Genre : fiksi
Judul : Jati Diri Sesungguhnya
Kerangka
Syafa seorang perempuan yang ingin mendapatkan perlakuan yang sama dari setiap orang. Namun, dia memiliki kekurangan dari segi sifat juga finansial. Akhirnya, dia menunjukkan prestasi nya untuk mengubah pandangan orang lain serta kehidupannya.
1. Syafa Maulia Putri
Syafa seorang anak perempuan yang hidup dalam keluarga dengan ekonomi menengah kebawah.
2. Selalu ada jalan jika kita berusaha
Ikhlas dalam menerima bukan berarti pasrah dalam keadaan. Jika kita berusaha Allah juga akan mempermudah urusan kita.
3. Permulaan
Awal dari kehidupan baru Syafa di sekolah barunya.
4. Cobaan
Dia menjadi korban bullying meskipun bukan secara fisik.
5. Lebih parah
Di kelas XI perlakuan teman temannya lebih parah kepada syafa
6. Mungkin teman
Awalnya Syafa hanya sendiri, hingga datang seorang murid baru yang selalu membela Syafa.
7. Terjadi lagi
Meskipun Syafa sudah memiliki teman, tapi keduanya malah terkena bullying walaupun bukan secara fisik.
8. Seharusnya tak terjadi
Pacaran tak ada dalam kamus Syafa. Mungkin ia telah salah langkah.
9. Kembali ke tujuan awal
Syafa pun belajar dengan giat dan tak memperdulikan hinaan dari teman-temannya lagi.
10. Jati diri sesungguhnya
Hingga akhirnya dia bisa menunjukkan dirinya yang sebenarnya dan membungkam semua teman-temannya.
1. Syafa Maulia Putri
Ananda Nurul Fatimah
Muhammad Abdul Aziz
Syafa Maulia Putri
Ismi Siti Khodijah
Ahmad Abdul Hamid
Nama bukan hanya sekadar nama, tapi juga harus mengandung do’a dan tidak memberatkan terhadap sang anak. Memiliki arti yang baik serta tidak menimbulkan panggilan yang aneh. Nama yang memang layak untuk anak perempuan atau anak laki-laki. Nama yang mencerminkan kepribadian seorang anak. Dan membuat anak tersebut percaya diri akan namanya sendiri.
Syafa, nama yang indah sesuai dengan rupanya. Dia memiliki pribadi yang lemah lembut juga sabar. Memiliki keluarga yang sangat menyayangi nya. Dan hidup dalam keadaan yang cukup menurutnya. Keluarga nya merupakan kumpulan orang-orang yang merantau dari tempat lahirnya. Sehingga menjalani hari tak semudah di tempat lahir sendiri. Keluarga nya terdiri dari 7 orang, yaitu ayah, ibu, kak Nurul, kak Abdul, Syafa, Ismi dan Ahmad. Mereka semua saling menyayangi meskipun dalam keadaan ekonomi menengah ke bawah. Mereka percaya bahwa Allah akan memberikan kehidupan yang lebih baik kepada mereka di kehidupan selanjutnya.
Hidup adalah sebuah pilihan, apakah hal itu benar? Atau memang sudah ada takdirnya. Semua tergantung bagaimana kita menyikapi hidup kita sendiri. Tapi jika kita berpikir bahwa semua hidup kita sudah ada awal serta akhirnya, apakah kita akan berusaha untuk memperbaiki kehidupan kita? Atau akan diam di tempat? Karena merasa bahwa ini sudah takdir kita, kita tidak akan mau berusaha dan hanya menerima saja. Tapi jika kita percaya bahwa hidup kita akan berubah dengan kita berusaha, maka insya Allah hidup kita akan lebih baik. Kita akan memiliki tekad serta keinginan untuk bisa hidup lebih baik. Karena sebenarnya kita belum tahu takdir kita seperti apa, apakah baik atau tidak, jadi berusaha itu lebih baik. Dan hal itu diyakini oleh keluarga Syafa.
Syafa lahir di kota Sumedang pada tanggal 13 Agustus 2003. Ia tumbuh menjadi anak yang cantik, berbakti kepada orang tua juga Sholehah. Ia tak pernah mengeluh terhadap keadaan yang dialaminya. Bahkan ia tak ingin merepotkan orang lain atas masalah yang dia hadapi, sehingga ia cenderung memendam perasaan nya sendiri. Syafa terbilang anak yang pendiam dan sangat menurut. Ia tak pernah protes atau mencoba memberikan pendapatnya tentang hal-hal dalam hidupnya. Ia terlalu pasrah akan hidupnya. Dia percaya bahwa Allah pasti memberikan yang terbaik untuk dia dan keluarganya.
Allah pasti tahu yang terbaik untuk kita, tapi apakah kita akan menerima saja? Atau membuat hidup kita lebih menarik dengan adanya sedikit pertentangan, bukan perlawanan atas takdir yang ditetapkan oleh Allah tapi bagaimana cara kita agar mendapatkan takdir tersebut. Agar kita belajar dan berusaha untuk menggapainya. Karena jika hanya pasrah, hidup akan hampa dan tidak ada gairah. Seperti kita hanya menunggu bagaimana hidup kita diatur oleh takdir tanpa ada perlawanan sedikit pun dari diri kita. Jalani saja mengikuti arus kehidupan, itulah yang selalu diucapkan orang yang berpikiran seperti itu.
Semuanya memang telah diatur oleh sang maha kuasa Allah SWT. Tapi jika kita menerima saja tanpa berbuat, kita tidak akan mendapatkan yang namanya pelajaran kehidupan. Lalu untuk apa kita ada di dunia? Hanya mengikuti arus? Hidup hanya untuk menerima semua yang telah ditakdirkan lalu menunggu untuk dipanggil. Apakah seperti itu? Tentu tidak karena jika kita tidak diberikan cobaan, tandanya Allah tidak peduli kepada kita, sebaliknya jika Allah memberi kita cobaan dalam berbagai hal, tandanya Allah sayang kepada kita.
Dan keluarga Syafa bukanlah orang yang menerima saja, tapi banyak usaha dalam menjalani kehidupannya. Tidak hanya berpangku tangan dan sekadar menerima. Tapi menjalani dengan kesabaran, ketabahan, serta tekad untuk beribadah kepada Allah. Banyak pelajaran serta pengalaman yang didapat. Serta hikmah dari kehidupan.
Syafa adalah seorang pendengar yang baik dan selalu belajar dari pengalaman orang lain, baik keluarga ataupun bukan. Syafa sering mendengar cerita perjalanan orang tuanya selama merantau di kota orang itu. Bagaimana suka dukanya serta hikmah yang bisa diambil dari setiap kejadian yang orang tuanya alami. Awal perantauan orang tua nya adalah pada tahun 1998, dimana Syafa belum lahir ke dunia. Orang tuanya pun baru memiliki dua orang anak yaitu kak Nurul dan kak Abdul. Sebenarnya kedua orang tuanya tidak ada niatan untuk merantau tapi karena terjadi suatu hal dalam keluarga besar ayahnya, sehingga mengakibatkan kedua orang tuanya merantau jauh ke kota orang.
Keluarga ayahnya merupakan keluarga terpandang yang memiliki nama baik di lingkungan tempat tinggalnya serta terkenal dermawan juga baik kepada semua orang dan jangan lupakan juga bahwa keluarga ayah Syafa terkenal agamis. Sehingga wajar Syafa tumbuh menjadi anak yang Sholehah begitu pun kakak juga adiknya.
Sebelum merantau, ayah Syafa menjalankan usaha konveksi rumahan dengan anggota keluarganya. Mereka bekerja sama satu dengan yang lainnya. Awalnya yang mengelola hanya ayah Syafa, paman juga bibi Syafa. Tetapi suatu hari uwanya datang ikut mengelola konveksi tersebut. Sehingga banyak pendapat yang bertentangan. Ayah Syafa tergolong orang yang kadang mudah terpengaruh kadang memiliki pendirian kuat. Tapi pada saat itu ayahnya terpengaruh dengan pendapat dari uwa Syafa. Sehingga banyak orang yang memutuskan kerja sama dengan usaha konveksi ayah Syafa. Banyak kerugian terjadi setelahnya sehingga mengakibatkan beberapa barang dijual. Usaha konveksi tersebut pun sudah di ujung tanduk dan tak mungkin dipertahankan. Sehingga semua anggota keluarga sepakat untuk menutup usaha tersebut.
Saat usaha itu berjalan keadaan ekonomi keluarga ayah Syafa sudah membaik dan sudah lebih dari cukup. Tapi, karena kejadian tersebut ayah Syafa pernah tidak bekerja dan makan hanya secukupnya saja. Tapi, ayah Syafa tak pernah mengeluh dan tetap berusaha serta berdo'a kepada Allah agar diberikan kemudahan dalam segala masalah nya.
Kekesalan terhadap saudara sendiri pasti ada. Penyesalan pun sama pasti ada, tapi apa boleh buat nasi telah menjadi bubur. Tak bisa dikembalikan, jika diperbaiki tak akan seperti semula. Begitu pula kepercayaan, saat kita dipercaya harus memegang amanah sebaik mungkin, jangan sampai kita rusak. Karena jika sudah rusak, akan susah mendapat kepercayaan itu kembali. Ambil hikmah dari setiap kejadian, jadikan pelajaran, semoga tidak terulang lagi. Dan pasrahkan kepada Allah agar diberikan jalan keluar untuk setiap masalah.
Setelah lama tidak bekerja, ayah Syafa diajak merantau oleh uwa Syafa ke kota orang, mengadu nasib katanya. Ayah Syafa sempat berpikir untuk tidak ikut, karena masih ragu. Tapi ternyata ayah Syafa memiliki keluarga di kota tersebut. Dan ayah Syafa juga memikirkan bagaimana nasib keluarga kecilnya, yang pada saat itu kedua orang tua Syafa baru memiliki kak Nurul. Akhirnya ayah Syafa memutuskan untuk merantau tanpa membawa keluarga kecilnya, sehingga mereka jarang bertemu dan bercengkerama. Tapi itu tak mengubah tekad ayah Syafa untuk merantau ke kota orang, ia ingin keluarganya bisa hidup layak dan nyaman. Meskipun mengorbankan kebersamaan bersama istri dan juga anaknya.
Awal mula perantauan semua berjalan lancar, ayah Syafa beserta paman juga uwanya bekerja sebagai pedagang ayam goreng. Jualannya pun selalu habis dan sangat laris. Kadang-kadang ibu Syafa dan kak Nurul diajak ke kota itu untuk melihat-lihat. Tapi hal tak diinginkan terjadi lagi hingga semuanya kembali ke nol. Dan membuat ayah Syafa memutuskan untuk berjualan masing-masing saja. Paman Syafa menyetujui usulan dari ayah Syafa, sehingga mereka berpencar ke kota satu dan lainnya. Ada juga yang menetap di kota kelahirannya.
Ayah Syafa memutuskan untuk membawa keluarga nya di perantauan kali ini. Agar mereka bisa saling mendukung satu sama lain. Saat itu kak Abdul sudah lahir, sehingga tanggungan ayah Syafa bertambah. Tapi keluarga Syafa selalu percaya Allah pasti memberikan kebutuhan yang cukup bagi keluarganya. Dan semoga selalu diberi keberkahan. Awalnya memang sulit, karena sebagai pedagang baru belum tentu jualannya langsung laris. Terkadang tak ada yang terjual sama sekali. Sehingga keluarga Syafa tidak makan nasi, atau kadang hanya sekali sehari. Tapi mereka menjalani semua nya dengan sabar dan tabah. Dan selalu ada orang baik yang membantu keluarga Syafa menghadapi setiap masalahnya. Seperti ketika tidak ada beras, tetangganya selalu memberi dan kadang juga memberikan uang jajan untuk kak Nurul dan kak Abdul.
Setelah beberapa tahun keadaan ekonomi keluarga Syafa mulai membaik. Tetapi, ketika Syafa lahir keadaan ekonomi keluarganya sempat menurun, sehingga nutrisi yang diberikan kepada Syafa tidak lah seimbang dan seadanya. Tapi Alhamdulillah Syafa tumbuh menjadi anak yang sehat. Meskipun terkadang tubuh Syafa rentan terkena penyakit, walaupun hanya penyakit ringan. Tubuh Syafa pun kurus dan kecil. Syafa menjalani hari-hari nya dengan ceria, meskipun kadang Syafa mudah sekali menangis atau orang sering memanggilnya cengeng.
Syafa pernah dititipkan orang tuanya kepada nenek nya di Sumedang, karena baru saja mempunyai seorang adik di umurnya yang kedua tahun. Sehingga perhatian orang tuanya pada Syafa pun tidak penuh, harus terbagi-bagi. Bukan hanya dengan adiknya tapi juga kakaknya. Itulah resiko memiliki adik atau kakak, karena kita tidak bisa egois. Ingin mendapatkan semua perhatian orang tua terhadap kita sendiri. Meskipun demikian Syafa bersyukur diberikan keluarga yang menyayanginya.
Dengan syukur kita akan memiliki hati yang lapang juga tenang karena apa pun yang Allah berikan pasti terbaik. Dan kita harus mensyukuri apa pun yang Allah berikan baik itu nikmat, rezeki, atau terhindar dari suatu musibah. Dengan berlaku syukur insya Allah kita tidak akan mengeluh banyak hal dan tak ada gelisah. Selain syukur kita juga harus sabar dalam menghadapi segala macam musibah. Agar kita dijauhkan dari sifat-sifat tercela lainnya. Seperti selalu iri terhadap orang lain. Jika iri untuk memotivasi itu baik, tapi jika menjadikan mental kita turun lebih baik jaga diri kita dari sifat iri tersebut. Minta kepada Allah untuk dijauhkan dan tetap berusaha agar terhindar. Rasa iri karena perlakuan orang tua terhadap anak-anaknya memang sering kita rasakan bagi yang memiliki kakak atau adik. Tapi kita harus menerapkan dalam pikiran kita bahwa semua ada waktunya, semua ada kebutuhannya. Contohnya kita tidak mungkin kan iri terhadap perlakuan orang tua kepada adik kita yang masih bayi, dimana sangat membutuhkan perhatian dari orang tua kita. Dan kebutuhannya pun pasti berbeda dengan kita.
Dan orang tua juga berperan memberikan pemahaman kepada anaknya tentang kebutuhan masing-masing anaknya. Mereka tidak akan memperlakukan semua anaknya sama. Karena tiap anak memiliki pribadi juga sifat yang berbeda-beda. Meskipun hampir sama tapi belum tentu sama. Pasti ada yang berbeda meskipun sangat kecil perbedaannya. Orang tua harus bisa menjelaskan sampai anaknya tersebut paham betul sehingga tidak adanya rasa cemburu karena diperlakukan berbeda dengan kakaknya kah atau adiknya. Dan tak ada sifat iri salah hati yang dapat merusak hubungan keluarga.
Keluarga Syafa menerapkan hal itu, meskipun kadang masih ada pertengkaran kecil antara kakak adik karena perlakuan orang tuanya. Tapi mereka tidak saling membenci dan rasa iri mereka tidak bertahan lama hanya saat kejadian berlangsung yang membuat mereka iri. Jangan terbiasa memupuk rasa benci juga iri karena itu merupakan penyakit hati, itulah yang selalu ayah Syafa katakan saat anak-anaknya saling iri satu sama lain. Dan semua sudah ada porsinya masing-masing.
2. Selalu ada jalan jika kita berusaha
Ikhlas, sebuah kata yang mudah diucapkan tapi sulit untuk dilakukan. Sama seperti dalam surat Al-Ikhlas, nama surat nya Al-Ikhlas tapi apakah di dalam ayatnya ada kata ikhlas? Tidak ada. Karena ikhlas kita rasakan di dalam hati kita, bukan sekadar diucapkan saja secara lisan. Jika hati kita belum ikhlas, maka tidak bisa disebutkan bahwa kita ikhlas. Tapi semoga dengan ucapan bahwa kita ikhlas bisa menjadi do'a agar hati kita pun ikhlas.
Syafa selalu mencoba ikhlas dalam hidupnya, baik dalam menerima musibah atau pun mendapat kenikmatan. Menyerahkan segalanya kepada Allah dan hanya berpegangan kepada Allah. Tapi rasa kesal serta kecewa terkadang ada saat hidup kita berjalan tak sesuai keinginan. Dan disini lah keikhlasan kita dipertanyakan, apakah hanya secara lisan atau memang ikhlas yang sesungguhnya. Itulah pelajaran kehidupan.
"Syafa, setelah lulus dari MTs nanti, ayah tidak bisa menjamin kelanjutan pendidikan kamu nak," ucap ayah kepada Syafa.
"Tidak apa ayah, tak usah dipermasalahkan semoga nanti ada jalan untuk Syafa dan juga pertolongan dari Allah." Ucap Syafa berusaha menenangkan ayahnya juga dirinya sendiri.
"Kamu memang anak yang baik Syafa, semoga Allah memberikan jalan ya untuk ke depannya," ucap ayah mencoba berpikir positif.
"Aamiin allahuma aamiin yah," jawab Syafa.
Pendidikan Syafa dari awal memang sudah diatur oleh kedua orang tuanya. Syafa hanya mengikuti, karena ia bingung harus ke mana. Jadi dia menyerahkan segala keputusan kepada orang tuanya. Tak ada bentuk protes apa pun hanya sedikit penyesalan mungkin yang kadang mengganggu hati dan pikiran.
Perjalanan pendidikan Syafa dimulai pada usia 6 tahun dimana Syafa menduduki bangku taman kanak-kanak. Syafa bukan anak yang mudah bergaul, sehingga ia terkadang menyendiri dan tidak terlalu banyak mengobrol dengan teman sebayanya. Untungnya ada satu anak bernama Zahra yang selalu mengajaknya mengobrol atau pun jajan bersama. Karena ketika di taman kanak-kanak Syafa tidak ditunggu oleh orang tuanya, hanya sekadar diantar jemput oleh ayahnya. Kadang juga Syafa pulang sendiri, karena lama menunggu ayahnya menjemput. Di pertengahan jalan menuju ke rumahnya kadang Syafa bertemu dengan ayahnya yang akan menjemputnya. Sehingga Syafa pulang dengan ayahnya.
Tak ada yang spesial di taman kanak-kanak Syafa. Prestasi pun tak terlalu membanggakan, tetapi Alhamdulillah Syafa selalu masuk 10 besar. Tapi ada satu pengalaman Syafa yang tak pernah ia lupakan. Yaitu ketika hari pertama masuk sekolah, ia sedikit kesulitan dalam mengerjakan tugas dan menjadi yang terakhir mengumpulkan. Ia pun menangis dan bingung, akhirnya ada seorang guru yang berkata, "Tenang saja mengerjakannya, tidak usah terburu-buru." Setelah mendengar ucapan gurunya, Syafa menjadi lebih tenang, dan berhasil menyelesaikan tugasnya.
Setelah lulus dari taman kanak-kanak, Syafa melanjutkan sekolah di SD yang sama dengan kedua kakaknya. Alhamdulillah Syafa dapat melewati tes masuk dengan baik.
"Alhamdulillah Syafa bisa Bu," ucap Syafa kepada ibu nya.
"Alhamdulillah nak, belajar yang rajin ya," ucap ibu mengusap kepala Syafa.
Syafa menganggukkan kepalanya dan berkata, "Iya Bu."
Awal semester pun datang, Syafa diantar oleh ibunya hingga masuk ke dalam kelas. Karena untuk anak kelas 1 orang tua boleh mengantar anaknya hingga masuk ke kelas. Setelah mengantar Syafa ibunya pulang kembali ke rumah, karena jarak rumah dan sekolah Syafa sangat dekat. Dan berpesan kepada Syafa, "Syafa ibu pulang dulu ya, nanti pulangnya ibu jemput lagi, jangan pulang sendiri ya. Ibu pamit ya assalamu'alaikum."
"Iya Bu, wa'alaikumussalam," ucap Syafa.
Prestasi Syafa saat menjadi anak kelas 1 meningkat cukup baik, tapi kembali turun karena Syafa mengalami sakit beberapa bulan karena kelelahan. Sebelumnya Syafa bersekolah di dua tempat, sekolah dasar dan sekolah agama. Karena sering ada les di sekolah dasar, Syafa jadi kelelahan. Sehingga memutuskan untuk berhenti sekolah agama.
Kehidupan sekolah dasar Syafa berjalan dengan baik, meskipun kadang Syafa absen karena sakit. Prestasi Syafa pun Alhamdulillah baik. Dan Syafa juga memiliki banyak teman yang baik kepadanya. Syafa jarang memiliki masalah dengan teman nya, karena Syafa bukan orang yang selalu membuat masalah dengan orang lain. Sehingga banyak teman yang ingin dekat dengan Syafa. Pada saat kelas 3 SD, orang tua Syafa memutuskan untuk kembali memasukkan Syafa ke sekolah agama. Karena untuk masuk ke SMP/MTs, harus memiliki ijazah sekolah agama. Semuanya berjalan dengan baik.
Hingga pada saat kelas 4 SD, prestasi Syafa di sekolah menurun cukup drastis. Tetapi, di sekolah agama sebaliknya prestasi Syafa meningkat dengan baik. Tapi hal itu tak berlangsung lama, karena pada saat naik ke kelas 5 SD, Syafa bisa menaikkan prestasinya dan mendapat peringkat ketiga di kelasnya. Dan di sekolah agama, prestasi Syafa menurun, sehingga Syafa hanya masuk di lima besar dari kelasnya. Begitulah Syafa tidak pernah bisa seimbang antara sekolah formal dan sekolah agama. Pasti ada yang lebih unggul, entah sekolah formal atau sekolah agama.
Memang susah menyeimbangkan antara hal satu dengan yang lainnya. Pasti kita lebih condong ke salah satu hal. Sehingga banyak pilihan dalam hidup kita. Semuanya ada di tangan kita, kita yang menentukan itu. Meskipun yang mewujudkan tetap Allah SWT. Tapi kita juga berperan dalam berjalannya hidup kita. Karena kita yang menjalaninya. Dan disini kita diuji mana yang lebih kita prioritaskan apakah dunia atau agama.
Alhamdulillah Syafa lulus dari sekolah dasar dengan mendapat peringkat kedua di kelas nya. Ada sedikit kisah lucu menurut Syafa saat dia di kelas 6. Awalnya semua anak perempuan membaur satu sama lain, tetapi di kelas 6 mulai ada kelompok-kelompok sehingga banyak yang berselisih paham. Buktinya saat acara kelulusan, ada teman Syafa yang cemburu karena orang yang disukainya berdampingan dengan Syafa. Padahal itu bukan keinginan Syafa, itu murni dari pihak sekolah. Karena orang yang disukai teman Syafa mendapat peringkat kesatu, sehingga mereka bisa berdampingan. Dan akhirnya Syafa dilihat sinis oleh temannya itu dan juga teman sekelompoknya. Tapi Syafa selalu berusaha sabar dan memaklumi.
Setelah lulus dari sekolah dasar, Syafa melanjutkan sekolah ke tempat kak Abdul dulu bersekolah. Syafa selalu mengikuti jejak pendidikan kak Abdul. Mulai dari taman kanak-kanak sama, sekolah dasar pun sama, sampai orang tuanya memasukkan Syafa ke MTs tempat kak Abdul sekolah dulu. Syafa hanya mengikuti apa kata orang tuanya, karena ia tahu bahwa itu pasti yang terbaik. Wali kelasnya saat itu pun mendukung keputusan orang tua Syafa, karena menurut beliau sekolah bisa dimana saja yang terpenting kita bisa menjadi bintang di sekolah tersebut. Untuk apa sekolah bagus, tetapi menyebabkan kita terbawa arus pergaulan yang tidak baik dan malah membuat susah orang tua saja. Tapi tetap ada beberapa guru yang menyayangkan prestasi Syafa, karena ia bisa masuk ke SMP yang lebih baik. Tapi keputusan ada di tangan Syafa, dan Syafa menyerahkan semuanya pada orang tuanya.
Alhamdulillah Syafa bisa melewati tes masuk dengan baik. Sehingga dapat bersekolah di sekolah tersebut. Oh iya, Syafa melanjutkan sekolahnya bukan ke SMP melainkan ke MTs tapi tetap negeri ya. Karena ayahnya ingin Syafa bisa belajar ilmu dunia mau pun ilmu akhirat.
"Nanti kamu belajar dengan rajin ya, karena seseorang yang memiliki ilmu derajatnya akan dinaikkan oleh Allah SWT. Dan itu bisa menjadi bekal kamu di masa depan." Ucap ayah menasihati Syafa.
"Iya yah, Syafa janji akan belajar dengan giat dan membanggakan ayah juga ibu." Ucap Syafa semangat.
"Ibu percaya kamu bisa, tapi jangan dijadikan beban ya. Jalani semuanya dengan ikhlas dan sabar, karena kita tidak tahu nanti akan seperti apa. Selalu jujur dan berakhlak baik ya nak," ucap ibu Syafa membelai lembut kepala Syafa.
"Iya Bu, bismillah semoga Allah memudahkan." Ucap Syafa sambil tersenyum.
Di MTs nama Syafa sangat terkenal karena prestasi yang didapatnya, dan itu adalah hasil kerja keras Syafa dalam belajar. Tapi hal itu terjadi nanti saat Syafa berada di kelas 8. Saat Syafa berada di kelas 7 tak ada yang terlalu menarik. Hanya saja pada saat hari pertama masuk, setelah selesai upacara semua murid baru dipanggil satu persatu untuk memasuki kelasnya. Dan tiba giliran Syafa, ia pun masuk ke kelas dan bingung akan duduk dimana, karena semua bangku telah terisi sedangkan dia membutuhkan bangku yang dua-duanya kosong bukan salah satu. Akhirnya dia duduk di barisan paling belakang dan di depannya anak laki-laki semua, hanya dia dan teman sebangkunya yang perempuan. Untunglah wali kelasnya memindahkan mereka berdua ke barisan paling depan. Meskipun keadaan masih sama bahwa mereka berada di barisan anak laki-laki.
Semua berjalan dengan baik. Syafa pun memiliki banyak teman dan mengikuti ekstrakurikuler bersama teman-temannya. Ia awalnya bukan orang yang berambisi, tetapi karena ia pernah tergeser dari peringkat pertama ia menjadi sedikit berambisi. Puncaknya pada saat ia di satu kelaskan dengan yang dulunya peringkat pertama di kelasnya. Karena pada saat kelas 9 kelas nya dipecah. Ia pun selalu belajar dengan giat dan rajin. Orang tuanya tidak mengharuskan dia untuk menjadi peringkat pertama, hanya saja jangan membuat masalah yang dapat merugikan diri sendiri. Orang tuanya tidak mengharuskan dia untuk menjadi peringkat pertama, hanya saja jangan membuat masalah yang dapat merugikan diri sendiri.
Yang membuat nama Syafa menjadi besar adalah saat mengikuti KSN (kompetensi sains nasional). Meskipun Syafa hanya bisa mendapat juara dua tingkat kabupaten, tapi alhamdulillah menjadi pelajaran tersendiri bagi Syafa. Setelah kejadian, jadi banyak guru yang mengenal Syafa, murid dari kelas lain pun jadi mengenal Syafa. Puncak meningkatnya prestasi Syafa adalah saat ia duduk di kelas 9. Ia awalnya takut jika posisi peringkat pertamanya digeser, tapi alhamdulillah Syafa bisa mempertahankannya. Ia mendapat nilai UN dan nilai UAMBN tertinggi satu sekolah. Karena itu namanya semakin terkenal baik di kalangan guru, teman-temannya, atau pun adik kelasnya. Sehingga Syafa sering dijadikan contoh untuk adik-adik kelasnya.
Semua berjalan baik, hingga pada suatu hari ayah Syafa mengajak Syafa untuk bicara. "Syafa, ayah tidak punya uang untuk melanjutkan sekolahmu nak. Jika nanti setelah lulus kamu masuk pesantren saja tidak apa-apa?" Tanya ayah Syafa.
"Tidak apa-apa ayah, jangan sampai Syafa memberatkan ayah. Jika memang harus pesantren, Syafa akan menerimanya." Ucap Syafa mencoba tegar dan meyakinkan ayah nya. Sejujurnya Syafa ingin sekali melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi apa daya biayanya tidak ada. Kabar Syafa tidak akan melanjutkan sekolah tersebar hingga ke guru-guru. Sampai suatu hari Syafa dipanggil oleh seorang guru, dan ditanya apakah kabar tersebut benar.
"Syafa, benar kamu tidak akan melanjutkan sekolah nak?" Tanya guru Syafa.
"Iya Bu, saya akan pesantren saja," ucap Syafa.
"Apakah ada kendala jika kamu bersekolah? Sayang prestasi kamu jika kamu tidak melanjutkan sekolahmu nak." Ucap guru Syafa dengan raut wajah yang sedih.
"Ayah Syafa tidak mampu menyekolahkan Syafa Bu," jawab Syafa sambil menundukkan kepala.
"Apakah kamu ingin bersekolah? Ibu bisa mengurus hal itu untukmu," ucap guru Syafa sambil mengusap punggung Syafa.
Syafa menatap gurunya dan menganggukkan kepala, tanda dia ingin bersekolah.
"Ya sudah nanti kamu ke ruang BK saja ya untuk konsultasi lebih lanjutnya. Semangat terus ya jangan mau menyerah dengan keadaan, kalau kamu berusaha pasti ada jalannya. Semoga Allah selalu mempermudah ya nak." Ucap guru Syafa sambil tersenyum.
Syafa sangat senang karena ia bisa bersekolah lagi. Syafa sangat bersyukur kepada Allah karena telah membukakan jalan untuknya. Ia tak akan membuat gurunya kecewa dan akan selalu membuatnya bangga karena telah memperjuangkan Syafa. Ia akan terus mengingat jasa gurunya tersebut. Dan berdo'a kepada Allah agar gurunya tersebut selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
3. Permulaan
Kita selalu berusaha membuat awal yang baik agar ke depannya pun baik. Tapi kita tidak tahu bahwa ke depannya kita akan seperti apa. Karena kita tidak bisa melihat masa depan, jangankan masa depan esok hari saja kita tidak tahu, bahkan satu jam kemudian kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita. Tetapi jika kita ingin memulai sesuatu, sebaiknya niatkan ikhlas karena Allah agar semua urusan kita berjalan dengan lancar. Insya Allah jika niatnya sudah benar maka Allah akan mempermudah kita dalam menjalankan segala urusan.
Sama seperti kita bertemu orang lain, kesan pertama selalu membekas baik itu buruk mau pun tidak. Karena pertemuan pertama selalu paling diingat. Jadi agar kita baik di mata orang lain, kita harus memberikan kesan yang baik pula. Jika dari awal bertemu sudah tidak baik maka kita akan dinilai tidak baik juga, meskipun mungkin saja itu bukan sifat asli kita. Tapi orang akan tetap menilai kita dari apa yang mereka lihat. Mereka selalu menutup telinga dan matanya bila mendengar sesuatu yang tidak sesuai dengan pendapat mereka. Jadi awalan yang baik insya Allah akan menimbulkan akhir yang baik juga.
Kesan pertama Syafa terhadap sekolah barunya itu sangat baik, karena sekolahnya itu cukup terkenal dan merupakan sekolah rujukan dari kabupaten. Orang-orangnya pun berada dan juga pintar. Jadi di sekolah tersebut mengedepankan prestasi yang gemilang baik di bidang apa pun. Dan ada juga beberapa isu yang mengatakan bahwa sering terjadi kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin. Dan hal itu yang membuat Syafa ragu untuk masuk ke sekolah tersebut. Tapi jika ia ingin bersekolah tidak ada pilihan lain. Dan jika bersekolah di sekolah tersebut, kemungkinan untuk melanjutkan ke universitas sangat tinggi. Karena di kotanya, banyak lulusan dari sekolah tersebut yang dijamin masuk ke universitas. Dan bisa mengajukan beasiswa juga sehingga dapat membantu orang-orang menengah ke bawah.
Selama proses menjadi murid baru, semua berjalan dengan lancar. Dan banyak cerita ketika MPLS atau masa pengenalan lingkungan sekolah. Banyak pelajaran yang didapat Syafa. Syafa yang awalnya malu-malu mengajak orang berbicara, diharuskan untuk mengajak orang berkenalan terlebih dahulu. Karena biasanya Syafa yang diajak berkenalan oleh orang lain. Tapi disini hanya sedikit murid yang berasal dari sekolah yang sama dengan Syafa, sekitar 7 orang. Dan pada saat pra MPLS Syafa tidak datang ke sekolah, karena ia tidak tahu. Pada saat itu Syafa belum memiliki telepon genggam atau handphone sehingga tidak ada alat komunikasi dengan teman-temannya dan juga ia tidak bisa mendapat informasi terkini. Tapi untungnya ia bisa mendapatkan nomor teman yang satu grup dengan dia saat proses MPLS.
Kegiatan MPLS sangat berkesan bagi Syafa. Karena ia belajar banyak hal. Rasa sabar, syukur, tak mudah menyerah, menghargai orang lain, juga ilmu yang insa Allah bermanfaat. Dan Syafa diharuskan untuk beradaptasi dengan keadaan sekolah tersebut. Dari tugas yang menumpuk juga bagaimana pelajaran yang akan ia tekuni dan banyak hal menarik yang lain. Meskipun ada sedikit rasa jengkel karena kakak kelas yang menjadi panitia MPLS selalu membuat ia terkejut dan pusing karena tingkah mereka dalam mendidik para murid baru. Memang semua demi kebaikan para murid baru, tapi rasanya ia terbebani dengan itu semua. Dan sempat berpikir untuk tidak ikut, tapi tidak bisa seperti itu karena jika begitu tandanya ia tidak tanggung jawab terhadap apa yang telah ia pilih.
Kegiatan MPLS berlangsung selama 1 minggu penuh. Tapi untungnya di hari terakhir ada hiburan berupa demo ekstrakurikuler sehingga kenangan selama MPLS tidak hanya ketika dimarahi dan dibentak tapi ada kenangan manis juga. Contohnya pada saat demo ekstrakurikuler DKM, ada satu Ikhwan yang memperkuat alasan Syafa untuk masuk ekstrakurikuler DKM tersebut. Mungkin niatnya sedikit salah, tapi jujur memang sebelumnya ia sudah berniat akan masuk ke ekstrakurikuler DKM tersebut. Karena jujur di sekolah tersebut ekstrakurikuler DKM nya sangat terkenal, dan karena ia dari MTs jadi ia ingin memperdalam ilmu nya di ekstrakurikuler tersebut.
Memasuki kehidupan SMA merupakan proses menuju dewasa. Dari yang awalnya remaja harus bisa menjadi dewasa. Dimana kita harus bisa menentukan pilihan kita untuk masa depan kita. Bukan waktunya untuk main-main lagi, saat itulah kita harus bisa menggapai apa yang harus kita gapai. Tak ada waktu memikirkan yang lain. Tapi jika kita seperti itu kita akan stres karena yang ada dalam pikiran kita hanya belajar belajar dan belajar. Takutnya sebelum apa yang kita inginkan tercapai, di tengah jalan kita sudah tidak sanggup lagi. Semuanya harus seimbang antara hiburan dan belajar. Sesekali bermain tak apa karena itu akan menjadi kenangan kita saat SMA. Tapi jangan sampai tugas dan kewajiban kita sebagai murid terabaikan. Semuanya sudah ada porsinya, dan kita harus disiplin dalam mengatur setiap kegiatan kita.
Di SMA Syafa berusaha untuk aktif dalam segi pelajaran atau pun ekstrakurikuler. Karena di MTs sebelumnya ia tidak pernah setia terhadap satu ekstrakurikuler pasti berhenti di tengah jalan. Dan di kelas ia selalu menjadi murid yang pasif tetapi tetap berprestasi. Ia termasuk orang yang sulit membuka diri, hanya di depan orang yang ia rasa dekat saja ia berani menunjukkan dirinya. Tapi ia berusaha untuk tidak bergantung pada orang lain. Karena itu merupakan nasihat gurunya sebelum Syafa menginjakkan kaki di bangku SMA ini. Ia bertekad bahwa ia bisa walaupun sendiri jangan takut tidak ada yang menemani karena Allah selalu bersama kita. Allah pasti mengirimkan bantuannya untuk umatnya yang kesulitan.
Syafa membutuhkan sebuah telepon genggam atau handphone untuk menunjang proses belajarnya. Itu merupakan syarat yang diberikan pihak sekolah kepada Syafa saat datang ke rumah Syafa untuk survei. Karena Syafa tidak memiliki handphone pada saat itu. Untuk komunikasi ia selalu memakai handphone kakak nya yaitu kak Nurul. Setelah seminggu sekolah baru ia dibelikan handphone, karena orang tuanya baru mampu membelinya saat itu. Pada saat itu kak Abdul sempat marah kepada orang semua orang rumah, karena kak Abdul hanya menggunakan handphone bekas kak Nurul dan handphone tersebut sungguh menyulitkannya. Karena fungsinya tidak sebagus awal membeli. Ia marah karena kenapa pada saat ia butuh tak dibelikan. Tapi Syafa langsung dibelikan. Ia merasa ayahnya tak adil kepada anak-anaknya. Syafa hanya bisa diam karena ia pun tak tahu. Akhirnya ayahnya memberi pengertian juga waktu untuk kak Abdul dalam meredamkan amarahnya. Setelah beberapa hari barulah kak Abdul seperti biasa lagi.
Perbedaan umur Syafa dengan kak Abdul adalah 3 tahun. Jadi ketika Syafa lulus MTs kak Abdul juga lulus dari MAN. Kak Abdul sudah mencoba SNMPTN mau pun SBMPTN, tapi tak ada yang lulus mungkin belum rezekinya. Sehingga kak Abdul ingin bekerja lebih dahulu untuk mengumpulkan uang dan menjadi modal untuk kuliahnya. Orang tua Syafa memberikan semua keputusan pada kak Abdul. Mereka selalu mendukung apa yang dilakukan kak Abdul selama itu baik. Begitu pun dengan kak Nurul, Syafa dan adik-adiknya. Orang tuanya tidak mengekang untuk menjadi seperti yang orang tuanya mau. Hanya saja mereka selalu mengarahkan mana yang baik dan tidak baik, mana yang sebaiknya kita pilih atau tidak. Untuk keputusan akhir biar lah anaknya yang memilih, karena anaknya yang akan menjalani pilihan mereka itu. Dan orang tuanya mengajarkan bahwa di dunia ini memang banyak pilihan, dan kita harus bisa memilih mana yang baik dan tidak yang Haq dan yang bathil.
Syafa dan kakak-kakaknya menjalani jenjang SMA di sekolah yang berbeda-beda. Mulai dari SMK, SMA, dan juga MAN. Semuanya telah dicoba, dan memiliki kelebihan serta kekurangannya masing-masing. Kak Nurul merupakan lulusan SMK, sekolahnya swasta bukan negeri karena pada saat itu kak Nurul hanya ingin bersekolah di satu sekolah yaitu SMA. Sedangkan pada saat itu biaya SMA sangat lah mahal sehingga orang tuanya tak mampu membiayai jika kak Nurul tetapi ingin bersekolah di sana. Kak Nurul sempat marah dan mogok makan, sangat sulit untuk dibujuk. Dan pada saat itu sekolah yang masih menerima murid adalah SMK tersebut sehingga orang tuanya memutuskan untuk memasukkan kak Nurul ke SMK tersebut. Padahal dulunya kak Nurul merupakan lulusan dari SMP terfavorit dan termasuk anak yang pintar. Hanya karena kurang biaya hingga ia masuk ke SMK swasta pada saat itu. Kak Abdul lebih beruntung karena bisa masuk sekolah negeri yaitu MAN (Madrasah Aliyah Negeri). Dan Syafa menjadi lebih
beruntung karena bisa masuk SMA favorit yang dulu diinginkan kak Nurul tanpa
mengeluarkan biaya sepeser pun. Paling hanya untuk membeli keperluan sekolah
saja, untuk biaya masuk dan lain-lain tidak ada. Karena di antara
kakak-kakaknya kemampuan Syafa lebih naik sedikit. Alhamdulillah prestasi
ketiganya semua baik dan tak pernah membuat masalah yang merugikan diri
sendiri.
Kendala yang membuat
Syafa awalnya sulit untuk melanjutkan sekolah adalah biaya. Hal itu disebabkan
karena perbedaan umur Syafa dengan kakaknya. Kak Nurul dan kak Abdul berbeda 3
tahun, Syafa dan kak Abdul pun sama. Sehingga sulit untuk membiayai semuanya.
Contohnya saja saat kak Nurul kelas 3 SMK, kak Abdul saat itu kelas 3 MTs dan
Syafa kelas 6 SD. Sehingga semuanya membutuhkan biaya yang sangat banyak pada
saat itu. Dan pada saat Syafa lulus dari MTs, bertepatan dengan kak Abdul lulus
di MAN juga sehingga orang tuanya lebih memprioritaskan kak Abdul. Karena kak
Abdul seorang laki-laki dan harus memiliki pendidikan yang tinggi untuk bisa
bertanggung jawab untuk keluarganya kelak. Syafa saat itu menerima saja jika
memang itu yang terbaik, ia tak apa jika tak melanjutkan sekolah jika ia harus
pesantren saja. Tapi gurunya merupakan penyelamat bagi Syafa hingga ia bisa ada
di SMA favorit tersebut saat ini. Ia bersyukur masih ada yang mau menolongnya
dan masih peduli terhadapnya. Allah selalu memberikan solusi bagi umatnya yang
bertakwa. Itulah prinsip yang Syafa pegang saat ini.
Syafa dibelikan handphone
pada saat ia pulang dari acara sekolah. Ada satu kisah kecil sebelum Syafa
berangkat ke acara tersebut. Acaranya yaitu pramuka wajib, dimana semua siswa
baru wajib ikut serta. Dan pada saat itu ada biaya yang harus dikeluarkan
sedangkan Syafa tidak memiliki uang sama sekali, ia sudah berbicara kepada
orang tuanya tapi orang tuanya pun tidak memiliki uang. Padahal yang
dikeluarkan hanya 100 ribu, tapi memang saat itu ayah Syafa tidak memiliki uang
sebesar itu. Syafa ingin ikut karena ia bisa mengenal teman-temannya yang lain.
Ia takut hanya ia yang tidak akrab dengan yang lain. Karena kak Nurul pernah
berkata, "Kalau kamu nggak ikut acara ini, kamu rugi loh soalnya nanti di sana
semua pasti mengakrabkan diri dan bisa lebih kenal lagi sama yang lain."
Syafa bingung ingin ikut tapi tak ada biaya. Hingga suatu hari saat esoknya
akan pergi, ada pengumuman jika ada yang tidak bisa ikut datang saja ke kantor.
Syafa pun datang sendiri dan menemui guru di sana. Entah kenapa pada saat itu
Syafa ingin sekali menangis ia bingung saat gurunya bertanya,
"Kenapa?"
Gurunya pada saat itu bingung hanya berkata,
"Cerita aja, kamu mau ikut?" "
Mau," jawab Syafa
meredakan tangisannya.
"Yaudah nanti kamu
ikut, besok kamu tinggal bawa perlengkapan kamu aja, untuk biaya jangan
dipikirkan," ucap guru Syafa sambil tersenyum dan mengusap punggung Syafa.
"Terima kasih
bu," jawab Syafa sambil berpamitan.
Saat sampai rumah ia pun
berbicara kepada keluarganya dan ia malah ditertawakan karena menangis. Jujur
ia bingung kenapa ia sampai menangis, pada saat itu tiba-tiba saja ia ingin
menangis. Syafa sangat bersyukur karena Allah selalu memberikan kemudahan
kepadanya. Setiap ia ada masalah ia selalu berdo'a kepada Allah agar diberi
kemudahan dan Allah selalu memberikan ia jalan keluar di setiap masalahnya.
Syafa yakin Allah pasti akan selalu membantunya jika ia beriman dan bertakwa
kepada Allah. Jika ia berpaling sedikit saja dari Allah ia tidak tahu akan seperti
apa nantinya.
Permulaan di SMA semua
berjalan baik. Tak ada masalah serius hanya bagaimana Syafa membuat dirinya
nyaman di tempat baru itu. Semua teman-temannya masih baik, tidak ada yang aneh-aneh.
Mungkin karena masih baru sehingga sifat-sifatnya belum sepenuhnya terlihat.
Dan Syafa di awal sudah dipandang baik oleh teman-temannya sehingga terkadang
ia tidak bisa mengekspresikan dirinya yang sebenarnya. Dan Syafa hanya dekat
dengan satu teman saja pada awalnya. Tapi ia sudah mencoba untuk mengakrabkan
diri dengan lingkungan serta teman-temannya. Tinggal menunggu bagaimana ke
depannya akan kah sama atau banyak perubahan. Semoga awal yang baik akhirnya
pun baik. Itulah do'a Syafa agar semua tetap berjalan dengan kehendak Allah.
4. Cobaan
Cobaan, masalah, ujian
dan banyak kata lainnya yang memiliki makna hampir sama dengan kata tersebut.
Orang selalu takut menghadapinya. Antara takut, tak sanggup atau merasa
terbebani. Banyak orang berpikir jika diberi banyak cobaan maka Allah tidak
sayang kepadanya. Tapi maaf, itu tidak lah benar jika kita diberi cobaan atau
ujian sebenarnya Allah sayang kepada kita. Jika kita dapat melewati cobaan
tersebut dengan sabar, maka Allah akan menaikkan derajat kita juga keimanan
kita akan bertambah semakin kuat. Sebaliknya jika ketika kita diberi cobaan dan
kita malah mengeluh terus menerus tanpa berusaha menyelesaikannya maka dosa
yang akan kita dapat. Jika kita diberi cobaan sebaiknya diselesaikan dengan
sabar serta syukur. Bersabar atas cobaan yang diberikan dan bersyukur karena
ternyata Allah masih sayang juga peduli terhadap kita sebagai umatnya.
Seseorang yang dalam
hidupnya tidak diberikan cobaan atau masalah apa pun, maka Allah tidak sayang
kepadanya karena dengan adanya cobaan Allah ingin menaikkan keimanan kita.
Orang yang hidupnya seperti itu biasanya tidak pernah kesulitan dalam hal apa
pun. Apa yang dia inginkan pasti terkabul tanpa susah-susah berusaha, keuangan
ada terus dan hal-hal lainnya. Dan orang seperti itu cenderung bertanya-tanya
kenapa hidupnya sangat lah enak tidak ada cobaan masalah atau pun yang lainnya.
Semuanya datar, apa yang diinginkan terkabul, tanpa sulit berusaha. Nah itu
tandanya Allah sudah tidak peduli sehingga hamba tersebut tidak diuji. Ujian
atau cobaan banyak jenisnya bisa berupa kekayaan atau harta, kepintaran,
wewenang, tanggung jawab, kemiskinan, penyakit, musibah dan banyak lagi.
Tinggal bagaimana kita menghadapi semuanya dengan rasa sabar serta syukur.
Begitu pun dengan yang
dialami Syafa saat ini. Mungkin awalnya ia bisa bernapas lega karena semua
berjalan sesuai kehendaknya tapi tak berapa lama semua berubah seiring waktu
berjalan. Semua berjalan sesuai do'a Syafa, tak ada masalah serius hingga saat
kelas X semester 2 mulai muncul masalah-masalah. Tak serius tapi cukup
mengganggu. Dan berdampak pada kenyamanan Syafa di kelas tersebut. Ia mulai
merasakan terbentuknya kelompok-kelompok dalam bergaul. Terbukti saat pembagian
kelompok yang diserahkan kepada murid, jadi murid yang memilih anggotanya bukan
dipilih.
"Oke anak-anak,
sekarang kalian bentuk kelompok ya, harus campur nanti berikan pada ibu jika
semua sudah terbagi," ucap Bu guru pada saat itu.
"Baik bu," ucap
anak-anak serentak.
Saat pembagian
orang-orang sibuk berkerumun, dan Syafa bingung akan masuk ke kelompok mana.
Awalnya ia bertanya pada satu kelompok, "Aku masuk ke kelompok kalian
ya."
"Maaf udah penuh,
coba tanya yang lain." Ucap salah satu anggota kelompok tersebut.
Ia masih berusaha
bertanya ke kelompok lain hingga akhirnya waktu habis dan ia masih belum
mempunyai kelompok.
"Oke anak-anak,
waktunya habis berikan kertas yang berisi nama-nama tiap kelompok ke ibu ya,
jika masih ada yang belum masuk biar ibu yang tentukan nanti ya." Ucap Bu
guru.
"Iya Bu," ucap
anak-anak.
Akhirnya Syafa masuk ke
kelompok yang sudah ditentukan oleh Bu guru. Ia tak bisa protes meskipun
kelompoknya tak sesuai dengan keinginannya, tapi ia tetap menerimanya. Bukannya
hanya sekali Syafa seperti itu, terkadang ia diajak gabung dalam sebuah
kelompok kadang juga ia sama sekali tak diajak. Padahal itu merupakan hal kecil
tapi karena hanya Syafa yang diperlakukan seperti itu, jadi ia merasa seperti
dikucilkan. Padahal ia tidak pernah menyinggung orang dan selalu berbuat baik.
Entah karena ia yang
menarik diri atau karena orang yang berubah. Ia pun tidak tahu. Atau juga
karena teman-temannya selalu menghabiskan waktu bersama ketika pulang sekolah
sedangkan ia selalu langsung pulang jika tidak ada kegiatan ekstrakurikuler
atau kepentingan yang lainnya. Terkadang ia berpikir mungkin ia tidak cocok ada
di lingkungan tersebut dan hal itu yang mengganggu pikirannya. Ia merasa tidak
bebas mengekspresikan diri di kelas tersebut. Seperti dia dibentuk oleh
orang-orang yang menilainya. Bukan dirinya yang sesungguhnya. Jika ia berbuat
sedikit saja berbeda dari biasanya teman-temannya pasti membuat hal itu seperti
hal yang langka. Terkadang ia terbebani jika terus diperlakukan seperti itu.
Jika di kelas ia tidak
bisa membuka dirinya maka di ekstrakurikuler DKM ia bisa membuka dirinya.
Karena perempuan dan laki-laki dipisahkan sehingga ia lebih nyaman saat bersama
teman-teman perempuannya. Di kelas semua berbaur sedangkan di DKM tidak sedekat
di kelas. Karena Syafa merupakan lulusan dari MTs jadi dia lebih nyaman saat ia
bersama teman-teman perempuannya dibandingkan dicampur antara perempuan dan
laki-laki. Awal masuk ia sempat mencoba berbaur dengan laki-laki maupun
perempuan. Tapi setelah sadar bahwa laki-laki dan perempuan tidak bisa sedekat
itu sehingga ia kembali pada prinsip awalnya untuk menjaga jarak dengan lawan
jenis.
Mungkin karena hal itu
juga yang membuat ia tidak nyaman berada di kelasnya, juga dijauhi oleh
anak-anak kelasnya. Awalnya ia biasa saja tapi lama-lama ia mulai tak nyaman
dan berharap agar ketika naik kelas nanti kelasnya akan dipisah. Ia sudah capek
mencoba menjadi orang baik terus. Tapi ia susah untuk mengekspresikan suasana
hatinya. Ia jadi teringat ucapan gurunya pada saat di MTs bahwa jika ia tak
pandai mengekspresikan emosinya. Jika dia marah, senang atau sedih orang lain
tidak bisa membedakannya karena ekspresinya sama. Syafa sudah biasa memendam
masalahnya sendiri. Karena ia tak ingin menjadi beban bagi orang lain.
Hingga kenaikan kelas,
kelasnya terus seperti itu kadang bisa membuat nyaman Syafa terkadang tidak.
Karena ada beberapa hal yang bertentangan dengan prinsip Syafa. Yang sangat
membuat Syafa prihatin terhadap anak zaman sekarang adalah pergaulannya.
Pergaulan antar perempuan dan laki-laki yang terlalu dekat. Sedangkan Islam
membatasi setiap kegiatan antara laki-laki dan perempuan, dan itu pun tidak
dekat. Kadang ia berpikir ingin masuk ke MAN saja karena di sana sistemnya sama
seperti di MTs. Dan terkadang Syafa menyesal telah masuk ke SMA, coba saja
waktu itu ia pesantren saja pasti ilmu agamanya bertambah. Dan banyak lagi kata
andai juga penyesalan. Kita tidak bisa memutar waktu, hanya bisa menerima
dengan lapang dada semua yang telah diberikan kepada kita. Jika hidup kita
terus berputar di kata andai juga penyesalan maka hidup kita tidak akan maju
dan diam di tempat. Tak ada gairah untuk melanjutkan hidup, hanya duka yang ada
dalam hari-hari kita.
Ia kembali bisa bangkit
atas bantuan dari teman seperjuangannya di DKM. Di DKM dia seperti memiliki
keluarga baru, dan lebih memahami dirinya. Ia seperti menemukan tempatnya. Dan
semua temannya tidak pernah membedakan ia. Ia selalu dianggap sama juga
dikelilingi banyak teman-teman yang baik sekali. Jika di kelas ada beberapa
temannya yang menunjukkan ke tidak sukaannya kepada Syafa. Seperti dari cara
menatapnya, cara bicaranya dan kapan dia dibutuhkan. Sehingga membuat Syafa
tidak nyaman berada di kelas. Syafa tahu bahwa ia masuk ke SMA ini bukan
seperti mereka. Ia menggunakan jalur khusus tapi ia tak ingin dibedakan ia
ingin dianggap sama. Mungkin Syafa memang bukan orang yang ramah atau pun asyik
diajak main. Tapi ia ingin diperlakukan sama dengan yang lain, bukan hanya
ketika dibutuhkan saja. Ada satu orang yang selalu menatap Syafa dengan
berbeda, entah memang wataknya seperti itu, atau hanya Syafa yang merasakannya.
Ia pun bingung, apakah harus bertindak atau diam saja selama orang tersebut
tidak bermain fisik.
Tak terasa ke naikkan
kelas pun tiba, dan ternyata kelasnya memang dipecah tergantung lintas minat
yang dipilih tiap orang. Syafa memilih pelajaran geografi sebagai lintas
minatnya. Saat itu ia dihadapkan dengan dua pilihan yaitu, geografi dan bahasa
Jepang.
"Aku pilih yang mana
ya, bahasa Jepang aku ngerti sih tapi aku mau lebih memperdalam tentang
geografi. Apa aku pilih geografi aja ya, kok bingung sih." Ucap Syafa
mempertimbangkan pilihannya.
Tiba-tiba ayahnya
berkata, "Yang sesuai sama minat kamu aja nak. Jangan dipaksakan jika kamu
tidak tertarik. Yang kemungkinan bisa kamu kembangkan saja, agar berguna untuk
nanti kamu kuliah."
"Aku maunya geografi
yah, soalnya kalau nanti lintas jurusan kayaknya gampang, aku nggak terlalu
suka bahasa soalnya." Ucap Syafa menerangkan.
"Ya sudah kamu pilih
geografi saja, insya Allah bisa membantu kamu nanti di kuliah ya. Bismillah
sebelum memulai segalanya ya jangan gegabah, pikirkan baik-baik." Ucap
ayah memberi masukan.
"Siap yah, aku pasti
pikirkan baik-baik lagi." Ucap Syafa sambil tersenyum.
Sebenarnya ia suka
keduanya. Kalau saja bisa keduanya dipilih mungkin ia akan mengambil keputusan
tersebut. Tapi karena ia disuruh untuk memilih, maka ia pun memilih geografi.
Meskipun nilai geografinya lebih kecil dibandingkan bahasa Jepang, ia tetap memilih
geografi. Pada saat data pemilihan lintas minat akan diberikan pada pihak
sekolah, Syafa sempat ragu namun bersyukur juga karena saingan ia di kelas 1
SMA rata-rata memilih lintas minat bahasa Jepang. Namun, hingga data tersebut
sudah diberikan pun, ia tetap masih merasa ragu. Berdasarkan data pemilihan
lintas minat, hampir setengah dari jumlah siswa di kelasnya memilih geografi.
Syafa hanya berharap jika
nanti kelasnya dipecah, ia mendapat teman yang satu frekuensi dengannya.
Pokoknya bisa membuat ia nyaman dalam belajar, dalam bergaul dan mendukungnya
saat susah mau pun senang. Dan semoga ia bisa beradaptasi dengan baik di kelasnya
nanti. Harapan serta do'a yang baik selalu ia ucapkan agar kehidupannya lebih
baik lagi dan lagi. Dan semoga harapan serta do'a tersebut dapat terkabul.
Hanya itu keinginan Syafa tak ada yang lain. Ia selalu berdo'a kepada Allah
sambil menengadahkan tangannya,” Ya Allah semoga Engkau selalu memberikan
kemudahan serta keberkahan dalam segala proses atau pun peristiwa yang hamba
alami. Aamiin."
Dan orang tuanya juga
selalu mendoakan anak-anaknya agar selalu dilindungi oleh Allah SWT. " Ya
Allah jagalah anak-anak kami, berikanlah kemudahan dalam mengatasi segala
masalah yang dihadapinya. Lindungilah keluarga kami dari segala marabahaya dan
tipu daya. Tingkatkan lah keimanan kami, dekatkan lah kami kepada-Mu. Dan
berikanlah keberkahan serta keridhoan kepada keluarga kami. Serta kelompokkan
lah keluarga kami dengan orang-orang yang beriman. Aamiin allahuma
aamiin."
Begitu pula kakak dan juga
adik Syafa. Semoga mereka selalu ada dalam lindungan Allah SWT. Karena Allah akan
melindungi orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya. Tak ada kata sia-sia
dalam beribadah, semua pasti ada balasannya di akhirat nanti. Mau itu perbuatan
baik atau buruk. Semoga doa kita selalu terkabul oleh Allah SWT. Aamiin ya Allah
ya rabbal 'alamin.
5. Lebih parah
Penderitaan serta
kebahagiaan seseorang itu berbeda-beda. Ada yang ketika mendapatkan suatu hal
yang menyenangkan ia sudah bahagia, seperti diberikan hadiah ketika ulang
tahunnya atau bahkan hanya diingat dan diucapkan saja ketika ia ulang tahun ia
sudah sangat bahagia. Dan ada juga yang patokan kebahagiaannya itu tinggi, ada
yang juga dengan harta kekayaan dan lain-lain. Tiap orang pasti berbeda. Dan di
samping kebahagiaan akan selalu ada penderitaan. Itu lah kehidupan kadang
bahagia kadang menderita. Semua pasti ada porsinya masing-masing, tak mungkin
tertukar. Penderitaan pun sama ada yang karena hal kecil saja sudah menderita
ada juga yang karena hal besar dalam hidupnya. Kita tidak bisa membandingkan
penderitaan setiap orang. Tapi kita harus belajar, di saat kita menderita
jangan mudah menyerah lihat lah orang lain yang lebih menderita dari kita insya
Allah kita akan berpikir ulang serta sadar bahwa ternyata kita lebih beruntung
dari mereka.
Jika kita
membanding-bandingkan penderitaan kita terhadap orang lain, maka kita termasuk
orang yang tak bersyukur. Dan kita pasti akan merasa menjadi orang yang lebih
menderita. Tapi kita juga tidak bisa berkata seperti "Kamu tuh liat coba
orang lain yang lebih menderita dari kamu, jangan seolah-olah jadi orang paling
menderita di dunia deh, pikir coba." Tidak bisa seperti itu karena orang
yang menderita hanya ingin didengar keluh kesahnya, ingin dibantu untuk
bangkit. Ingin tak egois merasa diri paling menderita. Jadi, kita sebagai
temannya harus membantunya bangkit, bukan malah mendorongnya masuk ke jurang
penderitaan yang lebih parah. Bantu, ulurkan tangan kalian tarik dia dari
penderitaan dan bawa menuju kebahagiaan.
Libur kenaikan kelas pun
datang, yang menandakan bahwa Syafa sebentar lagi akan memasuki kelas XI.
Dimana di kelas XI ini sudah tidak ada lagi toleransi terhadap sifat
kanak-kanak Syafa dan teman-temannya. Karena di kelas ini semua dipaksa untuk
melihat dunia, bagaimana ke depannya. Bagaimana nanti kuliah, bagaimana nanti
kerja. Kita sudah dikenalkan dengan penerapan materi yang telah kita pelajari.
Bukan saatnya main diutamakan, tetapi jangan juga dilupakan. Kita masih bisa
bermain bersama teman tapi waktu belajar tetap harus ada. Sabar dalam
menghadapi setiap proses, jalani dan rasakan setiap perubahan yang ada dalam
diri kita. Baik itu perilaku yang baik atau pun buruk, hargai perubahan kita,
nikmati prosesnya itu merupakan jalan kita menuju kedewasaan sesungguhnya.
Meskipun kita belum
menginjak kelas XII, kita tetap harus mempersiapkan semuanya dari awal. Agar
ketika nanti sudah tiba waktunya kita memang harus menjadi dewasa dalam segala
hal. Kita sudah mempersiapkannya, dan tidak akan terkejut serta bingung akan
melakukan apa. Kehidupan sebenarnya sangat lah sulit itu yang selalu diajarkan
oleh guru Syafa. Semua tak akan semudah seperti saat kita duduk di bangku SMA.
Di dunia perkuliahan semua hal dipermasalahkan, baik dari diri kita atau pun
lainnya. Kesenjangan sosial pun lebih terlihat saat kita berada di bangku
kuliah. Kita harus bisa menyikapi setiap masalah dengan tenang dan sabar, jangan
tergesa-gesa agar tak salah melangkah. Pilihan yang kita pilih harus kita
pertanggung jawab kan, tak bisa asal memilih. Semua ada konsekuensinya, baik
atau pun buruk.
Syafa belum mengetahui ia
akan dimasukkan ke kelas mana karena akan diumumkan saat pembayaran uang
bulanan nanti. Syafa berharap dapat sekelas dengan temannya di DKM atau teman
dekatnya di kelas. Ia takut nanti tidak ada teman, takut nanti sendirian.
Padahal saat kelas X tidak seperti itu, entah kenapa ia jadi takut jika harus
sendiri terus hingga kelas XII nanti. Ia selalu berdo'a, " Ya Allah semoga
nanti saat di kelas XI aku mendapatkan teman yang baik, yang mengerti aku dan
bisa diajak hijrah bersama, aamiin."
Tiba-tiba ada suara yang
datang dari arah belakang Syafa. Suaranya seperti ini, "aamiin."
Syafa terkejut dan
langsung memutar kepalanya ke arah belakang, dan ternyata adiknya yang tadi
bersuara.
"Kamu kenapa sih mi,
bikin kaget aja. Tiba-tiba nyambung aja
kan takut," ucap Syafa memegang dadanya.
"Maaf kak, kan aku
mau doa kakak terkabul jadi aku bilang aamiin." Ucap Ismi sambil terkekeh.
"Dasar kamu ya,
makasih deh udah didoain juga. Aku benar-benar takut tahu kalau nanti nggak
punya teman di kelas." Ucap Syafa curhat lada adiknya.
"Jangan kayak gitu
dong kak, nanti jadi doa beneran loh. Udah ah aku mau masuk kamar dulu."
Ucap Ismi pergi meninggalkan Syafa yang diam saja memikirkan bagaimana nasibnya
nanti.
"Semoga aku punya
banyak teman nanti ya Allah, aamiin." Ucap Syafa lalu keluar dari
kamarnya.
Setelah seminggu libur
kenaikan kelas, akhirnya para siswa yang naik ke kelas XI disuruh untuk
melakukan daftar ulang. Dan tiba lah saatnya Syafa untuk pergi ke sekolah.
Sebenarnya Syafa tidak membayar sepeser pun uang bulanan. Ia hanya disuruh
untuk membawa surat keterangan tidak mampu yang baru. Pada saat itu Syafa tidak
tahu jika ia harus membawa itu, hingga ia langsung menelepon ibunya untuk
membuat surat yang baru. Syafa sudah panik sedari tadi karena tempat daftar
ulang sudah mau tutup. Sedangkan jika esok hari, ia akan pulang kampung ke
tanah kelahirannya. Akhirnya ibunya datang pada jam 1 siang. Syafa dan ibunya
langsung datang ke tempat daftar ulang dan memberikan surat itu. Lalu ia
ditanya apakah benar bahwa ia memang tidak membayar sepeser pun. Muka ibu yang
ada di sana seperti merendahkan Syafa dan ibunya. Sebenarnya Syafa tidak pernah
memakai baju yang mewah, ibunya pun seperti itu. Mereka memakai baju yang
menutup aurat. Jadi bukan kan wajar saja bila Syafa masuk tanpa sepeser pun
biaya. Tapi pada akhirnya ibu tersebut percaya dan memberikan kartu berisi
keterangan kelas yang akan ditempati Syafa pada saat kelas XI.
Setelah membaca kelas
yang ada di kartu tersebut, akhirnya Syafa tahu jika ia di tempatkan di kelas
XI IPA 3. Ia pun langsung mengecek grup kelasnya saat kelas X dan mengetahui
siapa saja yang akan sekelas dengannya nanti. Dari semua teman yang akan
sekelas dengannya, tak ada yang dekat dengannya hanya satu orang yang iya yakin
bisa diajak berbicara. Tapi itu pun belum tentu, ia semakin bingung nanti
bagaimana. Apakah ia akan sendiri lagi atau ada teman yang akan terus
bersamanya. Ketika sudah mendekati hari masuk sekolah, ia mencari tahu apakah
sudah dibentuk grup WhatsApp kelas atau belum. Ia bingung bertanya pada siapa,
sehingga ia memberanikan diri bertanya pada teman sekelasnya yang juga teman
sekelasnya di kelas X. Ia pun bersyukur karena diberikan link grup kelas,
ternyata temannya itu sangat baik, ia kira tak akan ada balasan jika ia chat
terlebih dahulu.
Setelah masuk ke grup
tersebut ia langsung melihat siapa saja yang akan sekelas dengan dirinya.
Apakah ada yang dia kenal atau tidak. Setelah dilihat, kebanyakan ia tidak tahu
tapi ada beberapa yang ia tahu juga.
Sebelum masuk kelas ia
bingung sekali, nanti bagaimana kelasnya? Bagaimana teman-temannya? Apakah baik-baik
atau tidak. Ia bingung sekali pada saat itu, rasanya ingin pindah kelas saja
kalau bisa.
"Kak Nurul, kayaknya
Syafa nanti nggak ada teman deh di kelas. Banyak orang yang nggak Syafa kenal.
Terus ya yang sekelas lagi sama Syafa tuh orang-orang nya udah berkelompok gitu
loh. Syafa nggak yakin bakal diajak sama mereka. Kesel ih takut lagi."
Ucap Syafa mengadu pada kak Nurul.
"Sabar dik, belum
tentu nanti seperti itu. Bisa saja kan malah lebih baik dari teman kelas kamu
sebelumnya." Ucap kak Nurul menenangkan.
"Iya sih kak, tapi
kok feeling aku nggak enak ya. Udah takut duluan gitu, agak nyesel sih sempat
minta dipecah. Kalau tahu bakal gini sih nggak mau. Udah nyaman ternyata Syafa
tuh sama kelas sebelumnya." Ucap Syafa dengan raut wajah menyesal.
"Kan udah terjadi
mau gimana lagi coba? Udah kamu berusaha cari teman baru lagi aja ya. Bismillah
minta pertolongan Allah biar kamu nggak terus bingung gini. Kakak yakin banyak
kok yang mau temenan sama kamu." Ucap kak Nurul sambil tersenyum.
"Iya kak, Syafa akan
berusaha. Makasih ya kak udah mau dengerin Syafa cerita." Ucap Syafa
sambil memeluk kak Nurul.
"Iya adikku,"
ucap kak Nurul sambil mengusap kepala Syafa.
Hari sekolah pun tiba,
Syafa sudah bersiap pagi-pagi sekali karena takut tidak kebagian bangku. Ia
ingin tempat duduknya di paling depan. Karena jujur terkadang tulisan di papan
tulis tidak terlihat oleh Syafa. Ia tidak tahu apakah matanya bermasalah atau
tidak karena tidak pernah melakukan pemeriksaan mata. Jadi dia bertekad untuk
mendapatkan bangku di barisan pertama. Agar ia lebih fokus dan pelajaran pun
mudah untuk dicermati. Jika ia duduk di belakang mungkin saja ia akan terus
mengobrol dengan teman sebangkunya. Oh iya saat pertama masuk kelas, bangku
disusun satu orang satu. Sehingga Syafa tidak pusing mencari teman sebangku.
Tetapi setelah beberapa hari, banyak yang ingin bangku nya disusun menjadi
untuk dua orang. Akhirnya ada yang mengajak Syafa untuk duduk sebangku. Syafa
mengenali orang tersebut, karena pernah ada di ekstrakurikuler yang sama. Tapi
saat ini mereka sudah tidak mengikuti ekstrakurikuler tersebut. Namanya Angel,
dulunya kelas mereka bersebelahan. Tetapi jika bertemu mereka hanya saling
tersenyum saja. Dan sekarang mereka di satukan dalam kelas yang sama.
Syafa berharap semoga
dirinya dan Angel bisa menjadi teman baik hingga mereka kelas XII nanti. Mereka
berhasil menempati bangku kedua dari depan. Karena Angel tidak ingin terlalu
depan sehingga tidak memilih bangku pertama. Syafa sih ikut saja karena ia
tidak mungkin duduk sendiri. Setelah beberapa hari ia ada di kelas tersebut, ia
merasa biasa saja. Yang awalnya takut tidak ada teman sekarang ia memiliki
banyak teman. Ada sekitar 4 atau 5 orang yang selalu bersama dengan Syafa. Dan
semua berjalan lancar. Begitu pun di ekstrakurikuler DKM ia tidak memiliki
banyak masalah, baik dengan teman seangkatannya atau pun kakak kelasnya. Syafa
merupakan anggota ekstrakurikuler yang rajin. Selalu mengikuti arahan dari
kakak kelasnya. Tapi tak ada kakak kelas yang menurutnya dekat dengannya.
Mungkin ia kurang membuka diri sehingga sulit untuk didekati. Meskipun begitu
ia berharap dapat memberikan kesan yang baik pada setiap orang yang ia temui.
Semua berjalan lancar
hingga ia merasakan kejanggalan. Saat ada sebuah acara dimana satu kelas
diberikan instruksi untuk menggunakan baju yang sama, hanya Syafa dan
teman-temannya yang tidak tahu. Sedangkan hampir semua perempuan menggunakan
pakaian yang sama. Dan ketika berfoto pun sama mereka tak mengajak Syafa juga
teman-temannya. Sebenarnya Syafa sudah curiga dari beberapa hari sebelumnya
bahwa perempuan di kelasnya pasti memiliki grup sendiri yang isinya tentu saja
perempuan semua. Tapi anehnya hanya Syafa dan teman-temannya yang tidak masuk
grup tersebut. Mereka tak terlalu mempersalahkan hanya saja sedikit ada rasa
sakit seperti dibedakan oleh anak-anak kelasnya. Dan sebelum memasuki tengah
semester, Angel tiba-tiba sakit lama sekali. Setalah dijenguk pun katanya ia
akan pindah karena sudah terlalu banyak ketinggalan pelajaran. Syafa yang mendengarnya
tentu saja sedih, ia pun langsung menghubungi Angel. Tapi Angel telah mengganti
nomornya. Seolah-olah ia ingin memutuskan semua kontak dengan SMA tersebut. Ada
yang bilang bahwa pada saat kelas 1 Angel memang diperlakukan sedikit berbeda
oleh teman-temannya. Padahal ia tidak pendiam seperti Syafa, sangat mudah
bergaul. Entah apa yang membuat ia dibedakan oleh teman-temannya.
Setelah Angel keluar
Syafa menjadi duduk sendiri. Karena jumlah murid di kelasnya ganjil. Dan Syafa
tidak mungkin akan duduk dengan laki-laki. Ia memiliki teman sebangku jika ada
salah seorang anak kelas yang tidak masuk, sehingga duduk bersama Syafa.
Meskipun begitu Syafa tetap memiliki teman yang selalu bersamanya. Ada sekitar
4 orang, sehingga ke mana-mana mereka selalu berlima jika bersama Syafa. Yang
paling mengganggu bagi Syafa adalah saat pelajaran seni. Dimana ia dan
teman-teman dekatnya tidak berada dalam kelas yang sama. Syafa pelajaran
seninya adalah seni tradisional sedangkan teman-teman dekatnya seni rupa.
Ketika pembelajaran seni tradisional, Syafa sering diam saja karena ia bingung
akan berbicara dengan siapa. Kesenangan mereka dengan Syafa berbeda. Syafa
paling hanya memainkan handphone jika masih ada baterainya. Jika tidak ia hanya
akan diam. Kadang ia ingin menangis, bingung ketika diberi tugas, karena jujur
ia tidak terlalu bisa bermain alat musik. Saat kelas X bermain alat musik
menyenangkan sedangkan sekarang tidak. Kadang ia sering merenung dengan semua
hal yang terjadi.
Syafa tak bermaksud untuk
berburuk sangka kepada wali kelasnya. Hanya saja ia suka merasa bahwa wali
kelasnya tersebut pilih kasih terhadap anak-anak kelasnya. Ia memang tidak
dekat dengan wali kelasnya, tapi bukan berarti ia ingin dibedakan seperti.
Mungkin karena gurunya masih muda atau masih baru. Tapi jujur Syafa selalu
merasa dibedakan oleh gurunya, entah karena apa. Contoh nya saja ketika ia
bertanya, pasti gurunya hanya menjawab seadanya. Terkadang tak memandang wajah
Syafa, Syafa bingung apakah ia pernah berbuat salah kepada wali kelasnya atau
karena Syafa bukan berasal dari kalangan atas sehingga diperlakukan seperti
itu. Tak semua guru, hanya saja jika diperlakukan berbeda oleh wali kelas
rasanya itu sakit sekali. Memang seperti tak menunjukkan, tapi Syafa merasakan
bahwa gurunya memperlakukannya berbeda. Ia mencoba mengerti tapi sulit untuk
menerima itu. Dan teman-temannya pun ada beberapa yang memandang Syafa sebelah
mata. Padahal Syafa tak pernah mencari masalah kepada mereka. Syafa bingung
harus seperti apa, apa ia salah berada di kelas tersebut. Terkadang saat di
rumah ia selalu menangis, karena merasa tak nyaman berada di kelas tersebut. Ia
seperti dikucilkan dan tak dianggap. Jika di kelas X ia hanya tak ditemani,
tapi disini bahkan ia tak dianggap. Ia ingin protes tapi tak bisa, ia hanya
bisa menerima semuanya.
6. Mungkin teman
Teman, seseorang yang
kita kenal dan ketika bertemu saling bertegur sapa. Jika ingin lebih dekat
mungkin namanya akan berubah menjadi sahabat. Benarkah begitu? Atau teman dekat
tetap disebut teman? Salah kah jika seseorang tidak ingin memiliki sahabat. Bukan
kan itu hak mereka? Akan memiliki sahabat atau tidak. Bukan maksud tak percaya
kepada siapa-siapa, hanya saja kurang cocok dalam beberapa hal. Mungkin
seharusnya saling mengerti dan menerima, namun hal itu tak semudah dilakukan.
Apalagi jika kita memiliki teman dekat lawan jenis. Di dalam Islam tidak
menganjurkan untuk memiliki teman dekat lawan jenis. Karena takutnya terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan. Contohnya saat kita ada masalah dan cerita lah
kepada teman kita yang lawan jenis. Nanti kita akan ditenangkan pasti jika
cerita kita sedih, ia akan mengusap punggung kita lalu merangkul kita. Bukankan
hal itu dilarang oleh Allah? Karena tak boleh ada kontak fisik antara laki-laki
dan perempuan yang tidak memiliki hubungan darah atau belum menikah. Tak boleh
ada kontak sekecil pun, sekedar bertatapan pun tak boleh.
Akhirnya setelah
menjalani satu semester dengan duduk sendiri, kelas Syafa kedatangan murid
baru. Murid baru tersebut merupakan seorang laki-laki, bernama Putra. Itu yang
Syafa dengar ketika murid baru itu memperkenalkan diri di depan kelas. Syafa
melihat sekeliling, apakah ada bangku kosong atau tidak. Ternyata hanya bangku
sebelah Syafa yang kosong. Melihat hal itu Syafa panik, akan kah yang menjadi
teman sebangku Syafa itu laki-laki? Karena sistem dalam sekolah itu membolehkan
murid perempuan dan laki-laki sebangku, jadi lah guru di kelas Syafa menyuruh
Putra untuk duduk di bangku sebelah Syafa. Syafa yang merasa Putra berjalan ke
arah bangku sebelahnya, mulai memberi jarak antara bangkunya dengan bangku yang
akan diduduki Putra. Hingga Putra duduk di bangkunya, Syafa tidak pernah menatap
orangnya, ia hanya fokus pada gurunya yang sudah mulai menerangkan pelajaran.
Hingga tiba-tiba, Putra
menyapanya.
"Hai, aku Putra nama
kamu siapa?" Ucap putra sambil melihat ke arah Syafa.
"Oh hai, namaku
Syafa." Ucap Syafa sambil tetap memperhatikan penjelasan dari guru.
"Aku udah duduk
disini loh, bukan di depan. Orang yang mengajak kamu kenalan tuh ada di pinggir
kamu, jadi liatnya kesini dong." Ucap Putra masih menatap Syafa.
"Ngobrol nya nanti
ya, sekarang mending kita memperhatikan penjelasan guru dulu, oke." Ucap
Syafa yang akhirnya menoleh pada Putra. Itu pun hanya beberapa detik, Syafa tak
ingin berlama-lama posisi seperti itu.
"Oh oke, ternyata kamu
anak yang rajin ya. Eh kamu janji ya nanti ngobrol sama aku, awas aja kalau
bohong." Ucap Putra yang akhirnya mengubah posisi duduknya mengarah ke
depan.
"Iya," ucap
Syafa masih tetap memperhatikan penjelasan guru. Sebenarnya ia tidak terlalu
mendengar ucapan Putra tadi, ia hanya ingin cepat memperhatikan guru tanpa ada
gangguan.
Bel tanda istirahat pun
berbunyi, menandakan waktunya istirahat pertama. Ada beberapa anak laki-laki
yang menghampiri meja Syafa. Syafa bingung, mengapa mereka tiba-tiba datang
menghampiri meja Syafa. Hingga saat mereka memanggil Putra, ia baru ingat jika
sekarang ia memiliki teman sebangku dan itu laki-laki.
"Putra, kantin
bareng yuk! Mau nggak? Kan kamu belum tahu lingkungan sekolah ini, mending
bareng kita aja." Ucap salah seorang dari gerombolan tadi, sebenarnya
mereka tak terlalu banyak hanya 5 orang yang mengajak Putra untuk pergi ke
kantin.
"Sebenarnya aku ada
janji dengan seseorang, lain kali deh aku bareng kalian, oke." Ucap Putra
menolak secara halus ajakan gerombolan tadi.
"Oke deh, seseorang
siapa tuh, baru masuk aja udah dapat ya." Ucap salah seorang dari
gerombolan tadi dengan tertawa.
"Ah bisa saja,
mungkin nanti seseorang itu aku jadikan spesial." Ucap Putra mantap.
"Wah udah yakin aja
nih si Putra, siapa sih orangnya. Bikin penasaran aja," ucap yang lainnya.
"Eh hayu ke kantin,
keburu habis waktunya." Ucap salah seorang dari gerombolan itu yang sudah
menahan kesal dari tadi.
"Iya bawel banget
sih kayak cewek, Putra kita duluan ya. Semoga urusanmu lancar oke." Ucap
orang yang mengajak Putra pertama. Akhirnya mereka berlalu pergi.
Syafa yang tadinya mau ke
kantin tidak bisa, karena jalannya terhalang oleh gerombolan tadi. Ia bersyukur
akhirnya mereka pergi, jadi ia bisa pergi ke kantin. Saat ia sudah berdiri dan akan
pergi ke kantin, Putra memanggilnya.
"Syafa, mau ke mana?
Tadi katanya mau ngobrol." Ucap Putra pada Syafa.
"Aku mau ke kantin,
kan waktunya istirahat. Hah? Emang aku bilang mau ngobrol sama kamu?" Ucap
Syafa bingung sekaligus lapar.
"Tadi kan kamu udah bilang
iya mau ngobrol sama aku. Eh ngobrol nya sekalian ke kantin aja deh yuk."
Ucap Putra sambil mulai bangkit dari tempat duduknya.
"Eh bentar, katanya
kamu ada janji sama seseorang. Kok jadi ikut ke aku sih?" Ucap Syafa
bingung.
"Kan janjinya sama
kamu, makanya aku mau ikut kamu ke kantin." Ucap Putra menjawab
kebingungan Syafa.
"Tapi aku mau
sendiri ke kantinnya, bukannya tadi kamu bareng aja sih sama anak laki-laki
yang lain." Ucap Syafa menolak pergi bersama Putra.
"Kan aku belum tahu
lingkungan di sekolah ini Syafa, masa kamu tega sih ngebiarin aku kebingungan
sendiri nyari-nyari kantin di tengah ramainya orang kelaparan. Kamu tega?"
Ucap Putra mendramatisir keadaan.
"Tega, salah kamu
sendiri tadi nggak ikut pas diajak teman laki-laki yang lain." Ucap Syafa
meninggalkan Putra sendiri di kelas.
Tetapi Putra malah
mengikuti Syafa pergi. Dia terus mengikuti Syafa, selalu diam di belakang badan
Syafa. Hingga Syafa mulai risih, karena banyak anak-anak lain yang melihatnya.
"Kamu kenapa sih?
Coba jalan sendiri aja, nggak usah ngikutin aku." Ucap Syafa sedikit
kesal.
"Kamu kenapa sih?
Aku mau bareng kamu kan nggak boleh, dan siapa juga yang ngikutin kamu, aku
juga kan mau ke kantin." Ucap Putra sambil berlalu meninggalkan Syafa.
"Ada ya orang
nyebelin banget kayak gitu," ucap Syafa berbicara sendiri pada dirinya.
Setelah kembali dari
kantin, Syafa melihat bangkunya masih kosong. Syafa tidak pergi ke kantin
bersama teman-teman perempuannya yang lain. Karena entah kenapa teman dekatnya
tiba-tiba berubah dan menjauh. Mungkin mereka tak ingin dimusuhi oleh teman
perempuan di kelasnya. Syafa bingung sih kenapa teman-teman sekelasnya tak suka
padanya. Apa karena ia tak sekaya yang lain? Padahal ia sudah mencoba untuk
mengakrabkan diri dengan yang lain. Kini Syafa hanya menerima keadaan saja, dan
ia harus bisa mandiri. Tak berapa lama, Putra pun datang masuk ke kelas. Ia
langsung duduk di tempatnya. Syafa tidak menyadarinya, ia hanya fokus pada buku
yang ia baca. Karena Syafa sudah menghabiskan makanannya dan waktu istirahat
masih ada sehingga Syafa mengisinya dengan membaca buku. Syafa mulai risih saat
merasakan ada yang terus menatapnya dan itu terlalu dekat.
Ia pun menoleh ke
sampingnya, ia terkejut sehingga refleks langsung memundurkan kursinya. Untung
saja ia tidak sampai jatuh dari kursinya. Putra yang melihatnya malah tertawa,
sehingga membuat Syafa menjadi kesal. Karena ia menjadi bahan tontonan
anak-anak kelasnya.
"Kamu kenapa sih? Ngeliatin
aku terus udah gitu dekat banget lagi. Emang kamu nggak ada kerjaan lain apa?
Untung aku nggak jatuh." Ucap Syafa sambil menahan kekesalannya agar tidak
meledak.
"Maaf deh, aku nggak
bermaksud bikin kamu jatuh. Aku cuman mau ngobrol sama kamu, bosan tahu diam
aja gini tuh." Ucap Putra berusaha menghentikan tawanya.
"Kan banyak orang
disini tuh, ajak aja yang lain ngobrol. Nggak usah dekat-dekat ih, geser ke
pinggir kursi kamu nya." Ucap Syafa berusaha tak menatap Putra.
"Aku kan mau ngobrol
nya sama kamu, bukan sama yang lain. Terus aku nggak mau jauh-jauh, suara aku
kan kecil nanti kamu nggak bisa denger kalau aku ngomong sama kamu." Ucap
Putra sambil menggeserkan kursinya mendekati kursi Syafa.
"Tapi kan aku nya
nggak mau, aku tuh lagi belajar. Jangan dekat-dekat ih, jaraknya harus 1 meter
atau setengah meter deh. Pokoknya kamu geser ke pinggir sana bukan malah makin
dekat ke aku." Ucap Syafa menggeser kursi Putra dengan kakinya.
"Ayo lah ngobrol
bareng aku. Kalau kamu nggak mau terus aku makin dekat-dekat ke kamu loh."
Ucapnya akan bergeser kembali.
"Jangan mendekat!
Iya aku mau ngobrol sama kamu, tapi jauh-jauh ya." Ucap Syafa pasrah.
"Nah gitu dong, kan
enak kalau gitu." Ucap Putra sambil tersenyum.
Setalah beberapa lama tak
ada suara dari salah satu mereka. Syafa yang sudah bosan diam terus akhirnya
bicara.
"Katanya tadi mau
ngobrol, tapi kok diam terus sih. Tahu gitu aku baca buku aja, dari pada nunggu
kamu bersuara." Ucap Syafa kembali membuka bukunya.
"Eh jangan, maaf aku
lupa mau ngobrol apa. Jadi fokus liat kamu aja deh, cantik soalnya."
Ucap Putra memegang
tangan Syafa.
Syafa refleks langsung
menarik tangannya. Karena jujur ia sangat menjaga interaksinya dengan lawan
jenis. Tak ada dalam kamusnya ia bisa sebangku dengan lawan jenis.
"Cantik itu relatif,
semua perempuan juga cantik." Ucap Syafa menjawab kata-kata Putra.
"Iya deh, maaf ya
tadi aku refleks nggak sengaja pengang tangan kamu." Ucap Putra minta
maaf.
"Iya nggak papa,
asal jangan lagi. Makanya aku bilang jauh-jauh." Ucap Syafa menggeser kursinya
agar menjauh.
Tiba-tiba ada salah satu
anak kelas yang berteriak bahwa guru mata pelajaran matematika yang harusnya
mengajar setelah jam istirahat tidak ada.
"Hei kalian, ibu
matematika nggak masuk nih. Katanya lagi ada urusan, terus kita dikasih tugas
deh. Aku foto terus nanti di share ke grup oke."
Semua pun berteriak
senang, tapi setelah mendengar kata tugas mereka langsung diam kembali. Dan ada
anak perempuan yang berbicara, "Kalau guru nggak ada, tugasnya juga
harusnya nggak ada dong ya. Ini malah tugas yang nyamperin kita huh."
Yang lain hanya
menganggukkan kepala saja. Sedangkan Syafa sudah membuka buku tugasnya untuk
mulai mengerjakan tugasnya. Saat sedang mengerjakan tugas dengan tenang, Syafa
merasakan bangkunya bergerak. Ia merasa aneh, lalu melihat ke samping ternyata
Putra lah pelakunya. Mengetahui itu Syafa kembali mengerjakan tugasnya.
"Syafa, kamu nggak
ngajak aku buat ngerjain tugas bareng apa? Aku kan belum masuk grup kelas jadi
nggak tahu soalnya yang mana." Ucap Putra menatap Syafa.
"Yaudah minta ke
orang lain dong, masa ke aku terus sih." Ucap Syafa masih mengerjakan
tugasnya.
"Kan yang dekat sama
aku kamu. Gini aja deh pinjam handphone kamu sini." Ucap Putra sambil
merebut handphone Syafa yang diletakkan di atas meja.
" Eh mau diapain itu
handphone aku." Ucap Syafa ingin merebut handphone nya.
"Pinjam bentar doang
ih. Nih aku kembalikan handphone kamu. Makasih ya." Ucap Putra
mengembalikan handphone Syafa sambil tersenyum.
"Iya," ucap
Syafa langsung mengambil handphone nya.
Setelah Syafa cek, Putra
hanya memasukkan nomornya lalu mengirimkan soal yang disuruh untuk dikerjakan.
Tapi tunggu, ada beberapa pesan yang dihapus. Syafa berpikir sejenak, lalu
kembali biasa.
"Mungkin salah ketik
ya, ya udah deh mending aku lanjut ngerjain tugas lagi aja." Ucap Syafa
dalam hati.
"Yes aku udah dapat
nomornya, fotonya juga. Dia marah nggak ya kalau tahu, ah nggak papa lah nggak
bakal sadar juga sih." Ucap Putra sambil senyum sendiri.
Syafa yang melihatnya
langsung berbicara, "ngapain kamu senyum sendiri gitu, udah kerja in
tugasnya." Ucap Syafa mengingatkan.
"Iya Syafa, ini baru
juga mau buka buku." Ucap Putra membuka bukunya.
Setelah beberapa hari,
Syafa mulai terbiasa dengan hadirnya Putra yang selalu mengganggunya. Ia
berharap tak akan ada rasa lain yang ia rasakan. Selain rasa kepada teman.
7. Terjadi lagi
Semakin hari, Putra semakin menempel pada Syafa. Setiap ada Syafa pasti selalu ada Putra. Syafa yang awalnya risih sekarang sudah mulai terbiasa. Meskipun begitu tetap ada jarak serta batasan yang selalu Syafa jaga agar ia tak terjerumus dalam lingkaran dosa. Syafa selalu menekankan bahwa Putra hanya teman baginya. Karena ia hanya akan menjalin hubungan yang sah dan diridhai oleh Allah SWT. Bukan yang melanggar aturan Allah. Berteman dengan dekat dengan laki-laki tak ada dalam kamus Syafa. Hanya saja mungkin ini sudah takdir, sehingga Syafa dipertemukan dengan Putra. Syafa hanya ingin membantu Putra dalam proses adaptasi di lingkungan sekolah baru. Tapi Putra malah terus mengikutinya kemana pun. Sehingga banyak cacian serta hinaan yang Syafa terima.
Awalnya semua baik-baik saja, tak ada masalah saat Syafa dekat dengan Putra. Tapi, semakin hari teman-temannya seakan tak ingin Syafa dekat dengan Putra. Bukan maksud Syafa mendekati Putra, ia tak mungkin melakukan itu. Tapi Putra yang terus mendekat dan meminta ditemani saat pergi di sekitaran sekolah. Syafa sudah berusaha untuk menghindar, tapi Putra tak mudah menyerah. Semakin Syafa menghindar, semakin Putra mendekat. Akhirnya syafa mulai membiasakan diri saat Putra mengganggunya. Dan itu sedikit menghibur Syafa, karena Syafa selalu merasa tertekan saat berada di kelas XI IPA 3 tersebut. Selain teman-temannya selalu memusuhinya, guru-guru juga banyak yang memandang rendah padanya. Hanya karena ia bukan anak seorang pejabat. Namun tak semua guru yang seperti itu, ada juga yang baik. Itu pun dapat dihitung jari, karena rata-rata guru di sekolah tersebut melihat murid dari jabatan orang tua serta kekayaan orang tua muridnya.
Syafa mulai diusik kembali oleh teman-temannya pada saat Putra telah satu bulan pindah ke sekolah tersebut. Sebenarnya teman-temannya di kelas selalu memperhatikan mereka, karena mereka duduk di barisan paling depan. Sehingga interaksi di antara mereka dapat dilihat hampir oleh semua murid di kelasnya. Mungkin mereka tak menyadari, karena terlalu asik dengan dunianya. Teman-teman Syafa mulai membicarakan serta menyindir Syafa terang-terangan saat melihat perubahan perilaku Syafa terhadap Putra. Meraka awalnya tak peduli, namun ada seseorang yang suka terhadap Putra menghasut teman-teman yang lain untuk memperhatikan mereka. Teman-temannya memang suka menghina atau pun mengganggu Syafa. Namun Syafa selalu diam saja tak pernah membalas. Biasanya Syafa hanya pergi, dan tak pernah mempersalahkan apa pun yang teman-temannya lakukan. Jadi teman-temannya tersebut mudah bosan hingga akhirnya tak peduli terhadap apa yang dilakukan oleh Syafa. Mereka tak menganggap Syafa ada di kelas tersebut.
Teman-temannya pun mulai memperhatikan Syafa dan Putra, namun ada juga yang tidak peduli. Kebanyakan yang selalu memperhatikan interaksi antara Syafa dan Putra adalah murid perempuan.
"Hei liat deh, kata kalian Putra ganteng nggak sih?" ucap salah seorang murid yang menyukai Putra.
"Lumayan sih, diatas rata-rata lah." Ucap salah seorang murid lain.
"Iya sih, cuman sayang ya duduknya harus dekat anak miskin itu." Ucap murid perempuan yang lain memandang rendah Syafa.
"Terus yang si miskin itu masa nolak ajakan Putra buat ke kantin bareng sih, so cantik banget dia." Ucap murid perempuan lainnya menambah panas suasana.
"Iya ih sok cantik banget, kasihan ya Putra harus duduk di sampingnya." Ucap orang yang menyukai Putra sambil terus menatap Putra dari bangkunya.
"Udah lah kalian ngapain ngurusin hidup orang sih. Bikin ribet sendiri tahu, mending bahas yang lain. Nggak bermanfaat banget sih ngebahas si miskin sama anak baru. Mending kita ngebahas barang-barang branded aja, gimana?" Ucap salah seorang murid perempuan yang muali jenuh dengan pembahasan teman-temannya.
"Boleh juga tuh, lagi pula ya aku yakin Putra lama-lama juga bakal sadar kalau dia tuh nggak pantes bareng Syafa." Ucap yang lainnya.
Namun semakin hari Syafa dan Putra malah semakin dekat. Meskipun tetap terlihat Syafa berusaha menjaga jarak. Putra selalu melindungi dan menjaga Syafa. Ia tak akan membiarkan Syafa sendirian, ia berjanji akan selalu menemani Syafa.
"Kamu nggak bosan apa bareng aku terus?" Ucap Syafa bertanya pada Putra.
"Aku nggak pernah bosan kalau dekat kamu. Semuanya tuh seakan jadi menarik gitu. Apalagi yang berhubungan sama kamu." Ucap Putra menatap Syafa.
"Tapi aku bosan liat kamu terus, kamu nggak mau kumpul sama anak laki-laki yang lain apa?" Ucap Syafa berusah menghindari tatapan Putra.
"Kamu kok gitu sih, kamu nggak suka ya aku dekat sama kamu terus? Aku kan nggak mau kamu sendirian." Ucap Putra murung.
" Buka gitu, aku cuman takut kamu dijauhi sama sepertiku. Aku ingin kamu berbaur dengan yang lain, tak usah mempermasalahkan aku. Aku udah biasa sendiri kok." Ucap Syafa sambil tersenyum.
"Aku berbaur kok sama yang lain. Cuman aku nyaman aja ada di dekat kamu. Kamu jangan takut sendiri lagi ya sekarang." Ucap Putra kembali menatap Syafa.
"Iya, makasih ya Putra. Kamu emang teman aku yang paling baik." Ucap Syafa tulus.
"Cuman teman nih? Nggak lebih gitu?" Ucap Putra.
"Jangan bercanda deh, udah kita jadi teman aja ya." Ucap Syafa mulai tak suka dengan topik pembicaraan mereka.
"Iya deh iya, terserah kamu," ucap Putra sambil tangannya akan mengusap kepala Syafa.
Syafa pun refleks langsung memukul tangan Putra dengan penggaris, karena saat itu mereka sedang mengerjakan tugas matematika. Putra pun langsung menarik tangannya dan mengibaskan tangannya karena merasa kesakitan.
"Kamu kok pukul aku sih, sakit tahu." Ucap Putra meniup punggung tangannya yang terkana pukulan Syafa.
"Makanya punya tangan tuh jangan nakal. Jangan suka pegang-pegang lawan jenis. Aku nggak suka ya." Ucap Syafa sedikit marah.
"Iya deh maaf, lupa aku." Ucap Putra.
"Terus aja lupa, udah ah aku mau ngerjain tugas matematika lagi. Kamu diam ya jangan ganggu, oke." Ucap Syafa memperingati Putra agar tak mengganggunya.
"Iya Syafa, bawel banget sih kamu." Ucap Putra melihat Syafa sambil tersenyum.
Teman-teman perempuan Syafa yang melihat interaksi mereka sangat kesal.
"Kayaknya mereka makin dekat deh. Putra juga ngapain sih dekat-dekat sama si miskin. Nggak suka aku liatnya." Ucap orang yang menyukai Putra.
"Kamu suka sama Putra? Kok aku perhatikan kamu kesel terus pas lihat mereka." Ucap murid perempuan lain.
"Siapa sih yang nggak suka ke Putra? Udah baik, pinter, ganteng lagi. Masa sih dia harus berdampingan sama si miskin terus." Ucap orang yang menyukai Putra dengan tingkat kekesalan yang naik.
"Iya sih tapi mau gimana lagi, kayaknya Putra suka deh sama Syafa." Ucap yang lain berpendapat.
"Nggak mungkin lah, paling dia cuma mau main-main aja." Ucap orang yang menyukai Putra menyangkal bahwa Putra tak mungkin menyukai Syafa.
"Terserah kamu aja deh, kita liat nanti akhirnya gimana." Ucap yang lain lagi.
"Oke, aku bakal tetap sama pendapat aku." Ucap orang yang menyukai Putra dengan tatapan tajam ke arah Syafa.
Perbincangan mereka terputus karena datangnya guru matematika ke dalam kelas. Sebelumnya guru tersebut ada urusan dan sekarang sudah kembali lagi. Pelajaran berjalan dengan baik, hingga bel tanda pulang berbunyi.
"Oke anak-anak, sudah waktunya pulang. Kita akhiri saja kelas kali ini. Kalian boleh pulang." Ucap guru matematika menutup kelasnya.
"Baik bu, terima kasih." Ucap semua murid serempak.
Saat pulang sekolah, Putra mengajak Syafa untuk pulang bersama. Tetapi Syafa menolaknya, dengan alasan ada kumpulan DKM. Akhirnya mereka berpisah di depan kelas. Saat akan kumpulan, Syafa mendapat pesan bahwa kumpulannya tidak jadi. Sehingga Syafa langsung menuju gerbang sekolah. Saat di perjalanan ia bertemu dengan teman-teman perempuan di kelasnya. Teman-teman tersebut langsung menghampiri Syafa, dan menarik Syafa menjauhi keramaian. Mereka pun tiba di depan sebuah ruangan yang kosong.
"Hei miskin! Kamu tuh harusnya jauhin Putra. Kalian tuh nggak cocok tahu." Ucap salah seorang di antara teman-teman Syafa tadi.
"Aku nggak pernah mendekati Putra. Dia yang mendekati aku." Ucap Syafa menjelaskan yang sebenarnya.
"Sok cantik banget ya kamu, Putra tuh cuman kasihan sama kamu. Mana ada dia suka sama kamu, mimpi kali." Ucap yang lainnya sambil terus memojokkan Syafa.
Syafa hanya diam tak ingin menjawab. Hingga tiba-tiba ia didorong oleh seseorang di antara rombongan teman-temannya tadi. Syafa sedikit meringis, namun ia tak ingin menangis. Karena ia bukan orang yang cengeng. Ia bangkit lalu akan berlalu pergi. Tetapi dihadang oleh teman-temannya.
"Eh mau ke mana? Enaknya aja pergi gitu aja. Bilang iya dulu, baru kamu boleh pergi." Ucap orang yang mendorong Syafa.
"Aku nggak bisa janji, karena bukan aku yang mendekati Putra. Aku mau pulang kalian jangan menghalangi aku, minggir." Ucap Syafa menerobos teman-temannya yang menghalangi jalannya.
"Apa-apaan sih tuh orang, kesel banget deh liat mukanya yang sombong itu. Miskin aja sombong banget deh." Ucap salah seorang di antara mereka yang terdorong oleh Syafa saat menerobos keluar.
"Ya udah deh kita pulang aja yuk. Kalau dia berulah lagi kita ancam aja." Ucap salah seorang yang sudah ingin pulang.
"Ya udah deh yuk pulang aja. Nanti kita rencanakan lagi untuk memberi pelajaran pada si miskin itu." Ucap ketua di antara teman-teman yang lainnya. Akhirnya mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Hari-hari berikutnya pun teman-temannya itu selalu mengancam Syafa dengan banyak hal, tapi Syafa tak pernah menceritakan hal tersebut pada Putra. Ia hanya menjalani setiap masalahnya dengan sabar juga tenang. Ini masalahnya jadi ia tak ingin melibatkan orang lain. Dan selagi ia mampu, ia tak akan meminta pertolongan dari orang lain. Itu lah tekadnya, karena ia tidak ingin orang yang membantunya juga merasakan apa yang dilakukan teman-temannya terhadap dirinya. Biar ia saja yang merasakannya.