PROLOG
Hidup dalam perasaan sunyi ditemani dengan derasnya air hujan di malam
gelap, yang membuat rindu akan kehadiran seseorang yang membuat hidup menjadi
berwarna. Setelah mengisi hari-hari bersama sangat lama, dia mendadak pergi
hilang begitu saja tidak ada kabar yang membuat sosok Liera merasa kesepian dan
membuatnya berubah.
Drrsss. Suara hujan yang bergemuruh.
“Gue minta maaf ya Ra, gue harus pergi.”
“Kenapa minta maaf? Emang lo mau pergi kemana?”
Rein pun meninggalkan Liera sendiri di Halte Bus, tanpa menjawab
pertanyaan Liera. Liera mencoba untuk menahan emosi dan tidak menangis, tapi
apa daya Liera tidak sanggup untuk menahannya. Liera pun sangat kesal sehingga
ia berteriak sangat kencang.
“Aaaahhhhhhhhh.”
Terikan yang sangat keras membuat Liera merasakan sedikit tenang, namun
tidak bisa untuk menghentikannya.
Begitu banyak lika liku dalam kisah mereka yang membuat Liera harus
merelakan kepergiannya, walaupun dia tahu dampak akhirnya jika mereka bersama
yang pada akhirnya akan terluka dan akan di pisahkan dengan waktu dan jarak
yang membuat Liera tidak bisa melupakan dia, dan selalu ia rindukan
***
07.00
SMA Angkasa.
Dibawah sinar matahari pagi para murid-murid
dan guru-guru berkumpul di lapang untuk upacara. Para murid-murid mengenakan
pakaian bersih dan rapih, guru-guru yang ternyesum ramah membuat hari semakin
berwarna. Upacara pun selesai.
Queen Bees.
Kumpulan para girls yang jago banget bikin
kaum Adam tidak bisa mengalihkan pandangannya sama sekali. Queen Bees bukan
hanya perkumpulan biasa yang suka malakin, tapi mereka terkenal dengan ke
ramahannya dan sifat orang-orang nya yang membuat berbeda dari geng yang lain. Queen
Bess terkenal karena orang-orang yang sangat cantik, pintar, kaya tapi
tidak sombong, gentle dan memesona. Yah gak semuanya se-perfect itu,
tetep aja ada yang lemot sama bawel kalau lagi pada ngobrol.
"Tes, tes, 1 2 3 tes" Suara guru yang sedang mengecek microphon.
“Ngomong-ngomong pengumuman kelas kapan ya kok lama banget? Panas nih,
serasa lagi di jemur aja.” Tanya Nadira.
“Ya tunggu aja sih apa susahnya Nad.” Jawab ketus Nessa.
“Ya ampun itu sifat julid lo ngak ilang-ilang ya?” Sahut Farha dengan
penuh pengertian.
“Udah-udah, itu kan memang sifatnya Nessa kaya gitu jadi gak usah heran
lagi lahh kalian ya.” Ucap Liera.
“Tapi tumben banget hari ini si Azfa ngak ngegaring kaya biasanya?”
Tanya Nadira penasara.
“Ya mungkin dia lagi nyari bahan buat ngegaringnya,wkwk” Sahut Farha.
“Hayoo!! Kalian nungguin yaa?”
“Dih siapa juga yang nungguin kamu Fa.” Jawab Nessa.
“Udah-udah jangan berisik dulu itu mau dimuali pengumuman nya, kalian
simak baik-baik.” Ucap Farha.
Dan pembagian kelas pun diumumkan, setelah
mereka menyimak pengumuman terssebut
mereka sangat gembira karena mereka di satu kelas sama. Setelah lima
menit kemudian, bel sekolah pun berbunyi yang tandanya kelas akan masuk. Begitu
mendengar suara bel mereka buru-buru lari masuk ke dalam kelas karena mereka
harus mencari tempat duduk yang bersampingan agar mempermudah mereka untuk
saling berkomunikasi, setelah mereka mendapatkan tempat duduk yang
bersampingan, walaupun dijajaran ke dua mereka tetap bahagia yang penting
selalu bersama.
Wali kelas pun masuk untuk bimbingan kelas,
bimbingan kelas tersebut digunakan untuk perkenalan dan menentukan diagram
kelas. wali kelas mereka bernama Ibu Meisya, yang mereka panggil dengan sebutan
Ibu Mei. Setelah perkenalan dan diagram kelas selesai, Ibu Mei pun mengumumkan
diagram tersebut.
“Ibu akan mengumumkan diagram kelas kalian yang baru saja dibuat,
dengarkan baik-baik ya?” Tanya Ibu Mei.
“Baik ibu.” Jawab serentak satu kelas.
“Untuk ketua kelas kita yaitu Arfan Sya, untuk wakilnya ada Liera
Ardiana Alam, sekretaris ada Farha Putri dan bendara kita Nessa Ifani. Semoga
nama-nama tersebut bisa bertanggung jawab dengan baik dan benar ya.”
“Aminnn, terimakasih Ibu”
Bimbingan kelas pun selesai, Ibu Mei pun
pamit untuk keluar kelas. Mereka bersama teman-teman barunya sangat ramah
bahkan mereka mengobrol satu sama lain dan berkenalan.
“ Hei gue Rein, nama lo siapa?”
“Ah iya, nama gue Liera.”
“Gue Nadira, sahabatnya Liera.”
“ Ah iya, salam kenal.”
“Ra, lo ngak mau kenalin kita ke dia?”
“Ah iya maaf gue lupa Nes. Oh iya Rein kenalin ini temen-temen gue, ada
Farha, Azfa, dan Nessa.”
“Ahh iya, salam kenal semuanya.” Sapa Rein.
“Hei ada apa nihh, gabung dong. Kenalin gue Arfa.”
“Boleh, gue Liera, ini temen-temen gue”
“Ah iya gue udah tau kalian siapa, tadikan Ibu Mei bilang”
“Ahh ingetan lo bgus juga yaa Fan.”
“Gak lah biasa aja Rein.”
Banyak yang mereka bicarakan sehingga
mereka tidak sadar jam pertama akan dimulai. “Heii kalian cepet balik ke tempat
duduknya masing-masing, jam pertama mau di mulai tuh.” Ucap Farha. Mereka pun
kemabli ke tempat duduknya masing-masing. Pelajaran pertama dimulai dengan
pelajaran matematika, guru matematika yang bernama Bu Mariska menjelaskan
materi dan diakhir dengan tugas kelompok. Setelah pelajaran Bu Mariska selesai
Queen Bess berkumpul kembali.
“Baru aja pertama masuk udah ada tugas lagi, ya matematika lagi
hadehhh.” Ucap Azfa.
“Yaudah si gapapa, ada Liera ini kan dia suka banget sama pelajaran
ini.” Jawab ketus Nessa.
“Eh tapi satu kelompok kan harus ada tujuh orang, sedangkan kita ada
lima orang berti kurang dong?”
“Ya enggak lah Nad, kan gue sama Arfan ada jadi gue bakal satu kelompok
bareng kalian, gimana boleh gak?” Jawab Rein yang datang menghampiri.
“Nah berati udah pas ya buat kelompok, sekarang tinggal nyari tempat
buat ngerjainya.” Ucap Farha.
“Gimana kalau di rumah lo aja Ra?”
“Nah iya gue setuju sama ide lo Az.” Jawab Nessa.
“Yaudah entar gue bilang ke Mami gue.”
“Sip.” Jawab mereka serentak.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu membuat para
murid-murid kelas X- IPA 8 kembali duduk pada tempatnya masing-masing. Aura
guru bahasa Inggris yang sangat serius mempuat satu kelas hening tidak ada yang
berani untuk mengucapkan satu kata pun. Sampai pelajaran pun selesai dan tiba saatnya untuk istirahat.
BRUK!
Rein merapikan buku diatas mejanya sangat keras, seolah dia sangat benci
pelajaran yang baru selesai. Rein melangkahkan kakinya untuk menghampiri meja
Arfan yang duduk dua bangku ke depan dari tempat duduknya. Setelah Rein dan
Arfan bersama mereka berjalan bersama ke tempat Liera dan kawan-kawan nya yang
sedang duduk, dan mengajak ke kantin bersama.
“Haii para nona.” Ucapan yang keluar dari mulut Rein membuat Arfan
memilik pertanyaan kepada Liera dan teman-temannya.
“Oh iya, gue perhatiin kalian dari tadi pagi barengan terus, kalian udah
kenal dari SMP?”
“Iya kita udah kenal dari SMP, malahan SD Fan.” Jawab Azfa.
“Hmmm pantes.”
“Ohh iya kalau lo sama Arfan gimna, kaya udah akrab dari lama?” Tanya
Liera.
“Kita si emang tetanggaan, terus dari SD satu sekolah plus satu kelas
terus. Udah bosen si Ra tapi ya udah takdir ya gapapa dehh.” Jawab Rein.
“Oh iya, kita juga punya nama kumpulan sendiri tau bukan geng para nona
yang lo sebut Rein.” Ucap Nessa.
“Terus apa dong namanya, jangan judes gitu napa si Nes?”
“Nama kita tuh Queen Bees tau” Jawab Nessa.
“Iya iya deh Queen Bees”
Jawab Rein.
“Yaudah ke kantin yuk, gue laper nih” Ajak Nadira.
“Yok!” Jawab serentak.
Mereka pun bergegas ke Kantin sambil
ngobrol-ngobrol dan terwawa bersama. terlihat persahabatan yang sangat
harmonis. Mereka pun tiba di Kantin sekolah.
Tongsis.
Nama Kantin yang diambil dari singaktan
Tongkrongan siswa/siswi SAM Angkasa. Kantin yang sangat ramai dan penuh ini
membuat mereka kesulitan mencari tempat duduk.
“Ra. Gimna penuh nih gue jadi males.”
“Sama Nes gue juga males, mending bawa bekel ada dari rumah tau gini.”
“Eh disana kosong tu Ra!” Ucap Farha.
“Dimana Far?”
“Disana, ayok buruan biar ga ditempatin orang!” Kata Farha yang
buru-buru menujuk.
“Yaudah serahin ke gue sama Rein aja.” Sahut Arfan sambil memgang bahu
Rein.
Akhirnya setelah mencari tempat duduk
mereka pun dapat, dan untungnya temat duduk mereka itu tidak jauh dari si Ibu
kantin. Karena waktu istirat pertama mereka terbatas, mereka memutuskan memesan
minuman saja karena akan memakan waktu untuk memesan makanan. Setelah pesanan
mereka pun tiba, mereka kembali mengobrol dan membahas tugas kelompok.
“Oh iya Ra, lo udah bilang belum ke Mami lo?” Tanya Arfan yang duduk
depan Liera.“Ini baru mau gue bilang ke Mami Fan.” Jawab Liera.“Oh oke kalau
gitu.”
Intercut – Percakapan telepon.
Liera: Halo Mi.
Mami; Iya, kenapa Ra?
Liera: Gini Mi. Tadi waktu pelajaran pertama ada tuga kelompok, nah
temen Liera minta ngerjain di rumah Liera, boleh ga Mi?
Mami: Iya boleh Ra, ebtar Mami biang ke Bu Inah buat masakin cemilan.
Liera; Oke Mi, makasih ya.
Mami: Iya, sama-sama sayang.
Liera pun menutup panggilan itu, dan
memberitahukan kepada teman-temannya.“Hei, kata Mami gue boleh dan Mami gue
udah bilang ke orang rumah buat bikini cemilan.” Ucap Liera pada
teman-temannya.
“Oke kalau gitu bagus Ra, entar tinggal kita beli bahan-bahan kelompok
aja kan Ra?”
“Iya Fan.”
Kring, kring, kring.
“Yaelah udah bunyi aja tuh bel.” Ceplos Nessa yang baru meminum
minumannya.
“Yang sabar ya Nes, yuk kita balik ke kelas.”
“Yauadh ayok Az.”
Mereka
pun akhirnya balik ke kelas. Setelah tiba di kelas mereka kembali balajar
hingga isirahat kedua atau jam makan siang. Queen Bees dan Arfan itu
memutuskan diam kelas karena mereka malas untuk pergi ke kantin yang sangat
penuh dan ramai cuman membuang-buang waktu untuk mencari tempat duduk di
kantin. Dan Rein yang serasa lapar memutuskan untuk pergi ke kantin karena para
cacing di perutnya tidak bisa menahan.
“Aahhh. Gue males banget ke kantin.” Ucap Nessa.
“Ya! Gue juga males ke kantin yang penuh dan ramai itu Nes” Jawab Azfa.
“Kalian yakin gak bakal ke kantin buat makan siang, kalau gitu gue aja
sama Arfan yang ke kantin gimna Fan?”
“Lahh lo aja sendiri yang pergi, gue males tau, disana gerah tau Rein.”
Ucap Arfan.
“Yaudah kalau gitu gue sendiri aja kesana nya. By the way kalian
mau pada nitip cemilan atau minuman gak? Lagi baik nih.”
“Kita nitip minum aja ya yang seger, setuju gak?” Jawab Liera.
“Setuju Ra.” Jawab Azfa.
“Oke kalau gitu gue pergi ke kantin dulu. Bye.” Pamit Rein.
Rein melangkahkan kakinya keluar kelas.
Kelas demi kelas ia lewati, setelah tiba di kantin ia kaget krena keadaan
kantin lebih penuh dan ramai daripada sebelumnya. “ Ahhh. Tau gitu gue ga pergi
ke kantin kalau penuh sama rame begini.” Ucap Rein yang bicara sendiri.
Tapi, demi cacing yang di perutnya ia
pun memakasakan membeli makanan dan pesanan teman-temannya. Setelah Rein seleai
ia pun langsung bergegas kembali ke kelas untuk memakan makanannya dan
memberikan pesanannya kepada teman-temanya.
Tuk tuk tuk.
Suara langkah Rein yang mendekat ke meja
Liera sambil membawa makanan dan pesananya untuk diberikan kepada
teman-temannya.
Bruukk!
Rein menyimpan makanan dan camilannya
diatas meja Liera.dan ia pun mengeluh pada teman-temannya itu.
“Ahhh. Ternyata lebih baik diem di kelas aja bareng kalian daripada
harus ke kantin.” Ucap Rein yang mengoceh.
“Ya suruh siapa?” Jawab ketus Nessa.
“Ya habis gue laper Nes.”
“ Heii, ini minuman apa ko aneh sih rasanya.” Tanya Nadira yang telah
mengambil dan meminum minumannya.
“Aneh kenapa Nad?” Tanya Farha.
“Ini nih Far minumannya pait banget.”
“Yaudah tinggal liat gue aja Nad, entar bakalan manis ko,wkwkwk.” Canda
Azfa.
“Dih aapaan si Az garing tau.” Jawab Nadira yang kesal kepada Azfa.
“Hahahahaha.”
“Ihh ko ketawasih Ra?”
“Gak papa cuman lucu aja gitu,
itukan minuman gue Nad.” Ucap Liera
“Yahhh gue salah minum dongg.”
Tiba-tiba mereka hening sejenak dan tak
lama mereka tertawa kembali sembari terbahak-bahak karena ulah Nadira yang
tidak melihat tulisan minumnya tersebut.
HAHAHAHAHA.
“Heh Nad, itu kan ada tulisan nama minumannya di botol masa lo gak liat
sih?”
“Eh iya ya Nes. Gue galiat kalau ada tulisan di botolnya.”
“HAHAHAHA.” Mereka tertawa kembali bersama.
16.15
Kring, kring, kring. Bel pulang sekolah pun
berbunyi, mereka langsung bergegas keluar untuk membeli bahan-bahan untuk kerja kelompok. Mereka membeli di tempat
yang tidak jauh dari sekolah kurang lebih 25 meter , yah bisa di bilang tempat
itu koperasi sekolah yang jaraknya
lumayan agak jauh kalau jalan kaki. Setelah mereka selesai membeli bahan-bahan,
mereka langsung bergegas ke rumah Liera. Karena dari koperasi ke rumah Liera
jaraknya agak jauh tetapi bisa memotong jalan maka mereka memutuskan pergi
dengan berjalan kaki.
Setelah mereka
berjalan kurang lebih selama 15 menit akhirnya mereka tiba di rumah Liera yang sangat
besar dan gerbang hitan yang sangat tinggi. Mereka menunggu di depan gerbang
karena belum dibuka oleh orang rumah, tidak lama orang rumah membuka gerbang
rumah Liera yang tinggi dan hitam yang berkesan klasik. Mereka pun langsung
masuk ke rumag Liera dan diajak ke balkon yang di luar kamar dan di lantai atas
oleh Liera.
“Wahhh Ra. Rumah
lo ga pernah berubah ya, setiap kerja kelompok pasti di ajak ke balkon yang
deket kamar lo.” Ucap Nadira.
“Ya habisnya
tempat ini yang paling gue suka kalau lagi nerjain tugas Nad.”
“Yaudah kita
kerjain aja langusng yuk biar cepet beres?” Ucap Arfan sembari mengeluarkan
bahan-bahannya.
“Yaudah ayo, gue
kebawah dulu.” Ucap Liera sembari jalan menuruni tangga.
Tak lama kemudian
Liera kembali dan bergabung mengerjakan tugas tersebut. Lima menit berjalan
sudah dan Bu Inah pun datang membawa cemilan dan minuman untuk mereka. “Neng
Liera ini cemilan sama minumannya.” Ucap Bu Inah sembari menletakan nampan
diatas meja. “Trimkasih Bu Inah.” Ucap mereka semua kepada Bu Inah.
Mereka pun mengerjakan kembali sembari memakan cemilan yang dibuakan oleh Bu Inah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar