Minggu, 20 September 2020

ARLIERIN - Bintang fauziah

Kerangka 
Judul    : ARLIERIN (sementara)
Gendre : Fiksi/Teen
1. Prolog
2. SMA Angkasa

PROLOG

Hidup dalam perasaan sunyi ditemani dengan derasnya air hujan di malam gelap, yang membuat rindu akan kehadiran seseorang yang membuat hidup menjadi berwarna. Setelah mengisi hari-hari bersama sangat lama, dia mendadak pergi hilang begitu saja tidak ada kabar yang membuat sosok Liera merasa kesepian dan membuatnya berubah.

Drrsss. Suara hujan yang bergemuruh.

“Gue minta maaf ya Ra, gue harus pergi.”

“Kenapa minta maaf? Emang lo mau pergi kemana?”

Rein pun meninggalkan Liera sendiri di Halte Bus, tanpa menjawab pertanyaan Liera. Liera mencoba untuk menahan emosi dan tidak menangis, tapi apa daya Liera tidak sanggup untuk menahannya. Liera pun sangat kesal sehingga ia berteriak sangat kencang.

“Aaaahhhhhhhhh.”

Terikan yang sangat keras membuat Liera merasakan sedikit tenang, namun tidak bisa untuk menghentikannya.

Begitu banyak lika liku dalam kisah mereka yang membuat Liera harus merelakan kepergiannya, walaupun dia tahu dampak akhirnya jika mereka bersama yang pada akhirnya akan terluka dan akan di pisahkan dengan waktu dan jarak yang membuat Liera tidak bisa melupakan dia, dan selalu ia rindukan

***

07.00

SMA Angkasa.

Dibawah sinar matahari pagi para murid-murid dan guru-guru berkumpul di lapang untuk upacara. Para murid-murid mengenakan pakaian bersih dan rapih, guru-guru yang ternyesum ramah membuat hari semakin berwarna. Upacara pun selesai.

Queen Bees.

Kumpulan para girls yang jago banget bikin kaum Adam tidak bisa mengalihkan pandangannya sama sekali. Queen Bees bukan hanya perkumpulan biasa yang suka malakin, tapi mereka terkenal dengan ke ramahannya dan sifat orang-orang nya yang membuat berbeda dari geng yang lain. Queen Bess terkenal karena orang-orang yang sangat cantik, pintar, kaya tapi tidak sombong, gentle dan memesona. Yah gak semuanya se-perfect itu, tetep aja ada yang lemot sama bawel kalau lagi pada ngobrol.

"Tes, tes, 1 2 3 tes" Suara guru yang sedang mengecek microphon.

“Ngomong-ngomong pengumuman kelas kapan ya kok lama banget? Panas nih, serasa lagi di jemur aja.” Tanya Nadira.

“Ya tunggu aja sih apa susahnya Nad.” Jawab ketus Nessa.

“Ya ampun itu sifat julid lo ngak ilang-ilang ya?” Sahut Farha dengan penuh pengertian.

“Udah-udah, itu kan memang sifatnya Nessa kaya gitu jadi gak usah heran lagi lahh kalian ya.” Ucap Liera.

“Tapi tumben banget hari ini si Azfa ngak ngegaring kaya biasanya?” Tanya Nadira penasara.

“Ya mungkin dia lagi nyari bahan buat ngegaringnya,wkwk” Sahut Farha.

“Hayoo!! Kalian nungguin yaa?”

“Dih siapa juga yang nungguin kamu Fa.” Jawab Nessa.

“Udah-udah jangan berisik dulu itu mau dimuali pengumuman nya, kalian simak baik-baik.” Ucap Farha.

Dan pembagian kelas pun diumumkan, setelah mereka menyimak pengumuman terssebut  mereka sangat gembira karena mereka di satu kelas sama. Setelah lima menit kemudian, bel sekolah pun berbunyi yang tandanya kelas akan masuk. Begitu mendengar suara bel mereka buru-buru lari masuk ke dalam kelas karena mereka harus mencari tempat duduk yang bersampingan agar mempermudah mereka untuk saling berkomunikasi, setelah mereka mendapatkan tempat duduk yang bersampingan, walaupun dijajaran ke dua mereka tetap bahagia yang penting selalu bersama.

Wali kelas pun masuk untuk bimbingan kelas, bimbingan kelas tersebut digunakan untuk perkenalan dan menentukan diagram kelas. wali kelas mereka bernama Ibu Meisya, yang mereka panggil dengan sebutan Ibu Mei. Setelah perkenalan dan diagram kelas selesai, Ibu Mei pun mengumumkan diagram tersebut.

“Ibu akan mengumumkan diagram kelas kalian yang baru saja dibuat, dengarkan baik-baik ya?” Tanya Ibu Mei.

“Baik ibu.” Jawab serentak satu kelas.

“Untuk ketua kelas kita yaitu Arfan Sya, untuk wakilnya ada Liera Ardiana Alam, sekretaris ada Farha Putri dan bendara kita Nessa Ifani. Semoga nama-nama tersebut bisa bertanggung jawab dengan baik dan benar ya.”

“Aminnn, terimakasih Ibu”

Bimbingan kelas pun selesai, Ibu Mei pun pamit untuk keluar kelas. Mereka bersama teman-teman barunya sangat ramah bahkan mereka mengobrol satu sama lain dan berkenalan.

“ Hei gue Rein, nama lo siapa?”

“Ah iya, nama gue Liera.”

“Gue Nadira, sahabatnya Liera.”

“ Ah iya, salam kenal.”

“Ra, lo ngak mau kenalin kita ke dia?”

“Ah iya maaf gue lupa Nes. Oh iya Rein kenalin ini temen-temen gue, ada Farha, Azfa, dan Nessa.”

“Ahh iya, salam kenal semuanya.” Sapa Rein.

“Hei ada apa nihh, gabung dong. Kenalin gue Arfa.”

“Boleh, gue Liera, ini temen-temen gue”

“Ah iya gue udah tau kalian siapa, tadikan Ibu Mei bilang”

“Ahh ingetan lo bgus juga yaa Fan.”

“Gak lah biasa aja Rein.”

Banyak yang mereka bicarakan sehingga mereka tidak sadar jam pertama akan dimulai. “Heii kalian cepet balik ke tempat duduknya masing-masing, jam pertama mau di mulai tuh.” Ucap Farha. Mereka pun kemabli ke tempat duduknya masing-masing. Pelajaran pertama dimulai dengan pelajaran matematika, guru matematika yang bernama Bu Mariska menjelaskan materi dan diakhir dengan tugas kelompok. Setelah pelajaran Bu Mariska selesai Queen Bess berkumpul kembali.

“Baru aja pertama masuk udah ada tugas lagi, ya matematika lagi hadehhh.” Ucap Azfa.

“Yaudah si gapapa, ada Liera ini kan dia suka banget sama pelajaran ini.” Jawab ketus Nessa.

“Eh tapi satu kelompok kan harus ada tujuh orang, sedangkan kita ada lima orang berti kurang dong?”

“Ya enggak lah Nad, kan gue sama Arfan ada jadi gue bakal satu kelompok bareng kalian, gimana boleh gak?” Jawab Rein yang datang menghampiri.

“Nah berati udah pas ya buat kelompok, sekarang tinggal nyari tempat buat ngerjainya.” Ucap Farha.

“Gimana kalau di rumah lo aja Ra?”

“Nah iya gue setuju sama ide lo Az.” Jawab Nessa.

“Yaudah entar gue bilang ke Mami gue.”

“Sip.” Jawab mereka serentak.

Tok tok tok.

Suara ketukan pintu membuat para murid-murid kelas X- IPA 8 kembali duduk pada tempatnya masing-masing. Aura guru bahasa Inggris yang sangat serius mempuat satu kelas hening tidak ada yang berani untuk mengucapkan satu kata pun. Sampai pelajaran pun selesai dan  tiba saatnya untuk istirahat.

 BRUK!

Rein merapikan buku diatas mejanya  sangat keras, seolah dia sangat benci pelajaran yang baru selesai. Rein melangkahkan kakinya untuk menghampiri meja Arfan yang duduk dua bangku ke depan dari tempat duduknya. Setelah Rein dan Arfan bersama mereka berjalan bersama ke tempat Liera dan kawan-kawan nya yang sedang duduk, dan mengajak ke kantin bersama.

“Haii para nona.” Ucapan yang keluar dari mulut Rein membuat Arfan memilik pertanyaan kepada Liera dan teman-temannya.

“Oh iya, gue perhatiin kalian dari tadi pagi barengan terus, kalian udah kenal dari SMP?”

“Iya kita udah kenal dari SMP, malahan SD Fan.” Jawab Azfa.

“Hmmm pantes.”

“Ohh iya kalau lo sama Arfan gimna, kaya udah akrab dari lama?” Tanya Liera.

“Kita si emang tetanggaan, terus dari SD satu sekolah plus satu kelas terus. Udah bosen si Ra tapi ya udah takdir ya gapapa dehh.” Jawab Rein.

“Oh iya, kita juga punya nama kumpulan sendiri tau bukan geng para nona yang lo sebut Rein.” Ucap Nessa.

“Terus apa dong namanya, jangan judes gitu napa si Nes?”

“Nama kita tuh Queen Bees tau” Jawab Nessa.

 “Iya iya deh Queen Bees” Jawab Rein.

“Yaudah ke kantin yuk, gue laper nih” Ajak Nadira.

“Yok!” Jawab serentak.

Mereka pun bergegas ke Kantin sambil ngobrol-ngobrol dan terwawa bersama. terlihat persahabatan yang sangat harmonis. Mereka pun tiba di Kantin sekolah.

Tongsis.

Nama Kantin yang diambil dari singaktan Tongkrongan siswa/siswi SAM Angkasa. Kantin yang sangat ramai dan penuh ini membuat mereka kesulitan mencari tempat duduk.

“Ra. Gimna penuh nih gue jadi males.”

“Sama Nes gue juga males, mending bawa bekel ada dari rumah tau gini.”

“Eh disana kosong tu Ra!” Ucap Farha.

“Dimana Far?”

“Disana, ayok buruan biar ga ditempatin orang!” Kata Farha yang buru-buru menujuk.

“Yaudah serahin ke gue sama Rein aja.” Sahut Arfan sambil memgang bahu Rein.

Akhirnya setelah mencari tempat duduk mereka pun dapat, dan untungnya temat duduk mereka itu tidak jauh dari si Ibu kantin. Karena waktu istirat pertama mereka terbatas, mereka memutuskan memesan minuman saja karena akan memakan waktu untuk memesan makanan. Setelah pesanan mereka pun tiba, mereka kembali mengobrol dan membahas tugas kelompok.

“Oh iya Ra, lo udah bilang belum ke Mami lo?” Tanya Arfan yang duduk depan Liera.“Ini baru mau gue bilang ke Mami Fan.” Jawab Liera.“Oh oke kalau gitu.”

Intercut – Percakapan telepon.

Liera: Halo Mi.

Mami; Iya, kenapa Ra?

Liera: Gini Mi. Tadi waktu pelajaran pertama ada tuga kelompok, nah temen Liera minta ngerjain di rumah Liera, boleh ga Mi?

Mami: Iya boleh Ra, ebtar Mami biang ke Bu Inah buat masakin cemilan.

Liera; Oke Mi, makasih ya.

Mami: Iya, sama-sama sayang.

Liera pun menutup panggilan itu, dan memberitahukan kepada teman-temannya.“Hei, kata Mami gue boleh dan Mami gue udah bilang ke orang rumah buat bikini cemilan.” Ucap Liera pada teman-temannya.

“Oke kalau gitu bagus Ra, entar tinggal kita beli bahan-bahan kelompok aja kan Ra?”

“Iya Fan.”  

Kring, kring, kring.

“Yaelah udah bunyi aja tuh bel.” Ceplos Nessa yang baru meminum minumannya.

“Yang sabar ya Nes, yuk kita balik ke kelas.”

“Yauadh ayok Az.”

            Mereka pun akhirnya balik ke kelas. Setelah tiba di kelas mereka kembali balajar hingga isirahat kedua atau jam makan siang. Queen Bees dan Arfan itu memutuskan diam kelas karena mereka malas untuk pergi ke kantin yang sangat penuh dan ramai cuman membuang-buang waktu untuk mencari tempat duduk di kantin. Dan Rein yang serasa lapar memutuskan untuk pergi ke kantin karena para cacing di perutnya tidak bisa menahan.

“Aahhh. Gue males banget ke kantin.” Ucap Nessa.

“Ya! Gue juga males ke kantin yang penuh dan ramai itu Nes” Jawab Azfa.

“Kalian yakin gak bakal ke kantin buat makan siang, kalau gitu gue aja sama Arfan yang ke kantin gimna Fan?”

“Lahh lo aja sendiri yang pergi, gue males tau, disana gerah tau Rein.” Ucap Arfan.

“Yaudah kalau gitu gue sendiri aja kesana nya. By the way kalian mau pada nitip cemilan atau minuman gak? Lagi baik nih.”

“Kita nitip minum aja ya yang seger, setuju gak?” Jawab Liera.

“Setuju Ra.” Jawab Azfa.

“Oke kalau gitu gue pergi ke kantin dulu. Bye.” Pamit Rein.

Rein melangkahkan kakinya keluar kelas. Kelas demi kelas ia lewati, setelah tiba di kantin ia kaget krena keadaan kantin lebih penuh dan ramai daripada sebelumnya. “ Ahhh. Tau gitu gue ga pergi ke kantin kalau penuh sama rame begini.” Ucap Rein yang bicara sendiri. Tapi,  demi cacing yang di perutnya ia pun memakasakan membeli makanan dan pesanan teman-temannya. Setelah Rein seleai ia pun langsung bergegas kembali ke kelas untuk memakan makanannya dan memberikan pesanannya kepada teman-temanya.

Tuk tuk tuk.

Suara langkah Rein yang mendekat ke meja Liera sambil membawa makanan dan pesananya untuk diberikan kepada teman-temannya.

Bruukk!

Rein menyimpan makanan dan camilannya diatas meja Liera.dan ia pun mengeluh pada teman-temannya itu.

“Ahhh. Ternyata lebih baik diem di kelas aja bareng kalian daripada harus ke kantin.” Ucap Rein yang mengoceh.

“Ya suruh siapa?” Jawab ketus Nessa.

“Ya habis gue laper Nes.”

“ Heii, ini minuman apa ko aneh sih rasanya.” Tanya Nadira yang telah mengambil dan meminum minumannya.

“Aneh kenapa Nad?” Tanya Farha.

“Ini nih Far minumannya pait banget.”

“Yaudah tinggal liat gue aja Nad, entar bakalan manis ko,wkwkwk.” Canda Azfa.

“Dih aapaan si Az garing tau.” Jawab Nadira yang kesal kepada Azfa.

“Hahahahaha.”

“Ihh ko ketawasih Ra?”

 “Gak papa cuman lucu aja gitu, itukan minuman gue Nad.” Ucap Liera

“Yahhh gue salah minum dongg.”

Tiba-tiba mereka hening sejenak dan tak lama mereka tertawa kembali sembari terbahak-bahak karena ulah Nadira yang tidak melihat tulisan minumnya tersebut.

HAHAHAHAHA.

“Heh Nad, itu kan ada tulisan nama minumannya di botol masa lo gak liat sih?”

“Eh iya ya Nes. Gue galiat kalau ada tulisan di botolnya.”

“HAHAHAHA.” Mereka tertawa kembali bersama.

16.15

Kring, kring, kring. Bel pulang sekolah pun berbunyi, mereka langsung bergegas keluar untuk membeli bahan-bahan  untuk kerja kelompok. Mereka membeli di tempat yang tidak jauh dari sekolah kurang lebih 25 meter , yah bisa di bilang tempat itu  koperasi sekolah yang jaraknya lumayan agak jauh kalau jalan kaki. Setelah mereka selesai membeli bahan-bahan, mereka langsung bergegas ke rumah Liera. Karena dari koperasi ke rumah Liera jaraknya agak jauh tetapi bisa memotong jalan maka mereka memutuskan pergi dengan berjalan kaki.

Setelah mereka berjalan kurang lebih selama 15 menit akhirnya mereka tiba di rumah Liera yang sangat besar dan gerbang hitan yang sangat tinggi. Mereka menunggu di depan gerbang karena belum dibuka oleh orang rumah, tidak lama orang rumah membuka gerbang rumah Liera yang tinggi dan hitam yang berkesan klasik. Mereka pun langsung masuk ke rumag Liera dan diajak ke balkon yang di luar kamar dan di lantai atas oleh Liera.

“Wahhh Ra. Rumah lo ga pernah berubah ya, setiap kerja kelompok pasti di ajak ke balkon yang deket kamar lo.” Ucap Nadira.

“Ya habisnya tempat ini yang paling gue suka kalau lagi nerjain tugas Nad.”

“Yaudah kita kerjain aja langusng yuk biar cepet beres?” Ucap Arfan sembari mengeluarkan bahan-bahannya.

“Yaudah ayo, gue kebawah dulu.” Ucap Liera sembari jalan menuruni tangga.

Tak lama kemudian Liera kembali dan bergabung mengerjakan tugas tersebut. Lima menit berjalan sudah dan Bu Inah pun datang membawa cemilan dan minuman untuk mereka. “Neng Liera ini cemilan sama minumannya.” Ucap Bu Inah sembari menletakan nampan diatas meja. “Trimkasih Bu Inah.” Ucap mereka semua kepada Bu Inah.

Mereka pun mengerjakan kembali sembari memakan cemilan yang dibuakan oleh Bu Inah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kumpulan puisi aku dan bumi

Tema: Kesedihan   1.Rindu   Dikala fajar menyingsing Dikala burung bernyanyi Desiran daun tertiup angin Desiran rindu menjadi tangis   Burun...