Outline
Genre: fiksi, drama, fiksi remaja
Judul: Rekonstruksi
Oleh: Alya Kamila Fauziyah
BAB 1 : Giska merasa kalau dirinya tidak berhak untuk mendapat kesempatan menjadi salah satu siswa di sekolah SMA Negeri Bela Nusantara yang merupakan salah satu SMA paling bergengsi di Provinsi Jawa Barat. Ia merasa tidak pantas sebab jalur yang ia gunakan untuk masuk ke sekolah itu ditempuh dengan cara yang ilegal berkat orang tuanya. (Flashback sebelum Giska masuk SMA)
BAB 2 : Giska bertemu dengan seorang perempuan yang dijauhi teman-teman sekelasnya karena dirasa terlalu ambisius. Namun, walaupun begitu perempuan itu tetap menjadi siswa yang ambisius untuk mencapai cita-citanya sebab alasan keluarga, meski ia harus dijauhi teman-temannya. Di sini, Giska belajar apa arti dari sebuah bahagia dan keluarga yang sebenarnya.
BAB 3 : Orang tua Giska memaksa Giska tentang apa saja yang harus Giska lakukan untuk menjadi orang sukses. Orang tua Giska terlalu berekspektasi tinggi terhadap Giska. Padahal, Giska sendiri pun bahkan tidak percaya dengan kemampuan dirinya sendiri. *puncak konflik (klimaks)
BAB 4 : Giska tidak tahu apa itu definisi mimpi dan sukses. Ia terus mencari, tapi tetap tidak menemukan alasan mengapa orang-orang berlomba-lomba untuk jadi sukses. Ia sungguh tidak mengerti. Di sini, Giska pun merasa ketakutan akan masa depan.
BAB 5 : Giska akhirnya bertemu dengan lelaki yang supel dan pintar. Pintar segalanya. Di sana, Giska menjadikan lelaki itu tempat curhat dan berkeluh kesah. Si lelaki pun selalu merespon dengan baik curhatan Giska. Di sini, Giska belajar apa arti dari sukses dan mimpi. Ditambah adanya penyelesaian tentang masalah dengan orang tuanya yang otoriter.
BAB 6 : Giska pun akhirnya menyadari bahwa ia telah jatuh cinta dengan lelaki itu. Sayangnya, lelaki itu ternyata menyukai perempuan lain yang lebih pintar dan setara dengan sang lelaki itu. Giska pun mencoba untuk merelakan perasaannya tidak berbalas. Karena ia tahu kalau si lelaki itu berhak dapat yang terbaik. Di sini, Giska belajar apa arti dari mengikhlaskan sesuatu yang memang bukan miliknya.
“Apa? Penulis? Peneliti? Mau makan apa kamu nanti?
Kamu gak tahu apa-apa soal kehidupan keras di luar sana nanti, Giska. Pilihan
Papa dan Mama sudah menjadi pilihan terbaik yang harus kamu pilih. Ini demi
kebaikan kamu juga.” Hugo kukuh mencoba menjelaskan hal yang memang telah ia
putuskan Bersama Diana dengan matang.
“Di mana letak salahnya, sih, Pa? Aku mau jadi apapun
ya itu urusanku. Ini hidup Giska. Bukan hidup Papa hingga Papa bisa seenaknya
memaksa anaknya menggapai cita-cita yang gak berhasil dicapai Papanya. Bukan
juga hidup Mama yang seenaknya suruh Giska belajar tiap hari, les sana-sini.
Mungkin Giska memang gak ditakdirkan buat punya otak cerdas kayak Mama.” masih
dengan nada agak memelas, Giska mencoba mengutarakan segala keluhnya. Sudah
cukup ia patuh dan menuruti semua titah orang tuanya. Giska bukan robot ataupun
boneka yang bisa seenaknya mereka arahkan untuk bergerak. Giska merasa bahwa ia
berhak atas kehidupannya sendiri.
Hening seketika. Malam itu, angin malam terasa menusuk
kulit Giska dan suara jangkrik turut menghiasi kesunyian itu. Baru kali ini
Giska memberanikan diri berdebat panjang bersama orang tuanya. Biasanya, Giska
hanya membicarakan soal keluh kesahnya tentang capeknya ia atau Giska yang
sudah tak punya waktu lagi untuk sekadar melakukan hobinya yang nantinya akan
berakhir dengan Giska yang mengangguk mengiyakan segala petuah Hugo dan Diana
yang mengatakan bahwa Giska hanya perlu beradaptasi.
Sekali lagi, Giska berharap Hugo dan Diana bisa
mengerti. “Pa, Ma, Giska mohon biar—” ucap Giska terpotong karena tersentak
kala Hugo beranjak dari duduknya.
“Sudah. Papa capek. Papa anggap pembicaraanmu tadi
hanya angin lalu. Mungkin kamu lagi stress karena tekanan sekolah.” ujar Hugo
seraya melangkahkan kaki ke dalam kamarnya.
Lagi, Giska merasa tak diacuhkan. Masalahnya memang hanya
berputar di sekitar ini saja. Mungkin inilah yang membuat Giska merasa lelah
dan bosan akan keseharian yang tak ada habisnya.
Seakan perdebatan empat bulan yang lalu kurang
meresahkan, pada akhirnya Giska harus menelan pil pahit akan kegagalannya.
Meski Giska telah dan sudah sadar bahwa ia tak akan mampu menembus ujian tes
masuk SMA Bela Nusantara, tetapi rasa sakit dan kecewa tak dapat Giska pungkiri
mulai bercokol di hatinya. Kecewa sebab ternyata, uang yang telah Hugo dan
Diana keluarkan demi dirinya seakan sia-sia. Sakit dan marah sebab Giska lah
yang telah membuktikan sendiri bahwa
dirinya tidak selayak itu mendapat tiket free pass untuk masuk SMA itu.
Belum surut kesedihan Giska, setelah mendengar kabar kegagalan Giska, Hugo
dan Diana bergerak cepat menghubungi rekan sejawat mereka yang berada di SMA
Bela Nusantara. Ya, pada akhirnya, meski Giska berontak tak mau masuk lewat
jalur haram itu, takdir tetaplah takdir. Sebab hidup Giska memang sudah lama
bukan menjadi miliknya sendiri.
25
Juli 2016
Teruntuk Giska di masa depan,
Semesta memang sekejam itu untuk kau
jadikan tempat pengharapan,
hingga seringkali kalut dan kemelut bersatu
membentuk sebongkah keputusasaan.
Namun, tak apa, Giska. Ini bukanlah akhir
dunia, sayang.
Sebab duniamu memang sudah hilang,
terpenjara lalu lenyap dilahap kekang.
Lantas, untuk apa kecewa? Karena seharusnya
asa itu memang tak pernah ada.
============================================================
Bab 2
|| Ambisi
Usai sudah kegiatan OSPEK yang diadakan selama tiga
hari berturut-turut itu. Batin dan fisik Giska rasanya sudah cukup lelah.
Tugas-tugas yang diberikan dan “pelatihan mental” yang beralibi agar
siswa-siswa baru bermental baja akhirnya selesai. Meski selama prosesnya, Giska
selalu bersungut tentang betapa membuang waktunya mengerjakan tugas-tugas itu.
Namun, setidaknya Giska bisa lebih banyak tahu tentang letak-letak sekolah
barunya ini.
Seperti halnya hari ini, Giska berada di perpustakaan
setelah bunyi bel bertanda waktunya istirahat. Suasana perpustakaan Giska akui
sangat nyaman. Fasilitas-falisitasnya pun kentara sekali berbeda jauh dengan
perpustakaannya di Sekolah Menengah Pertama dulu. Rasanya, Giska bisa
menenggelamkan dirinya seharian di dalam perpustakaan yang cukup megah ini.
Meski Giska mengakui bahwa ia tidak sepandai mamanya yang bisa menembus peringkat
paralel selama masa Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas dan menjuarai
berbagai lomba bahkan pernah meraih gelar sebagai mahasiswa berprestasi di
kampus ternama di Indonesia, tapi setidaknya, hobi ibunya yang suka membaca dan
menulis itu terwariskan padanya.
Sudah dua puluh menit Giska berkutat dengan pena dan
buku tulis khusus karyanya, mencoba merangkai kata hingga tercipta berbagai
rasa dalam kalimat yang ia susun. Namun, fokusnya sering terganggu tatkala seseorang
yang duduk di sebelahnya itu membaca sebuah buku yang sangat tebal dengan
bergumam. Sesekali ia melirik-lirik perempuan yang memakai kacamata bulat di
sebelahnya ini.
“Gila, sejak kapan dia ada di perpustakaan? Perasaan,
dia dulu, deh, yang duduk di sini daripada aku, tapi kok betah ya baca buku
setebal itu?” batin Giska heran.
Meski Giska suka membaca, tetapi buku yang ia baca kebanyakan
adalah buku-buku fiksi dan pengembangan diri. Ia kurang suka membaca buku yang
berbau “mata pelajaran sekolah”. Giska lebih menyukai hal-hal yang memang tak
diajarkan sekolah padanya.
Setelah beberapa kali Giska mengatur fokusnya dan abai
terhadap desisan dan gumaman perempuan itu, Giska akhirnya memutuskan untuk kembali
ke kelasnya. Ia pikir, sangat tidak bijak untuk menyuruh si perempuan diam
sementara dirinya bukan yang pertama menempati tempat itu.
Berjalan ke kelas cukup melelahkan bagi Giska. Ia
harus menaiki anak tangga karena kelasnya berada di lantai tiga. Namun, Giska
lebih memilih berjalan jauh ke perpustakaan daripada diam di kelas yang bisingnya
bukan main itu.
Saat menginjakan kaki di kelas, Giska menatap
sekeliling kelasnya. Orang-orang sudah punya teman akrab yang Giska ramal akan
jadi teman geng nantinya. Tatapan Giska lama-lama berubah malas kala seorang
lelaki berambut comb over undercut itu menghampirinya.
Lelaki yang memiliki kulit kuning langsat itu menyunggingkan
cengirannya sembari menadahkan tangan tampak meminta sesuatu pada Giska. Ia
adalah Pangeran Abimana—Pange--. Tak seperti rambutnya yang rapi dan nama ala kerajaan
yang melekat padanya, Pange adalah orang yang agak jahil, konyol dan ramah. Ya,
seramah itu sampai Giska pun sedikit kaget. Di saat orang-orang di sekitar yang
satu sekolah dengannya dulu kini pura-pura bak orang asing, tapi Pange malah
dengan sok kenal sok dekatnya, meneriakkan namanya saat penghujung OSPEK
kemarin karena ingin bertanya nomor kode pos sekolah.
Seperti sekarang ini, buyar sudah harapan Giska untuk
tiduran sebentar di kelas selama sepuluh menit sebelum jam pelajaran selanjutnya
dimulai. Pange malah memintanya untuk mengajari matematika bab pertama yang
menurut Giska itu cukup mudah. Dengan berat hati, meski sedikit tak ikhlas
mengorbankan waktu istirahatnya, Giska mengiyakan.
“Nah, jadi lo paham, kan, Nge?” tanya Giska untuk ke
sekian kalinya karena Pange selalu menjawab ragu hingga Giska harus mengulang-ulang
penjelasannya.
“Duh, Gis. Kok susah banget, sih? Gue gak ngerti, gue
gak paham. Apa otak gue emang kadarnya sudah segini, ya?” jawab Pange penuh
keputusasaan.
Mendengar hal itu, Giska menatap penuh prihatin pada
Pange yang masih mengernyitkan dahinya tampak sekali bingung.
“Ck, ya udah,deh. Sekarang udah dulu aja. Nanti gue
ajarin lagi pas udah pulang sekolah. Matematika itu gampang, kok. Lo tinggal
atur aja mindset lo, kalau matematika itu bisa lo kuasai. Lagian, gak perlu
mengerti semua tentang matematika, kok, Nge kalau lo emang gak suka. Cukup
dasar-dasarnya dan asal logika matematika lo jalan, it’s totally fine.
Nanti juga kalau lo beneran suka, lo gak bakal nyerah belajar matematika.”
“Iya deh yang pintar matematika tapi kesasar malah
Olimpiade Biologi. Andai aja gue jadi lo, Gis. Gue bakalan pamerin ke
orang-orang kalua gue di atas rata-rata, gak bakal kayak lo yang malah sembunyi
di balik tempurung gitu.” ujar Pange berandai-andai.
Mendengar hal itu, Giska hanya berdecak sebagai
jawabannya. Andai lelaki itu tahu seberapa tertekannya ia. Seberapa masalah dan
rintangan yang harus ia hadapi untuk mencapai titik yang Pange andai-andaikan
tadi. Kalau boleh pun, Giska ingin sekali bertukar kehidupan dengan orang lain
atau bahkan Pange sekalipun. Pange tampak selalu bahagia di setiap keadaan
hingga bisa memancarkan aura kebahagiaan itu pada orang lain, termasuk dirinya.
Giska buru-buru mengenyahkan pikirannya dan
berancang-ancang beranjak ke tempat duduknya kembali. Namun, saat akan berdiri,
Giska mendengar bisik-bisik yang agak riuh kala seorang perempuan berambut
pendek sebahu itu masuk seraya membawa buku-buku yang sangat besar nan berat.
“Eh, bukannya itu Riv Si Caper SMP 98, ya?” tanya
seorang perempuan dengan rambut terkuncir rapi seraya mendelik sinis pada Riv.
"Iya. Sial banget kita sekelas sama dia.
Bisa-bisa anjlok semua nilai kita. Huft, makan tuh caper. Gue, sih, ya
lebih milih teman daripada ego. Eh, lupa. Dia kan gak punya teman, ya,"
ujar seorang perempuan berpenampilan trendi itu tak kalah sarkas sambil
terkekeh.
Kini, ruangan kelas X-MIPA.3 itu riuh oleh
bisikan-bisikan para murid seraya mendelik ke pusat perbincangan, Riv. Entah
mengapa, meski bukan Giska yang menjadi pusat perbincangan saat itu, tapi
hatinya ikut kesal dan resah kala tatapan sinis penuh kebencian terarah pada
Riv.
Saat itu, Riv hanya menunduk lalu mempercepat
langkahnya menuju meja yang berada di ujung belakang kelas.
"Eh, Nge. Itu siapa?" tanya Giska sembari
melirik Pange yang masih menatap gerak-gerik Riv.
"Itu Riv, Gis. Gebetan gue." ujar Pange
terkekeh merdu sembari tersenyum bak bocah kasmaran.
"Apaan sih, Nge? Gak salah lo?" tanya Giska
heran. Bulu kuduknya langsung merinding melihat Pange yang masih senyam-senyum
tidak jelas.
"Ck, kenapa emang?! Wah, lo hina gue, ya, Gis?
Gue gak pantas sama Riv, kan, maksud lo?" pekik Pange lebay, salah satu
tangannya menangkup di dada seolah merasakan sakit yang teramat sangat.
"Nggaklah, Nge. Maksud gue, lo ketemu di mana
sama Riv, masa lo langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, sih?" tanya
Giska .
"Ya nggaklah. Gue gak seputus asa itu sampai
gampang banget langsung suka sama orang yang baru gue kenal beberapa jam kali.
Dia satu SD sama gue, Gis. Dari dulu dia gitu, sih. Gue jadi makin suka."
Kata Pange kembali melenceng. Giska yang melihat Pange seperti itu, rasanya
ingin muntah sekaligus geli sendiri.
“Maksud lo, dia caper beneran?”
“Bukanlah. Caper apaan?! Mereka yang bisik-bisik cuma
iri bin dengki kali. Riv itu, beuh, Gis. Cewek idaman banget, deh. Nih, ya, dia
pintar, cantik iya, dan pemikirannya tuh gila banget. Gue kira dia titisan anak
Einstein, Gis. Ya, walaupun dia cuek bebek, sih, sama gue. Tapi, gue jadi makin
cinta, deh, hehe,” ujar Pange masih tersenyum sendiri.
Giska hanya mendelik kepada Pange sebagai jawaban. Ia
kembali menatap Riv yang sedang menatap jendela yang mengantarkan matanya pada
langit yang kini membiru tanpa awan serta burung-burung yang terbang melayang
tinggi. Mata Giska menangkap senyum damai Riv yang tiba-tiba muncul saat itu.
Senyuman yang seakan mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja.
****
Tiga bulan berlalu semenjak Giska masuk SMA Bela
Nusantara. Tak banyak perubahan bagi Giska, ia masih stagnan pada berbagai
persoalan serta pelajaran-pelajaran yang lebih sulit dari sebelumnya.Orang
tuanya pun masih sama, malah mereka sekarang selalu bertanya tentang apa saja
pencapaian Giska selama sekolah yang akan dijawab Giska dengan jawaban yang
sama, ‘Ya, begitulah.’
Hari ini terasa berbeda, sebab Giska sekarang sedang
berjalan menyusuri trotoar di tengah panasnya siang yang menyengat kulit
perempuan itu. Rambut Panjang nan hitam legamnya kini ia sanggul dan kaos
berwarna hijau pastel itu, masih tak cukup membuat Giska tak kegerahan.
Alhasil, ia pun mempercepat gerak kakinya agar cepat sampai menuju rumah
Lubna—teman satu kelompok di pelajaran Kimianya—yang terletak sekitar satu
kilometre dari rumah Giska. Meski ia sebenarnya malas sekali apabila kerja
secara berkelompok, tapi apa boleh buat, ini adalah tanggung jawabnya. Giska
bukanlah orang yang memilih melarikan diri dari masalah, ia memilih
menghadapinya, atau malah memilih meninggalkan masalah itu karena ia memang tak
bisa memecahkannya. Seperti saat keinginan orang tuanya harus dipenuhi dan Giska
tak punya pilihan lain meninggalkan masalah itu dan mengubahnya menjadi bukan
suatu masalah. Ia menganggap hal itu merupakan sebuah takdir yang Tuhan
ciptakan dan Giska hanya perlu menyusuri takdir itu hingga ia bertemu muaranya.
Tak terasa, sepuluh menit kemudian, ia bisa sampai ke
sebuah rumah yang megah itu. Memang tak dapat diragukan lagi, bahwa orang-orang
yang bersekolah di SMA Bela Nusantara mayoritasnya adalah keluarga terpandang
dan kaya raya seperti Lubna yang merupakan anak dari pejabat besar di sebuah
instansi pemerintah. Walaupun Giska termasuk dalam golongan kaum borjuis, tapi
Giska merasa semua orang sama saja. Ia tak bisa berbangga diri dengan hal
seremeh itu.
Dengan ragu dan gugup, Giska masuk ke dalam rumah itu
setelah menghubungi Lubna yang ternyata anggota kelompok lain sedang menunggu
dirinya. Ia dipersilakan berjalan menuju kamar Lubna yang berada di lantai dua.
“Hai, Giska!” pekik Lubna dan kawan-kawan kala Giska
membuka agak lebar sebuah pintu yang bercat putih bersih itu. Giska hanya
mengangguk dan tersenyum canggung seraya menghampiri mereka.
Kedua matanya
berkelana menyusuri tiap sudut kamar Lubna yang tak kalah indah dan luas. Tak
dapat dipungkiri, luas kamar Lubna memang hamper menyerupai kamar Giska, tapi
yang membedakannya, ruangan kamar yang diisi oleh ranjang berukuran queen,
lemari pakaian tiga pintu yang dilapisi cermin serta meja belajar dan rak-rak
yang tersusun indah dan rapih itu Nampak serasi dengan dinding bercat merah
muda itu. Berbeda sekali dengan Giska yang lebih mengedepankan prinsip
minimalis, sehingga yang akan didapati di kamar Giska, hanya ranjang berukuran single,
meja belajar, satu rak buku serta lemari pakaian yang berbentuk laci-laci.
Matanya yang masih asyik menelusuri kamar Lubna dan
membandingkannya dengan kamar Giska sendiri seketika terhenti kala sebuah
tatapan dari kedua bola mata yang terlapisi kacamata berbetuk bulat dengan
bingkai hitam yang tipis itu kini tampak menatap Giska. Tatapan mereka berjeda untuk
beberapa saat, hingga akhirnya Riv memutuskan kontak mata mereka dan memilih
kembali memfokuskan diri pada sebuah buku yang Giska tebak adalah sebuah buku
Matematika Dasar sebab Giska pernah membaca buku tersebut kala ia mempersiapkan
Olimpiade Matematika yang tak jadi ia ikuti dulu.
“Eh iya, lo udah bikin list tentang apa aja yang harus
dilakuin buat tugas kita sekarang, kan, Gis?” ujar Virga, salah satu anggota
kelompoknya.
“Hah? List apa?” tanya Giska membeo. Giska tak tahu
sama sekali karena alih-alih menyodorkannya segudang cemilan, mereka malah
menodong Giska tentang list tugas kelompok.
Hening sudah kala Giska bertanya perihal itu. Anggota-anggota
kelompok lain saling melirik satu sama lain kecuali Riv yang masih tak peduli
dan sibuk membaca buku. Ya, salah satu hal yang membuat Giska agak sedikit
kaget adalah saat mengetahui bahwa dirinya satu kelompok dengan Riv. Bukannya
bagaimana, tapi Giska yakin pasti nanti suasana akan begitu canggung melihat
bagaimana penghuni kelasnya hamper semua membicarakan hal yang tidak enak
didengar tentang Riv.
Lubna pun akhirnya maju selangkah mendekati Giska. “Yah,
kita kira, lo udah nyiapin semuanya Gis, gue pernah dengar dari teman SMP lo,
lo rajin banget anaknya. Ya, kita sih percaya aja sama lo. Ya, gapapa sih, Gis.
Tapi lo bisa kan nge-list di sini sekarang? Soalnya gue sama anak-anak ga
ngerti tugas Kimia apa aja.” ujar Lubna mengeluarkan senyum tercantiknya yang
Giska tahu bahwa itu hanya senyum merayu yang dibuat-buat saja.
Pada detik itu juga, rasanya Giska ingin berteriak dan
mengumpat. Bagaimana ia bisa masuk dalam kelompok Kimia bersama mereka?! Namun, Giska takt ahu harus menolak dengan
cara apa, hingga ia memilih untuk mengangguk setuju.
Namun, di saat Giska berancang-ancang untuk mengeluarkan
buku tulis dan sebuah pena di dalam ransel hitam kecilnya, tiba-tiba sebuah
tangan menyodorkan secarik kertas ke hadapannya. Ya, itu adalah list paling
rapi dan indah yang pernah Giska lihat dalam hidupnya. Masih dengan mata yang
berbinar menatap secarik kertas itu, Giska akhirnya berhasil menemukan pelaku
yang berbaik hati menyodorkan kertas padanya dengan kepala yang masih menunduk
pada sebuah buku yang menampilkan halaman seratus sembilan puluh tujuh tentang
fungsi limit. Dia adalah Riv.
Tak ingin melewatkan kesempatan yang datang, akhirnya
dengan senyum canggung sambal mengucapkan terima kasih, Giska menerima kertas
itu secara cuma-cuma. Hanya sampai di situ saja percakapan mereka. Giska masih
sibuk memahami beberapa point-point yang memang diperlukan saat mereka
presentasi di hadapan teman-teman dan guru nanti. Sementara Riv, ia juga masih membaca
buku dan asik menggulirkan layer smartphone-nya, entah apa yang Riv cari.
Sedangkan Lubna, Virga dan Hana malah sibuk membahas bias-bias mereka yang berasal
dari Korea Selatan itu, seraya saling memamerkan berbagai hal berbau idolanya.
Sebenarnya, Giska tak ada masalah sama sekali dengan
hal itu. Ia tak keberatan karena Riv lebih memilih asyik dengan dunianya
sendiri bersama buku andalannya sebab Riv juga sudah membantunya membuatkan
list tugas Kimia. Ia juga sungguh tak keberatan jika Lubna, Virga, dan Hana
malah membahas K-POP di depannya. Taka da masalah dengan K-POP, kok. Toh, Giska
pun terkadang menyukai lagu-lagu mereka yang sangat positif dan puitis.
Namun, entah mengapa, hal ini membuatnya gelisah dan
pusing sendiri.
Satu jam lebih tiga puluh
menit ia telah menyelesaikan satu halaman tugas Kimia itu. Tersisa tinggal
empat halaman lagi yang belum selesai. Ia pun beristirahat sejenak sembari
mencari-cari apakah ada air dingin yang tersisa untuknya dan berakhir kecewa
karena semua air sudah tandas tanpa pernah Giska rasakan. Akhirnya, dengan
gerakan malas, ia beranjak ingin pergi sebentar ke sebuah mini market yang
kebetulan terletak sekitar tiga rumah dari rumah Lubna.
“Eh, lo mau kemana, Gis?”
ujar Lubna.
“Gak kemana-mana, sih.
Gue cuma mau jajan ke mini market.” jawab Giska.
“Eh, nitip beli camilan,
dong.” ujar Virga menginterupsi pergerakan Giska yang akan membuka handle pintu
itu.
Dengan kesal, Giska
menoleh pada Virga dan bertanya, “Nitip apa?”
“Eh, boleh, kan? Gue mau
nitip keripik kentang rasa dagin sapi itu, lho. Kalau lo perlu dianter, minta
anterin sama Riv aja.” ujar Virga sembari melirik Riv.
“Iya, gue juga nitip es
krim yang lagi trend itu, ya, Gis. Lumayan, kita bisa makan bareng-bareng.”
kata Lubna.
Awalnya, Giska tak
menggubris ucapan Lubna yang menyuruh Riv menemaninya ke sana. Giska bisa
sendiri ke sana tanpa perlu ditemani siapapun. Namun, Giska agak tersentak kala
sebuah bunyi buku yang ditutup agak keras sampai di gendang telinganya.
Ternyata, Riv pelakunya. Riv beranjak dari tempat duduknya itu lalu berjalan
menuju arah Giska, tepat ke arah pintu yang dibuka. Giska kira, Riv akan
berjalan menujunya, ternyata Giska salah. Perempuan itu malah melewati Giska
begitu saja.
“Ayo, gue juga mau ke
minimarket.” ujar Riv singkat sembari lanjut melangkah.
Dengan perasaan agak
linglung, Giska lanjut melangkah mengikuti Riv yang berjalan di depannya.
Suasana kala tiap kaki
mereka melangkah beriringan di atas trotoar bercat oranye yang mulai pudar itu,
hening dan senyap. Hanya bunyi deru kendaraan dan terkadang umpatan para
pengendara atau pejalan kaki yang kesal karena diserobot pengendara lain turut
menghiasi kesunyian kala itu. Canggung sekali Giska rasakan. Ia bukan pembicara
atau teman yang ramah kala yang akan memulai pembicaraan hingga mereka bisa
berbincang seru dan larut melupakan waktu.
“Lo…” ujar Riv tiba-tiba
memulai pembicaraan. “Lo udah selesai beresin tugas kelompok Kimia?”
“Belum, masih empat
halaman lagi.” ujar Giska agak kikuk saat mengucapkannya.
“ I see. Masih
lama berarti, ya?” ujar Riv biasa saja, tapi entah mengapa di pendengaran
Giska, itu terdengar seperti sarkas.
“Iya, gak ada yang
bantuin, sih.” ujar Giska blak-blakan. Ia sudah capek mengerjakan tugas Kimia
itu sendiri.
“Lo lihat aja punya gue.
Gue udah beresin semua.” ujar Riv seraya menatap lurus sebuah minimarket yang
sudah ada di depan mata mereka.
“Hah?! Demi apa lo udah beres? Bukannya baru dua hari yang lalu
ini tugas dikasih?” tanya Giska heran sekaligus kaget karena tugas sebanyak
itu, Riv sudah selelsai menyelesaikannya dalam waktu yang singkat. Apalagi, tugas
yang diberikan bukan hanya tugas Kimia saja. Masih banyak tugas-tugas lainnya
yang lebih harus diutamakan untuk dikumpulkan karena waktu deadline-nya sudah
dekat.
“Iya, gue udah selesai.
Makanya, biar cepat pulang, ya lo lihat tugas gue aja. Mau sampai kapan gue
harus nungguin lo ngeberesin tugas Kimia? Satu halaman aja lo butuh satu
setengah jam.” timpal Riv.
Giska hanya diam sebagai
jawaban. Namun, di dalam hatinya ia bisa merasa lega sebab tugas Kimia yang
harusnya dikerjakan secara berkelompok itu tak hanya ia yang tanggung sendiri.
Giska dan Riv langsung
masuk dan mengambil barang-barang yang mereka beli dan menyerahkan beberapa
lembar uang pada sang kasir.
Ketika mereka berhasil
keluar dengan menenteng beberapa kantong plastik belanja, Riv tiba-tiba saja
berubah haluan dan memilih berhenti di sebuah meja yang memang menyediakan dua
bangku kosong yang terlindungi payung besar. Dengan santai, Riv membuka segel
botol kopi kemasan itu dan langsung menenggaknya.
“Kalau lo mau duluan,
duluan aja. Gue mau nongkrong dulu di sini sebentar.” ujar Riv pada Giska.
Mendengar hal itu, Giska
yang masih tak mau ikut dudu pun, segera mendudukkan dirinya dan mengambil
botol air mineral yang tadi ia beli. Dengan rasa haus yang makin mendera, Giska
pun langsung menandaskan setengah dari isi botol air mineral.
“Gak. Gue mau nunggu lo aja. Lagian, gue masih
pusing buat ngerjain soal Kimia itu lagi.”
“Kan udah gue bilang,
lihat aja yang gue, Gis.” kata Riv dengan nada lelah.
“Iya. Tapi, kan, buat
nyalin jawaban lo juga butuh effort, Riv. Nanti aja, deh. Kita balik
setengah jam lagi.” jawab Giska pada
akhirnya, yang dibalas anggukan singkat oleh Riv.
Hening kembali. Suasana
kembali sunyi dan agak canggung walaupun tidak secanggung saat mereka berjalan
menuju minimarket tadi. Karena sudah merasa tak tahan dengan keanehan suasana
ini, Giska pun memberanikan diri memulai pembicaraan.
“Riv, kok lo bisa, sih,
ngerjain tugasnya sampai beres? Gue gak ngerti, sih. Kok bisa secepat itu?”
tanya Giska, heran.
“Hm, lo adalah orang yang
ke sekian kali nanya tentang ini. Jujur sih, gue merasa muak harus jawab
masalah yang sama, padahal lo ataupun mereka sendiri juga udah tahu
jawabannya.”
Giska merasa bingung
sekaligus langsung merasa tak enak hati saat Riv menjawab bahwa ia sudah muak
untuk menjawab pertanyaan ini. Lagipula, Giska hanya spontan bertanya saja
untuk melenyapkan keheningan yang terjadi.
“Hah? Maksud lo? Gue
nanya ya karena gak tahu jawabannya, lah. Gimana, sih?”
“Gini, ya, Gis. Mungkin
ini terdengar klise atau mungkin lo anggap jawaban gue nanti cuma bohong doang.
Orang-orang yang nanya gituan juga pasti berpikir gitu pas gue udah jawab
pertanyaan mereka. Tapi, yang jelas,
kunci dari semua yang gue lakuin itu ya manajemen waktu. Gue harus mengakui
bahwa gue memang ahli kalau masalah mengatur waktu dan prioritas. Gue juga bisa
ngatur diri gue sendiri, kapan gue malas dan kapan gue produktif.” ujar Riv
panjang lebar.
Giska terkesima sekaligus
tak menyangka bahwa Riv ternyata bisa berbicara sepanjang ini. Selama ini, Riv
terkadang hanya menjawab beberapa kata saja dari pertanyaan-pertanyaan yang
selama ini dilontarkan pada Riv.
“Lo, kok bisa?” tanya
Giska.
“Bisa apa?”
“ Gue kira, lo adalah
cewek es kutub utara yang bisanya cuma belajar dan—”
“Dan apa? Caper maksud
lo?” seloroh Riv memotong ucapan Giska.
“Hah? Gue nggak mikir
gitu, kok.” jawab Giska heran.
“Oh, sori. Gue agak
sensitive hari ini.” ujar Riv merasa malu.
“Nggak apa-apa. Kalau
boleh tahu, kenapa lo bisa dijuluki Si Caper sama orang-orang sekolah?”
“Emang, lo percaya ya
sama asumsi mereka tentang gue, Gis?” tanya Riv terdengar memastikan sesuatu.
“Hm, kalau boleh jujur,
sih. Gue sih, netral, ya. Tapi, kayakya detik ini, gue gak percaya sama gosip
itu.” jawab Giska mantap.
“Kenapa?”
“Ya, gue lihat sih, lo
emang pintar, ya. Pintar banget malah. Tapi, gue yakin lo cuma mau gapai impian
lo tanpa ngejatuhin orang lain, atau caper apalah. There always the reasons
behind an action, right? Gue percaya itu, sih.”
Setelah Giska menjawab
begitu, Riv langsung merapatkan bibirnya, diam. Pembicaraan itu kembali
berhenti untuk beberapa saat. Giska yang takut ia salah ucap pun, kini tampak
menyesal dan agak bersalah.
“Eh, sori kalau lo—”
“Lo bijak banget, Gis.
Makasih udah gak percaya gosip-gosip sialan itu. Ya, lo benar. Seperti apa yang
lo bilang tadi, gue punya alasan tersendiri kenapa gue sebegitu ambisiusnya di
sekolah sampai-sampai hampir satu kelas ngejauhin gue. Lo tahu, tiap manusia
punya jalan hidup yang berbeda. Ada orang yang gampang banget buat dapetin apa
yang mereka mau tanpa perlu bersusah-susah dulu, Atau juga, ada yang kayak gue
yang harus mati-matian dulu ngejar apa yang gue mau tanpa tahu apakah gue
bakalan dapetin itu atau nggak. Meski kita sebagai manusia lahir dari titik
awal yang sama, tapi kenyataannya, titik awal kita beda-beda.” ujar Riv Panjang
lebar. Sesekali, ia melirik pada jalanan yang berhenti tiap tiga menit karena
lampu merah.
“I see. Gue setuju
sama lo.” hanya itu yang bisa Giska katakana setelaha mendengar jawaban Riv
yang membuat Giska harus berpikir keras.
“Lo tahu, tiap anak
tumbuh dari sebuah keluarga. Atau at least, dari sepasang insan yang
memang memilih untuk menjaga seorang putra hingga besar nanti. Kebanyakan memebesarkannya
dengan cinta mereka yang masih menggebu di awal, hingga ternyata cinta itu
lama-lama habis, Gis. Cinta orang tua gue pun begitu. Mereka akhirnya dapat
titik terang tentang kejenuhan yang selama ini mereka rasakan. Perceraian.”
ujar Riv kembali berbicara. Entah mengapa, walaupun baru kali ini ia dapat
berbincang berdua Bersama Giska, ia sudah mempercayai gadis itu.
“Terus, lo gimana?” tanya
Giska tak mampu menahan rasa penasarannya.
Riv hanya tersenyum
singkat sembari kembali menatap lalu-lalang para pengendara yang kini lumayan
sepi dari sebelumnya.
“Ya, gue bisa apa selain
menerima? Anak bukan siapa-siapa dalam hubungan rumah tangga orang tuanya.
Keputusan penuh ada di tangan mereka. Akhirnya, keputusan tersulit di mana gue
harus milih harus tinggal sama siapa. Ya, mereka masih baik banget sama gue,
kok, meski akhirnya gue milih tinggal di indekos aja. Sekarang, mereka
masing-masing udah jalan di jalur yang berbeda. Begitupun gue. Mereka kini
membangun keluarga dengan pasangan mereka masing-masing. Yang gue bisa lakukan
ya cuma mendoakan mereka.” ujar Riv.
Walaupun Giska tak pernah
merasakan apa yang dirasakan Riv, tapi ia bisa melihat duka Riv yang masih
basah lewat tatapan matanya yang mulai mengabur, membendung air mata.
“Terus, gimana perasaan
lo sekarang?” tanya Giska setelah pembicaraan mereka berjeda beberapa menit.
“Udah b aja, sih,
sekarang. Ya, kadang kalau gue ketemu mereka sama keluarganya masing-masing
selalu aja canggung. Walaupun mereka masih tetap baik banget sama gue, tapi gue
sadar bahwa mereka udah punya kehidupannya masing-masing. Makanya, gue punya
prinsip kalau gue harus dapat beasiswa pas kuliah nanti supaya gue gak usah
minta biaya lagi ke nyokap sama bokap.” kata Riv.
Seketika itu pula, Giska
kembali terkesima dengan ucapan Riv. Ia harus banyak bersyukur karena orang
tuanya masih menjadi sepasang insan yang harmonis di tengah kesibukan mereka
yang menjadi-jadi. Giska pun tak perlu susah payah mencari uang untuk biaya
kuliah nanti, sebab orang tuanya pasti telah menyediakan segala keperluan Giska
untuk masa depannya.
“Kenapa lo cerita ini ke
gue, Riv? Padahal kita baru beberapa jam yang lalu mengakrabkan diri.”
“Gue juga gak tahu. Tapi,
yang pasti, gue cuma mau ngelonggarin beban yang selama ini gue tanggung. Gue percaya, lo bisa dipercaya. Gue nyeritain
kayak gini, bukan berarti gue gak bahagia. Bahagia tiap orang kan beda-beda,
Gis. Mungkin, kebahagiaan gue bukan berasal dari keluarga. Tapi, it’s okay. Gue
masih bisa nyari kebahagiaan lainnya. Gue gak peduli omongan orang-orang
tentang gue. Gue gak bisa nutup mulut orang-orang yang ngomongin gak enak
tentang gue. Yang gue bisa lakuin adalah nutup kedua telinga gue sendiri dan
mencoba tetap melangkah. Karena ini impian gue. Asal gue gak ngerugiin orang
lain, gue bakal tetep maju.” ujar Riv mantap.
Tak terasa, sudah empat
puluh menit berlalu. Giska baru tersadar bahwa es krim titipan Lubna sudah
mencair dan mungkin Lubna akan marah pada Giska nanti. Tapi, masa bodoh. Ia
mendapat imbalan yang setimpal karena mendengarkan curahan hati Riv selama ini.
Alya, bisa mulai menulis Bab 1.
BalasHapusJudul buku bisa dibuat nanti, sambil nulis siapa tahu ada ide.
Siap miss, terima kasih😁🙏
Hapus