.
Ia melakukan aktivitas pagi seperti
biasanya, dengan perasaan sedikit lega.
Setelah dirinya siap, ia mulai memikirkan kata-kata yang telah teman-temannya
lontarkan. Pertanyaan demi pertanyaan muncul diotaknya, ia sudah masuk dalam
dimensinya sendiri.
“Apakah aku pantas hidup? Bahkan
untuk hidup seperti ini pun, aku tidak pernah mendapat teman yang dapat
menerimaku. Kekuatan ini, apakah kelebihan? Aku baru tahu bahwa ada kekuatan
yang menjadi kelemahan seseorang. Hahahaha, mimpi sekali aku untuk menjadi
seperti pahlawan super, bahkan untuk membantu diriku sendiri saja tidak bisa.”
Bianka bergumam sendiri, sambil meminum the hangat di atap rumahnya.
“Aku rasa, aku harus meminta maaf
kepada Snowy dan teman-teman, mereka pasti kecewa padaku.” Bianka pun turun
kembali ke kamarnya dan bertemu mereka.
“Ah hai teman-teman. Maafkan aku
semalam, aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri”
“Hai Bianka! Tidak apa-apa, bahkan
kami khawatir denganmu Bian, kami takut terjadi sesuatu denganmu. Apakah
sekarang kamu sudah baik-baik saja?” tanya Snowy dengan ramah
“Untuk saat ini aku tidak apa-apa,
hari ini saja aku tidak akan bertemu teman-temanku di sekolah, padahal hari
bumi tinggal beberapa hari saja, hahaha tidak bertanggung jawab sekali aku
ini.”
“Begitukah? Apakah kamu sudah ingin
bercerita sekarang?” tanya Mangka dengan hati-hati.
“Apakah aku boleh? Apakah kalianpun
akan menjauhiku juga?”
“Tentu tidak Bian! Kami sangat
terbuka padamu, kamu juga sudah mempercayai kami bukan? Ayo ceritakan agar kamu
bisa tenang Bian.” Jawab salah satu pohon kecilnya.
“Aku tidak percaya pada diriku
sendiri, aku tidak mengerti tentang hal-hal yang terjadi padaku. Ini semua
karena kemampuan yang aku miliki. Apakah aku benar seorang manusia? Mengapa
lidah ini sulit untuk berkata-kata pada mereka. Aku rasa, aku tidak pantas
untuk hidup. Aku malu sekali mengatakan ini, kalian selalu menyemangatiku
tetapi pada akhirnya aku menyakiti kalian kemarin.”
“Tidak Bian! Kamu sangat baik, kamu
berharga Bian. Jika tidak ada kamu, mungkin kami sudah mati dimanfaatkan
manusia-manusia kotor. Kamu diciptakan bukan tanpa alasan Bian percayalah!”
jawab ikan.
“Tapi mengapa aku diciptakan
berbeda? Bukankah semua orang didunia ini tidak memiliki kemampuan untuk berbicara
dengan kalian, hanya para Nabi lah yang bisa, yang telah diberikan tugas. Aku
hanya manusia biasa, cemoohanlah yang bahkan datang kepadaku. Aku tidak
berguna.” Ucap Bianka dengan sedih,
“Semua orang memang telah diciptakan
berbeda satu sama lain, bahkan kamu telah memiliki hal yang berbeda yang tidak
setiap orang punya, bukankah itu kelebihanmu Bian? Kamu lihatkan bumi sedang
krisis, teman-temanku di luar sana semakin sedikit, bahkan tempat tinggal
Mangka sudah susah untuk ditemukan sebagai tempat yang aman bagi mereka. Kamu
yang dapat berkomunikasi dengan kami, adalah suatu anugrah yang sudah
direncanakan untuk membantu kami. Ejekan teman-temanmu tidak mempan Bian! Lawan
mereka dengan kekuatanmu itu!”
“Benarkah? Apakah aku bisa membantu
kalian?”
“Tentu saja! Bian tidak menyadari ya
bahwa kamu menolong kami juga, saat kamu menemukan kita dalam kondisi krisis,
Bian membawa kami ke rumahmu, dan sampai sekarang kita berteman! Lihatlah diri
kami, sehat dan bahagia sekali! Aku tidak bisa membayangkan jika kamu tidak
menolongku saat itu, dan teman-teman yang lain juga. Bukankah sampai saat
inipun kamu telah sangat berguna? Apalagi kalo Bian ingin menolong yang lain
juga, tentunya dengan semangat yang baru!” ucap Mangka penuh semangat
“Wah benar sekali kalian, aku sangat
bersyukur mempunyai teman yang mendukungku walaupun kalian bukan manusia
sepertiku. Tapi, sepertinya aku butuh waktu, aku masih tidak yakin akan
menggunakan kekuatanku ini untuk membantu para hewan dan tumbuhan di bumi ini.
Maaf teman-teman jika aku mengecewakan kalian.” Jawab Bian
“Tidak apa-apa, kamu pasti butuh
waktu Bian. Biarkan hatimu pulih terlebih dahulu. Mundur sedikit kemudian
melesat lebih jauh!” kata Snowy
“Hei kamu dapet kata-kata itu
darimana? Lebay tau hahahha” ucap Mangka
“Aku pernah denger dulu dijalanan
ada yang bilang gitu, kan menginspirasi hahahaha”
“Ada-ada saja, terima kasih kalian.
Moodbooster banget deh suka!” ucap Bian dengan riang
Is it me?
Hari berlalu dan sekarang waktu yang tersisa tinggal 3
hari lagi menuju Hari Bumi. Bianka yang sudah kembali semangat, bahkan sudah
tidak menghiraukan perkataan-perkataan tidak baik yang dilontarkan kepadanya.
Dia sudah lebih kebal, karena sudah memiliki prinsip yang ia pegang semenjak
bercerita dengan teman-temannya di rumahnya. Bianka menyadari, bahwa bercerita
tentang keluh kesahnya kepada orang yang ia percayai bisa meringankan bebannya
sedikit demi sedikit. Dukungan memang tidak main-main, membuat Bianka lebih
berenerjik dan dapat mengerjakan tugas sebagai panitia dan tugas sekolah dengan
baik.
Walaupun begitu, perkataan buruk itu terus saja
menghampiri Bianka seperti jodoh.
“Harusnya sih dia sekolah di sekolah luar biasa, bukan
sekolah internasional, orang bisu mana bisa?” celoteh seorang anak disebuah
kumpulan.
“Gatau sih kenapa sekolah menerima dia. Sudahlah ayo
kerjakan ini, sebentar lagi harus sudah selesai nih!” jawab salah satu temannya
Bianka yang mendengarnya merasa tidak peduli dengan hal
tersebut. Ia bahkan senang melakukan semua ini, karena saat ia kelas 10, dari
Hari Bumi ini ia mendapatkan teman baru, sekolah banyak menanamkan pohon-pohon
baru yang masih mungil dan sampai saat ini, semua pohon-pohon itu menjadi teman
Bianka secara sembunyi-sembunyi. Oleh karena itu Bianka sekarang lebih semangat
agar bisa bertemu teman-teman yang baru. Karena ternyata, rencananya untuk
tahun ini, sekolah akan menanamkan pohon yang lebih banyak daripada tahun
kemarin, bukan hanya di sekolah, tapi juga mereka berencana akan menanamkan
pohon di sekitar sekolah dan di tempat tandus yang sudah mereka temukan.
Setiap pulang sekolah, ia mengerjakan hal yang perlu
disiapkan untuk acara nanti. Banyak jam pelajaran yang ia lewati untuk
dispensasi. Sehingga seharusnya, acara yang sudah ia siapkan, waktu yang telah
ia sisihkan, mental dan tenaga yang sudah ia kuras, akan menjadi acara yang
luar biasa.
Sudah 2
hari berlalu, besok adalah saatnya Hari Bumi berlangsung. Bianka harus pulang
lebih malam dari biasanya. Ia pulang sekitar jam 11 malam, ya hampir tengah
malam. Ia pulang dengan sedikit terburu-buru, agar ia bisa cepat-cepat tidur
dan siap untuk keesokan harinya.
Bianka
begitu lelah, hari ini sudah sangat dikuras tenaganya. Ia tidak bisa memikirkan
hal lain kecuali ingin cepat-cepat tidur. Diperjalanan ia sedikit mengantuk
tetapi ingin cepat-cepat pulang. Ia melepaskan sepatu, menggantikan baju, dan
cepat-cepat tidur agar memiliki waktu istirahat yang lebih banyak. Ia menarik
selimut, dan siap untuk mengelana dimensi bawah sadar Bian.
”Tolongg!!”
Seseorang diujung jalan meminta pertolongan
“Hah dimana
aku? Siapa disana?” tanya Bian dengan wajah ketakutan
“Tolongg
saya! Ada kebakaran! Keluargaku terjebak disana, aku tidak bisa berbuat
apa-apa!”
Bianka
sangat bingung, ia tidak tahu haru berbuat apa. Ia bingung kenapa dirinya bisa
berada disini. Tapi, ia memberanikan diri untuk masuk ke sela-sela api disana.
Ia merunduk dan menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Setelah ia memasuki
api tersebut, ia melihat seorang lelaki tua dan seorang anak kecil terjebak
dalam api. Secepat mungkin ia menghampiri mereka, namun api terus membesar dan
Bianka kesulitan untuk memasuki api tersebut. Tidak lama, tiba-tiba sebongkah kayu
besar menghadang Bianka. Ia tidak menemukan jalan lain, terpaksa Bianka keluar
dari api dengan tangan kosong.
Bianka
menghampiri seorang anak remaja tersebut. Dengan terpaksa ia mencoba untuk
jujur
“Maaf ya,
sepertinya mereka tidak bisa tertolong.”
“TIdakkkk!
Apakah sekarang aku hidup sebatang kara?” seseorang yang tidak dikenal itu
berbicara sambil menangis.
“Apakah
kamu tidak punya ibu?”
”Ibuku
menghilang, aku tidak tau dia dimana, huhuhu”
“Kalo
begitu tenanglah. Tenangkan dirimu, kita pergi dari sini ya. Kamu tau tempat
yang aman dari sini?”
“Ya aku
tahu, ayo ikut aku”
Mereka pun
berjalan menyusuri jalan setapak. Bianka tidak melihat bangunan tinggi seperti
di kota-kota. Tempat ini seperti hutan, namun terdapat rumah-rumah kecil
disekitarnya. Tentu saja Bianka terbingung-bingung. Ia masih tidak mengerti
mengapa ia bisa disana. Bianka pun berencana untuk bertanya kepada seseorang
yang berada di sampingnya tadi nanti, setelah seseorang itu sudah tenang.
Ia terus
berjalan, tapi tidak menemukan tempat apapun. Tidak ada tanda-tanda ada makhluk
hidup lagi disana. Bianka semakin terbingung dengan keadaan saat ini. Tanpa
berpikir-pikir lagi, ia bertanya
“Hei,
sebenarnya kamu siapa? Ini dimana?”
“Kamu belum
menyadari apapun? Ini dirimu, dirimu di masa depan!”
“Tidak
mungkin!”
“Dan ini
keadaan masa depanmu nanti. Teman-temanmu sudah tidak ada, semuanya telah
mati.”
“Kenapa?
Ada apa sebenarnya?”
“Dunia
sudah hancur, semuanya sudah mati karena diriku di masa lalu! Dahulu aku tidak
menggunakan kekuatanku untuk menolong makhluk bumi. Dan liahtlah keadaan dunia
sekarang. Hancur! Semuanya telah tiada!”
“Diriku
sekarang? Apakah ini yang akan terjadi dimasa depan? Aku tidak percaya!
Buktinya keluargamu yang terjebak tadi tidak mungkin seorang ayahku, dan siapa
anak kecil itu? Kau mengada-ngada!”
“Saat ini
kau belum mengerti apapun ya? Mereka ayahmu dan juga kakakmu yang datang dari
masa lalu sebelum kau lahir. Bersyukurlah saat ini kau masih hidup dengan aman.
“
“Aku tidak
punya kakak! Bagaimana bisa seperti ini?”
“Sudah
kubilang, ini masa depanmu, mereka adalah ayah dan kakakmu yang datang dari
masa lalu, sebelum kau lahir. Jika kau tidak percaya, lihatlah tanganku. Ada
tanda di dekat siku karena dahulu aku menolong Mangka. Sekarang kau percaya?’
“Baiklah,
itu memang diriku. Tapi bagaimana bisa aku disini? Jelaskan ini dimana? Kenapa
semuanya begitu tidak jelas disini. Dan kau, bagaimana bisa aku dimasa depan
bertemu aku dimasa lalu?”
Kemudian
semuanya terlihat gelap sedikit demi sedikit. Bianka panik, ia terus bertanya
kepadanya dimasa depan. Semua semakin terlihat buram. Kemudian, hanya warna
hitam yang bisa Bianka lihat. Bianka
semakin bingung, ia tidak bisa melihat apapun, ia takut untuk bergerak. Dengan pertanyaan yang sedari tadi belum
terjawab, semakin banyak pertanyaan yang muncul saat ini, yang tidak bisa ia
jawab sendiri.
Tiba-tiba,
seorang lelaki muncul dihadapannya. Orang yang tidak pernah Bianka temui
sebelumnya. Bianka sedikit ketakutan, tapi juga berharap mendapat jawaban dari
pertanyaan yang sudah terkumpul diotaknya tadi. Terdiam beberapa saat, akhirnya
lelaki tersebut berbicara.
“Bagaimana
perasaanmu?”
“A-apa?
Siapa anda?”
“Kamu tidak
perlu tahu siapa saya. Bagaimana perasaan anda? Saya tahu anda pasti sangat
bingung atas apa yang telah terjadi tadi. Tapi, semua pertanyaanmu akan
terjawab suatu saat nanti. Untuk sekarang, kamu harus menyadari banyak hal,
terutama kekuatanmu. Apakah kamu tidak pernah bertanya-tanya darimana
kekuatanmu berasal?”
“Ini
terlalu cepat, apa maumu sebenarnya?”
“Kau akan
tahu suatu saat nanti. Gunakan hati nurani mu. Biarkan hatimu memilih dirimu
sendiri. Terimalah dirimu sebagai manusia yang memiliki kekuatan yang tidak
dimiliki oleh kebanyakan orang. Percayalah kau berharga, Bianka”
“Tunggu!!”
Teriak Bianka dengan putus asa.
Secara
perlahan, sosok lelaki itu menghilang langsung dihadapan Bianka. Bianka yang
tidak bisa bertanya apapun, terdiam tanpa tahu harus bagaimana lagi. Sekejap,
Bianka membuka matanya. Terlihat kamarnya yang tidak asing. Bianka terbangun
dari tidurnya, dari mimpi yang terasa sangat nyata. Ia termenung sekejap.
”Mengapa
mimpi itu terasa sangat nyata? Apakah aku pergi ke masa depan? Ah tidak
mungkin. Tapi mengapa orang-orang itu mengetahuiku?”
Bianka
melihat jam dan ternyata masih pukul 4 pagi, “Sepertinya aku kelelahan, tapi
mimpi itu terlalu nyata!”
Ia langsung mengambil minum agar tubuhnya
terasa segar. Ia tidak berencana untuk tidur kembali. Hal-hal yang terjadi
dalam mimpinya membuat ia harus berpikir tentang hal demi hal. Bianka bisa mengingat wajah-wajah yang ada
didalam mimpinya, juga tempat yang ia kunjungi saat ada kebakaran besar. Tempat
yang hijau, seperti pedalaman tapi ia tak pernah lihat tempat seperti itu. Karena waktu yang masih pagi, ia bergegas
membersihkan diri untuk dapat berpikir dalam beberapa jam sebelum waktunya
untuk sekolah. Keinginan untuk memikirkan mimpinya sangat besar, karena
pertanyaan-pertanyaan yang muncul saat bermimpi masih ia ingat juga.
Ia
menyadari banyak hal, terutama mengenai kekuatannya. Ia sangat yakin bahwa
seluruh isi mimpinya mengarah kepada kekuatannya dalam berkomunikasi dengan
hewan dan juga tumbuhan. Orang-orang yang berhubungan dengannya, bahkan sosok
yang bilang bahwa ia dirinya dari masa depan sangatlah misterius. Satu hal,
ayahnya terjebak dalam kebakaran, beserta anak kecil yang diduga adalah kakaknya.
Namun Bianka tidak mengerti, ia mengetahui bahwa ayah meninggal dalam
kecelakaan. Ibunya yang berkata seperti itu, Bianka sangat percaya pada ibunya.
Namun, ia teringat bahwa ibu tidak pernah menceritakan kematian ayah. Hanya
bilang bahwa ayah meninggal dalam kecelakaan, tanpa detail apapun yang ibunya
lontarkan.
“Ah semua
ini terlalu memusingkan!” celoteh Bianka.
Ada banyak
detail dalam mimpinya yang ia ingin pikirkan jawabannya, namun satu hal
terpenting saat ini adalah ucapan dari dirinya di masa depan dan juga seorang
lelaki yang berada di depannya. Keduanya membicarakan hal yang sama, ia harus
menggunakan kekuatannya. Bianka teringat, dirinya di masa depan berkata bahwa
kebakaran besar yang terjadi disebabkan oleh dirinya sendiri.
“Apakah ada
kaitannya dengan kekuatanku?”
“Apakah itu
karena aku tidak menggunakan kekuatanku, sama seperti saat ini?”
Ia terus
bertanya dalam benaknya, apakah ia harus merubah niatnya sekarang juga. Jika
tidak, kemungkinan yang terjadi dalam mimpi akan menjadi kenyataan, karena
dalam mimpi tersebut banyak makhluk yang harus tiada, terutama yang disebut
ayah dan juga kakak Bianka itu.
“Bisakah
diriku menyelamatkan ayah jika aku mengusahakan kekuatanku?”
Untuk saat
ini, dari semua hal tersebut yang ia kait-kaitkan, Bianka bertekad untuk
memulai menggunakan kekuatannya sebaik mungkin, untuk bisa membantu makhluk
hidup sebisa mungkin. Karena hanya ia yang memilikinya, itu yang ia ketahui
sekarang. Makhluk hidup banyak yang sekarat, saatnya Bian mengubah masa depan yang
suram, mengubah takdir yang bisa diubah!
Untungnya Bianka tidak terlambat. Mimpinya tadi cukup
menguras waktu Bianka untuk berpikir, tapi tanpa mimpi tersebut, mungkin hingga
saat ini Bianka belum berani menggunakan kekuatannya dan mengubah pola pikirnya.
Ia bergegas
menggunakan sepatu, dan cepat-cepat pergi mengejar bus untuk sampai di
sekolahnya. Butuh sekitar 15 menit untuk sampai ke gerbang, dan kelas Bianka
berada diujung menaiki tangga, sungguh nasib.
Sesampainya
disana, semangatnya meningkat pesat daripada hari-hari sebelumnya. Ia tidak
merasa malu sedikitpun, ia teringat bahwa dirinya terlalu memusingkan perkataan
orang lain, padahal banyak yang mendukungnya dan menganggap kehadiran Bianka
sangat berharga, juga orang-orang yang ada dimimpinya. Ia sangat mempercayai
mimpi itu saat ini, untuk menjadi motivasi Bianka menggunakan kekuatannya
mengubah masa depan.
Hari
Selasa, hari yang pas untuk melaksanakan Hari Bumi ini, setelah hari Senin
melakukan upacara, untungnya pelajaran hari ini tidak begitu melelahkan
sehingga dirinya tidak perlu memusingkan pelajaran yang terlewatkan. Semua
siswa bergegas menyimpan tas nya ke kelas, kemudian kembali ke lapangan untuk
membuka acara yang telah ditunggu-tunggu oleh semua warga sekolah, siswa-siswi,
guru-guru, dan yang pastinya para panitia termasuk Bianka yang telah susah
payah menyiapkan acara ini jauh-jauh hari demi menjala kan acara yang bisa
dikenang oleh semua orang, termasuk dirinya di masa depan.
Pas sekali,
langit yang cerah dan berawan, hangat tapi tidak terlalu panas, cocok sekali
untuk berjemur dilapangan hari ini. Semua siswa berbaris sesuai kelasnya
masing-masing, guru-guru telah berjajar sempurna. Bahkan beberapa pejabat
seperti Bapak Bupati dan juga pihak Dinas Pendidikan daerah sudah menempati
tempatnya masing-masing. Sempurna, saatnya acara pembukaan segera dimulai.
Kepala
sekolah memasuki lapangan, menandakan pengucapan “Hari Bumi resmi dibuka” akan
segera terlaksana. Semua siswa menantikan dengan sabar. Terdapat tumpeng yang
utuh berada di depan seluruh siswa. Pita yang masih kokoh belum tergunting,
menandakan acara yang telah dinanti-nanti oleh seluruh siswa.
“Untuk itu,
bapak buka acara yang dinanti-nantikan ini, dengan mengucap do’a, secara resmi
saya buka acara Hari Bumi tahun 2036!” Ucap Pak Kepala Sekolah dengan penuh
semangat
Semua siswa
bersorak riang. Acara yang dirayakan setahun sekali ini akhirnya dimulai.
Banyak siswa yang sudah mempersiapkan dirinya dan juga kelasnya untuk mengikuti
kegiatan perkelas.
Kegiatan
demi kegiatan berlanjut dengan lancar sesuai rencana. Perlombaan yang dilakukan
perkelas satu-persatu mulai selesai. Ada beberapa kegiatan lagi yang belum
selesai, lomba poster bumi, lomba debat bahasa Indonesia, dan untuk beberapa
hari kedepan, penanaman pohon di sekolah, sekitar sekolah, dan juga tempat yang
sudah dipersiapkan.
Sekitar 3
hari acara hari bumi ini diselesaikan, namun untuk seluruh warga sekolah, hanya
pada hari pertama lah mereka memeriahkan acara ini, untuk 2 hari kedepan,
penanaman pohon dilakukan oleh beberapa perwakilan saja, termasuk Bianka
sebagai panitia.
Di sekolah,
siswa-siswi sangat antusias saat penanaman pohon baru dilaksanakan, Bianka
sedikit aneh akan sifat teman-teman sekolahnya. Bisa-bisanya mereka membully
Bianka tanpa pikit panjang, sedangkan untuk penanaman pohon saja terlihat
sangat antusias. “Beda tempat
beda muka ya ternyata” gumam Bianka
Datanglah
hari ketiga, waktunya penanaman pohon di suatu tempat yang agak jauh dari
sekolah. Semua sudah siap berangkat, menaiki bus sekolah dan membawa peralatan
dan bahan yang diperlukan nanti.
“Untuk hari
ini, target kita menanam 100 pohon ya, untuk seluruh perwakilan diharapkan
sudah memegang satu pohon ditangannya.” Ucap kepala panitia
Seluruh
perwakilan menuruti perkataan kepala panitia, hingga ada laporan dari beberapa
siswa, ternyata pohon yang telah dipersiapkan kurang. Bianka terkejut, dia
sudah memastikan bahwa pohon yang dibawa sudah memiliki jumlah yang sesuai, ia
telah memindahkan beberapa pohon tersebut dan tidak ada tanda-tanda pencurian
atau kesalahan teknis.
“Siapa tadi
yang bertanggungjawab atas pohon-pohon ini?” tanya wakil panitia
“Sa-saya
kak” ucap Bianka, ada sedikit rasa takut dalam dirinya
“Kenapa
jumlah pohonnya bisa kurang? Sebelum berangkat kamu sudah mengecek jumlah
pohonnya?”
“Su-sudah
kak, ba-bahkan aku memindahkan be-beberapanya kak!”
“Lalu
mengapa pohon-pohon ini bisa hilang?”
Bianka
terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari wakil panitia tersebut. Dirinya
sendiripun merasa bingung dan aneh, karena ia sudah sangat yakin dengan jumlah
pohon yang dibawa
Tiba-tiba salah
satu pohon yang ada disampingnya berbicara padanya,
“Bianka
kamu bisa dengar aku? Tolong kami!”
“Ada apa?”
tanya Bianka sedikit berbisik-bisik
“Kamu bisa
mendengarku? Teman-temanku menghilang Bianka!”
“Kemana?
Bagaimana mereka bisa menghilang?”
“Apakah
kamu tidak melihat sekumpulan orang didekat bangunan besar disana? Orang-orang
itu diam-diam memindahkan teman-temanku dari bagasi mobil kalian, aku pikir
mereka bagian dari kalian, ternyata mereka menculik kami!”
“Benarkah?
Aku harus bagaimana?!” Bianka pun melirik tempat yang diberikan ciri-cirinya
oleh tanaman tadi, namun sudah terlambat, tidak ada siapapun disana, bahkan
semuanya terlalu mulus, mereka tidak meninggalkan jejak sama sekali.
“Bagaimana
Bianka? Mengapa kamu terdiam? Kamu teledor ya?” tanya seorang panitia
“Tidak,
po-pohon itu di a-ambil o-“
“Hah
sudahlah, waktu sudah berjalan jauh, tidak ada waktu lagi untuk menunggunya
berbicara. Ayo kita tanam pohon-pohon yang ada, yang tidak mendapatkan jatah
pohon, boleh membantu yang lainnya ya agar cepat selesai. Jangan lupa ikuti
prosedur yang ada!” Ucap ketua panitia, memotong perkataan Bianka untuk
menjelaskan alasannya.
Bianka
tidak bisa melanjutkan perkataannya. Namun, pergerakan oleh orang-orang tadi
sangat mencurigakan. Sangat tidak wajar sebuah perkumpulan sengaja mencuri
beberapa pohon, bukan pencurian pada umumnya. Apakah hal tersebut perlu Bianka
cari informasinya? Ya, Bianka bertekad untuk mencari tahu hal tersebut
dikemudian hari setelah semua kegiatan Hari Bumi dan tugas sekolahnya selesai.
Setelah
semua pohon telah ditanam, semuanya kembali ke dalam bis. Perasaan yang campur
aduk masih Bianka rasakan. Bukan karena sikap dari orang-orang disekitarnya,
namun kejanggalan yang terjadi untuk pencurian pohon tadi. Ia masih berpikir mengapa
orang-orang mencuri pohon, bahkan pohon yang dibawa oleh sekolahnya, seperti
telah mengetahui akan ada keberadaan pihak sekolah ke tempat tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar