Sabtu, 19 September 2020

REKONSTRUKSI - Alya Kamila Fauziyah


Outline

Genre
: fiksi, drama, fiksi remaja
Judul: Rekonstruksi
Oleh: Alya Kamila Fauziyah


BAB 1 : Giska merasa kalau dirinya tidak berhak untuk mendapat kesempatan menjadi salah satu siswa di sekolah SMA Negeri Bela Nusantara yang merupakan salah satu SMA paling bergengsi di Provinsi Jawa Barat. Ia merasa tidak pantas sebab jalur yang ia gunakan untuk masuk ke sekolah itu ditempuh dengan cara yang ilegal berkat orang tuanya. (Flashback sebelum Giska masuk SMA)

BAB 2 : Giska bertemu dengan seorang perempuan yang dijauhi teman-teman sekelasnya karena dirasa terlalu ambisius. Namun, walaupun begitu  perempuan itu tetap menjadi siswa yang ambisius untuk mencapai cita-citanya sebab alasan keluarga, meski ia harus dijauhi teman-temannya. Di sini, Giska belajar apa arti dari sebuah bahagia dan keluarga yang sebenarnya.

BAB 3 : Orang tua Giska memaksa Giska tentang apa saja yang harus Giska lakukan untuk menjadi orang sukses. Orang tua Giska terlalu berekspektasi tinggi terhadap Giska. Padahal, Giska sendiri pun bahkan tidak percaya dengan kemampuan dirinya sendiri. *puncak konflik (klimaks)

BAB 4 : Giska tidak tahu apa itu definisi mimpi dan sukses. Ia terus mencari, tapi tetap tidak menemukan alasan mengapa orang-orang berlomba-lomba untuk jadi sukses. Ia sungguh tidak mengerti. Di sini, Giska pun merasa ketakutan akan masa depan.

BAB 5 : Giska akhirnya bertemu dengan lelaki yang supel dan pintar. Pintar segalanya. Di sana, Giska menjadikan lelaki itu tempat curhat dan berkeluh kesah. Si lelaki pun selalu merespon dengan baik curhatan Giska. Di sini, Giska belajar apa arti dari sukses dan mimpi. Ditambah adanya penyelesaian tentang masalah dengan orang tuanya yang otoriter.

BAB 6 : Giska pun akhirnya menyadari bahwa ia telah jatuh cinta dengan lelaki itu. Sayangnya, lelaki itu ternyata menyukai perempuan lain yang lebih pintar dan setara dengan sang lelaki itu. Giska pun mencoba untuk merelakan perasaannya tidak berbalas. Karena ia tahu kalau si lelaki itu berhak dapat yang terbaik. Di sini, Giska belajar apa arti dari mengikhlaskan sesuatu yang memang bukan miliknya. 

(Tiap bab maksimal 7 halaman).


====================================
Bab 1 || Tak Pantas


Giska menghela napas panjang kala langkah kakinya mulai memasuki sebuah gerbang besar berwarna hitam yang sudah dibuka oleh Pak Didit--satpam SMA Negeri Bela Nusantara-- itu sejak pukul lima dini hari. 

Kedua matanya menatap malas pada sebuah banner yang terpampang di sebuah dinding lantai dua koridor kelas hingga tampak jelas terlihat saat Giska memasuki lapangan utama sekolah. Sebuah banner bertuliskan ucapan selamat datang pada siswa-siswa baru. 

Tak terasa entah sudah berapa ratus kali Giska merutuk dalam hatinya. Masih tak menyangka ia bisa berdiri di salah satu sekolah terbaik di Provinsi Jawa Barat ini. Dan parahnya, ia adalah salah satu siswa yang akan menghabiskan waktunya tiap dua belas jam sehari dalam tiga tahun ke depan. Sungguh gila!

Semua siswa baru kini telah dibariskan di sebuah lapangan utama. Sang mentari mulai menampakkan diri, menyengat kulit para siswa baru itu. Dahi Giska mengernyit heran pada Sang Kakak Kelas yang menjabat sebagai OSIS itu berteriak memarahi seorang lelaki sebayanya yang tidak mengenakan sebuah logo sekolah yang wajib dipasang di bagian kiri lengan seragam putih saat melaksanakan OSPEK.

"Logonya mana, Dik?!" pekik pemuda itu seraya menunjuk bagian samping kiri si lelaki berkacamata minus itu.

"Ma-maaf Kak, kayaknya tadi jatuh pas saya naik motor." ujar Si Lelaki Kacamata menundukkan kepala. Tak kuasa mendongakkan kepalanya.

"Apaan, sih?! Mau tegur pun gak harus bentak-bentak anak orang seenaknya, kan?" batin Giska tampak kesal melihat pemandangan di depannya. Tentu ia kesal sekali, sebab prinsip yang selalu ia yakini sampai sekarang adalah tidak memarahi dan juga tidak dimarahi. Giska ogah mengurusi hidup orang lain sebab ia tahu bahwa mereka pun bisa mengurus diri mereka sendiri. 

Seakan tersadar, Giska terkekeh miris meratapi bahwa kehidupannya pun telah berantakan. Bagaimana ia mengurusi hidup orang lain sementara hidupnya pun lebih berantakan dari mereka?

Namun, tak seperti apa yang telah terlintas dalam pikirannya tentang prinsip yang selalu ia pegang teguh karena pada kenyataannya, prinsip yang ia yakini hanya bak bualan belaka. Semuanya sudah sedari dulu berantakan. Orang tuanya yang entah mengapa selalu mengekang dan mengatur semua keputusan dalam hidupnya, sementara Giska pun tak kuasa untuk membantah. Bagaimana pun, Giska merasa harus tahu diri sebab telah dilahirkan dalam keluarga mereka. 

Entah harus bersyukur atau malah merutuki semua hal yang telah ditakdirkan Tuhan untuknya. Giska hanya bisa menjalaninya saja. Mengangguk patuh pada tiap perintah orang tuanya yang memutuskan jalur hidup Giska, termasuk sekolah SMA Bela Nusantara ini. 

***
Lima bulan yang lalu...

"Giska, berapa nilai Try Out mu kemarin?" ujar Hugo--Papa Giska--.

"Delapan puluh tiga." jawab Giska malas sembari melihat pemandangan halaman belakang rumahnya yang tengah dihunjami gemericik hujan yang kini menguarkan khas bau tanah. Sungguh damai.

Mendengar jawaban anaknya, Hugo pun melepaskan kacamatanya seraya menyeruput kopi hingga tandas tak bersisa dalam beberapa tegukan saja. Hugo tampak tak suka mendengar jawaban Giska. Hugo mengatur napasnya untuk menenangkan diri hingga Hugo pun berbicara sembari menatap tegas Giska.

"Cuma delapan puluh tiga? Bukannya Papa sudah memasukkanmu di tempat kursus yang paling terkenal itu? Kenapa kamu belum ada kemajuan? Papa dan Mama capek melihat kamu yang kelihatan tenang-tenang aja, sementara ujian sudah di depan mata." tatapan Pak Hugo kian menajam kala mendengar helaan napas Giska, tanda lelah dengan omongan orang tuanya.

"Pa, Giska gak mau masuk ke SMA Bela Nusantara. Giska gak mau jadi dokter. Giska mau jadi apa yang Giska mau aja." seloroh Giska untuk kesekian kali berbicara seperti ini. 

"Giska! Sudah Papa bilang ribuan kali. Kamu harus masuk SMA Bela Nusantara dan jadi dokter. Entah bagaimanapun caranya, Papa akan pastikan kamu masuk ke sana." ucap Pak Hugo tak ingin dibantah lagi. Ia sudah lelah dengan urusan di kantornya. Ditambah anaknya yang bebal sekali tak mau menurutinya. Pak Hugo pun beranjak berdiri meninggalkan Giska yang tengah mengepalkan kedua tangan sembari menggertakan giginya.

Walaupun dengan amarah yang sama seperti saat Papa dan Mamanya memaksanya mengikuti Olimpiade Biologi dan dengan sangat terpaksa, Giska meninggalkan kesempatan untuk mengikuti Lomba Puisi yang selalu ia dambakan. Giska tak bisa berbuat apa-apa. Entah kesialan apa yang menimpanya di dalam kehidupan ini.

Hujan kini mereda menyisakan kelabu langit yang tak kunjung membiru. Pelangi yang selalu Giska harapkan, tidak muncul juga. Sembari menatap langit yang semakin mengabu, pikiran Giska melanglang buana kala dirinya masih berseragam putih merah dengan cengiran khasnya yang menandakan seberapa polos dan naifnya ia. Saat itu, kedua mata bulat berlensa cokelat terangnya tampak berbinar-binar menatap sebuah piala yang baru saja ia dapatkan setelah mengikuti ajang kompetisi matematika untuk anak kelas lima Sekolah Dasar. 

Meski begitu, kekecewaan dalam hatinya kian mengakar kala mengetahui bahwa orang tuanya tak tampak pada kumpulan para orang tua yang sedang duduk bertepuk tangan merayakan pemenang dalam kompetisi ini. 

Giska pikir, dengan memenangkan kompetisi ini Papa dan Mamanya akan memberikan selamat di depan sana. Kedua pelupuknya kini berembun. Giska menggigit kecil bibir bawahnya yang bergetar hendak menangis di atas panggung itu. Padahal, Giska sudah susah payah belajar sampai ia tak mampu lagi bermain bersama teman-temannya dan dijauhi sebab Giska tak tahu cara menolak dengan halus ajakan mereka. Alhasil, Giska selalu menolak dengan cara mendelik sinis dan pergi begitu saja. 

Piagam sertifikat yang ia genggam kini nampak buram dan basah sebab bulir-bulir air mata yang tak bisa ia bendung lagi. Tak cukup dengan ketidakhadiran Papa dan Mamanya yang berhasil mematahkan semangat dan harapan Giska, ternyata kejadian ini adalah titik awal Giska mendapat keputusan hidup yang membuatnya menderita. 

Dua hari berlalu setelah pengumuman kemenangan Giska. Pada pagi hari itu, burung-burung tampak hinggap dalam ranting pohon jambu air di pekarangan rumah. Langit tampak biru dengan awan bak kapas yang berarak. Sungguh cerah, secerah hati Giska kala mengetahui bahwa orang yang mengetuk pintu rumah adalah Papa dan Mamanya. 

"Pa! Ma!" pekik girang Giska tak lagi terelakkan dan langsung menghamburkan dirinya ke pelukan Diana--Mama Giska--. 

"Halo, Giska," ujar Diana pelan sambil balas memeluk Giska. Namun, tak sampai sepuluh detik dekapan hangat itu Giska rasakan, hingga Diana langsung menguraikan pelukan.

Masih dengan senyum riang yang sama, Giska tampak berlari dan kembali dengan membawa sebuah kertas penghargaan dan sebuah medali. 

"Ma! Pa! Giska kemarin menang kompetisi, lho! Juara satu lagi. Hebat, kan?" seloroh Giska berbangga diri.

Mendengar apa yang telah diucapkan anak perempuan mereka, Diana dan Hugo pun saling berpandangan. Hingga akhirnya, Hugo menghampiri Giska dan memegang erat kedua bahunya.

"Wah, anak Papa memang hebat. Pasti nanti bisa jadi orang sukses. Giska mau jadi dokter, ya?" tanya Hugo seraya menatap lembut Giska.

Setelah mendengar hal itu, Giska yang belum terlalu paham pun hanya mengangguk seraya tersenyum.

"Wah, iya Pa! Giska mau jadi dokter. Teman-teman Giska juga banyak yang mau jadi dokter, Pa." kata Giska dengan tampak polos dan berbinar sebab akhirnya Hugo mencurahkan perhatiannya pada Giska. Biasanya, setelah pulang dari dinas ke luar kota atau bahkan ke luar negeri, Diana dan Hugo selalu pulang tengah malam kala Giska tertidur. Hingga mereka hanya bisa bertemu saat pagi hari saja. Kesibukan orang tua Giska membuat Giska sudah terbiasa untuk sendirian ataupun bersama asisten rumah.

Semenjak pernyataan itu, Giska selalu dituntut untuk mendapat nilai yang bagus. Giska dimasukkan ke berbagai les kursus dan tempat bimbingan belajar. Berbagai lomba pun Giska ikuti karena suruhan orang tuanya. Pada satu titik itu, Giska mulai mengerti bahwa dirinya tak ingin menjadi dokter seperti yang diharapkan Diana dan Hugo. Giska merasa lelah dan hampa. 

Dari pagi sampai malam, ia hanya menghabiskan waktunya di rumah untuk tidur saja. Tidak ada lagi kartun kesukaannya di televisi pada sore hari. Tidak bisa ia lihat lagi burung yang bersarang di ranting pohon jambu air itu pada tengah hari. Entah mengapa, ia lelah. Lelah akan sesuatu yang Giska sendiri pun ragu apakah ia dapat mencapainya atau tidak. 

“Pa, Ma. Giska mau bicara.” ujar Giska pelan. Tampak ragu untuk mengutarakan kejujurannya pada Diana dan Hugo.

Saat itu, mereka tengah makan malam. Makanan telah tersaji berkat Bi Tri yang selalu rajin menghidangkannya tepat pukul delapan malam. 

“Mau bicara apa, Gis?” tanya Diana lembut.

“Pa, Ma. Se-sebenarnya, Giska gak mau jadi dokter. Gis-“ belum selesai Giska berbicara, dentingan bunyi sendok yang membentur meja pun memutus kalimat Giska. Saat Giska menoleh pada sumber bunyi dentingan, matanya langsung menangkap tatapan Hugo yang menajam tampak tidak suka atas apa yang dibicarakan Giska.

“Apa maksudmu? Kamu sudah setuju untuk jadi dokter saat tiga tahun yang lalu. Terus, apa masalahnya Giska?” tanya Hugo penuh penekanan.

“Gis-Giska gak suka belajar terlalu banyak, Pa. Giska lebih suka nulis puisi dan belajar matematika aja. Giska, mau jadi penulis dan peneliti aja, Pa, Ma.” Jawab Giska dengan mantap. Meski tak dapat dipungkiri, tatapan tajam Hugo dan tatapan kecewa Diana membuat Giska merasa bersalah untuk beberapa saat.

“Apa? Penulis? Peneliti? Mau makan apa kamu nanti? Kamu gak tahu apa-apa soal kehidupan keras di luar sana nanti, Giska. Pilihan Papa dan Mama sudah menjadi pilihan terbaik yang harus kamu pilih. Ini demi kebaikan kamu juga.” Hugo kukuh mencoba menjelaskan hal yang memang telah ia putuskan Bersama Diana dengan matang.

“Di mana letak salahnya, sih, Pa? Aku mau jadi apapun ya itu urusanku. Ini hidup Giska. Bukan hidup Papa hingga Papa bisa seenaknya memaksa anaknya menggapai cita-cita yang gak berhasil dicapai Papanya. Bukan juga hidup Mama yang seenaknya suruh Giska belajar tiap hari, les sana-sini. Mungkin Giska memang gak ditakdirkan buat punya otak cerdas kayak Mama.” masih dengan nada agak memelas, Giska mencoba mengutarakan segala keluhnya. Sudah cukup ia patuh dan menuruti semua titah orang tuanya. Giska bukan robot ataupun boneka yang bisa seenaknya mereka arahkan untuk bergerak. Giska merasa bahwa ia berhak atas kehidupannya sendiri.

Hening seketika. Malam itu, angin malam terasa menusuk kulit Giska dan suara jangkrik turut menghiasi kesunyian itu. Baru kali ini Giska memberanikan diri berdebat panjang bersama orang tuanya. Biasanya, Giska hanya membicarakan soal keluh kesahnya tentang capeknya ia atau Giska yang sudah tak punya waktu lagi untuk sekadar melakukan hobinya yang nantinya akan berakhir dengan Giska yang mengangguk mengiyakan segala petuah Hugo dan Diana yang mengatakan bahwa Giska hanya perlu beradaptasi.

Sekali lagi, Giska berharap Hugo dan Diana bisa mengerti. “Pa, Ma, Giska mohon biar—” ucap Giska terpotong karena tersentak kala Hugo beranjak dari duduknya.

“Sudah. Papa capek. Papa anggap pembicaraanmu tadi hanya angin lalu. Mungkin kamu lagi stress karena tekanan sekolah.” ujar Hugo seraya melangkahkan kaki ke dalam kamarnya.

Lagi, Giska merasa tak diacuhkan. Masalahnya memang hanya berputar di sekitar ini saja. Mungkin inilah yang membuat Giska merasa lelah dan bosan akan keseharian yang tak ada habisnya.

Seakan perdebatan empat bulan yang lalu kurang meresahkan, pada akhirnya Giska harus menelan pil pahit akan kegagalannya. Meski Giska telah dan sudah sadar bahwa ia tak akan mampu menembus ujian tes masuk SMA Bela Nusantara, tetapi rasa sakit dan kecewa tak dapat Giska pungkiri mulai bercokol di hatinya. Kecewa sebab ternyata, uang yang telah Hugo dan Diana keluarkan demi dirinya seakan sia-sia. Sakit dan marah sebab Giska lah yang  telah membuktikan sendiri bahwa dirinya tidak selayak itu mendapat tiket free pass untuk masuk SMA itu.

Belum surut kesedihan Giska,  setelah mendengar kabar kegagalan Giska, Hugo dan Diana bergerak cepat menghubungi rekan sejawat mereka yang berada di SMA Bela Nusantara. Ya, pada akhirnya, meski Giska berontak tak mau masuk lewat jalur haram itu, takdir tetaplah takdir. Sebab hidup Giska memang sudah lama bukan menjadi miliknya sendiri.

 

                                                   25 Juli 2016

Teruntuk Giska di masa depan,

Semesta memang sekejam itu untuk kau jadikan tempat pengharapan,

hingga seringkali kalut dan kemelut bersatu membentuk sebongkah keputusasaan.

Namun, tak apa, Giska. Ini bukanlah akhir dunia, sayang.

Sebab duniamu memang sudah hilang,

terpenjara lalu lenyap dilahap kekang.

Lantas, untuk apa kecewa? Karena seharusnya asa itu memang tak pernah ada.


============================================================

Bab 2  || Ambisi

 

Usai sudah kegiatan OSPEK yang diadakan selama tiga hari berturut-turut itu. Batin dan fisik Giska rasanya sudah cukup lelah. Tugas-tugas yang diberikan dan “pelatihan mental” yang beralibi agar siswa-siswa baru bermental baja akhirnya selesai. Meski selama prosesnya, Giska selalu bersungut tentang betapa membuang waktunya mengerjakan tugas-tugas itu. Namun, setidaknya Giska bisa lebih banyak tahu tentang letak-letak sekolah barunya ini.

Seperti halnya hari ini, Giska berada di perpustakaan setelah bunyi bel bertanda waktunya istirahat. Suasana perpustakaan Giska akui sangat nyaman. Fasilitas-falisitasnya pun kentara sekali berbeda jauh dengan perpustakaannya di Sekolah Menengah Pertama dulu. Rasanya, Giska bisa menenggelamkan dirinya seharian di dalam perpustakaan yang cukup megah ini. Meski Giska mengakui bahwa ia tidak sepandai mamanya yang bisa menembus peringkat paralel selama masa Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas dan menjuarai berbagai lomba bahkan pernah meraih gelar sebagai mahasiswa berprestasi di kampus ternama di Indonesia, tapi setidaknya, hobi ibunya yang suka membaca dan menulis itu terwariskan padanya.

Sudah dua puluh menit Giska berkutat dengan pena dan buku tulis khusus karyanya, mencoba merangkai kata hingga tercipta berbagai rasa dalam kalimat yang ia susun. Namun, fokusnya sering terganggu tatkala seseorang yang duduk di sebelahnya itu membaca sebuah buku yang sangat tebal dengan bergumam. Sesekali ia melirik-lirik perempuan yang memakai kacamata bulat di sebelahnya ini.

“Gila, sejak kapan dia ada di perpustakaan? Perasaan, dia dulu, deh, yang duduk di sini daripada aku, tapi kok betah ya baca buku setebal itu?” batin Giska heran.

Meski Giska suka membaca, tetapi buku yang ia baca kebanyakan adalah buku-buku fiksi dan pengembangan diri. Ia kurang suka membaca buku yang berbau “mata pelajaran sekolah”. Giska lebih menyukai hal-hal yang memang tak diajarkan sekolah padanya.

Setelah beberapa kali Giska mengatur fokusnya dan abai terhadap desisan dan gumaman perempuan itu, Giska akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Ia pikir, sangat tidak bijak untuk menyuruh si perempuan diam sementara dirinya bukan yang pertama menempati tempat itu.

Berjalan ke kelas cukup melelahkan bagi Giska. Ia harus menaiki anak tangga karena kelasnya berada di lantai tiga. Namun, Giska lebih memilih berjalan jauh ke perpustakaan daripada diam di kelas yang bisingnya bukan main itu.

Saat menginjakan kaki di kelas, Giska menatap sekeliling kelasnya. Orang-orang sudah punya teman akrab yang Giska ramal akan jadi teman geng nantinya. Tatapan Giska lama-lama berubah malas kala seorang lelaki berambut comb over undercut itu menghampirinya.

Lelaki yang memiliki kulit kuning langsat itu menyunggingkan cengirannya sembari menadahkan tangan tampak meminta sesuatu pada Giska. Ia adalah Pangeran Abimana—Pange--. Tak seperti rambutnya yang rapi dan nama ala kerajaan yang melekat padanya, Pange adalah orang yang agak jahil, konyol dan ramah. Ya, seramah itu sampai Giska pun sedikit kaget. Di saat orang-orang di sekitar yang satu sekolah dengannya dulu kini pura-pura bak orang asing, tapi Pange malah dengan sok kenal sok dekatnya, meneriakkan namanya saat penghujung OSPEK kemarin karena ingin bertanya nomor kode pos sekolah.

Seperti sekarang ini, buyar sudah harapan Giska untuk tiduran sebentar di kelas selama sepuluh menit sebelum jam pelajaran selanjutnya dimulai. Pange malah memintanya untuk mengajari matematika bab pertama yang menurut Giska itu cukup mudah. Dengan berat hati, meski sedikit tak ikhlas mengorbankan waktu istirahatnya, Giska mengiyakan.

“Nah, jadi lo paham, kan, Nge?” tanya Giska untuk ke sekian kalinya karena Pange selalu menjawab ragu hingga Giska harus mengulang-ulang penjelasannya.

“Duh, Gis. Kok susah banget, sih? Gue gak ngerti, gue gak paham. Apa otak gue emang kadarnya sudah segini, ya?” jawab Pange penuh keputusasaan.

Mendengar hal itu, Giska menatap penuh prihatin pada Pange yang masih mengernyitkan dahinya tampak sekali bingung.

“Ck, ya udah,deh. Sekarang udah dulu aja. Nanti gue ajarin lagi pas udah pulang sekolah. Matematika itu gampang, kok. Lo tinggal atur aja mindset lo, kalau matematika itu bisa lo kuasai. Lagian, gak perlu mengerti semua tentang matematika, kok, Nge kalau lo emang gak suka. Cukup dasar-dasarnya dan asal logika matematika lo jalan, it’s totally fine. Nanti juga kalau lo beneran suka, lo gak bakal nyerah belajar matematika.”

“Iya deh yang pintar matematika tapi kesasar malah Olimpiade Biologi. Andai aja gue jadi lo, Gis. Gue bakalan pamerin ke orang-orang kalua gue di atas rata-rata, gak bakal kayak lo yang malah sembunyi di balik tempurung gitu.” ujar Pange berandai-andai.

Mendengar hal itu, Giska hanya berdecak sebagai jawabannya. Andai lelaki itu tahu seberapa tertekannya ia. Seberapa masalah dan rintangan yang harus ia hadapi untuk mencapai titik yang Pange andai-andaikan tadi. Kalau boleh pun, Giska ingin sekali bertukar kehidupan dengan orang lain atau bahkan Pange sekalipun. Pange tampak selalu bahagia di setiap keadaan hingga bisa memancarkan aura kebahagiaan itu pada orang lain, termasuk dirinya.

Giska buru-buru mengenyahkan pikirannya dan berancang-ancang beranjak ke tempat duduknya kembali. Namun, saat akan berdiri, Giska mendengar bisik-bisik yang agak riuh kala seorang perempuan berambut pendek sebahu itu masuk seraya membawa buku-buku yang sangat besar nan berat. 

“Eh, bukannya itu Riv Si Caper SMP 98, ya?” tanya seorang perempuan dengan rambut terkuncir rapi seraya mendelik sinis pada Riv.

"Iya. Sial banget kita sekelas sama dia. Bisa-bisa anjlok semua nilai kita. Huft, makan tuh caper. Gue, sih, ya lebih milih teman daripada ego. Eh, lupa. Dia kan gak punya teman, ya," ujar seorang perempuan berpenampilan trendi itu tak kalah sarkas sambil terkekeh.

Kini, ruangan kelas X-MIPA.3 itu riuh oleh bisikan-bisikan para murid seraya mendelik ke pusat perbincangan, Riv. Entah mengapa, meski bukan Giska yang menjadi pusat perbincangan saat itu, tapi hatinya ikut kesal dan resah kala tatapan sinis penuh kebencian terarah pada Riv.

Saat itu, Riv hanya menunduk lalu mempercepat langkahnya menuju meja yang berada di ujung belakang kelas.

"Eh, Nge. Itu siapa?" tanya Giska sembari melirik Pange yang masih menatap gerak-gerik Riv.

"Itu Riv, Gis. Gebetan gue." ujar Pange terkekeh merdu sembari tersenyum bak bocah kasmaran.

"Apaan sih, Nge? Gak salah lo?" tanya Giska heran. Bulu kuduknya langsung merinding melihat Pange yang masih senyam-senyum tidak jelas.

"Ck, kenapa emang?! Wah, lo hina gue, ya, Gis? Gue gak pantas sama Riv, kan, maksud lo?" pekik Pange lebay, salah satu tangannya menangkup di dada seolah merasakan sakit yang teramat sangat.

"Nggaklah, Nge. Maksud gue, lo ketemu di mana sama Riv, masa lo langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, sih?" tanya Giska .

"Ya nggaklah. Gue gak seputus asa itu sampai gampang banget langsung suka sama orang yang baru gue kenal beberapa jam kali. Dia satu SD sama gue, Gis. Dari dulu dia gitu, sih. Gue jadi makin suka." Kata Pange kembali melenceng. Giska yang melihat Pange seperti itu, rasanya ingin muntah sekaligus geli sendiri.

“Maksud lo, dia caper beneran?”

“Bukanlah. Caper apaan?! Mereka yang bisik-bisik cuma iri bin dengki kali. Riv itu, beuh, Gis. Cewek idaman banget, deh. Nih, ya, dia pintar, cantik iya, dan pemikirannya tuh gila banget. Gue kira dia titisan anak Einstein, Gis. Ya, walaupun dia cuek bebek, sih, sama gue. Tapi, gue jadi makin cinta, deh, hehe,” ujar Pange masih tersenyum sendiri.

Giska hanya mendelik kepada Pange sebagai jawaban. Ia kembali menatap Riv yang sedang menatap jendela yang mengantarkan matanya pada langit yang kini membiru tanpa awan serta burung-burung yang terbang melayang tinggi. Mata Giska menangkap senyum damai Riv yang tiba-tiba muncul saat itu. Senyuman yang seakan mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja.

****

Tiga bulan berlalu semenjak Giska masuk SMA Bela Nusantara. Tak banyak perubahan bagi Giska, ia masih stagnan pada berbagai persoalan serta pelajaran-pelajaran yang lebih sulit dari sebelumnya.Orang tuanya pun masih sama, malah mereka sekarang selalu bertanya tentang apa saja pencapaian Giska selama sekolah yang akan dijawab Giska dengan jawaban yang sama, ‘Ya, begitulah.’

Hari ini terasa berbeda, sebab Giska sekarang sedang berjalan menyusuri trotoar di tengah panasnya siang yang menyengat kulit perempuan itu. Rambut Panjang nan hitam legamnya kini ia sanggul dan kaos berwarna hijau pastel itu, masih tak cukup membuat Giska tak kegerahan. Alhasil, ia pun mempercepat gerak kakinya agar cepat sampai menuju rumah Lubna—teman satu kelompok di pelajaran Kimianya—yang terletak sekitar satu kilometre dari rumah Giska. Meski ia sebenarnya malas sekali apabila kerja secara berkelompok, tapi apa boleh buat, ini adalah tanggung jawabnya. Giska bukanlah orang yang memilih melarikan diri dari masalah, ia memilih menghadapinya, atau malah memilih meninggalkan masalah itu karena ia memang tak bisa memecahkannya. Seperti saat keinginan orang tuanya harus dipenuhi dan Giska tak punya pilihan lain meninggalkan masalah itu dan mengubahnya menjadi bukan suatu masalah. Ia menganggap hal itu merupakan sebuah takdir yang Tuhan ciptakan dan Giska hanya perlu menyusuri takdir itu hingga ia bertemu muaranya.

Tak terasa, sepuluh menit kemudian, ia bisa sampai ke sebuah rumah yang megah itu. Memang tak dapat diragukan lagi, bahwa orang-orang yang bersekolah di SMA Bela Nusantara mayoritasnya adalah keluarga terpandang dan kaya raya seperti Lubna yang merupakan anak dari pejabat besar di sebuah instansi pemerintah. Walaupun Giska termasuk dalam golongan kaum borjuis, tapi Giska merasa semua orang sama saja. Ia tak bisa berbangga diri dengan hal seremeh itu.

Dengan ragu dan gugup, Giska masuk ke dalam rumah itu setelah menghubungi Lubna yang ternyata anggota kelompok lain sedang menunggu dirinya. Ia dipersilakan berjalan menuju kamar Lubna yang berada di lantai dua.

“Hai, Giska!” pekik Lubna dan kawan-kawan kala Giska membuka agak lebar sebuah pintu yang bercat putih bersih itu. Giska hanya mengangguk dan tersenyum canggung seraya menghampiri mereka.

 Kedua matanya berkelana menyusuri tiap sudut kamar Lubna yang tak kalah indah dan luas. Tak dapat dipungkiri, luas kamar Lubna memang hamper menyerupai kamar Giska, tapi yang membedakannya, ruangan kamar yang diisi oleh ranjang berukuran queen, lemari pakaian tiga pintu yang dilapisi cermin serta meja belajar dan rak-rak yang tersusun indah dan rapih itu Nampak serasi dengan dinding bercat merah muda itu. Berbeda sekali dengan Giska yang lebih mengedepankan prinsip minimalis, sehingga yang akan didapati di kamar Giska, hanya ranjang berukuran single, meja belajar, satu rak buku serta lemari pakaian yang berbentuk laci-laci.

Matanya yang masih asyik menelusuri kamar Lubna dan membandingkannya dengan kamar Giska sendiri seketika terhenti kala sebuah tatapan dari kedua bola mata yang terlapisi kacamata berbetuk bulat dengan bingkai hitam yang tipis itu kini tampak menatap Giska. Tatapan mereka berjeda untuk beberapa saat, hingga akhirnya Riv memutuskan kontak mata mereka dan memilih kembali memfokuskan diri pada sebuah buku yang Giska tebak adalah sebuah buku Matematika Dasar sebab Giska pernah membaca buku tersebut kala ia mempersiapkan Olimpiade Matematika yang tak jadi ia ikuti dulu.

“Eh iya, lo udah bikin list tentang apa aja yang harus dilakuin buat tugas kita sekarang, kan, Gis?” ujar Virga, salah satu anggota kelompoknya.

“Hah? List apa?” tanya Giska membeo. Giska tak tahu sama sekali karena alih-alih menyodorkannya segudang cemilan, mereka malah menodong Giska tentang list tugas kelompok.

Hening sudah kala Giska bertanya perihal itu. Anggota-anggota kelompok lain saling melirik satu sama lain kecuali Riv yang masih tak peduli dan sibuk membaca buku. Ya, salah satu hal yang membuat Giska agak sedikit kaget adalah saat mengetahui bahwa dirinya satu kelompok dengan Riv. Bukannya bagaimana, tapi Giska yakin pasti nanti suasana akan begitu canggung melihat bagaimana penghuni kelasnya hamper semua membicarakan hal yang tidak enak didengar tentang Riv.

Lubna pun akhirnya maju selangkah mendekati Giska. “Yah, kita kira, lo udah nyiapin semuanya Gis, gue pernah dengar dari teman SMP lo, lo rajin banget anaknya. Ya, kita sih percaya aja sama lo. Ya, gapapa sih, Gis. Tapi lo bisa kan nge-list di sini sekarang? Soalnya gue sama anak-anak ga ngerti tugas Kimia apa aja.” ujar Lubna mengeluarkan senyum tercantiknya yang Giska tahu bahwa itu hanya senyum merayu yang dibuat-buat saja.

Pada detik itu juga, rasanya Giska ingin berteriak dan mengumpat. Bagaimana ia bisa masuk dalam kelompok Kimia bersama mereka?!  Namun, Giska takt ahu harus menolak dengan cara apa, hingga ia memilih untuk mengangguk setuju.

Namun, di saat Giska berancang-ancang untuk mengeluarkan buku tulis dan sebuah pena di dalam ransel hitam kecilnya, tiba-tiba sebuah tangan menyodorkan secarik kertas ke hadapannya. Ya, itu adalah list paling rapi dan indah yang pernah Giska lihat dalam hidupnya. Masih dengan mata yang berbinar menatap secarik kertas itu, Giska akhirnya berhasil menemukan pelaku yang berbaik hati menyodorkan kertas padanya dengan kepala yang masih menunduk pada sebuah buku yang menampilkan halaman seratus sembilan puluh tujuh tentang fungsi limit. Dia adalah Riv.

Tak ingin melewatkan kesempatan yang datang, akhirnya dengan senyum canggung sambal mengucapkan terima kasih, Giska menerima kertas itu secara cuma-cuma. Hanya sampai di situ saja percakapan mereka. Giska masih sibuk memahami beberapa point-point yang memang diperlukan saat mereka presentasi di hadapan teman-teman dan guru nanti. Sementara Riv, ia juga masih membaca buku dan asik menggulirkan layer smartphone-nya, entah apa yang Riv cari. Sedangkan Lubna, Virga dan Hana malah sibuk membahas bias-bias mereka yang berasal dari Korea Selatan itu, seraya saling memamerkan berbagai hal berbau idolanya.

Sebenarnya, Giska tak ada masalah sama sekali dengan hal itu. Ia tak keberatan karena Riv lebih memilih asyik dengan dunianya sendiri bersama buku andalannya sebab Riv juga sudah membantunya membuatkan list tugas Kimia. Ia juga sungguh tak keberatan jika Lubna, Virga, dan Hana malah membahas K-POP di depannya. Taka da masalah dengan K-POP, kok. Toh, Giska pun terkadang menyukai lagu-lagu mereka yang sangat positif dan puitis.

Namun, entah mengapa, hal ini membuatnya gelisah dan pusing sendiri. Ia merasa ini tak cukup adil. Meskipun Riv telah membantunya dan Lubna telah menyediakan tempat di mana mereka bisa berkumpul. Ia merasakan kesusahan sendiri saat mengerjakan tugas-tugas ini.

Satu jam lebih tiga puluh menit ia telah menyelesaikan satu halaman tugas Kimia itu. Tersisa tinggal empat halaman lagi yang belum selesai. Ia pun beristirahat sejenak sembari mencari-cari apakah ada air dingin yang tersisa untuknya dan berakhir kecewa karena semua air sudah tandas tanpa pernah Giska rasakan. Akhirnya, dengan gerakan malas, ia beranjak ingin pergi sebentar ke sebuah mini market yang kebetulan terletak sekitar tiga rumah dari rumah Lubna.

“Eh, lo mau kemana, Gis?” ujar Lubna.

“Gak kemana-mana, sih. Gue cuma mau jajan ke mini market.” jawab Giska.

“Eh, nitip beli camilan, dong.” ujar Virga menginterupsi pergerakan Giska yang akan membuka handle pintu itu.

Dengan kesal, Giska menoleh pada Virga dan bertanya, “Nitip apa?”

“Eh, boleh, kan? Gue mau nitip keripik kentang rasa dagin sapi itu, lho. Kalau lo perlu dianter, minta anterin sama Riv aja.” ujar Virga sembari melirik Riv.

“Iya, gue juga nitip es krim yang lagi trend itu, ya, Gis. Lumayan, kita bisa makan bareng-bareng.” kata Lubna.

Awalnya, Giska tak menggubris ucapan Lubna yang menyuruh Riv menemaninya ke sana. Giska bisa sendiri ke sana tanpa perlu ditemani siapapun. Namun, Giska agak tersentak kala sebuah bunyi buku yang ditutup agak keras sampai di gendang telinganya. Ternyata, Riv pelakunya. Riv beranjak dari tempat duduknya itu lalu berjalan menuju arah Giska, tepat ke arah pintu yang dibuka. Giska kira, Riv akan berjalan menujunya, ternyata Giska salah. Perempuan itu malah melewati Giska begitu saja.

“Ayo, gue juga mau ke minimarket.” ujar Riv singkat sembari lanjut melangkah.

Dengan perasaan agak linglung, Giska lanjut melangkah mengikuti Riv yang berjalan di depannya.

Suasana kala tiap kaki mereka melangkah beriringan di atas trotoar bercat oranye yang mulai pudar itu, hening dan senyap. Hanya bunyi deru kendaraan dan terkadang umpatan para pengendara atau pejalan kaki yang kesal karena diserobot pengendara lain turut menghiasi kesunyian kala itu. Canggung sekali Giska rasakan. Ia bukan pembicara atau teman yang ramah kala yang akan memulai pembicaraan hingga mereka bisa berbincang seru dan larut melupakan waktu.

“Lo…” ujar Riv tiba-tiba memulai pembicaraan. “Lo udah selesai beresin tugas kelompok Kimia?”

“Belum, masih empat halaman lagi.” ujar Giska agak kikuk saat mengucapkannya.

I see. Masih lama berarti, ya?” ujar Riv biasa saja, tapi entah mengapa di pendengaran Giska, itu terdengar seperti sarkas.

“Iya, gak ada yang bantuin, sih.” ujar Giska blak-blakan. Ia sudah capek mengerjakan tugas Kimia itu sendiri.

“Lo lihat aja punya gue. Gue udah beresin semua.” ujar Riv seraya menatap lurus sebuah minimarket yang sudah ada di depan mata mereka.

“Hah?! Demi apa lo  udah beres? Bukannya baru dua hari yang lalu ini tugas dikasih?” tanya Giska heran sekaligus kaget karena tugas sebanyak itu, Riv sudah selelsai menyelesaikannya dalam waktu yang singkat. Apalagi, tugas yang diberikan bukan hanya tugas Kimia saja. Masih banyak tugas-tugas lainnya yang lebih harus diutamakan untuk dikumpulkan karena waktu deadline-nya sudah dekat.

“Iya, gue udah selesai. Makanya, biar cepat pulang, ya lo lihat tugas gue aja. Mau sampai kapan gue harus nungguin lo ngeberesin tugas Kimia? Satu halaman aja lo butuh satu setengah jam.” timpal Riv.

Giska hanya diam sebagai jawaban. Namun, di dalam hatinya ia bisa merasa lega sebab tugas Kimia yang harusnya dikerjakan secara berkelompok itu tak hanya ia yang tanggung sendiri.

Giska dan Riv langsung masuk dan mengambil barang-barang yang mereka beli dan menyerahkan beberapa lembar uang pada sang kasir.

Ketika mereka berhasil keluar dengan menenteng beberapa kantong plastik belanja, Riv tiba-tiba saja berubah haluan dan memilih berhenti di sebuah meja yang memang menyediakan dua bangku kosong yang terlindungi payung besar. Dengan santai, Riv membuka segel botol kopi kemasan itu dan langsung menenggaknya.

“Kalau lo mau duluan, duluan aja. Gue mau nongkrong dulu di sini sebentar.” ujar Riv pada Giska.

Mendengar hal itu, Giska yang masih tak mau ikut dudu pun, segera mendudukkan dirinya dan mengambil botol air mineral yang tadi ia beli. Dengan rasa haus yang makin mendera, Giska pun langsung menandaskan setengah dari isi botol air mineral.

 “Gak. Gue mau nunggu lo aja. Lagian, gue masih pusing buat ngerjain soal Kimia itu lagi.”

“Kan udah gue bilang, lihat aja yang gue, Gis.” kata Riv dengan nada lelah.

“Iya. Tapi, kan, buat nyalin jawaban lo juga butuh effort, Riv. Nanti aja, deh. Kita balik setengah jam lagi.”  jawab Giska pada akhirnya, yang dibalas anggukan singkat oleh Riv.

Hening kembali. Suasana kembali sunyi dan agak canggung walaupun tidak secanggung saat mereka berjalan menuju minimarket tadi. Karena sudah merasa tak tahan dengan keanehan suasana ini, Giska pun memberanikan diri memulai pembicaraan.

“Riv, kok lo bisa, sih, ngerjain tugasnya sampai beres? Gue gak ngerti, sih. Kok bisa secepat itu?” tanya Giska, heran.

“Hm, lo adalah orang yang ke sekian kali nanya tentang ini. Jujur sih, gue merasa muak harus jawab masalah yang sama, padahal lo ataupun mereka sendiri juga udah tahu jawabannya.”

Giska merasa bingung sekaligus langsung merasa tak enak hati saat Riv menjawab bahwa ia sudah muak untuk menjawab pertanyaan ini. Lagipula, Giska hanya spontan bertanya saja untuk melenyapkan keheningan yang terjadi.

“Hah? Maksud lo? Gue nanya ya karena gak tahu jawabannya, lah. Gimana, sih?”

“Gini, ya, Gis. Mungkin ini terdengar klise atau mungkin lo anggap jawaban gue nanti cuma bohong doang. Orang-orang yang nanya gituan juga pasti berpikir gitu pas gue udah jawab pertanyaan mereka.  Tapi, yang jelas, kunci dari semua yang gue lakuin itu ya manajemen waktu. Gue harus mengakui bahwa gue memang ahli kalau masalah mengatur waktu dan prioritas. Gue juga bisa ngatur diri gue sendiri, kapan gue malas dan kapan gue produktif.” ujar Riv panjang lebar.

Giska terkesima sekaligus tak menyangka bahwa Riv ternyata bisa berbicara sepanjang ini. Selama ini, Riv terkadang hanya menjawab beberapa kata saja dari pertanyaan-pertanyaan yang selama ini dilontarkan pada Riv.

“Lo, kok bisa?” tanya Giska.

“Bisa apa?”

“ Gue kira, lo adalah cewek es kutub utara yang bisanya cuma belajar dan—”

“Dan apa? Caper maksud lo?” seloroh Riv memotong ucapan Giska.

“Hah? Gue nggak mikir gitu, kok.” jawab Giska heran.

“Oh, sori. Gue agak sensitive hari ini.” ujar Riv merasa malu.

“Nggak apa-apa. Kalau boleh tahu, kenapa lo bisa dijuluki Si Caper sama orang-orang sekolah?”

“Emang, lo percaya ya sama asumsi mereka tentang gue, Gis?” tanya Riv terdengar memastikan sesuatu.

“Hm, kalau boleh jujur, sih. Gue sih, netral, ya. Tapi, kayakya detik ini, gue gak percaya sama gosip itu.” jawab Giska mantap.

“Kenapa?”

“Ya, gue lihat sih, lo emang pintar, ya. Pintar banget malah. Tapi, gue yakin lo cuma mau gapai impian lo tanpa ngejatuhin orang lain, atau caper apalah. There always the reasons behind an action, right? Gue percaya itu, sih.”

Setelah Giska menjawab begitu, Riv langsung merapatkan bibirnya, diam. Pembicaraan itu kembali berhenti untuk beberapa saat. Giska yang takut ia salah ucap pun, kini tampak menyesal dan agak bersalah.

“Eh, sori kalau lo—”

“Lo bijak banget, Gis. Makasih udah gak percaya gosip-gosip sialan itu. Ya, lo benar. Seperti apa yang lo bilang tadi, gue punya alasan tersendiri kenapa gue sebegitu ambisiusnya di sekolah sampai-sampai hampir satu kelas ngejauhin gue. Lo tahu, tiap manusia punya jalan hidup yang berbeda. Ada orang yang gampang banget buat dapetin apa yang mereka mau tanpa perlu bersusah-susah dulu, Atau juga, ada yang kayak gue yang harus mati-matian dulu ngejar apa yang gue mau tanpa tahu apakah gue bakalan dapetin itu atau nggak. Meski kita sebagai manusia lahir dari titik awal yang sama, tapi kenyataannya, titik awal kita beda-beda.” ujar Riv Panjang lebar. Sesekali, ia melirik pada jalanan yang berhenti tiap tiga menit karena lampu merah.

I see. Gue setuju sama lo.” hanya itu yang bisa Giska katakana setelaha mendengar jawaban Riv yang membuat Giska harus berpikir keras.

“Lo tahu, tiap anak tumbuh dari sebuah keluarga. Atau at least, dari sepasang insan yang memang memilih untuk menjaga seorang putra hingga besar nanti. Kebanyakan memebesarkannya dengan cinta mereka yang masih menggebu di awal, hingga ternyata cinta itu lama-lama habis, Gis. Cinta orang tua gue pun begitu. Mereka akhirnya dapat titik terang tentang kejenuhan yang selama ini mereka rasakan. Perceraian.” ujar Riv kembali berbicara. Entah mengapa, walaupun baru kali ini ia dapat berbincang berdua Bersama Giska, ia sudah mempercayai gadis itu.

“Terus, lo gimana?” tanya Giska tak mampu menahan rasa penasarannya.

Riv hanya tersenyum singkat sembari kembali menatap lalu-lalang para pengendara yang kini lumayan sepi dari sebelumnya.

“Ya, gue bisa apa selain menerima? Anak bukan siapa-siapa dalam hubungan rumah tangga orang tuanya. Keputusan penuh ada di tangan mereka. Akhirnya, keputusan tersulit di mana gue harus milih harus tinggal sama siapa. Ya, mereka masih baik banget sama gue, kok, meski akhirnya gue milih tinggal di indekos aja. Sekarang, mereka masing-masing udah jalan di jalur yang berbeda. Begitupun gue. Mereka kini membangun keluarga dengan pasangan mereka masing-masing. Yang gue bisa lakukan ya cuma mendoakan mereka.” ujar Riv.

Walaupun Giska tak pernah merasakan apa yang dirasakan Riv, tapi ia bisa melihat duka Riv yang masih basah lewat tatapan matanya yang mulai mengabur, membendung air mata.

“Terus, gimana perasaan lo sekarang?” tanya Giska setelah pembicaraan mereka berjeda beberapa menit.

“Udah b aja, sih, sekarang. Ya, kadang kalau gue ketemu mereka sama keluarganya masing-masing selalu aja canggung. Walaupun mereka masih tetap baik banget sama gue, tapi gue sadar bahwa mereka udah punya kehidupannya masing-masing. Makanya, gue punya prinsip kalau gue harus dapat beasiswa pas kuliah nanti supaya gue gak usah minta biaya lagi ke nyokap sama bokap.” kata Riv.

Seketika itu pula, Giska kembali terkesima dengan ucapan Riv. Ia harus banyak bersyukur karena orang tuanya masih menjadi sepasang insan yang harmonis di tengah kesibukan mereka yang menjadi-jadi. Giska pun tak perlu susah payah mencari uang untuk biaya kuliah nanti, sebab orang tuanya pasti telah menyediakan segala keperluan Giska untuk masa depannya.

“Kenapa lo cerita ini ke gue, Riv? Padahal kita baru beberapa jam yang lalu mengakrabkan diri.”

“Gue juga gak tahu. Tapi, yang pasti, gue cuma mau ngelonggarin beban yang selama ini gue tanggung.  Gue percaya, lo bisa dipercaya. Gue nyeritain kayak gini, bukan berarti gue gak bahagia. Bahagia tiap orang kan beda-beda, Gis. Mungkin, kebahagiaan gue bukan berasal dari keluarga. Tapi, it’s okay. Gue masih bisa nyari kebahagiaan lainnya. Gue gak peduli omongan orang-orang tentang gue. Gue gak bisa nutup mulut orang-orang yang ngomongin gak enak tentang gue. Yang gue bisa lakuin adalah nutup kedua telinga gue sendiri dan mencoba tetap melangkah. Karena ini impian gue. Asal gue gak ngerugiin orang lain, gue bakal tetep maju.” ujar Riv mantap.

Tak terasa, sudah empat puluh menit berlalu. Giska baru tersadar bahwa es krim titipan Lubna sudah mencair dan mungkin Lubna akan marah pada Giska nanti. Tapi, masa bodoh. Ia mendapat imbalan yang setimpal karena mendengarkan curahan hati Riv selama ini. 

 


2 komentar:

  1. Alya, bisa mulai menulis Bab 1.
    Judul buku bisa dibuat nanti, sambil nulis siapa tahu ada ide.

    BalasHapus

Kumpulan puisi aku dan bumi

Tema: Kesedihan   1.Rindu   Dikala fajar menyingsing Dikala burung bernyanyi Desiran daun tertiup angin Desiran rindu menjadi tangis   Burun...