Minggu, 20 September 2020

The Genius (Rifki M. B)

Nama : Rifki M. Bintang

Judul : The Genius

Genre : Fiksi, Fantasi Ilmiah

THE GENIUS

Teng...teng...teng... Awal tahun ajaran 2020 di Udarana High School telah tiba.
Kai merupakan siswa baru dari kelas 10/7 tersebut, justru tidak menyukai sekolahnya karena sistem yang diterapkan oleh Direktur Sekolah. Memang, sistem tersebut mendapat pro dan kontra dari setiap siswanya. Rata-rata pandangan tersebut muncul dari kelas 10/7 karena provokasi yang bermunculan bahwa mereka terasa disisihkan di sekolah tersebut. Kelas 10/7 tersebut terkenal akan siswa-siswanya yang sering membuat ulah. Banyak sekali karakteristik berbeda beda yang ada di Udarana High School itu, hal yang menarik dari sistem yang dinamakan Wall Class atau Penyekatan Kelas ialah terdapat 7 kelas dan 1 kelas tambahan eksklusif atau biasa disebut The Genius. Siswa yang termasuk The Genius tersebut bebas melakukan apapun yang diinginkannya dan mendapatkan suatu keistimewaan serta pelayanan yang difasilitasi dari sekolah. Untuk menjadi bagian dari kelas itu, seluruh siswa kelas 10 akan melakukan ujian penempatan dimana ujian tersebut dilakukan sekitar pertengahan semester pertama. 
Alasan Kai membenci sekolah tersebut karena kakaknya Han telah menghilang kurang lebih 1 tahun terakhir, tujuan ia bersekolah disana karena ingin mencari tahu apa yang terjadi dan penyebab hilangnya Han. Kai dan Han berbanding terbalik, Han ialah orang yang optimis, pandai serta bijaksana dalam mengambil keputusan. Han juga merupakan salah satu siswa kelas The Genius. Memang Han ini selalu mewakili Udarana High School dalam olimpiade diluar, pantas saja ia merupakan siswa kelas 10/1 dulunya sehingga ia juga dibanggakan di sekolahnya tersebut. Kai meyakini bahwa dalam The Genius kelas ada yang tidak beres, entah mengapa ia pun selalu curiga bahwa penyebab kakaknya hilang berkaitan dengan The Genius.

1 bulan kemudian...
Siswa-siswa dengan penuh kebingungan pandangannya tertuju pada Kai yang dikejar oleh guru kimia, karena ia membawa ponsel di sekolah. Walaupun ponsel boleh digunakan di asrama sekolah tetapi ponsel tidak boleh digunakan maupun dibawa ke sekolah, terutama digunakan. Gery teman lamanya Kai berasal dari kelas 10/2 itu sangat ambisius untuk masuk dalam The Genius, ia terus saja mengajak Kai untuk tidak berbuat ulah dan harus belajar agar dapat bersama berada dalam kelas The Genius.
Gery : “Ini ponselmu, sudahlah berhenti berbuat ulah, belajar saja agar bisa masuk The Genius bersama.”
Kai : “Gery kau terus saja menyuruhku untuk belajar, aku berbeda denganmu. Aku kelas 10/7 gak akan mungkin bisa masuk The Genius.”
Gery : “Coba pikirkan Kai, jika kau masuk The Genius maka gak ada yang berani melarangmu. Kebebasan ada pada dirimu, kau dapat lakukan apa yang kau mau.”
Kai : “Tapi.. Coba kau pikirkan, aku masuk sekolah ini untuk bisa mencari kakakku.”
Gery : “Justru itu, kau bisa mencari kakakmu lebih dari sekarang. Aku dapat membantumu belajar untuk ujian penempatan nanti.”
Kai : “Baiklah kalau begitu, aku akan berusaha.”
Gery : “Nah, jadilah Kai yang dulu. Ayo kembali ke asrama.”

Asrama kelas 10/1 sampai dengan 10/7 memang berada dalam dua gedung yang berhubung, jadi dalam satu kamar terdapat dua orang. Tidak ada pengaturan dalam penempatan kamar tersebut, jadi kebetulan Kai dan Gery berada dalam kamar yang sama.
Kai : “Tidak, Gery bagaimana aku bisa ? sudah 3 hari aku belajar tidak ada yang masuk kedalam otakku.”
Gery : “Kai sudahlah, jangan mengeluh. Tidak apa sulit sekarang tapi dapat kebebasan mendatang.”
Kai : “Kau ini selalu saja bilang seperti itu, aku gak paham dengan tujuanmu.” (kesal Kai).
Gery : “Maklum aku terlalu bersemangat untuk menjadi anggota The Genius.”
Kai : “Tapi kenapa aku tak pernah melihat The Genius kelas 11 dan 12 disekolah ?”
Gery : “Iya juga, tapi aku dengar dengar The Genius angkatan 13 dan 14 itu telah dilatih dalam potensi bidang yang dimilikinya.”
Kai : “Potensi ?”
Gery : “Iya potensi, kau sama sekali gak tau ?”
Kai : “Memangnya potensi apa ?”
Gery : “Entahlah aku juga gak tau lebih jauhnya The Genius, mereka sangat tertutup dan rahasia.”
Hari demi hari Kai mencari jawaban mengenai kakaknya, seperti biasa Kai merasakan reaksi bergejolak pada perutnya, ya ia lapar. Namun, kelas 10/7 masih ada mata pelajaran tambahan sedangkan kelas lain sudah ramai diluar menuju kearah kantin. Kai pun menipu guru dengan alasan pergi ke toilet padahal sebenarnya ia pergi ke kantin. Dalam perjalanannya menuju kantin ia melewati lorong dekat laboratorium kimia, ia melihat bayangan hitam melintas mengendap, karena penasaran ia menghampiri bayangan tersebut. Ternyata itu salah satu murid yang tidak jelas apa tujuannya melakukan itu. Kai pun mengejar murid tersebut sampai akhirnya tertinggal di kantin sebab Kai menabrak seorang siswa dari kelas 10/1, Tara namanya.
Tara  merupakan siswa kelas 10/1 yang banyak digemari siswi di sekolah karena kepandaiannya dibidang matematika dan sains. Selain itu, Tara juga mulai mengikuti olimpiade-olimpiade untuk mewakili sekolahnya. Hal itu mengingatkan Kai kepada Han, kakaknya. Namun Tara berbanding terbalik dengan Han, meskipun sama-sama cerdas dan berbakat, Tara lebih dingin dan acuh baik kepada teman sekelasnya maupun orang lain.
Tak ada yang mengetahui kenapa Tara bisa seperti itu, yang jelas Tara juga sangat tidak suka dengan sistem yang dibuat Direktur Sekolah, tapi Tara sangat menginginkan dirinya untuk dapat masuk program The Genius. Ambisi yang kuat dan optimis yang hebat membuat Tara semakin yakin ia bisa, sehingga ia sangat meremehkan orang-orang disekitarnya.
Tara : “Woi, perhatikan langkahmu !” (tegas Tara).
Kai : “Ya, maap tadi aku sedang terburu-buru. Kau tidak apa-apa ?”
Tara : “Tidak apa-apa bagaimana, lihat makananku jatuh semua.” (bentak Tara)
Kai : “Kan aku sudah minta maap kenapa kamu mengotot sekali ?” (balas Kai)
Tara : “Oh... Anak kelas 10/7 (melihat pin yang ada di baju Kai), ini bukan tempatmu !”
Gery : “Kai ada apa ?”
Kai : “Diam Gery ! Ini urusanku dengan si mata empat ini.”
Tara : “Beraninya kau, lagipula kelasmu belum istirahat mengapa kamu sudah ada disini ? Guru, guru, guru.” (teriak Tara).
Kai : “Diam, diam woi.”
 
Kai pun segera mungkin berlari dengan menarik Gery dan menjelaskan semua yang terjadi agar tidak ada kesalahpahaman karena ia sempat membentak Gery tadi. Tapi Gery justru menyalahkan Kai, mengapa ia malah kabur dari kelas dan berada di kantin wilayah 10/1 tersebut. Kai pun bertanya kepada Gery siapakah Tara itu ? Mengapa dia bisa begitu?
Dengan apa yang diketahui Gery mengenai Tara, ia menjelaskan panjang lebar kepada Kai agar dia tidak terus bertanya kepadanya. Tapi semakin dijelaskan semakin banyak pertanyaan yang muncul di pikiran Kai. Gery yang tidak mengetahui rencana apa yang akan dilakukan Kai sudah tidak peduli kepada Kai. Bagaimana bisa setiap hal aneh dilakukan Kai selalu membuat Gery dalam situasi sulit, apalagi Tara ini merupakan siswa kelas 10/1 yang sulit untuk dikalahkan. 
“Sudahlah Kai, kau tidak cape apa ?” ucap Gery membujuk Kai agar tidak melakukan hal yang aneh. Tapi tanpa ucapan sepatah kata, Kai justru meninggalkan Gery sendiri. Gery dengan khawatir dengan apa yang akan Kai perbuat, kemudian mengikuti Kai dengan diam-diam. “Gery sudahlah katanya kau sudah lelah, tapi justru kau mengikutiku.” (ucap Kai).
Karena Kai mengetahuinya Gery pun keluar dan menghampiri Kai dengan malu. Saat bertanya pada Kai, tentang apa yang akan dia lakukan. Kai mengatakan pada Gery bahwa ia akan mendatangi Tara. Kai menunggu Tara didepan kelas 10/1, ketika bel bunyi Tara datang menuju kelasnya namun dihentikan oleh Kai. Perdebatan terjadi diantara mereka, situasi semakin sengit, mereka mencari celah kekalahan lawannya dalam berdebat. Lama waktu berlalu mereka berdebat, Kai justru menantang Tara dengan perjanjian konyol. 
Mereka mengatakan mengenai The Genius, dengan sanksi bahwa yang kalah harus melakukan apa perintah pemenang. Jika Tara menjadi salah satu The Genius, Kai akan melayaninya 7 x 24 jam untuk Tara, sedangkan Kai mengatakan jika ia dapat menjadi The Genius Tara harus membantunya dalam mencari tahu dimana kakaknya berada dan berusaha mengubah sistem Direktur Sekolah.
Waktu ujian penempatan dilakukan pekan depan, tapi Kai bingung apakah ia akan berhasil menjadi The Genius atau tidak. Itu menjadi bahan olok-olokkan Gery kepada Kai. “Suruh siapa mau menantang Tara yang dikenal pintar tersebut, mengeluhkan akhirnya. Siap-siap menjadi asisten Tara haha.” (ejek Gery). Kai menghiraukan apa yang diucapkan Gery dan ia tetap melanjutkan belajarnya demi mengalahkan Tara.

Waktu ujian penempatan hanya tinggal seminggu lagi, namun Kai tidak yakin dengan perolehannya kini. Hasil dari belajarnya benar-benar tidak masuk di otak, Kai lalu bertanya pada Gery, apakah ada hal yang dapat dilakukan agar  bisa memahami apa yang dipelajarinya. Bukan jalan keluar yang diberikan Gerry, justru ia malah mengolok-olok Kai lagi.
Entah terbesit dari mana, Gery mempunyai ide untuk mengambil kertas yang akan dijadikan soal ujian penempatan besok. Sementara tak ada pilihan lain yang Kai dapat lakukan. Akhirnya mereka memutuskan untuk merencanakan pengambilan soal sebelum ujian penempatan dimulai.
Mereka memikirkan strategi yang akan mereka lakukan, baik memperhatikan tempat yang akan menjadi target mereka, serta keamanan yang mengawasi tempat tersebut. Usut punya usut, Gery mengetahui tempat yang akan menjadi penyimpanan soal ujian penempatan tersebut, yaitu di perpustakaan lantai kedua dekat dengan area penghargaan The Genius. Dimana area tersebut menyimpan semua perolehan para siswa The Genius itu. 
Tiga hari sebelum ujian penempatan pada malam harinya, Kai dan Gery pergi kesana untuk mengambil soal ujian tersebut. Sesampainya disana banyak sekali penghargaan yang diperolehan para The Genius termasuk Han, kakak Kai. Disana banyak foto dan penghargaan yang diraih oleh Han sebelum menghilang. Disana juga terdapat buku The Genius yang berisi data seluruh siswa The Genius angkatan 1-14 itu, namun Kai menghiraukannya karena sekarang ia harus dapat masuk dalam program The Genius tersebut agar selanjutnya lebih mudah untuk mengetahui apa yang terjadi pada Han.
Tak disangka setelah mereka akan mengambil soal tersebut, ada yang menghampiri mereka, ternyata itu ialah Direktur Sekolah. Mereka dengan sigap mencari tempat untuk sembunyi sehingga dirasa untuk mengambil soalpun tak mungkin bisa, kecuali mereka dapat menghafalnya. Direktur Rana pun tiba disana dan merasa bahwa ada orang lain di lantai dua tersebut. Ternyata Direktur Rana mengetahui adanya Kai dan Gery dibalik sebuah kardus besar.
Namun entah apa yang direncanakan Direktur Rana, justru ia hanya tersenyum dan segera meninggalkan perpustakaan tersebut. Di rasa telah aman akhirnya, Kai dan Gery keluar dari persembunyiannya dan melanjutkan menghafalkan soal ujian penempatan itu. Sampai larut mereka disana, tak disangka hadir seorang siswi bernama Tyra yang melihat mereka berdua memegang soal tersebut.
Tyra pun segera menghampiri mereka dan menanyakan alasan mengapa mereka melakukan perbuatan itu. Gery menjelaskan semuanya dan Kai mengatakan bahwa itu salah dia bukan Gery serta mempersilahkan jika Tyra mengatakan kepada Direktur Sekolah. Tyra pun menyatakan bahwa ia tidak akan mengatakannya kepada siapapun terutama Direktur Sekolah dan Tara, yang juga teman sekelas Tyra. Ya, Tyra berasal dari kelas 10/1 tersebut merupakan gadis berkacamata yang cantik. Ia juga termasuk siswa pandai dan gemar akan pelajaran fisika. Memang selama ini ia gemar fisika, yang menjadikannya ia datang selarut ini ke perpustakaan karena tidak lama lagi akan ada olimpiade fisika sehingga ia harus meminjam buku ke perpustakaan, namun ia lupa untuk mengambilnya, karena itu ia mengambil buku pada saat larut.
Kai bertanya pada Tyra, apakah ia sangat ingin masuk dalam program The Genius tersebut. Tyra pun terus terang kepada Kai dan Gery disana, bahwa Tyra memang sangat ingin masuk program The Genius tersebut tetapi ia lebih suka fisika jadi untuk persiapan ujian penempatan ia telah siap, walaupun hanya berbekal pelajaran yang disampaikan pada saat jam pelajaran.
Kai menatap fokus pada satu buku yang seperti membuatnya tertarik untuk mengambilnya. Setelah dibuka ternyata itu adalah buku sejarah mengenai Udarana High School. Ada satu hal yang membuat Kai terheran-heran yaitu, direktur juga merupakan siswa Udarana High School dan pencetus dari program The Genius ini. Karena hal ini, banyak pertanyaan yang muncul di kepala Kai untuk dapat mencari tahu semua ini.
Tak lama mereka berbincang, tibalah keamanan sekolah yang berkeliling menghampiri mereka, segera mungkin mereka berlari keluar dan berhasil melarikan diri dari keamanan sekolah. 
Hari Ujian Penempatan....
Hari ujian penempatan telah tiba, akhirnya seluruh siswa dihadapkan pada ujian penempatan ini, untuk dapat menjadi salah satu siswa The Genius. Tidak ada yang aneh pada awalnya hingga ketika ujian berlangsung terdapat kejanggalan pada soal ujian penempatan tersebut. Kai yang menghafalnya dibuat kaget karena soal itu tidak ada pada ujian penempatan ini, yang ada hanya teori-teori dan dasar pelajaran yang ada dalam pelajaran sekolah. Tanpa curiga ia mengerjakannya dengan teliti, namun ia masih terheran-heran karena benar diluar akal mengapa bisa seperti ini.
Hingga pada pertengahan waktu ujian penempatan, speaker setiap ruangan mengeluarkan suara yang tidak jelas dan menyakitkan untuk didengar. Kai yang mendengar suara itu merasakan sakit dan panas di kepalanya. Tapi ada hal yang disampaikan yaitu untuk mengisi dibagian belakang kertas tersebut mengenai apa itu teori Darwin?. Dalam salah satu teori Darwin dijelaskan bahwa manusia dapat menjadi istimewa karena sel yang berada di otaknya dapat diaktifkan. Yaitu anak berbakat yang mempunyai keunggulan diluar kemampuan manusia dengan tingkat kecerdasan tinggi diatas kemampuan anak normal.
Alhasil Kai mengisi semampunya, Kai pun bertemu dengan Gery dan menanyakan tentang apa yang didengarnya pada saat ujian penempatan tadi. Namun, Gery tidak mendengar apapun dan tidak ada sesuatu terjadi pada saat ujian. Kai pun merasa heran karena, hanya dia seorang yang mendengar suara itu dikelasnya dan Gery pun tidak mendengar suara apapun.
Satu hari berselang, pengumuman hasil ujian penempatan tersebut pun diumumkan. Kai yang bertemu Tyra didepan papan pengumuman tersebut mendapat ucap selamat dari Tyra karena ia masuk pada program The Genius. Kai pun dibuat kaget dan langsung melihat pengumuman tersebut, ternyata hanya Kai berasal dari kelas terbawah yang menjadi siswa The Genius selebihnya hanya siswa kelas 10/1 dan 10/2. Kai langsung mencari nama Gery namun tidak ada, ternyata Gery tidak masuk pada program The Genius ini. Kai melihat nama Tyra dan Tara muncul juga pada program The Genius.
Program The Genius angkatan ke 15 ini berisikan hanya 10 orang, sesudahnya pelajaran kelas masing-masing selesai. The Genius berkumpul di kelas dengan dibimbing Pak Pom yang juga sebagai wali kelas The Genius. Dijelaskanlah bahwa ternyata tidak semua murid yang dapat mendengarkan suara tersebut, melainkan hanya The Genius saja. Dan karena suara tersebut mengaktifkan sel yang ada di otak The Genius, artinya mereka akan mendapatkan potensi sesuai diri mereka masing-masing. Tetapi sebelum mendapatkannya mereka harus bekerja keras dan berusaha untuk mengetahui potensi mereka apa.
Tak disangka The Genius yang dapat mengetahui potensinya ialah Tara, ia dapat meretas alat komunikasi apapun, seperti laptop yang dapat dikendalikan dari kejauhan hanya dengan ia harus menyentuhnya terlebih dahulu. The Genius dibuat kagum karena Tara dengan cepat dapat mengetahui potensinya dan memperlihatkan kepada semuanya.
Pak Pom kemudian berpesan “Walaupun kalian telah memiliki potensi bukan berarti kalian menjadi manusia super, tetapi terdapat juga kelemahan disetiap potensinya. Kalian masih manusia biasa dan akan tetap menjadi manusia biasa, namun bedanya dengan yang lain ialah kalian mendapatkan keistimewaan tersendiri. Karena itu tidak boleh diluar The Genius yang mengetahui apa The Genius sebenarnya.” (Ucap Pak Pom). Kemudian seluruh The Genius mendapat pin The Genius yang diberi oleh Pak Pom sebagai simbol bahwa mereka adalah The Genius.
Kai berpikir, berarti Han juga mempunyai sebuah potensi. Semakin jauh pemikirannya dan semakin sulit juga ia harus memecahkan semua ini. Tara pun menatap tajam pada Kai dengan maksud menyombongkan diri karena ia telah mengetahu potensinya.
Setelah kembali ke asrama terlihat Gery kesal pada Kai, mengapa Kai bisa masuk The Genius sedangkan ia tidak bisa. Itu berarti Kai pun harus berpisah asrama dengan Gery, karena untuk The Genius sendiri terdapat asrama khusus perorangan siswa The Genius. Gery sangat kesal pada Kai, sampai Kai pun tidak dianggap dan dihiraukan saja oleh Gery tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Esok harinya Kai berpamitan kepada Gery meski Gery acuh padanya, ia menjelaskan bahwa ini tidak sesuai ekpektasinya, justru Gery berontak kepadanya sehingga mereka dipanggil ke ruangan peradilan siswa. Setiap permasalahan pada siswa, peradilan siswa merupakan tempat untuk menyelesaikan semua permasalahan tersebut. Peradilan siswa ini diatur oleh Bu Ladda, karena Kai seorang The Genius maka Kai tidak disalahkan pada kasus ini, ia juga dapat didampingi oleh Pak Pom selaku wali kelas The Genius. 
Justru karena ini Gery merasa ketidakadilan pada dirinya, oleh karena itu ia berontak sampai memukul Kai untuk kedua kalinya, tidak sampai disitu ia pun mengolok-olok The Genius sebagai program pembodohan dan ketidakadilan pada siswa lain. Pak Pom dan Bu Ladda pun melerai ini semua dan membawa Gery menjauhi Kai.
Kai berpikir karena program ini, ia kehilangan semuanya. Kakaknya, sahabatnya dan seluruh hidupnya menjadi sulit, ia berjanji akan menghentikan program ini. Karena Kai juga merasa ketidakadilan untuk siswa lain, “Ini semua seperti yang aku rasakan pada saat berada di kelas 10/7.” (Ucap Kai dalam hatiya).
Kai beranggapan harus mencari jalan keluarnya untuk semua ini, namun ia belum memiliki bukti yang kuat, sehingga ia berpikir bahwa ia harus berusaha keras untuk mengetahui potensinya agar dapat mengalahkan Direktur Rana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kumpulan puisi aku dan bumi

Tema: Kesedihan   1.Rindu   Dikala fajar menyingsing Dikala burung bernyanyi Desiran daun tertiup angin Desiran rindu menjadi tangis   Burun...